KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniCarut-Marut Pendidikan Indonesia oleh : Ashiong Parhehean Munthe
03-Aug-2015, 18:10 WIB


 
 
Carut-Marut Pendidikan Indonesia
KabarIndonesia - Carut-marut dunia pendidikan di tanah air, menjadi gambaran yang tansparan atas buruknya pengelolaan pemerintah atas pendidikan. Misalnya masih kurangnya distribusi guru di daerah-daerah, karena masih tertumpuk di wilayah perkotaan padahal Indonesia sekarang menurut PGRI masih krisis guru.
selengkapnya....


 


 
BERITA KESEHATAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Pikiranku 19 Jul 2015 06:37 WIB

Hilang Arah 19 Jul 2015 06:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Tips Praktis Memahami Pinguecula dan Pterygium

 
KESEHATAN

Tips Praktis Memahami Pinguecula dan Pterygium
Oleh : Dr. Dito Anurogo | 02-Des-2007, 02:06:51 WIB

KabarIndonesia - Keduanya merupakan bentuk kelainan/degenerasi pada konjungtiva (membran/selaput transparan yang melapisi bola mata).

Gejala:
Biasanya tanpa gejala (asymptomatic).
Dalam banyak kasus menjadi masalah kosmetika.
Penurunan penglihatan (decreased vision) terjadi jika pterygium dekat dengan visual axis.

Tanda:
Pinguecula sangat umum terjadi, tidak berbahaya, biasanya bilateral (mengenai kedua mata).

Pinguecula biasanya tampak pada konjungtiva bulbar berdekatan dengan limbus nasal (di tepi/pinggir hidung) atau limbus temporal. Terdapat lapisan berwarna kuning-putih (yellow-white deposits), tak berbentuk (amorphous).

Pterygium merupakan lipatan konjungtiva dan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga (triangular-shaped fold) yang maju sampai ke permukaan kornea, hampir selalu didahului oleh pinguecula.

Pterygium khas terjadi pada mereka yang lama tinggal di iklim (berhawa) panas dan menunjukkan respon terhadap kekeringan kronis (lama) dan pemaparan sinar ultraviolet.

Klasifikasi Pterygium:

Tipe 1: meluas kurang dari 2 mm di atas kornea. Timbunan besi (ditunjukkan dengan Stocker line) dapat terlihat di epitel kornea bagian anterior/depan pterygium. Lesi/jejas ini asimtomatis, meskipun sebentar-sebentar dapat meradang (intermittently inflamed). Jika memakai soft contact lense, gejala dapat timbul lebih awal karena diameter lensa yang luas bersandar pada ujung kepala pterygium yang sedikit naik/terangkat dan ini dapat menyebabkan iritasi.

Tipe 2: melebar hingga 4 mm dari kornea, dapat kambuh (recurrent) sehingga perlu tindakan pembedahan. Dapat mengganggu precorneal tear film dan menyebabkan astigmatisme.

Tipe 3: meluas hingga lebih dari 4 mm dan melibatkan daerah penglihatan (visual axis). Lesi/jejas yang luas (extensive), jika kambuh, dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva dan meluas hingga ke fornix yang terkadang dapat menyebabkan keterbatasan pergerakan mata.

Histologi:
Pterygium terdiri dari perubahan degeneratif kolagen pada stroma subepitel yang tervaskularisasi.

Penyebab:
Berhubungan dengan paparan sinar matahari, debu, angin (iritasi kronis).

Epidemiologi:
Umum terjadi pada usia 20-30 tahun dan di daerah yang beriklim tropis.

Pencegahan Pinguecula dan Pterygium:
Secara umum, lindungi mata dari paparan langsung sinar matahari, debu, dan angin, misalnya dengan memakai kacamata hitam.

Pengobatan (Treatment):
Pinguecula
Biasanya tidak diperlukan. Jika terjadi inflamasi/radang akut yang disebut pingueculitis, maka diberikan steroid lemah, seperti: fluorometholone.

Pterygium
Tetes air mata buatan (artificial tears), mild topical vasocontrictor, atau steroid topikal ringan jika terjadi inflamasi/peradangan. Sangat dianjurkan memakai kacamata untuk mengurangi paparan ultraviolet.

Tindakan bedah diindikasikan pada pterygium tipe 2 dan 3.

Diagnosis banding (Differential diagnosis) Pinguecula dan Pterygium:

1.Conjunctival intraepithelial neoplasia
2.Dermoid
3.Pannus

Komplikasi Pinguecula dan Pterygium:

1.Cataract
2.Buta (Visual loss)
3.Scleral necrosis
4.Persistent epitheliel defect
5.Pingueculitis
6.Dellen formation adjacent to pingueculae
7.Corneal scaring: with pterygium

Referensi:
1.Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systemic Approach. 6th Edition. Elsevier. 2006. p. 242-4.

2.Yanoff M. Ophthalmic Diagnosis and Treatment. Current Medicine. 1998. p.58-9.

Sumber Gambar:
Clinical Ophthalmology: A Systemic Approach. 6th Edition by: Jack J Kanski. Elsevier. 2006. p. 242-3.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mengelola Bisnis Menggiurkan di Tapanulioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
24-Jul-2015, 20:08 WIB


 
  Mengelola Bisnis Menggiurkan di Tapanuli Demam batu akik sudah berlangsung hampir setengah tahun sejak Februari 2015. Demam akik juga melanda kawasan Tapanuli di Sumatera Utara. Tapanuli Tengah misalnya sudah melakukan pameran akik. Fenomena akik juga mewarnai kawasan Tapanuli Utara. Awalnya hanya dua orang pengelola, belakangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
TNI Polri Jangan Mau Diadu Domba 28 Jul 2015 09:27 WIB

Mewujudkan Damai Itu Indah 27 Jul 2015 23:03 WIB

 
Indonesia Sambut Ferrari 488 GTB 31 Jul 2015 10:18 WIB


 

 

 
PHE ONWJ Optimis Capai Target 31 Jul 2015 10:17 WIB


 
Jadwal Copa America 2015 11 Jun 2015 13:43 WIB

 
Mengenang Chris Siner Key Timu 13 Mei 2015 18:00 WIB

Badan Kecil, Semangat Tinggi 30 Apr 2015 07:41 WIB

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia