KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilDian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia oleh : Robert - Hoki
15-Sep-2014, 11:02 WIB


 
 
Dian Ediono, GM Garuda Indonesia dan Gaya Kepemimpinan Indonesia
KabarIndonesia - Belanda, Kompetisi bisnis antar maskapai penerbangan di Indonesia tergolong tinggi. Pasalnya banyak perusahaan swasta, asing dan milik negara yang memperebutkan pelanggan.
Kesuksesan Garuda Indonesia, sebagai salah satu perusahaan berpelat merah (milik negara) yang bergerak dalam dunia penerbangan dalam negeri
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 
Polisi Gadungan Ditembak Polisi 11 Sep 2014 04:52 WIB


 
Mengaduk Rasa 15 Sep 2014 10:45 WIB

Pergi 12 Sep 2014 12:44 WIB

 
Sumut Gelar Festival Budaya 03 Sep 2014 12:58 WIB



 
BERITA LAINNYA
 
Gita Gutawa, Diva Muda Indonesia 06 Sep 2014 09:34 WIB

Raffi Achmad Tagih Janji Jokowi 31 Aug 2014 04:13 WIB

 

 

Perdagangan Ilegal Harimau Sumatra Rugikan Negara

 
LINGKUNGAN HIDUP

Perdagangan Ilegal Harimau Sumatra Rugikan Negara
Oleh : Adnun Salampessy, S.hut | 12-Mei-2013, 21:14:49 WIB

KabarIndonesia – Medan, Perburuan dan perdagangan ilegal harimau sumatera telah menjadi penyebab terbesar bagi menurunnya populasi harimau di sepanjang Sumatera. Selain itu, konflik manusia dengan harimau serta perambahan dan perubahan status kawasan hutan yang menjadi habitat harimau, secara sistemik diyakini memberikan kontribusi besar bagi peningkatan laju kepunahan “Kucing Besar” Sumatera ini secara tajam dan dramatis. Hal ini dikupas tuntas dalam sebuah seminar bertajuk Konservasi Harimau Sumatera di kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, (10/5).
 
Kegiatan ini secara kolaboratif dilaksanakan oleh Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU), Forum HarimauKita (FHK), Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program , Biologi Pecinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup (Biopalas) USU serta TIGERHEART-Jaringan Relawan Forum HarimauKita. Hadir sebagai pembicara antara lain Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Andi Basrul, Edina Emininta Ginting selaku Staf Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BBKSDA Sumatera Utara, Hariyawan Agung Wahyudi selaku Executive Officer Forum HarimauKita (FHK), Adnun Salampessy selaku staf peneliti WCS dan Dwi Adhiasto, Wildlife Crimes Unit (WCU).

Ketua Panitia, Muhammad Zulfan Aris menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dan konservasionis muda perihal konservasi harimau sumatera.

"Peningkatan peran publik dalam konservasi spesies kharismatik ini sudah mendesak untuk diupayakan, salah satunya melalui penyampaian informasi langsung dari ahlinya. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan seminar dan pelatihan yang dilaksanakan dari tanggal 10-12 Mei," tegasnya.

Peningkatan kepedulian publik terhadap konservasi harimau sumatera menjadi salah satu misi yang diemban oleh Forum HarimauKita. Peningkatan kepedulian tersebut dilakukan melalui berbagai media seperti seminar, kuliah umum, roadshow dan juga memanfaatkan media sosial seperti website, facebook dan twitter.

Peran publik dalam konservasi harimau sumatera dinilai sangat penting terutama dalam pemantauan perdagangan ilegal harimau dan bagian tubuhnya yang akhir-akhir ini marak di internet. Menurut data Forum HarimauKita, hasil pantauan relawan TIGERHEART, ratusan link teridentifikasi menjual bagian tubuh harimau sumatera.

"Penyampaian informasi terkini tentang status konservasi harimau sumatera kepada masyarakat harus dilakukan secara terus menerus. Harapannya agar masyarakat mendapatkan informasi dengan baik dan tergerak untuk mendukung secara aktif, minimal melalui aksi yang sederhana seperti pemantauan perdagangan online," kata Hariyawan Agung Wahyudi, Executive Officer Forum HarimauKita.

Perambahan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi fokus presentasi yang disampaikan oleh Andi Basrul. Sesuai data yang telah dihimpun, seluas 143.734,87 hektar kawasan TNGL telah terdegradasi dan mengancam kelestarian harimau sumatera. TNGL sendiri telah ditetapkan menjadi warisan dunia dan menjadi bagian dari Tiger Conservation Landscape (TCL) Leuser-Ulu Masen yang merupakan habitat harimau terbesar di dunia. Namun, pada kenyataannya TNGL saat ini kondisinya mengkhawatirkan akibat perambahan lahan.

"Perlu adanya upaya konservasi yang menyeluruh, baik pengamanan populasi yang tersisa maupun restorasi kawasan TNGL. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik pemerintah pusat dan daerah, LSM dan Mahasiswa untuk menjaga kelestarian ekosistem Leuser," jelasnya lebih lanjut.

Populasi harimau di Provinsi Sumatera Utara sebagian besar menempati kawasan Tiger Conservation Landscape (TCL) yaitu Taman Nasional Gunung Leuser dan Ulu Masen pada region Langkat. Menurut hasil monitoring yang telah dilakukan oleh WCS dan Panthera bekerja sama dengan Balai Besar TNGL, sedikitnya 4 individu telah teridentifikasi dari hasil kamera trap. Hal tersebut disampaikan oleh Adnun Salampessy dalam paparan yang berjudul Survey Harimau menggunakan Kamera Trap di TNGL.

"Data tersebut merupakan hasil dari kegiatan survey yang dilakukan dari bulan Januari–April 2013," katanya lebih lanjut.

Menurut data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Indonesia mengalami kerugian lebih dari 9 Triliun Rupiah akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Nilai perdagangan ilegal satwa liar seluruh dunia jauh lebih mencengangkan, yaitu berkisar 10-20 Miliar US Dollar per tahunnya. Nilai ini merupakan terbesar kedua setelah bisnis narkoba. Dan menurut data Wildlife Crimes Unit (WCU), lebih dari 80 persen satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam dan bukan hasil penangkaran, serta lebih dari 90 persen tangkapan di alam tanpa melalui ijin tangkap dan ijin peredaran.

"Model transaksi sekarang lebih banyak dilakukan secara elektronis maupun tunai saat pesanan dikirim. Modus ini mulai terjadi 3-4 tahun belakangan dan semakin marak," ujarnya lebih lanjut.

Kemajuan teknologi informasi ternyata membawa dampak buruk bagi perlindungan sub-spesies harimau terakhir yang dimiliki Indonesia ini. Internet menjadi modus baru perdagangan satwa liar, sehingga transaksi antara pemburu dan pedagang serta konsumen semakin sulit terdeteksi. Mereka menawarkan melalui website, bahkan media yang lebih tertutup seperti BBM. Dwi Adhiasto, Manager Program WCU, semenjak tahun 2011 hingga Maret 2013, sebanyak 18 kasus perdagangan online terungkap, 10 di antaranya adalah perdagangan harimau sumatera. Dari kasus-kasus yang terungkap tersebut, 4 di antaranya sudah divonis penjara. (*)
 


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Bisnis Fotocopy Semakin Kreatifoleh : Jumari Haryadi
11-Sep-2014, 11:53 WIB


 
  Bisnis Fotocopy Semakin Kreatif Jika ingin sukses berbisnis, diperlukan ide-ide kreatif dan inovatif agar bisa memenangkan persaingan pasar yang semakin kompetitif. Tampak sebuah usaha jasa fotocopy di Jalan Cihanjuang, Cimahi (10/09) yang memiliki cara kreatif dalam menarik calon konsumennya yaitu dengan berjualan Alat Tulis
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Desakralisasi Merah 11 Sep 2014 14:51 WIB

 

 

 
Patkor Indindo Sandar di Belawan 15 Sep 2014 10:35 WIB

Buku 100 Tokoh Karo Diluncurkan 15 Sep 2014 10:29 WIB

 

 

 

 

 

 
Desa di Sumut Butuh Dokter 15 Sep 2014 10:43 WIB


 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia