KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJalan Berliku Divestasi Tuntas, Kontrak Karya Freeport Sah Menjadi IUPK oleh : Wahyu Ari Wicaksono
22-Des-2018, 04:36 WIB


 
 
KabarIndonesia - Setelah sekitar dua tahun proses negosiasi intensif yang melibatkan pemerintah, Holding Industri Pertambangan PT INALUM (Persero), Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto, akhirnya pada hari ini telah resmi terjadi pengalihan saham mayoritas (divestasi) PT Freeport Indonesia (PTFI)
selengkapnya....


 


 
BERITA KESEHATAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Negeri Nestapa 23 Jun 2020 09:15 WIB

Kami Masih Punya Rasa Malu 31 Mei 2020 11:30 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
LOVE STORY BIBI LUNG & YOKO 27 Jun 2020 05:00 WIB


 
YUUK DEMO NGEPUNG SURGA! 27 Jun 2020 06:33 WIB


 
 
KESEHATAN

Dirjen WHO: Pertimbangkan 6 Faktor Jika Mencabut Kebijakan Lockdown
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 09-Mei-2020, 06:17:13 WIB

KabarIndonesia - Sebagaimana dilansir KOMPAS.com, Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan setiap negara yang ingin mencabut atau melonggarkan penguncian (lockdown) agar melakukannya dengan hati-hati.

Seperti diketahui bersama, sebagai upaya menekan penyebaran dan penularan virus corona, sejumlah negara menerapkan lockdown, bahkan lebih dari satu bulan. Penguncian ini membuat adanya pembatasan terhadap aktivitas masyarakat di bidang sosial dan ekonomi.

Setelah kasus Covid-19 di wilayahnya dinilai menurun, sejumlah negara bersiap melonggarkan penguncian. “Ini adalah sesuatu yang kita semua inginkan (pencabutan lonckdown), tetapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Jika dilakukan terlalu cepat, berisiko adanya peningkatan (kasus) yang bahkan bisa lebih buruk dari situasi kita saat ini,” ujar Tedros dalam pidato mingguannya di Jenewa, Kamis, (16/4/2020).

Seperti dikutip dari situs WHO, Tedros menyebutkan, ada 6 faktor yang harus dipertimbangkan jika suatu negara ingin mencabut kebijakan penguncian, yakni:

1. Kemampuan untuk mengendalikan transmisi. 2. Kapasitas sistem kesehatan untuk mendeteksi, menguji, mengisolasi, dan menangani setiap kasus, serta melacak setiap kontak. 3. Meminimalisasi risiko wabah khususnya di fasilitas kesehatan dan panti jompo. 4. Melakukan langkah-langkah pencegahan di tempat kerja, sekolah, dan lokasi-lokasi lain yang dikunjungi masyarakat. 5. Kemampuan untuk mengelola kasus impor, dan 6. Bahwa masyarakat sepenuhnya dididik, dilibatkan dan diberdayakan untuk menyesuaikan diri dengan 'norma baru (new normal).

Dalam pidatonya, Tedros juga menyebutkan, saat ini virus bergerak ke negara-negara dengan populasi yang padat sehingga physical distancing tidak mungkin dilakukan.

“Pemerintah harus mempertimbangkan bahwa untuk beberapa negara dan masyarakat, perintah tinggal di rumah mungkin tidak praktis, dan bahkan dapat menyebabkan hal yang tidak diinginkan,” kata Tedros.

Ia mengatakan, jutaan orang di seluruh dunia harus bekerja untuk memastikan asupannya setiap hari. Mereka tidak bisa tinggal di rumah untuk waktu yang lama tanpa adanya bantuan. WHO khawatir terjadi tindak kekerasan karena sejumlah pembatasan yang dilakukan. Ia juga menyebutkan, adanya peningkatan laporan tindak pelecehan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Sementara itu, dikabarkan penyebaran virus corona secara global, masih terus bertambah dari hari ke harinya. Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 4.007.819 (4 juta) kasus hingga Sabtu (9/5/2020) pagi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.376.235 (1,3 juta) pasien telah sembuh, dan 275.81 orang meninggal dunia. Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 2.355.803 dengan rincian 2.307.153 pasien dengan kondisi ringan dan 48.650 dalam kondisi serius.

Berikut 10 negara di dunia dengan jumlah kasus virus corona terbanyak ( Negara, kasus terinfeksi, meninggal, total sembuh) yakni: Amerika Serikat, 1.320.044 kasus, 78.529 orang, 222.008. Spanyol, 260.117 kasus, 26.299 orang, 168.408. Italia, 217.185 kasus, 30.201 orang, total sembuh 99.023. Inggris, 211.364 kasus dan 31.241 orang meninggal. Rusia, 187.859 kasus dan 1.723 orang, 26.608. Perancis, 176.079 kasus, 26.230 orang, 55.782. Jerman, 170.588 kasus, 7.510 orang, 141.700. Brazil, 145.328 kasus, 9.897 orang, 55.350. Turki, 135.569 kasus, 3.689 meninggal, sembuh 86.396. Iran, 104.691 kasus, 6.541 meninggal, total sembuh 83.837.

Sementara, update Kasus virus corona di Indonesia tercatat juga mengalami peningkatan, baik dari jumlah kasus, sembuh, maupun yang meninggal dunia. Hingga Jumat (8/5/2020) pukul 12.00 WIB, kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 336, sehingga jumlahnya menjadi 13.112 orang. Sedangkan untuk kasus sembuh, juga ada penambahan sebanyak 113 orang, sehingga total pasien yang telah sembuh menjadi 2.494 orang. Pasien yang meninggal dunia karena infeksi Covid-19 ini juga bertambah sebanyak 13 orang. Maka, jumlah pasien yang meninggal dunia kini jumlahnya menjadi 943 orang.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 
HOW ARE YOU MY FRIEND? 27 Jun 2020 05:21 WIB

Masihkah Ada Rasa Damai Di Hati? 21 Jun 2020 14:23 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia