KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniBahasa Indonesia Lebih Gampang, Kata Orang Jerman oleh : Mang Ucup
20-Jan-2019, 19:56 WIB


 
 
Oleh: Anna Knoebl
KabarIndonesia - Saya Anna, mahasiswi yang mengambil studi dengan bahasa pengantar Jerman di Universitas Passau. Sudah setahun saya berkutat di perkuliahan dengan bahasa pengantar Jerman, tapi tetap saja masih kesulitan untuk menulis formal. Padahal saya sudah belajar
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Filosofi Kopi 20 Jan 2019 01:57 WIB

Senja Kan Berlalu 19 Jan 2019 14:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
 

 
 
LINGKUNGAN HIDUP

Sebuah Pemikiran (Opini) Untuk Pelestarian Hutan
Oleh : Ripto Prasetyo | 31-Okt-2008, 18:20:25 WIB

Hutan merupakan penghasil oksigen sebagai ganti karbondioksida yang diserap dari udara. Fungsi inilah yang membuat hutan disebut juga sebagai paru-paru dunia. Sebagaimana paru-paru manusia yang dapat rusak, hutan sebagai paru-paru dunia juga dapat mengalami kerusakan. Kebakaran (secara alami maupun disengaja untuk membuka lahan), penebangan pohon secara liar merupakan ancaman serius bagi kelestarian hutan. Kerusakan hutan membawa petaka bagi kehidupan manusia. Indonesia, sebagai negara yang dijuluki untaian zamrud khatulistiwa memiliki kawasan hutan yang sangat luas. Nyatanya, praktik illegal logging yang kerap terjadi di negeri pertiwi ini sangat sukar diberantas. Kemilau keuntungan yang dihasilkan dari penjualan kayu hutan secara ilegal lebih menggiurkan bagi para pembalak hutan liar dibanding kelestarian alam dan keselamatan anak cucu mereka kelak karena bencana-bencana yang terjadi akibat kerusakan hutan. Pemikiran demi pemikiran disampaikan. Upaya demi upaya pelestarian hutan pun terus diusahakan. Tulisan inipun dibuat, mencoba memberi sebuah pemikiran untuk pelestarian hutan. Mengkaji kembali apa yang dilakukan manusia, manusia melakukan sesuatu atas dasar kebutuhan. Kebutuhan inilah yang menggerakkan manusia untuk berkarya. Secara sederhana, kebutuhan dasar manusia adalah pangan, sandang, dan papan. Lebih lanjut, kebutuhan dasar ini berkembang meliputi pendidikan dan kesehatan. Pada tingkat selanjutnya, keinginan dapat berubah menjadi suatu kebutuhan. Makan merupakan kebutuhan namun makan apa dan di mana bisa mengubah kebutuhan dasar tersebut menjadi keinginan. Mengenakan pakaian merupakan suatu kebutuhan namun menggunakan merk apa dan model seperti apa bisa mengubah kebutuhan akan pelindung tubuh tersebut menjadi keinginan. Dan, secara garis besar, kebutuhan-kebutuhan ini sebagian besar dapat dipenuhi dengan uang. Modernisasi dan kapitalisme memberikan kontribusi yang besar untuk mempengaruhi tujuan hidup manusia. Zaman ini materialisme bukan lagi sesuatu yang tabu melainkan menjadi tujuan akhir bagi banyak orang. Uang. Ya, uang yang hanya sebagai sarana – alat tukar menukar – menjadi dewa dan dipuja-puja (dikejar) oleh banyak orang. Demi uang inilah, orang juga rela melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Orang juga rela mengorbankan orang lain demi kepentingan dan ambisinya pribadi. Dua paragraf di atas penting untuk merefleksikan diri dan menyadarkan kembali mengenai makna kehidupan yang sejati. Dan kaitannya dengan pelestarian hutan – dalam upaya melestarikan hutan – adalah “bagaimana menjadikan upaya pelestarian hutan sebagai kebutuhan?” Sebagaimana teguran, refleksi diri, dan berbagai upaya lain dapat menyadarkan orang akan makna dan tujuan hidup, teguran dapat menyadarkan masyarakat akan arti penting hutan bagi kehidupan manusia. Teguran yang dimaksud tentu dalam hal ini berkaitan erat dengan media. Penggunaan media cetak maupun elektronik secara efektif – membawa pesan yang tepat dan mampu menggugah emosi khalayak – menjadi senjata ampuh untuk menjadikan upaya pelestarian hutan menjadi ‘kebutuhan’ masyarakat Indonesia. Secara spesifik, iklan layanan masyarakat telah digunakan secara luas oleh badan-badan negara untuk mengkomunikasikan pesan yang ingin disampaikan pada masyarakat. Iklan layanan masyarakat dapat digunakan untuk program pelestarian hutan dengan materi yang menyayat emosi pemirsa. Penting untuk menyampaikan keadaan hutan Indonesia yang rusak oleh penebangan liar, ekosistem rusak, dan dampak buruk yang terjadi. Menggunakan saksi hidup yang telah mengalami kondisi buruk akibat bencana alam – yang disebabkan perusakan hutan – akan menyampaikan pesan yang lebih mendalam pada pemirsa. Lebih dalam, untuk melestarikan hutan perlu dipertanyakan kembali “bagaimana menanamkan rasa memiliki hutan – secara positif – kepada masyarakat?” Rasa memiliki secara positif akan menggugah masyarakat untuk melindungi hutan secara aktif bahkan rela berkorban untuk mempertahankannya. Dalam hal ini, hutan perlu dikelola secara baik agar dapat memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan dapat dinikmati secara langsung. Hutan dapat dikelola sebagai objek wisata hutan alami. Pengunjung secara aktif dapat menjadi pengawas hutan dari pembalakan liar. Namun perlu digarisbawahi, cara ini dapat ditempuh dengan meng-edukasi pengunjung akan pentingnya kebersihan kawasan hutan sehingga tidak diperkenankan untuk mengotori kawasan hutan tersebut. Langkah lain yang dapat ditempuh yaitu pengelolaan kawasan area masuk hutan. Dalam hal ini, kawasan area masuk hutan dikelola menjadi area bisnis yang menguntungkan bagi masyarakat. Kawasan tersebut dapat dibangun toko, warung makan, hotel, dan sebagainya. Maksud dari pembangunan kawasan area masuk hutan adalah sebagai pengawasan hutan oleh masyarakat sendiri. Apabila terdapat hal yang mencurigakan, masyarakat dapat segera mengetahui dan melaporkannya pada pihak-pihak yang berkompeten mengurusi hal tersebut. Masyarakat sendiri juga dapat melakukan pengawasan terhadap oknum-oknum aparat yang mungkin membebaskan pembalak karena unsur-unsur suap. Kawasan hutan sendiri dapat dikelola masyarakat menjadi lahan penanaman sayur-sayuran dan obat-obatan. Hutan juga dapat dikelola menjadi areal peternakan yang akan mendukung ekonomi masyarakat. Penebang-penebang pohon dapat diarahkan untuk melakukan usaha bercocok tanam ataupun berternak menggantikan usaha menebang pohon hutan. Untuk langkah pengelolaan inipun perlu diawasi dan diarahkan agar tidak merusak alam hutan. Pengawasan dimulai dari upaya pembukaan sebagian kecil area hutan, proses bercocok tanam/berternak, dan keseluruhan proses lainnya. Semoga pemikiran (opini) ini dapat memberikan kontribusi dalam upaya melestarikan hutan bagi kelangsungan kehidupan manusia di masa depan. Jayalah Indonesiaku, lestarilah hutanku.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australiaoleh : Rohmah S
10-Des-2018, 22:14 WIB


 
  Pergelaran Swimrun Pertama di Asia Tenggara-Australia 20 pelari dari 6 negara: Indonesia, Australia, Amerika, Inggris, New Zealand dan Swedia ikuti swimrun di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan dengan jarak lari 20km dan berenang 3km. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto (kiri)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
 
Muallaf Zaman "Now"! 07 Jan 2019 18:38 WIB

 
 
 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia