KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Nyatakan Tiga Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Habibie oleh : Danny Melani Butarbutar
11-Sep-2019, 14:48 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Dikabarkan, pada hari ini Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18,05 WIB, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie (B J Habibie), telah meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, pada usia 83 tahun. Jenazah almarhum telah diberangkatkan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA KESEHATAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Siapa Kau Siapa Aku? 02 Sep 2019 10:28 WIB

AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Sopyan, Menyambut Tahun Baru Masih Tetap di Pangkuan Ibunya

 
KESEHATAN

Sopyan, Menyambut Tahun Baru Masih Tetap di Pangkuan Ibunya
Oleh : Pirdaus | 26-Des-2007, 07:15:37 WIB

KabarIndonesia - Kegembiraan ribuan masyarakat Pantura untuk menyambut tahun baru 2008, ternyata tidak bisa dinikmati oleh Sofyan (15), warga Dusun Kondang Rt 12/13 Desa Tanjungrasa, Kecamatan Patokbeusi, Subang. Di usianya yang menginjak kepala sebelas, Sofyan masih berada di pangkuan ibunya, Nurjannah, (32).

Senja 2008, sebentar lagi muncul. Sejumlah asa dan cita telah digantungkan setinggi langit. Jutaan anak cucu Adam bersiap-siap menyambut kedatangan suasana baru dan semangat baru. Gegap gempita persiapan menyambut hari pergantian tahun baru, sejak sepekan lalu sudah terasa.

Tidak ketinggalan, ribuan warga memanfaatkan momen itu untuk mengais rezeki dengan menjual trompet beraneka warna dan jenis. Namun, di balik hiruk-pikuk detik-detik pelepasan tahun 2007, tidak semua orang bisa terlibat dan larut di dalamnya.
Hal ini dialami putra kesayangan pasangan suami istri Nujannah-Ana Ikin, Sofyan. Dia merupakan satu dari 1,3 juta penduduk Subang yang bernasib tidak beruntung. Sejak pertama menghirup nafas di dunia, kondisi anak kelahiran 10 November 1992 ini menderita penyakit Hydrocepalus (batok kepala besar). Gegap gempita itu, hanya menjadi asa yang tak kunjung terealisasi.

Putra pertama dari tiga bersaudara ini, sejak lahir memiliki kelainan di kepalanya. Sofyan menderita penyakit Hydrocepalus. Bertambahnya usia, batok kepala Sofyan semakin membesar. Akibatnya, di usianya menginjak 15 tahun, Sofyan harus berada di gendongan sang ibu untuk menjalankan aktivitasnya.

Kondisi tubuh Sofyan, semakin hari bertambah mengecil. Kaki dan tangannya hanya nampak tulang yang menonjol. Sementara bagian penggelangan lengannya kaku dan berbentuk bengkok, dan tidak bisa digerakkan. Sedangkan kedua matanya nyaris tertutup oleh kepalanya yang terus membesar. Secara ilmu kedokteran, penyakit hydrocepalus alias bayi berkepala besar bisa disebabkan karena infeksi pada saat kehamilan. Infeksi ini, bisa mengakibatkan keguguran, bayi lahir prematur atau lahir normal namun ada cacat. Salah satu cacatnya dalah hydrocepalus. Penyebab lainnya, Hydrocepalus bisa juga karena si ibu mengkonsumsi obat-obatan atau bahan kimia lain.

Menurut pengakuan Nurjannah, penyakit Hydrocepalus yang diderita kakak kandung, Intan Sriwahyuni (8), dan Nada Bunga Dahlia (5), ini dialami sejak berusia 40 hari. Nurjannah mengisahkan, saat usia itu Sopyan sempat terjatuh ke lantai dari ayunan. Pada saat itu, tidak tampak rasa sakit yang dialami Sofyan, bahkan Sofyan tidak menangis. "Sejak kejadian itu, kondisi Sofyan beda dengan anak seusianya. Kepalanya terus membesar," lirih Nurjannah.

Dengan nasib yang dialami putra sulungnya, Nurjannah hanya bisa pasrah. Sebagai pekerja serabutan, Nurjannah tidak memiliki kemampuan untuk membawa Sofyan ke rumah sakit. Selama ini, usaha yang dilakukan Nurjannah untuk kesembuhan Sofyan, hanya membawanya ke Posyandu setempat. Sedangkan ayah kandung Sofyan, Ana Ikin, sudah meninggal dunia saat Sofyan masih bayi. Nurjannah kemudian menikah kembali dengan Aben (42). Sayang pada pernikahan yang keduakalinya, tidak mampu merubah kondisi ekonominya.Ikin, yang bekerja kuli serabutan, hanya bisa membawa pulang uang tidak lebih dari Rp15 ribu per hari. Uang itu cukup untuk makan keluarganya sehari. Bersama keluarganya, Nurjannah menempati sebuah rumah bilik dari bambu dengan ukuran 5 x 8 meter.

Di dalam rumah itu, kelima anggota keluarga berusaha bersabar, berdoa dan berusaha untuk kesembuhan Sofyan. Untuk kesembuhan sang buah hati, Nurjannah tidak berhenti berusaha. Karena didorong keinginan kuat untuk kesembuhan Sofyan, Nurjannah berulang kali mendatangi pejabat setempat untuk melaporkan kondisi anaknya. Dia berharap, melalui Ketua RT setempat masalah itu bisa membawa Sofyan ke rumah sakit untuk dilakukan pengobatan dan perawatan intensif. "Saya sudah pasrah dengan nasib anak saya. Saya hanya bisa mengharapkan uluran tangan pemerintah. Barangkali terketuk hatinya untuk membawa anak saya berobat, karena buat saya, jangankan untuk berobat Sofyan untuk makan saja susah," keluhnya.

Usai melafalkan kalimat kepasrahan. Tiba-tiba bibir Nurjannah tertutup. Nurjannah terdiam beberapa menit, tatapannya kosong ke atas. Tampak butiran air yang yang menggelayuti kelopak matanya tidak lama lagi terbendung. Tidak beberapa lama, pipinya yang berwarna coklat, perlahan sudah banjir air mata. Sesaat, kalimat ratapan Nurjannah keluar dari bibirnya yang tampak gemetar. "Orang tua mana yang tega melihat anaknya seperti ini. Hidup tidak jauh dari kasur dan gendongan," ratap Nurjannah.

Saat RAKA mengejar sebenarnya apa yang ada di benak Nurjannah?, Nurjannah menuturkan Sofyan kerap menyampaikan harapannya untuk segera sehat dan bermain dengan rekan-rekan sebayanya. "Kalau Sofyan sudah bilang, "Mak Kapan saya bisa bermain seperti mereka?", saya tidak bisa lagi berkata apa-apa lagi, saya hanya bisa menganggukan kepala. Karena kami tidak bisa mengadakan biaya yang sangat besar tersebut," papar Nurjannah sembari menyeka air matanya yang membanjir kedua pipinya.
 
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia