KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilDian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia oleh : Robert - Hoki
15-Sep-2014, 11:02 WIB


 
 
Dian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia
KabarIndonesia - Belanda, Kompetisi bisnis antar maskapai penerbangan di Indonesia tergolong tinggi. Pasalnya banyak perusahaan swasta, asing dan milik negara yang memperebutkan pelanggan.
Kesuksesan Garuda Indonesia, sebagai salah satu perusahaan berpelat merah (milik negara) yang bergerak dalam dunia penerbangan dalam negeri
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 
Polisi Gadungan Ditembak Polisi 11 Sep 2014 04:52 WIB


 
Mengaduk Rasa 15 Sep 2014 10:45 WIB

Pergi 12 Sep 2014 12:44 WIB

 
Sumut Gelar Festival Budaya 03 Sep 2014 12:58 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 

Segala Sesuatu tentang Banjir di Kota Semarang

 
LINGKUNGAN HIDUP

Segala Sesuatu tentang Banjir di Kota Semarang
Oleh : Dr. Dito Anurogo | 15-Jun-2009, 11:45:25 WIB

KabarIndonesia - Artikel ilmiah populer ini akan membahas tentang "Problematika dan Solusi Banjir di Kota Semarang" yang meliputi: pendahuluan, definisi banjir, potensi banjir di kota Semarang, penyebab banjir, penyebab banjir di kota Semarang, strategi dasar pengelolaan daerah banjir, solusi banjir di kota Semarang, sistem drainase, dampak banjir, metode pengendalian banjir, langkah antisipasi banjir, mitigasi banjirdengan bantuan masyarakat. Selamat membaca ... .

Pendahuluan
Ditinjau dari karakteristik geografis dan geologis wilayah, Indonesia adalah salah satu kawasan rawan bencana banjir. Sekitar 30% dari 500 sungai yang ada di Indonesia melintasi wilayah penduduk padat. Lebih dari 220 juta penduduk, sebagian adalah miskin dan tinggal di daerah rawan banjir. Pada umumnya bencana banjir tersebut terjadi di wilayah Indonesia bagian barat yang menerima curah hujan lebih tinggi dibandingkan dengan di bagian Timur (Bakornas PB, 2007).

Banjir dan masalah lingkungan yang terus melanda Kota Semarang tidak dapat dilepaskan dari pertambahan penduduk yang terus berlangsung sepanjang tahun. Secara umum yang dapat dicatat BPS Kota Semarang (tahun 2003- 2007) adalah, bahwa selama kurun waktu tahun 2002 sampai dengan tahun 2006, penduduk yang datang di Kota Semarang berturut-turut adalah 34.270 orang pada tahun 2002, selanjutnya 37.063 orang (tahun 2003), 35.105 orang (tahun 2004), 30.910 orang (tahun 2005), dan 42.714 orang pada tahun 2006. Sedangkan 5 kecamatan yang tergolong padat, juga kedatangan penduduk yang cukup banyak pada tahun 2006. Lima kecamatan itu adalah Banyumanik yang kedatangan 4.128 orang, Kecamatan Tembalang 4.136 orang, Kecamatan Pedurungan 6.209 orang, Kecamatan Semarang Barat 4.002 orang dan Kecamatan Ngaliyan 4.059 (Wawasan, 13/01/09).

Definisi Banjir
Beberapa definisi banjir adalah:
1. Banjir adalah suatu keadaan sungai, dimana aliran air tidak tertampung oleh palung sungai, sehingga terjadi limpasan, dan atau genangan pada lahan yang semestinya kering (Departemen Kimpraswil, 2001).

2. Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat (Wikipedia, 2009).

Potensi Banjir di Kota Semarang
Menurut Pramono SS (2002), ada lima potensi banjir di Kota Semarang. Potensi pertama, melihat karakteristik geografi, Kota Semarang memiliki daerah-daerah potensi banjir, karena adanya perbedaan tinggi dataran antara wilayah utara dan ilayah selatan. Kondisi ini terjadi karena adanya banjir kiriman dari wilayah selatan Kota Semarang dan kabupaten Semarang.

Potensi kedua, adanya perubahan pemanfaatan lahan dari hutan karet menjadi perumahan di wilayah kecamatan Mijen memperbesar kerusakan di daerah tersebut. Akibatnya jumlah air hujan yang mengalir ke wilayah Ngaliyan menjadi bertambah dan membuat daerah tersebut terkena musibah banjir; padahal sebelumnya di daerah tersebut belum pernah terkena banjir. Selain penggundulan hutan, perubahan fungsi lahan yang terjadi di wilayah Kabupaten Semarang dari areal pertanian menjadi areal perumahan baru. Penyebab lain, banyak sungai yang berhulu di daerah Kabupaten Semarang melewati Kota Semarang.

Potensi ketiga, adanya pengeprasan bukit di beberapa tempat mengakibatkan perubahan pola aliran air, erosi, dan mempertinggi kecepatan air, sehingga membebani pengairan.

Potensi keempat, pembangunan rumah liar di atas bantaran sungai, pembuatan tambak yang mempersempit sungai dan penutupan saluran di daerah hilir.

Potensi kelima adalah permasalahan non-teknis yaitu perilaku masyarakat kota Semarang yang buruk. Perilaku membuang sampah di saluran dan di sembarang tempat. Rendahnya kesadaran masyarakat koa ditunjukkan sewaktu banjir di beberapa jalan protokol kota Semarang diakibatkan adanya saluran yang tersumbat, namun masyarakat tidak segera mengatasinya melainkan menunggu petugas dari pemerintah Kota Semarang untuk mengatasi permasalahan pada saluran tersebut.

Penyebab Banjir
Menurut Kodoatie RJ dan Sjarief R (2005), ada beberapa hal yang dapat menyebabkan banjir, antara lain: perubahan tata guna lahan (land-use) di daerah aliran sungai, pembuangan sampah, erosi dan sedimentasi, kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase, perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat, curah hujan, pengaruh fisiografi/geofisik sungai, kapasitas sungai, kapasitas drainase yang tidak memadai, pengaruh air pasang, penurunan tanah dan rob, drainase lahan, bendung dan bangunan air, serta kerusakan bangunan pengendali banjir. Perubahan tata guna lahan merupakan penyebab utama banjir dibandingkan dengan penyebab yang lainnya.

Penyebab Banjir di Kota Semarang
Banjir di dataran alluvial sungai dan alluvial pantai Semarang dapat dikelompokkan menjadi tiga macam banjir, yaitu banjir kiriman, banjir lokal, dan banjir rob.

Banjir kiriman yang terjadi secara periodik setiap tahun dan melanda daerah sekitar pertemuan Kali Kreo, Kali Kripik, dan Kali Garang sampai di Kampung Bendungan disebabkan oleh:

a. Peningkatan debit air sungai yang mengalir dari DAS Garang (luasnya 204 km2), DAS Kreo (luasnya 70 km2), dan DAS Kripik (luasnya 34 km2). Peningkatan debit ini disebabkan oleh: intensitas hujan yang besar, atau intensitas hujan yang sama namun jatuh pada wilayah yang telah berubah atau telah mengalami konversi penggunaan lahan.

b. Berkurangnya kapasitas pengaliran atau daya tampung saluran atau sungai tersebut, sehingga air meluap menggenangi daerah di sekitarnya.

c. Banjir kiriman ini diperparah oleh kiriman air dari daerah atas yang semakin besar, sebagai konsekuensi bertambah luasnya daerah terbangun yang merubah koefisien alirannya.

Banjir lokal yang lebih bersifat setempat, sesuai dengan atau seluas kawasan yang tertumpah air hujan, terjadi disebabkan oleh:
a. Tingginya intensitas hujan.
b. Belum tersedianya sarana drainase yang memadai.
c. Penggunaan saluran yang masih untuk berbagai tujuan (multipurpose) baik untuk penyaluran air hujan, limbah, dan sampah rumah tangga, padahal belum bisa diimbangi oleh air penggelontoran yang dialirkan.
d. Banjir lokal ini diperparah oleh fasilitas bangunan bawah tanah (pipa PAM, kabel Telkom, dan PLN) yang kedudukannya sangat mengganggu drainase.

Sedangkan banjir rob yang melanda daerah-daerah di pinggiran laut atau pantai disebabkan oleh:
a. Permukaan tanah yang lebih rendah daripada muka pasang air laut.
b. Bertambah tingginya pasang air laut.
c. Sedimentasi dari daerah atas (burit) di muara sungai (Kali Semarang, Banjir Kanal Barat, Kali Silandak, Kali Banger, Silandak Flood Way, Baru Flood Way, dan kali Asin) maupun sedimentasi air laut khususnya oleh pasang surut (rob), di samping oleh pengaruh gelombang dan arus sejajar pantai, sehingga terjadi pendangkalan muara yang berakibat mengurangi kapasitas penyaluran dan akibat selanjutnya menambah parah banjir di sekitarnya.

Strategi Dasar Pengelolaan Daerah Banjir
Menurut Grigg sebagaimana dikutip oleh Kodoatie RJ dan Sjarief R (2005), ada empat strategi dasar pengelolaan daerah banjir yang meliputi:
1. Modifikasi kerentanan dan kerugian banjir (penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan).
2. Pengaturan peningkatan kapasitas alam untuk dijaga kelestariannya seperti penghijauan.
3. Modifiaksi dampak banjir dengan penggunaan teknik mitigasi seperti asuransi, penghindaran banjir (flood proofing).
4. Modifikasi banjir yang terjadi (pengurangan) dengan bangunan pengontrol (waduk) atau normalisasi sungai.

Solusi Banjir di Kota Semarang
Menurut Yusuf Y (2005), langkah-langkah untuk menangani banjir dibagi menjadi tiga, yaitu: langkah-langkah untuk menangani banjir lokal, banjir genangan, dan banjir rob.

Untuk menangani banjir lokal perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: di Semarang Barat perlu dibangun saluran sabuk, di daerah hilir perlu normalisasi banjir kanal barat dan banjir kanal silandak untuk mengembalikan kepada kapasitas rancangan, di daerah hulu (lahan burit) perlu diatur dengan PERDA tentang kawasan dapat terbangun, kawasan konservasi, dan pembuatan sumur resapan sehingga fungsi daerah atas sebagai daerah resapan terjamin.

Untuk menangani banjir genangan perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: saluran drainase yang ada sebaiknya digunakan untuk mengalirkan air hujan saja (single purpose) dan perlu dibangun saluran tersendiri untuk limbah dan keperluan lainnya, normalisasi dan pemeliharaan saluran-saluran drainase yang ada, perbaikan inlet yang sesuai dengan kapasitas debit yang harus dialirkan, penyusunan PERDA tentang bangunan bawah tanah untuk infrastruktur PLN, PDAM, TELKOM, atau instansi lainnya dan pengaturan luas lahan terbangun, penyuluhan terhadap masyarakat.

Untuk menangani banjir rob perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: pembangunan drainase nongravitasi di Kali Asin, Baru, dan Banger, pembuatan PERDA pengembangan wilayah pantai (termasuk reklamasi) dan izin peil bangunan yang dikaitkan dengan IMB, serta penertiban dan memperketat perizinan air bawah tanah.

Sistem Drainase: Definisi, Fungsi, Kendala
Sistem drainase merupakan suatu sistem untuk mengalirkan atau membuang air hujan yang jatuh di suatu daerah agar tidak terjadi genangan atau banjir (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).

Pada prinsipnya ada dua macam drainase, yakni drainase untuk daerah perkotaan dan drainase untuk daerah pertanian. Pada perencanaan dan pengembangan sistem drainase kota perlu kombinasi antara pengembangan perkotaan, daerah rural, dan daerah aliran sungai atau DAS (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).

Drainase memiliki berbagai fungsi, antara lain: membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat pemukiman) dari genangan air atau banjir, memperkecil risiko kesehatan lingkungan, yakni bebas dari malaria (nyamuk) dan penyakit lainnya, sebagai pembuangan air rumah tangga (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).

Ukuran dan kapasitas saluran sistem drainase semakin ke hilir semakin besar, karena semakin luas daerah alirannya.

Adapun berbagai kendala di dalam pemeliharaan sistem drainase di wilayah kota dengan permukiman yang padat: kurangnya lahan untuk pengembangan sistem drainase karena sudah berfungsi untuk tata guna lahan tertentu, sulitnya memelihara saluran karena bagian atas sudah ditutup oleh bangunan, banyaknya sampah domestik yang menumpuk di saluran sehingga mengurangi kapasitas dan menyumbat saluran. Pemahaman masyarakat bahwa sungai (drainase) sebagai tempat buangan sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan. Terbatasnya dana untuk pemeliharaan saluran. Sistem drainase seringkali tidak berfungsi optimal karena pembangunan infrastruktur lainnya yang tidak terpadu dan tidak melihat keberadaan sistem drainase seperti jalan, kabel TELKOM, pipa PDAM. Secara estetika, drainase bukan merupakan infrastruktur yang bisa dilihat keindahannya karena fungsinya sebagai tempat pembuangan air dari semua sumber. Umumnya drainase di perkotaan kumuh dan berbau tidak sedap. (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).

Dampak Banjir
Banjir yang besar memiliki dampak-dampak yang tidak diinginkan antara lain dampak fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan.
· Dampak fisik adalah kerusakan pada sarana-sarana umum, kantor-kantor pelayanan publik yang disebabkan oleh banjir.
· Dampak sosial mencakup kematian, risiko kesehatan, trauma mental, menurunnya perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-anak tidak dapat pergi ke sekolah), terganggunya aktivitas kantor pelayanan publik, kekurangan makanan, energi, air , dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya.
· Dampak ekonomi mencakup kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi (orang tidak dapat pergi kerja, terlambat bekerja, atau transportasi komoditas terhambat, dan lain-lain).
· Dampak lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan pencemar yang dibawa oleh banjir) atau tumbuhan disekitar sungai yang rusak akibat terbawa banjir.

Dampak banjir terhadap masyarakat tidak hanya berupa kerugian harta benda dan bangunan. Selain itu, banjir juga mempengaruhi perekonomian masyarakat dan pembangunan masyarakat secara keseluruhan, terutama kesehatan dan pendidikan (Arduino dkk, 2007).

Menurut Bakornas PB (2007), dampak bencana banjir akan terjadi pada beberapa aspek (sebagian besar di wilayah Indonesia bagian barat) dengan tingkat kerusakan berat pada aspek-aspek berikut:
1. Aspek penduduk, antara lain berupa korban jiwa/meninggal, hanyut, tenggelam, luka-luka, korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk terisolasi.
2. Aspek pemerintahan, antara lain berupa kerusakan atau hilangnya dokumen, arsip, peralatan dan perlengkapan kantor dan terganggunya jalannya pemerintahan.
3. Aspek ekonomi, antara lain berupa hilangnya mata pencaharian, tidak berfungsinya pasar tradisional, kerusakan dan hilangnya harta benda, ternak dan terganggunya perekonomian masyarakat.
4. Aspek sarana-prasarana, antara lain berupa kerusakan rumah penduduk, jembatan, jalan, bangunan gedung perkantoran, fasilitas sosial dan fasilitas umum, instalasi listrik, air minum dan jaringan komunikasi.
5. Aspek lingkungan, antara lain berupa kerusakan ekosistem, objek wisata, persawahan/lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul/jaringan irigasi.

Yang terpenting dalam keadaan banjir adalah bahaya timbulnya penyakit akibat banjir yang mengancam masyarakat dari semua golongan. Hal ini dikarenakan banyaknya sampah yang terhanyut terbawa air banjir, air got yang bersatu dengan air banjir yang menimbulkan bau yang tidak sedap ataupun septik tank yang luber dan isinya terbawa air kemana-mana, Akibatnya lingkungan kita menjadi sangat kotor, sehingga mempermudah timbulnya penyakit pasca banjir: diare, DBD, leptospirosis, ISPA, cacingan dan berbagai penyakit penyerta lain. Bahkan tidak jarang juga menimbulkan kasus penyakit yang luar biasa (outbreak). Banjir juga menimbulkan dampak menurunnya kondisi tubuh & daya tahan terhadap stress (Wijaya. 2008).

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh bahwa Soegijanto S (2008) tentang penyakit pasca bencana yang sering ditemukan:
1) Polusi udara berdampak sakit batuk sesak.
2) Makanan dan minuman yang terkontaminasi menyebabkan diare akut.
3) Tikus-tikus baik yang mati atau hidup akibat bencana banjir berpotensi menularkan kuman pes dan leptospira.
4) Air kemih tikus perlu dicermati penyakit leptospira.
5) Peningkatan populasi nyamuk Aedes aegypti maupun Albocpitus yang menularkan virus dengue maupun Chikungunya.
6) Dampak trauma kepala dan patah tulang, dibutuhkan kerjasama dengan dokter ahli bedah umum maupun bedah tulang.

Metode Pengendalian Banjir
Menurut Kodoatie RJ dan Sjarief R (2005) beberapa metode pengendalian banjir antara lain:
A. Metode Non-Struktur
Yang termasuk metode ini antara lain: pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), pengaturan tata guna lahan, law enforcement, pengendalian erosi di DAS, pengaturan dan pengembangan daerah banjir.

B. Metode Struktur: Bangunan Pengendali Banjir
Yang termasuk metode ini antara lain: bendungan (dam), kolam retensi, pembuatan check dam (penangkap sedimen), bangunan pengurang kemiringan sungai, groundsill, retarding basin, pembuatan polder.

C. Metode Struktur: Perbaikan dan Pengaturan Sistem Sungai
Yang termasuk metode ini antara lain: sistem jaringan sungai, pelebaran atau pengerukan sungai (normalisasi), perlindungan tanggul, tanggul banjir, sudetan (by pass), floodway.

Langkah Antisipasi Banjir
Menurut Depkes RI (2002), masyarakat perlu juga bersikap dan bertindak untuk mengantisipasi datangnya banjir. Misalnya dengan melakukan hal-hal berikut ini:
• Menjauhi daerah rawan banjir dalam membuka permukiman.
• Bagi yang sudah telanjur bermukim di daerah banjir, sebaiknya meninggikan lantai rumah hingga di atas permukaan air banjir.
• Mengembangkan sistem peringatan dini terhadap banjir di lingkungan masing-masing. Misalnya dengan sirene.
• Mengetahui ke mana harus mengungsi dan meminta pertolongan kesehatan bila datang banjir.
- Mengetahui dan menyiapkan dengan cepat apa yang terpenting untuk dibawa tatkala mengungsi. Yaitu pakaian, air minum, sabun, pasta gigi, obat-obatan, dan bahan makanan yang tahan lama.
• Mengetahui dan dapat melakukan dengan cepat hal-hal penting sebelum meninggalkan rumah untuk mengungsi. Misalnya memutus aliran listrik (menurunkan sekering listrik).
• Menyiapkan sarana transportasi air yang diperlukan ketika terjadi banjir.
• Membantu pengamanan dan keberhasilan usaha-usaha pengungsian dan penyelamatan (evakuasi), sehingga memperkecil jumlah korban dan kerugian yang timbul.

Mitigasi Banjir dengan Bantuan Masyarakat
Menurut UNESCO (2008), banjir tidak dapat sepenuhnya dihindari, namun masyarakat dapat mengurangi kemungkinan terjadinya banjir dan mengurangi dampaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti:
1. Membersihkan selokan, got dan sungai dari sampah dan pasir, sehingga dapat mengalirkan air keluar dari daerah perumahan dengan maksimal.
2. Membuat sistem dan tempat pembuangan sampah yang efektif untuk mencegah dibuangnya sampah ke sungai atau selokan.
3. Menambahkan katup pengaturan, drain, atau saluran by-pass untuk mengalirkan air keluar dari perumahan. Memperkokoh bantaran sungai dengan menanam pohon dan semak belukar, dan membuat bidang resapan di halaman rumah yang terhubung dengan saluran drainase.
4. Memindahkan rumah, bangunan dan konstruksi lainnya dari dataran banjir sehingga daerah tersebut dapat dimanfaatkan oleh sungai untuk mengalirkan air yang tidak dapat ditampung dalam badan sungai saat hujan.
5. Penghutanan kembali daerah tangkapan hujan sehingga air hujan dapat diserap oleh pepohonan dan semak belukar.
6. Membuat daerah hijau untuk menyerap air ke dalam tanah.
7. Melakukan koordinasi dengan wilayah-wilayah lain dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan-tindakan untuk menghindari banjir yang dapat juga berguna bagi masyarakat di daerah lain.

Tindakan-tindakan pencegahan ini sebaiknya dimulai dan dilaksanakan 2-3 bulan sebelum musim hujan. Permohonan untuk dukungan dapat ditujukan kepada institusi pemerintahan seperti Departemen Pekerjaan Umum atau Dinas Kebersihan untuk kegiatan-kegiatan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anies, 2005, Seri Kesehatan Umum Mewaspadai Penyakit Lingkungan, Jakarta, PT Elex Media Komputindo.

2. Arduino, G., Langenhorst, H., Siska, E. M., 2007, Petunjuk Praktis Partisipasi Masyarakat dalam Penanggulangan Banjir, UNESCO Office Jakarta.

3. Bakornas PB. 2007. PEDOMAN PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR. TAHUN 2007/2008. PELAKSANA HARIAN BAKORNAS PB. Jakarta.


4. Budioro, B., 2007, Pengantar Epidemiologi Edisi II, Semarang, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang.

5. DEPARTEMEN KESEHATAN R.I. 2002. Menanggulangi Masalah Kesehatan Akibat Banjir: Pengalaman Menghadapi Bencana Banjir DKI Jakarta Awal Tahun 2002. Jakarta.


6. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah-Badan Penelitian dan Pengembangan Kimpraswil. 2001. Pedoman Teknis Pengelolaan Lingkungan dan Pemantauan Lingkungan Penanggulangan Banjir. Jakarta.

7. Kodoatie R.J., Sjarief R. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Penerbit Andi. Yogyakarta. 2005.

8. Pramono SS. Analisis Penyelesaian Masalah Banjir di Kota Semarang dengan Pendekatan Sistem Peringkat Komunitas (SPK). Jurnal Desain dan Konstruksi Vol. 1. No.2. Desember 2002:108-115.


9. Saputro, S., 1998, Telaah Geologi Thread Banjir dan Rob di Kawasan Pantai Semarang, Semarang, http://ik-ijms.com/category/year-1998/volume-iii-10/ , dikutip 6 Mei 2009.

10. UNESCO. 2008. Petunjuk Praktis Partisipasi Masyarakat dalam Penanggulangan Banjir. Jakarta.


11. Wawasan. Banjir dan Tata Ruang Kota Semarang. Selasa, 13 Januari 2009. Cited from: http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=28890&Itemid=62 Diakses pada: 20 April 2009, 15:03:33 GMT.

12. Wijaya, L., 2008, Kenali Penyakit Pasca Banjir, http://liliswijaya.wordpress.com/2008/11/20/kenali-penyakit-pasca-banjir , Diakses pada 5 Mei 2009


13. Wikipedia. 2009. Banjir. Cited from: http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir. Diakses pada tanggal 26 Apr 2009 00:43:58 GMT.

14. Yusuf Y. Anatomi Banjir Kota Pantai Perspektif Geografi. Penerbit Pustaka Cakra Surakarta. 2005.

Keterangan dan Sumber Gambar
Anak-anak gembira menikmati banjir yang melanda Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Semarang. Gambar diambil pada tanggal 2 Mei 2009 pukul 15.49 WIB.
Sumber: dokumentasi istimewa.



Tentang Penulis

Dito Anurogo

- An Extraordinary Student in School of Medicine, Sultan Agung Islamic University (UNISSULA), Semarang, Central Java.
- A member of International Federation of Medical Students' Associations (IFMSA).
- A member of Center for Indonesian Medical Students' Activities (CIMSA) and Forum Lingkar Pena (FLP) Semarang.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com





 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Bisnis Fotocopy Semakin Kreatifoleh : Jumari Haryadi
11-Sep-2014, 11:53 WIB


 
  Bisnis Fotocopy Semakin Kreatif Jika ingin sukses berbisnis, diperlukan ide-ide kreatif dan inovatif agar bisa memenangkan persaingan pasar yang semakin kompetitif. Tampak sebuah usaha jasa fotocopy di Jalan Cihanjuang, Cimahi (10/09) yang memiliki cara kreatif dalam menarik calon konsumennya yaitu dengan berjualan Alat Tulis
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Desakralisasi Merah 11 Sep 2014 14:51 WIB

 

 

 
Patkor Indindo Sandar di Belawan 15 Sep 2014 10:35 WIB

Buku 100 Tokoh Karo Diluncurkan 15 Sep 2014 10:29 WIB

 

 

 

 

 

 
Desa di Sumut Butuh Dokter 15 Sep 2014 10:43 WIB


 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia