KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniSwasembada Pangan Era Pembangunan, Sebuah Kenangan akan Harapan oleh : Iin Suwandi
04-Mar-2015, 11:53 WIB


 
  KabarIndonesia - Pangan merupakan salah satu kebutuhan primer yang paling mendasar bagi manusia. Kebutuhan pangan sangat penting bagi kehidupan umat manusia yang akan mempengaruhi sendi kehidupan lainnya. Kehidupan sosial politik suatu negara akan terganggu manakala rakyat lapar karena seluruh rakyat
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Derita Hilang, Keluhan Hilang 04 Mar 2015 11:45 WIB

Beras ... Riwayatmu Kini 04 Mar 2015 11:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Banjir Bikin Stres Deera Idol! 18 Feb 2015 20:35 WIB


 

 

Perdagangan Ilegal Harimau Sumatra Rugikan Negara

 
LINGKUNGAN HIDUP

Perdagangan Ilegal Harimau Sumatra Rugikan Negara
Oleh : Adnun Salampessy, S.hut | 12-Mei-2013, 21:14:49 WIB

KabarIndonesia – Medan, Perburuan dan perdagangan ilegal harimau sumatera telah menjadi penyebab terbesar bagi menurunnya populasi harimau di sepanjang Sumatera. Selain itu, konflik manusia dengan harimau serta perambahan dan perubahan status kawasan hutan yang menjadi habitat harimau, secara sistemik diyakini memberikan kontribusi besar bagi peningkatan laju kepunahan “Kucing Besar” Sumatera ini secara tajam dan dramatis. Hal ini dikupas tuntas dalam sebuah seminar bertajuk Konservasi Harimau Sumatera di kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, (10/5).
 
Kegiatan ini secara kolaboratif dilaksanakan oleh Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU), Forum HarimauKita (FHK), Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program , Biologi Pecinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup (Biopalas) USU serta TIGERHEART-Jaringan Relawan Forum HarimauKita. Hadir sebagai pembicara antara lain Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Andi Basrul, Edina Emininta Ginting selaku Staf Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BBKSDA Sumatera Utara, Hariyawan Agung Wahyudi selaku Executive Officer Forum HarimauKita (FHK), Adnun Salampessy selaku staf peneliti WCS dan Dwi Adhiasto, Wildlife Crimes Unit (WCU).

Ketua Panitia, Muhammad Zulfan Aris menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dan konservasionis muda perihal konservasi harimau sumatera.

"Peningkatan peran publik dalam konservasi spesies kharismatik ini sudah mendesak untuk diupayakan, salah satunya melalui penyampaian informasi langsung dari ahlinya. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan seminar dan pelatihan yang dilaksanakan dari tanggal 10-12 Mei," tegasnya.

Peningkatan kepedulian publik terhadap konservasi harimau sumatera menjadi salah satu misi yang diemban oleh Forum HarimauKita. Peningkatan kepedulian tersebut dilakukan melalui berbagai media seperti seminar, kuliah umum, roadshow dan juga memanfaatkan media sosial seperti website, facebook dan twitter.

Peran publik dalam konservasi harimau sumatera dinilai sangat penting terutama dalam pemantauan perdagangan ilegal harimau dan bagian tubuhnya yang akhir-akhir ini marak di internet. Menurut data Forum HarimauKita, hasil pantauan relawan TIGERHEART, ratusan link teridentifikasi menjual bagian tubuh harimau sumatera.

"Penyampaian informasi terkini tentang status konservasi harimau sumatera kepada masyarakat harus dilakukan secara terus menerus. Harapannya agar masyarakat mendapatkan informasi dengan baik dan tergerak untuk mendukung secara aktif, minimal melalui aksi yang sederhana seperti pemantauan perdagangan online," kata Hariyawan Agung Wahyudi, Executive Officer Forum HarimauKita.

Perambahan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi fokus presentasi yang disampaikan oleh Andi Basrul. Sesuai data yang telah dihimpun, seluas 143.734,87 hektar kawasan TNGL telah terdegradasi dan mengancam kelestarian harimau sumatera. TNGL sendiri telah ditetapkan menjadi warisan dunia dan menjadi bagian dari Tiger Conservation Landscape (TCL) Leuser-Ulu Masen yang merupakan habitat harimau terbesar di dunia. Namun, pada kenyataannya TNGL saat ini kondisinya mengkhawatirkan akibat perambahan lahan.

"Perlu adanya upaya konservasi yang menyeluruh, baik pengamanan populasi yang tersisa maupun restorasi kawasan TNGL. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik pemerintah pusat dan daerah, LSM dan Mahasiswa untuk menjaga kelestarian ekosistem Leuser," jelasnya lebih lanjut.

Populasi harimau di Provinsi Sumatera Utara sebagian besar menempati kawasan Tiger Conservation Landscape (TCL) yaitu Taman Nasional Gunung Leuser dan Ulu Masen pada region Langkat. Menurut hasil monitoring yang telah dilakukan oleh WCS dan Panthera bekerja sama dengan Balai Besar TNGL, sedikitnya 4 individu telah teridentifikasi dari hasil kamera trap. Hal tersebut disampaikan oleh Adnun Salampessy dalam paparan yang berjudul Survey Harimau menggunakan Kamera Trap di TNGL.

"Data tersebut merupakan hasil dari kegiatan survey yang dilakukan dari bulan Januari–April 2013," katanya lebih lanjut.

Menurut data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Indonesia mengalami kerugian lebih dari 9 Triliun Rupiah akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Nilai perdagangan ilegal satwa liar seluruh dunia jauh lebih mencengangkan, yaitu berkisar 10-20 Miliar US Dollar per tahunnya. Nilai ini merupakan terbesar kedua setelah bisnis narkoba. Dan menurut data Wildlife Crimes Unit (WCU), lebih dari 80 persen satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam dan bukan hasil penangkaran, serta lebih dari 90 persen tangkapan di alam tanpa melalui ijin tangkap dan ijin peredaran.

"Model transaksi sekarang lebih banyak dilakukan secara elektronis maupun tunai saat pesanan dikirim. Modus ini mulai terjadi 3-4 tahun belakangan dan semakin marak," ujarnya lebih lanjut.

Kemajuan teknologi informasi ternyata membawa dampak buruk bagi perlindungan sub-spesies harimau terakhir yang dimiliki Indonesia ini. Internet menjadi modus baru perdagangan satwa liar, sehingga transaksi antara pemburu dan pedagang serta konsumen semakin sulit terdeteksi. Mereka menawarkan melalui website, bahkan media yang lebih tertutup seperti BBM. Dwi Adhiasto, Manager Program WCU, semenjak tahun 2011 hingga Maret 2013, sebanyak 18 kasus perdagangan online terungkap, 10 di antaranya adalah perdagangan harimau sumatera. Dari kasus-kasus yang terungkap tersebut, 4 di antaranya sudah divonis penjara. (*)
 


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kecamatan Tanjung Raja Menjadi Juara MTQ ke-42 Lampung Utaraoleh : Jumari Haryadi
01-Mar-2015, 10:19 WIB


 
  Kecamatan Tanjung Raja Menjadi Juara MTQ ke-42 Lampung Utara Lomba MTQ ke-42 Lampung Utara yang berlangsung sejak 23 Februari 2015 di desa Subik Kecamatan Abung Tengah berakhir pada 27 Februari 2015. Kegiatan yang diikuti 230 peserta dari 23 kecamatan tersebut dimenangkan oleh Kecamatan Tanjung Raja dan menempatkannya sebagai
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Dukung Program Swasembada Pangan 05 Mar 2015 05:55 WIB

Jangan Takut Ancaman Pihak Asing 05 Mar 2015 05:54 WIB

 
Mereka Tak Tahu Terlahir Kaya 02 Mar 2015 02:13 WIB


 

 

 

 

 

 
NamaKU = JiwaKU 25 Feb 2015 08:26 WIB

 

 

 

 
Belajar dari Kehidupan Lebah 18 Feb 2015 20:28 WIB

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia