|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|

LINGKUNGAN HIDUP
Lomba Tulis YPHL: Hutan Kota, Solusi Terbaik Menyegarkan Kembali Kota Bandung
Oleh : Ahmad Kosasih | 01-Nov-2008, 09:08:03 WIB
|
KabarIndonesia - Saat ini, pertumbuhan penduduk yang cepat memaksa pemerintah untuk menyediakan sarana pemukiman yang banyak. Tidak heran bila lahan pertanian yang dulu subur, berubah menjadi areal pabrik atau industri. Bukit yang dulu hijau, berubah menjadi perumahan atau vila-vila mewah. Kota pun berubah menjadi gersang, udara menjadi kotor, dan tempat bermain pun semakin sempit.
Kondisi ini hampir dialami oleh semua kota-kota besar di Indonesia, tak terkecuali dengan Kota Bandung. Bandung yang memiliki julukan sebagai Kota Kembang, sudah tidak sesuai dengan julukannya. Dulu Bandung memang dipenuhi bunga, pepohonan, dan udaranya berhawa segar menyejukkan. Tapi kini, Bandung berubah menjdi kota yang panas. Bahkan, pada musim kemarau beberapa pekan sebelumnya, udara di Kota Bandung pada siang hari hampir sama menyengatnya dengan kota-kota yang lokasinya bukan di wilayah pegunungan.
Memang, mencermati geliatnya pembangunan, akan membuat prihatin bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap eksistensi Kota Bandung sebagai kota sejuta bunga. Dari tahun ke tahun, lahan terbuka hijau (RTH) berkurang secara drastis. Pemukiman kumuh meningkat pesat. Gedung mewah dan mal-mal menjamur bak cendawan di musim hujan. Dan, semua itu menyerobot wilayah-wilayah yang seharusnya dijadikan area hijau.
Kembalikan Fungsi KBU Di antara hal yang membuat kita prihatin adalah makin menyempitnya area Kawasan Bandung Utara (KBU). Area KBU makin menyempit karena pemerintah Kota Bandung belum bisa mengendalikan pembangunan perumahan di kawasan ini. KBU yang seharusnya difungsikan sebagai daerah hijau, sebagian berubah menjadi area perumahan mewah. Hal ini diperparah pula dengan perilaku sebagian kecil masyarakat yang gemar melakukan penebangan liar, kemudian menanaminya dengan sayuran. Tentu saja, tanaman sayuran tidak cukup mampu untuk menyimpan cadangan air, dan akarnya tidak cukup kuat untuk menahan longsor. Alhasil, setiap tahun terjadi longsor di beberapa titik di kawasan Bandung Utara. Bahkan, seperti diberitakan di beberapa media cetak pada awal musim penghujan 2008 ini, sudah terlihat 23 titik rawan longsor di kawasan Bandung.
Oleh karena itu, pemerintah Kota Bandung beserta jajarannya harus membuat sebuah kebijakan untuk menghentikan laju pembangunan perumahan di area KBU. Bila perlu, dihentikan sama sekali. Termasuk pula untuk menunjau ulang izin developer yang belum merealisikan pembangunan rumahnya di kawasan ini.
KBU harus dikembalikan ke fungsinya semula sebagai area penghijauan. Bukit-bukit yang dulunya gundul harus ditanami kembali dengan pepohonan yang sesuai dengan tekstur dan jenis tanah. Agar program reboisasi di area KBU berhasil, maka pemerintah kota (Pemkot) Bandung harus bekerjasama dengan pemerintahan provinsi (Pemprov) Jawa Barat, Pemkot Cimahi, pemerintah kabupaten (Pemkab) Bandung Barat, dan Pemkab Subang.
Selain itu, Pemkot Bandung pun harus bekerjasama dengan kalangan universitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), pemerhati lingkungan, dan masyarakat setempat. Melibatkan masyarakat secara aktif dalam menjaga hutan merupakan sebuah keniscayaan. Sebab, masyarakatlah yang akan menikmati hasilnya dan masyarakat pula yang bersentuhan langsung dengan wilayah KBU. Hanya saja, perlu pendekatan yang tepat sehingga masyarakat mau terlibat dan merasa perlu untuk menjaga hutan yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Fungsi Hutan Kota Menurut data dari Dewan Pakar Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), dari 16.726 hektar luas Kota Bandung dengan jumlah penduduk 2,5 juta, luas RTH-nya hanya sekitar 1,44 persen. Selain itu, jumlah pohon yang ada di Bandung hanya sekitar 650.000, padahal idealnya 1.250.000 pohon. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, Pasal 8 Ayat 3 disebutkan bahwa persentase luas hutan kotanya saja--tidak termasuk taman kota dan pekarangan rumah--paling sedikit harus mencapai 10 persen dari luas seluruh wilayah kota. Karena itu, Kota Bandung masih minus 8,56 persen RTH-nya.
Atas dasar itu pula, ditambah data yang terdapat dalam peta geologi Bandung, daerah yang berada pada ketinggian hampir 800 meter di atas permukaan laut (dpl) ini termasuk ke dalam daerah inti resapan air. Menurut peta tersebut, sebagian besar daerah Bandung di wilayah utara dan barat, yang tanahnya mengandung tufa berbatu apung dan tufa pasiran, adalah daerah inti resapan air.
Menurut salah satu anggota DPKLTS Sobirin, dengan kondisi tanah yang seperti itu, idealnya daerah Bandung Utara dan Barat banyak ditumbuhi pepohonan untuk menyimpan cadangan air.
Oleh sebab itu, di antara solusi yang dapat dilakukan untuk menghijaukan kembali Kota Bandung, yaitu dengan membangun Hutan Kota dan mengoptimalkan Hutan Kota yang sudah ada. Hutan Kota dapat menjadikan kota lebih nyaman, sehat, dan indah (estetis). Hutan Kota mempunyai banyak fungsi (kegunaan dan manfaat). Hal ini tidak terlepas dari peranan tumbuh-tumbuhan di alam.
Tumbuh-tumbuhan sebagai produsen pertama dalam ekosistem, mempunyai berbagai macam kegiatan metabolisme untuk ia hidup, tumbuh, dan berkembang. Kegiatan metabolisme tumbuh-tumbuhan telah memberikan keuntungan dalam kehidupan kita. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat hidup tanpa tumbuh-tumbuhan.
Memang, banyak kendala dalam membangun Hutan Kota. Kendala tersebut antara lain persediaan lahan yang makin hari makin sempit dan harganya pun makin mahal.
Hutan Kota memiliki beberapa fungsi. Menurut Prof. DR. Ir. Zoer'aini Djamal Irwan, M.S, Dosen di Universitas Trisakti, fungsi hutan kota sangat tergantung kepada bentuk dan struktur Hutan Kota serta tujuan perancangannya. Secara garis besar fungsi hutan kota yang sangat banyak itu dapat dikelompokkan sebagai lansekap, pelestarian lingkungan, dan estetika.
Fungsi Lansekap Fungsi lansekap Hutan Kota meliputi fungsi fisik dan fungsi sosial. Fungsi fisik, yaitu berfungsi antara lain untuk perlindungan terhadap angin, sinar matahari, pemandangan yang kurang bagus, bau yang kurang enak, pemersatu, penegas, pengenal, pelembut, dan pembingkai.
Sedangkan fungsi sosial, yakni memberikan tempat interaksi sosial bagi warga masyarakat yang sangat menyenangkan. Hutan Kota dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan mengandung nilai-nilai ilmiah sehingga Hutan Kota dapat menjadi laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian. Fungsi kesehatan misalnya untuk terapi mata dan mental serta fungsi rekreasi, olah raga, dan tempat interaksi sosial lainnya.
Fungsi Pelestarian Lingkungan (Ekologi) Dalam pengembangan dan pengendalian kualitas lingkungan, fungsi lingkungan diutamakan tanpa mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya. Fungsi lingkungan ini antara lain adalah:
a). Menyegarkan udara atau sebagai "paru-paru kota". Dalam hal ini, Hutan Kota berfungsi menyegarkan udara dengan mengambil CO2 dalam proses fotosintesis dan menghasilkan O2 yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernafasan. CO2 diambil dari udara, sedangkan air diambil dari dalam tanah melalui akar tanaman.
b). Menurunkan suhu kota dan meningkatkan kelembaban. Dengan adanya Hutan Kota, suhu di sekitar tanaman menjadi lebih sejuk. Uap air di atmosfir bertindak sebagai pengatur panas (suhu udara) karena sifatnya dapat menyerap energi radiasi matahari gelombang pendek maupun gelombang panjang. Hutan Kota mempunyai pengaruh besar pada daerah-daerah yang suhunya tinggi, dan sangat bermanfaat khususnya untuk daerah tropis.
c). Sebagai ruang hidup satwa. Tumbuh-tumbuhan selain sebagai produsen pertama dalam ekosistem juga dapat menciptakan ruang hidup (habitat) bagi makhluk hidup lainnya. Di antaranya untuk burung, kupu-kupu, serta serangga. Burung sebagai komponen ekosistem mempunyai peranan penting, diantaranya untuk mengontrol populasi serangga, membantu penyerbukan bunga dan pemencaran biji. Hampir pada setiap bentuk kehidupan terkait erat dengan burung sehingga burung mudah dijumpai. Dengan kondisi tersebut diduga burung dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan, karena apabila terjadi pencemaran lingkungan, burung merupakan komponen alam terdekat yang terkena pencemaran. Makin tinggi tingkat pencemaran udara, akan makin berkurang populasi burung pada suatu kota.
d). Penyanggah dan perlindungan permukaan tanah dari erosi. Dalam hal ini, Hutan Kota berfungsi sebagai penyanggah dan melindungi permukaan tanah dari air hujan dan angin.
e). Mengendalikan dan mengurangi polusi udara dan limbah. Hutan Kota berfungsi sebagai pengendali dan atau mengurangi polusi udara dan limbah, serta menyaring debu. Dalam debu biasanya terdiri dari beberapa komponen zat pencemar. Dalam sebutir debu terdapat unsur-unsur seperti garam sulfat, sulfuroksida, timah hitam, asbestos, oksida besi, silika, jelaga dan unsur kimia lainnya. Berbagai hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan dapat mengakumulasi berbagai jenis polutan (pencemar).
Fungsi Estetika dan Wisata Tumbuh-tumbuhan dapat memberikan keindahan dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma. Karena keindahan dari sebuah Hutan Kota, maka akan menjadi daya tarik masyarakat untuk melakukan rekreasi di dalamya. Di tengah mahalnya biaya hidup maka Hutan Kota akan menjadi solusi untuk tempat berwisata. Selain itu, makin banyaknya orang yang stres akibat meningkatnya permasalahan hidup, maka ruang terbuka hijau akan menjadi area untuk melepas dan mengendurkan urat syaraf yang menyebabkan stres.
Kota Bandung makin hari makin berkembang. Apalagi dengan telah dibukanya jalan tol Cipularang, waktu yang ditempuh wisatawan domestik maupun mancanegara dari arah Jakarta semakin singkat. Hanya dengan waktu 1,5 sampai 2,5 (dua) jam mereka sudah bisa menginjakkan kakinya di kota yang juga disebut sebagai Paris Van Java ini.
Hanya saja, daya tarik Kota Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata, akan makin berkurang. Udara yang makin kotor, cuaca yang makin panas, akan membuat mereka enggan berlama-lama di kota Bandung. Oleh karena itu, mengoptimalkan Hutan Kota yang sudah ada, serta menambah area Hutan Kota baru, merupakan solusi yang sangat tepat.
Memang, membangun Hutan Kota tidaklah semudah membuat kue surabi. Namun, semua itu tidak terlalu sulit bila aparat pemerintah dan semua elemen masyarakat bekerja bersama-sama. Kita mulai dengan diri kita untuk menanam pohon di lingkungan sekitar kita. Ingatlah, bahaya akan mengancam anak cucu kita bila kita membiarkan Hutan Kota di Kota Bandung tidak terjaga, makin berkurang, dan bahkan hilang. Karena itu, mari kita berpartisipasi. (*)
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|