KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HukumRUU Omnibus Law Inskonstitusional Buruh Minta Stop Pembahasan Sidang Paripurna DPR RI oleh :
05-Okt-2020, 04:26 WIB


 
 
KabarIndonesia - Berbagai serikat pekerja yang merupakan afiliasi global unions federations menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja tingkat pertama pada Sabtu malam (3/10). Mayoritas fraksi di DPR RI dan pemerintah sepakat untuk melanjutkan pembahasan ke tingkat
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Anak-Anak Dilarang Masuk Kota!!!

 
LINGKUNGAN HIDUP

Anak-Anak Dilarang Masuk Kota!!!
Oleh : Wisnu Wisdantio | 16-Aug-2007, 12:33:28 WIB

KabarIndonesia - Entah hal ini disadari atau tidak, agaknya telah muncul sebuah tren baru dalam dunia anak pra-remaja kita. Mereka tidak hanya fasih mengoperasikan komputer dan handphone, tetapi termasuk mengendarai sepeda motor.

Hampir setiap sore, saya dapat menemukan mereka sedang asyik bersama motor orang tuanya di sepanjang selokan mataram, Yogyakarta, atau bahkan terkadang di pagi hari saat mereka berangkat ke sekolah lengkap dengan seragam SMP-nya. Padahal seingat saya, salah satu syarat untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi adalah harus berusia 17 tahun ke atas.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa memang banyak orang tua yang dengan sadar telah mengajari anaknya mengendarai sepeda motor untuk dapat membantu mereka mencari nafkah, atau jika tidak, beberapa diantaranya merasa anaknya sudah cukup mandiri dan mampu sehingga mereka tidak perlu diantar jemput ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh.  

Selama ini telah banyak dibahas bahwa berbagai kisah getir anak-anak disebabkan oleh kelalaian orang tua, pengaruh televisi, ataupun pengaruh pergaulan. Bahkan sistem pendidikan kita pun sering kali ikut kena getahnya.

Benarkah hal ini benar-benar faktor utama penyebabnya  ataukah ini hanya sebagai imbas semata. Seperti pernah ditulis oleh Rindrasih (2007), Penataan kota saat ini telah menorehkan kegetiran bagi anak anak kita. Telah banyak tempat yang direbut dengan paksa oleh kepentingan uang dan raksasa yang dikenal dengan “pembangunan”. Tanah lapang dan pohon pohon rindang di permukiman berubah menjadi si angkuh dengan wajah kotak kotak dan berpagar tinggi.

Jika kita mau mencermati lebih jauh, dalam obrolan anak-anak kita sudah sangat jarang ditemukan kosa kata bermain dilapangan atau bersepeda keliling kampung. Tetapi, akan lebih mudah kita temukan kata kafe, dugem, kongkow, bahkan kata pacar atau kekasih.  

Pembangunan kota memang memberikan banyak sekali kemudahan. Kita bisa lebih cepat untuk mencapat suatu tempat karena banyaknya jalan yang telah dibangun. Kita bisa mendapatkan berbagai hal lebih mudah karena banyaknya pusat pertokoan disekitar kita. Segalanya serba instan dan siap saji.

Tapi, hal tersebut bagaikan pedang bermata dua bagi anak-anak kita. Jalan raya yang selalu penuh dengan kendaraan bermotor hanya menyisakan sedikit ruang selebar 1,5 meter bernama trotoar atau pedestrian. Itu pun jarang bisa digunakan karena selalu penuh oleh gerobak dan tenda-tenda kaki lima.

Seandainya pedestrian tersebut bersih dari pedagang kaki lima pun, untuk mengaksesnya ternyata masih menyulitkan bagi anak-anak karena harus menyeberangi jalan raya yang padat dan penuh dengan kendaraan yang seakan tengah beradu cepat. Belum lagi dengan berbagai permasalahan dan kerasnya kehidupan kota yang sudah tidak perlu lagi kita pungkiri keberadaannya.  

Ironis. Ketika kita mengagung-agungkan pembangunan yang memberikan berbagai kemudahan dan keuntungan, ternyata hal itu jugalah yang dapat menorehkan kegetiran pada anak-anak.

Anggaplah anak-anak sudah memiliki wadahnya untuk bermain sepuasnya dengan aman, seperti: playgroup, taman bermain, sekolah, dan berbagai fasilitas hiburan dan pendidikan untuk anak-anak baik yang dikelola oleh swasta maupun oleh pemerintah.

Tetapi, sudahkah ruang-ruang tersebut dapat dicapai dengan mudah anak-anak? Pada kenyataannya, anak-anak kita pun tetap harus berhadapan dengan jalan raya dan berbagai kompleksitas permasalahan yang terjadi di ruang kota kita. Lalu, bagaimana juga dengan nasib anak-anak yang secara ekonomis tidak bisa mengakses ke ruang-ruang khusus anak tersebut?  

Ruang kota kita adalah ruang yang di desain untuk memenuhi standar kenyamanan dan kebutuhan ruang beraktivitas orang dewasa. Pembangunan lebih dititik beratkan pada peningkatan ekonomi dan produktifitas belaka.

Kualitas maupun kuantitas jalan dan bangunan lebih penting daripada kualitas ruang terbuka yang bisa digunakan anak-anak untuk bermain. Ironisnya, saat ini ruang yang nyaman dan aman untuk anak hanyalah secuil tanah berpagar dan berlabel nama playgroup, sekolah, taman bermain dan rumah tinggal.

Pembangunan yang tidak seimbang antara ruang untuk dan bukan untuk anak, serta kurang diperhatikannya karakteristik anak-anak yang berbeda dengan orang dewasa sebagai salah satu pengguna kota inilah yang menjadi penyebab anak-anak pada akhirnya tercerabut dari dunianya dan kemudian di-paksa berubah menjadi orang dewasa secara mendadak.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain, tumbuh berkembang secara psikologis. Dunia anak dunia meniru
(Seto Mulyadi, 2005). Sehingga menjadi sangat lumrah ketika anak-anak tetap belajar kata-kata kotor dan perilaku menyimpang meskipun orang tuanya telah melakukan kontrol sosial dan memberikan pendidikan yang terbaik dengan menyekolahkan mereka ke sekolah paling ternama sekalipun.  

Bahkan, meskipun kontrol sosial terhadap anak ditingkatkan, bukankah orang tua tetap mengajak anak-anak mereka belanja dan bermain di mall yang lebih mudah dicari daripada ruang terbuka di kota yang semakin jarang ada. Contoh lainnya, bukankah orang tua tetap tidak bisa menghindari menggunakan kendaraan bermotor untuk mengantar anak-anak mereka ke ruang-ruang tempat mereka beraktivitas seperti sekolah maupun taman bermain. Lalu pertanyaannya sekarang adalah sampai kapankah orang tua akan mengkontrol anak-anak mereka? Sehatkah hal ini untuk anak-anak kita?  

Pedang bermata dua bernama pembangunan inilah yang harus kita cermati bersama keberadaannya. Kita tidak akan pernah bisa menolak pembangunan di kota kita, tapi apakah kita akan membiarkan ketidak seimbangan yang diderita anak-anak karena sampai sekarang anak belum pernah dianggap sebagai salah satu elemen masyarakat yang ikut menghidupi dan membesarkan kota itu sendiri.

Bila kita melihat fenomena semakin berkembangnya lingkungan stasiun yang menjadi ruang hiburan keluarga alternatif seperti yang terjadi di kota Solo, Yogya, Semarang dan masih banyak lagi lainnya, hal ini memperlihatkan bahwa ruang terbuka yang bisa menawarkan informasi khusus secara murah dan mudah dicapai semakin dibutuhkan.

Pendidikan kepada anak tidaklah harus menggunakan internet maupun tumpukan buku-buku paket serta sejumlah fasilitas untuk anak yang membutuhkan banyak biaya. Tetapi juga melalui pengalaman ketika mereka bermain, beraktivitas, dan berada langsung disekitar benda-benda yang belum atau jarang mereka temukan ditempat lain, contohnya kereta api dan pesawat terbang.
Bukankah dana yang dibutuhkan untuk pembangunan dan memikirkan kembali sejauh mana desain trotoar dan kualitas jalan raya di kota sudah memberikan kemudahan untuk dapat dicapai oleh anak-anak akan menghabiskan dana yang lebih sedikit bila dibandingkan kita harus membangun sebuah fasilitas dengan teknologi super modern yang belum tentu semua anak-anak dapat mengakses dan menggunakannya.  

Sampai kapankah kita akan menyerah pada raksasa bernama pembangunan yang sudah menjadi perpanjangan tangan investasi dan modal untuk mengeruk keuntungan semata yang sudah cukup licin mengubah anak-anak generasi muda kita menjadi sapi perahan yang bisa dijadikan lumbung keuntungan bagi mereka? Ataukah kita hanya akan tetap diam melihat anak-anak kita menjadi dewasa mendadak karena hanya orang dewasa saja yang boleh masuk ke kota? Bukankah kota kita masih memasang tulisan dilarang masuk buat anak-anak kita.
Ditulis bersama dengan Erda Rindrasih 

Blog:  http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Email:  redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let
's see here www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembalioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
10-Jun-2020, 09:39 WIB


 
  Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembali Obyek wisata rohani Salib Kasih di pegunungan Siatas Barita, Tapanuli Utara dibuka kembali sejak Jumat (5/6), setelah dua bulan lebih ditutup akibat wabah Covid-19. Lokasi wisata ini salah satu destinasi unggulan yang dibangun bupati Lundu Panjaitan tahun 1993. Puluhan ribu
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
MENJAGA INTEGRITAS INTELEKTUAL. 19 Okt 2020 01:59 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia