KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanMengakhiri Ujian Nasional (UN) oleh : Syafbrani
20-Apr-2014, 12:39 WIB


 
 
Mengakhiri Ujian Nasional (UN)
KabarIndonesia - Secara kasat mata UN hanyalah merupakan bentuk tes tertulis bagi siswa. Tidak lebih! Tapi jika dibedah secara mikroskopis akan nampaklah jalur konvergensi (penyatuan) yang mengarah pada satu tujuan: TARGET KELULUSAN yang sepertinya sudah menjadi Tuhan!

selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Syukur Kita Kepada Guru 21 Apr 2014 11:07 WIB

Paskah Abadi 21 Apr 2014 11:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
LINGKUNGAN HIDUP

Ekowisata dalam Upaya Pelestarian Ekosistem Hutan Mangrove yang Berbasis Masyarakat
Oleh : Muhammad Faishol Baihaqi | 23-Okt-2008, 13:50:24 WIB

Lomba Tulis YPHL

EKOWISATA DALAM UPAYA PELESTARIAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE YANG BERBASIS MASYARAKAT

Muhammad Faishol Baihaqi

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang

ABSTRAK

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air laut. Hutan mangrove di Indonesia terluas di dunia, yaitu mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia. Tanaman mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, nasional maupun global. Namun dibalik keunggulannya, hutan mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat perkembangan infrastuktur, pemukiman, pertanian, perikanan, dan industri, karena 60% dari penduduk Indonesia bermukim di daerah pantai. Diperkirakan sekitar 200.000 ha mangrove di Indonesia mengalami kerusakan setiap tahun. Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk memberikan gambaran tindakan penyelamatan ekosistem mangrove dari kerusakan dengan melibatkan semua pihak teknis dan terkait secara kolaboratif, yaitu melalui pembentukan ekowisata hutan mangrove. Pengelolaan dan pelestarian mangrove bisa diterapkan melelui ekowisata hutan mangrove, dengan berbagai teknik pengelolaan seperti pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasiskan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu, dimana dalam konsep pengelolaan ini melibatkan seluruh stakeholder yang kemudian menetapkan prioritas–prioritas. Dengan berpedoman tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Kata kunci : ekowisata dan hutan Mangrove

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan secara geografis terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia mempunyai keanekaragaman hayati laut yang tidak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah hutan mangrove. Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan Nomor: 60/Kpts/Dj./I/1978, yang dimaksud hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air laut. Hutan mangrove di Indonesia terluas di dunia, yaitu mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia (Mangrove Information Center, 2006 dalam Subadra, 2007). Ekosistem mangrove sebagai salah satu sumber yang perlu mendapat perhatian di wilayah pesisir dikarenakan hutan mangrove berfungsi sebagai spawning ground, feeding ground, dan juga nursery ground, di samping sebagai tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting (Wantasen, 2002).

Namun hutan mangrove yang merupakan ekosistem peralihan antara ekosistem darat dan laut, memiliki karakteristik yang khas. Kondisi semacam ini menyebabkan ekosistem hutan mangrove sangat rawan terhadap pengaruh faktor luar (Alikodra, 1995 dalam Irianto, 2008). Berdasarkan data tahun 1999, luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan mencapai 8,60 juta hektar dan 5,30 juta hektar di antaranya dalam kondisi rusak (Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 2001). Kerusakan hutan mangrove secara berlebihan akan mengakibatkan berkurangnnya daerah resapan air, abrasi, dan bencana alam seperti erosi dan banjir serta mengakibatkan hilangnya pusat sirkulasi dan pembentukan gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen O2 yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya (Subadra, 2007).

Menyikapi fenomena tersebut, Usaha reboisasi hutan mangrove akan memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat, yaitu melalui pembentukan ekowisata hutan mangrove. Sebab, persediaan untuk konsumsi oksigen sudah tersedia di tempat ini sekaligus untuk meningkatkan rasa aman dari bencana tsunami bagi masyarakat yang berdekatan dengan hutan mangrove tersebut. Selain itu, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian hutan mangrove semakin meningkat, terutama dari pihak akademisi dan industri pariwisata yang secara sukarela untuk ikut serta menanam pohon mangrove di beberapa tempat yang menjadi kawasan konservasi. Yang mana usaha untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan adalah dengan membuka kegiatan wisata alam sehingga masyarakat dapat melihat, menikmati dan berinteraksi dengan lingkungan secara langsung di kawasan hutan mangrove tersebut.

Ekowisata sendiri telah menjadi trend baru di dunia Internasional sebagai salah satu dari isu 4T (Transportation, Telecommunication, Tourism dan Technology) dalam milenium ketiga. Ekowisata merupakan sebuah pengembangan konsep dari penyelarasan antara kegiatan manusia (aspek wisata) dan lingkungan sekitar (aspek ekologi).

Industri pariwisata selama ini memiliki peran dan makna begitu tinggi dalam aspek kehidupan manusia. Dalam perkembangannya, sektor pariwisata dunia memiliki kecenderungan untuk berubah secara konsep dari Unsustainable forms of tourism menjadi Sustainable Tourism. Dari sisi kepariwisataan, ekowisata merupakan kolaborasi dari tiga macam wisata, diantaranya Rural tourism, Nature Tourism, dan Cultural Tourism. Dimana wisata-alam yang selama ini kita kenal, mempunyai kecenderungan berubah menjadi ekowisata, jika sustainable tourism dijadikan sebagai acuan (Chaniago, 2008).

Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk memberikan gambaran tindakan penyelamatan ekosistem mangrove dari kerusakan dengan melibatkan semua pihak teknis dan terkait secara kolaboratif, yaitu melalui pembentukan ekowisata hutan mangrove.

METODE PENULISAN

Paradigma berguna untuk memandu peneliti selama melakukan proses penelitian. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruksionisme, yang mana seluruh elemennya meliputi ontologi, epistemologi, dan aksiologi harus menggunakan ruh konstruksionis.

Asumsi ontologis pada paradigma konstruktivisme adalah besifat relatif. Artinya, realitas sosial dan suatu masalah yang diteliti merupakan realitas sosial buatan yang memiliki unsur relativitas yang cukup tinggi dan berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Asumsi epistemologis dalam pendekatan ini bersifat subjektif-dialektikal. Artinya pemahaman atau temuan suatu realitas yang terdapat di dalam teks media merupakan hasil dari penalaran peneliti secara subjektif dan sebagai hasil kreatif peneliti dalam membentuk realitas. Asumsi aksiologis dalam paradigma ini adalah peneliti bertindak sebagai passionate participant, yakni berperan sebagai fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial.

Analisis framing memiliki implikasi penting bagi komunikasi. Framing menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen-elemen lainnya yang memungkinkan khalayak memiliki dukungan berbeda. Dari sejumlah item berita, terdapat beberapa berita pada masing-masing sumber yang berkaitan dengan tema yang diangkat penulis.

Teknik pengumpulan data pada penelitian framing bersifat multilevel karena akan dibagi menjadi dua level. Pertama, pengumpulan data pada level teks media dan kedua, pengumpulan data pada level manajemen redaksional (Birowo, 2004).

Dengan teknik analisis framing, peneliti mencoba menganalisis pemasalahan melalui teks berita dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan praktisi. Wawancara dilakukan dengan asumsi bahwa pengalaman dan pengetahuan individu akan mengendap dan mengkristal kemudian memberikan kemampuan bagi individu yang bersangkutan untuk memetakan, menerima, mengidentifikasi, dan memberikan label pada informasi yang diterima (Goffman dalam Agus Sudibyo, 2001).

Subyek penelitian ini dilakukan pada individu yang mengetahui tema yang diangkat penulis. Dari sini diharapkan informasi benar-benar memiliki kompetensi dan relevansi dengan pemasalahan yang diangkat.

PEMBAHASAN

Paradigma Baru Pembangunan Ekowisata

Secara global, sektor pariwisata (termasuk ekowisata) pada saat ini menjadi harapan bagi banyak Negara termasuk Indonesia sebagai sektor yang dapat diandalkan dalam pembangunan ekonomi. Pada saat ini sektor pariwisata telah menjadi industri swasta yang terpenting di dunia. Menurut World Travel and Tourism Council, terbukti pada tahun 1993 pariwisata merupakan industri terbesar di dunia dengan pendapatan lebih dari US$ 3,5 triliyun atau 6 %.

Masalah kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan pada saat ini sangat menonjol dan menjadi isu internasional yang mendapat perhatian khusus. Di sisi lain, justru kepariwisataan alam mengalami perkembangan yang meningkat dan signifikan. Kepariwisataan alam kemudian berkembang ke arah pola wisata ekologis yang dikenal dengan istilah ekowisata (ecotourism) dan wisata minat khusus (alternative tourism). Pergeseran dalam kepariwisataan internasional terjadi pada awal dekade delapan puluhan. Pergeseran paradigma pariwisata dari mass tourism ke individual atau kelompok kecil, maka wisata alam sangat berperan dalam menjaga keberadaan dan kelestarian obyek dan daya tarik wisata (ODTW) alam pada khususnya dan kawasan hutan pada umumnya. Pergeseran paradigma tersebut cukup berarti dalam kepariwisataan alam sehingga perlu diperhatikan aspek ekonomi, ekologi, dan masyarakat lokal (sosial)nya (Fandeli dan Mukhlison, 2000 dalam Gunarto, 2004).

Ekowisata Hutan Mangrove

Wisatawan saat ini sangat peka terhadap permasalahan lingkungan. Menyesuaikan dengan kondisi positif ini, konsep-konsep pariwisata dikembangkan sehingga timbul inovasi-inovasi baru dalam kepariwisataan. Salah satu konsep pariwisata yang sedang marak ialah ekowisata, dengan berbagai teknik pengelolaan seperti pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasiskan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu, dimana dalam konsep pengelolaan ini melibatkan seluruh stakeholder yang kemudian menetapkan prioritas–prioritas. Dengan berpedoman tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Konsep ekowisata ini dinilai cocok untuk dikembangkan di Indonesia, dengan beberapa alasan yang melandasinya, pertama; Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati dan ekowisata bertumpu pada sumberdaya alam dan budaya sebagai atraksi. Namun disisi lain Indonesia juga mengalami ancaman terbesar dari degradasi keanekaragaman hayati baik darat maupun laut, sehingga memerlukan startegi yang tepat dan alat/sarana yang tepat pula, guna melibatkan kepedulian banyak pihak, untuk menekan laju kerusakan alam. Kedua pelibatan masyarakat, konsep ini cocok untuk mengubah kesalahan-kesalahan dalam konsep pengelolaan pariwisata terdahulu, yang lebih bersifat komersial dan memarginalisasikan masyarakat setempat, serta mampu menyerap tenaga kerja yang lebih besar. Namun lebih dari itu, demi keberhasilan usaha ini tidak semua kawasan yang memiliki mangrove memiliki potensi pariwisata untuk dikembangkan, yang mana dapat ditentukan atas faktor-faktor berikut:
- Lokasi harus memenuhi kategori seperti keunikan dan dapat dijangkau
- Perencanaan ekowisata dan persiapan oleh masyarakat untuk menjalankan ekowisata sebagai usaha bersama,
- Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kegiatan ekowisata,
- Interpretasi atas alam dan budaya yang baik,
- Kemampuan untuk mencipakan rasa nyaman, aman kepada wisatawan, dan juga usaha pembelajaran kepada wisatawan,
- Menjalin hubungan kerja yang berkelanjutan kepada pemerintah dan organisasi-organisasi lain yang terlibat.

Dilemanya ialah kegiatan pariwisata tidak melulu menghasilkan hal-hal yang indah atau ideal, bahkan sangat sering hal-hal negatif dalam lingkungan dan masyarakat karena kegiatan pariwisata yang terlalu intensif dan secara bersamaan tidak terkelola dengan baik, dan akhirnya membunuh sumber daya yang melahirkan pariwisata itu sendiri. Oleh karena itu pengembangan ekowisata harus dilakukan secara berkelanjutan, yaitu dengan memperhatikan lingkungan, masyarakat dan pergerakan perekonomian yang terjadi sebelum dan selama ekowisata dijalankan.

Ekowisata mampu memberikan kontribusi secara langsung melalui konservasi, yang berupa penambahan dana untuk menyokong kegiatan konservasi dan pengelolaan lingkungan, termasuk didalamnya penelitian untuk pengembangan. Selain itu, pengunjung/wisatawan membantu dalam usaha perlindungan dengan memberikan informasi atas kegiatan ilegal dan membantu dalam memformulasikan semacam “buku petunjuk” pengunjung selama melakukan kunjungan atau berwisata.

Sedangkan kontribusi ekowisata secara tidak langsung melalui konservasi berupa meningkatnya kesadaran publik terhadap konservasi pada tingkat lokal, nasional bahkan internasional. selain itu, pendidikan konservasi selama berwisata menjadi bagian pengalaman yang terbentuk selama wisatawan ber-ekowisata, yaitu dengan melibatkan wisatawan secara langsung terhadap kegiatan pelestarian (sekaligus meningkatkan kualitas produk ekowisata yang ditawarkan).

KESIMPULAN

Pengelolaan dan pelestarian mangrove bisa diterapkan melelui ekowisata hutan mangrove, dengan berbagai teknik pengelolaan seperti pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasiskan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu, dimana dalam konsep pengelolaan ini melibatkan seluruh stakeholder yang kemudian menetapkan prioritas–prioritas. Dengan berpedoman tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Chaniago, J.I. 2008. Ekowisata Berbasis Masyarakat Dalam Percepatan Pembangunan Berkelanjutan (Studi Kasus Konsep Ekowisata Pantai di Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua). Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB). Diakses dari http://pksplipb.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=37&Itemid=1.

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2001. Kriteria dan standar teknis rehabilitasi hutan mangrove. Direk¬torat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Jakarta. 79 hlm.

Gunarto. 2004. Konservasi Mangrove sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. Jurnal Litbang Pertanian, 23(1), 2004.

Irianto, T.Y.P. 2008. Pengaruh Perubahan Kondisi Hutan Mangrove Terhadap Pola Mata Pencaharian Nelayan (Studi Kasus di Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah). Perpustakaan Universitas Indonesia, UI-Tesis S2. Diakses dari http://www.digilib.ui.edu/opac/themes/libri2/detail.jsp?id= 77046&lokasi=lokal

Subadra, N. 2007. Bali Tourism Watch: Penyelamatan Hutan Mangrove Jawaban ”Global Warming”. Diakses dari http://subadra.wordpress.com/2007/11/24/bali-tourism-watch-penyelamatan-hutan-mangrove-jawaban-global-warming/.

Wantasen, A. 2002. Kajian Potensi Sumberdaya Hutan Mangrove Di Desa Talise, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana / S3. December 2002. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Diakses dari http://tumoutou.net/702_05123/adnan_wantasen.pdf



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Menduniaoleh : Irwan Gunawan
19-Apr-2014, 22:28 WIB


 
  Mangga Gedong Gincu, Si Menor yang Mendunia Membicarakan mangga gedong gincu, yang terbayang tentu saja rasanya yang asam manis, tekstur dagingnya yang berserat, bentuknya yang bulat dan warna kulitnya yang kemerah-merahan layaknya wanita berdandan menor dan genit. Inilah kesan pertama ketika menikmati mangga yang kini makin
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu 2014 di Caledonia Baru 10 Apr 2014 11:57 WIB


 
Anjlok, Suara Demokrat di Jatim 20 Apr 2014 12:37 WIB

 

 

 

 
Studi Banding ke Luar Negeri 25 Apr 2014 02:32 WIB

Pasar Terapung di Kalsel 06 Apr 2014 19:18 WIB

 

 
Zat Besi & Vitamin C 11 Apr 2014 21:57 WIB

Era Kualitas Kehidupan Perempuan 25 Mar 2014 21:45 WIB

 

 
Penyertaan Tuhan 20 Apr 2014 00:29 WIB

Satu Langkah Lagi 16 Apr 2014 16:47 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia