KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2019: Bersama Kita Lawan Polusi Udara oleh : Danny Melani Butarbutar
06-Jun-2019, 03:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Pada tahun ini mengambil tema melawan polusi udara #BeatAirPollution. Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran global untuk melakukan aksi positif bagi perlindungan pada
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB

 
Puisi-Puisi Silivester Kiik 17 Jun 2019 15:16 WIB

Sayap Muratara 17 Jun 2019 15:14 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Di mana Tempat Bermainku

 
LINGKUNGAN HIDUP

Di mana Tempat Bermainku
Oleh : Erda Rindrasih | 20-Jul-2007, 06:48:45 WIB

KabarIndonesia - Penataan kota saat ini telah menorehkan kegetiran bagi anak anak kita. Bagaimana tidak? Telah banyak tempat yang direbut dengan paksa oleh kepentingan uang dan raksasa yang dikenal dengan “pembangunan”. Tanah lapang dan pohon pohon rindang di permukiman berubah menjadi si angkuh dengan wajah kotak kotak dan berpagar tinggi. Perubahan raut muka kota, baik kota kecil maupun kota menengah yang tidak lagi menyediakan ruang bagi anak anak untuk bermain sesungguhnya adalah mematikan generasi manusia secara pelan pelan.

Saya masih ingat, ketika seorang teman saya pulang dari luar negeri setelah lebih dari lima tahun meninggalkan kampung, pertanyaan pertama yang dia ajukan pada saya adalah, ”Dimana pohon nangka yang dulu?. Saya jadi tak sanggup menjawabnya. Pohon nangka itu jangankan buahnya, sisa humusnya saja mungkin sudah tidak nampak, berganti dengan perkantoran luas dan parkir mobil. Dahulu saya dan teman teman sering bermain di bawah pohon nangka itu ketika terang bulan, karena saat itu belum ada listrik yang masuk ke kampung saya di pinggiran kota kecil di Bantul, Yogyakarta. Hal inilah yang membuat saya berfikir, dimanakah tempat bermain bagi anak anak kecil sekarang, sedangkan semua tempat sudah tertutup oleh karpet keras yang disebut aspal dan konblok.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa kebutuhan ruang (space) bermain untuk anak merupakan sesuatu yang mutlak. Anak anak membutuhkan ruang luas di sekitar tempat tinggalnya untuk dapat bersosialisasi dengan alam dan lingkungan sosialnya. Permainan anak tradisional ternyata lebih efektif untuk transfer ilmu, dan melatih mereka pada kepedulian, toleransi, kerjasama dan persatuan. Namun saat ini permainan tradisional anak sudah tidak lagi dimainkan seperti dulu. Mereka ternyata lebih senang untuk menghabiskan waktu berjam jam di depan video game, atau play station yang sekarang menjamur di sudut kampung. Selain memakan waktu yang banyak, mahal dan tidak mendidik, permainan video game semacam itu ternyata membuat banyak anak yang mengalami gangguan kesehatan. Tak jarang ditemui anak anak yang masih duduk di sekolah dasar di perkotaan mengalami obesitas karena tidak banyak bergerak, juga tidak jarang dari anak anak yang terpaksa memakai kacamata minus karena matanya telah terganggu akibat terlalu intensnya di layar televisi atau computer.

Menurut Seto Mulyadi (2005) atau lebih dikenal Kak Seto , dunia anak-anak dunia bermain, tumbuh berkembang secara psikologis. Dunia anak dunia meniru, sehingga memerlukan keteladanan bukan kekerasan. Bagaimana mereka bisa meniru jika yang dihadapi mereka setiap hari adalah video game dan MP3.
Coba kita bandingkan dengan permainan berikut. Untuk memberikan gambaran permainan itu maka mari simak sedikit dialog dalam permainan Ular Naga ini. Permainannya adalah, terdapat satu orang ibu dan punya banyak anak yang berpelukan memanjang dengan sang ibu, anak yang lebih besar lebih dekat dengan ibunya, dan yang lebih muda dibarisan belakang.

Kemudian sang naga datang ingin mengambil dan memakan anaknya. Terjadilah tawar menawar antara si raksasa dengan ibu. Raksasa bilang "Nini...nini......" (nenek tua)......."Aku njaluk anakmu" (aku minta anakmu), lalu si Ibu bilang "Ora iso" (Tidak akan pernah kuberi). Raksasa memaksa "Aku ngomong apek apek, kowe ora lilo, nek ono anakmu tak rebut"...(Saya sudah bicara baik baik, tapi kamu tidak memberi, maka aku rebut anakmu dengan paksa). Lalu sang Ibu berteriak "Aku ora wedi karo kowe, ayo perang nganti patiku lan patimu" (Aku tidak takut denganmu aku siap perang sampai mati). Lalu terjadi peperangan kecil, ular naga tersebut berlari mengambil anak yang paling belakang, anak yg paling belakang harus berpegang pada kakaknya supaya tidak dimakan oleh raksasa itu, karena anak yg paling kecil ini posisinya paling rawan. Sang Ibu berjuang sekuat tenaga terus menerus melindungi sang anak.

Permainan anak anak Ular Naga ini, jika kita tilik ternyata membawa banyak pelajaran. Disamping kekompakan dalam tim saat menghadapi musuh si Ular Naga juga mengajarkan bahwa seorang ibu bagaimanapun juga akan melindungi anak anaknya dari bahaya. Permainan tradisional Ular Naga yang hanya dapat dimainkan ketika tersedia lahan yang luas dan mencukupi. Untuk memainkannya minimal diperlukan empat orang anak dan ruang kira kira 20 – 30 meter persegi. Permainan tradisional yang lain misalnya, “Jamuran” yang membutuhkan kurang lebih 50 m persegi untuk berlari melingkar dengan anggota minimal kira kira 4-5 orang, ada juga permainan “cublak cublak suweng”, gobak sodor, dan sebagainya.

Ketika anak anak tidak mempunyai tempat untuk menyalurkan kreatifitasnya maka yang terjadi adalah kejenuhan. Kejenuhan ini dapat menjadi tekanan bagi mereka. Apalagi jika kemudian ditambah dengan tekanan lain, misalnya, tekanan ekonomi akibat kondisi keluarga, bobot pelajaran yang banyak, dan pengaruh media masa, maka bisa dibayangkan beratnya beban mereka. Perilaku yang muncul akibat tekanan tersebut dapat berupa keluar dari lingkungan semula dan menciptakan sebuah lingkungan baru yang sesuai keinginannya (Widianto, 2005). Maka tak jarang kita dengar beberapa bulan terakhir banyak anak anak yang bunuh diri hanya karena permasalahan kecil seperti SPP, uang jajan, tersinggung oleh guru, dll. Malin, seorang anak jalanan berumur 13 tahun berasal dari Jakarta yang sering berkumpul dengan teman sebanyanya di perempatan Gondomanan Yogyakarta menyatakan bahwa “saya bosan berada di rumah, tidak nyaman. Sejak kecil saya hanya ingin bebas kemana saja, dimana saja dan kapan saja tidak ada yang melarang”. Pernyataan Malin menunjukkan bahwa sesungguhnya munculnya anak jalanan bukan disebabkan oleh disfungsi orang dewasa dalam mengasuh namun juga anak memiliki kebebasan untuk berfikir dan bertindak dengan pola pikirnya. Berangkat dari kepolosan Malin, kita jadi mengerti bahwa mereka punya aspirasi, namun mereka tidak tahu bagaimana cara menyalurkan aspirasi atas ruang publik tersebut.

Inilah yang harus menjadi perhatian bersama. Selain pola pendidikan dan pola kontrol sosial, pembatasan orang dewasa terhadap anak juga diwujudkan melalui penciptaan lingkungan ruang hidup anak, yaitu adanya pemisahan yang tegas antara ruang untuk anak dan bukan untuk anak. Kecenderungan wujud ruang kota di Indonesia, baik ruang publik maupun ruang privat, di mana dimensi ruang dirancang hanya mengikuti standar kenyamanan untuk orang dewasa saja. Sedangkan ruang lingkup kegiatan anak seakan dibatasi hanya rumah, sekolah, dan berbagai fasilitas yang memang dikhususkan buat anak-anak seperti sanggar lukis, sanggar tari, atau istana bermain. Anehnya, desain ruang-ruang anak ini pun cenderung dirancang mengikuti standar kebutuhan ruang gerak orang dewasa.

Bagaimana jika anak anak kita kemudian berdemo dengan spanduk spanduk lebar, dengan tangan tangan kecil mereka, seraya berkata “Dimana tempat bermainku?” layaknya orang dewasa berdemo.

Ditulis bersama: Wisnu Widianto, ST


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Email:
redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let's see here
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Pasang Surut Sastra Bandingan 02 Jun 2019 07:39 WIB

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia