KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupGunakan Rantang sebagai Pembungkus Makanan oleh : Irma Susilawati Dana
03-Sep-2010, 01:33 WIB


 
 
Gunakan Rantang sebagai Pembungkus Makanan
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.

Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap
selengkapnya....


 

Enthusiasm by Fida R. Abbott

 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Jurnalis 25 Jul 2010 19:29 WIB

Lowongan Desainer Grafis 19 Mei 2010 14:56 WIB

 
Tim Pencari Fakta Insiden Biau 02 Sep 2010 02:14 WIB

Polda Kepri Bekuk Jambret 29 Aug 2010 21:06 WIB

 
Seleramu yang Puitis 01 Sep 2010 00:37 WIB

Pekarangan Tubuh 30 Aug 2010 02:19 WIB

 
Floriade, Festival Bunga 20 Aug 2010 12:47 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
Meneguhkan KeIndonesiaan Kita 29 Aug 2010 21:03 WIB

Purnama Theatre, Nasibmu Kini 19 Aug 2010 04:04 WIB

 

LOMBA TULIS YPHL : Restorasi Ekologi Hutan Indonesia

 
LINGKUNGAN HIDUP

LOMBA TULIS YPHL : Restorasi Ekologi Hutan Indonesia
Oleh : Sutomo | 22-Okt-2008, 20:17:21 WIB

KabarIndonesia - Bidang kajian restorasi ekologi kini perlu mulai di’seriusi’ di Indonesia. Apa itu restorasi dan mengapa kita perlu melakukannya? Saat ini kita hidup di mana tingkat kerusakan lingkungan berada pada kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Baru-baru ini Indonesia memecahkan rekor Guinnes World Record sebagai negara penghancur hutan tercepat seperti yang dikutip dari SKEPHI dan FAO pada postingan sebelumnya.

Bagaimana tidak, jika hanya pada rentang waktu 2000-2005 saja Indonesia memegang catatan tingkat laju penghancuran tercepat yakni dengan tingkat 1,871 juta hektar atau sebesar 2 persen setiap tahun atau 51 kilometer persegi per hari, atau setara dengan 300 lapangan bola setiap jamnya.

Data-data kerusakan hutan Indonesia selanjutnya semakin mengerikan dan Hutan-hutan gundul juga muncul di daerah ketinggian di lereng-lereng gunung yang sangat mengkhawatirkan, misalnya lahan gundul di gunung Sumbing-Sindoro mencapai 2.459,5 hektar.

Kerusakan hutan juga terjadi di kawasan hutan lindung, sebagai kawasan yang harus tetap dipertahankan keberadaannya. Indonesia memiliki kawasan hutan lindung seluas 32,43 juta hektar dari total areal hutan seluas 130,85 juta hektar.

Namun pada tahun 2006 terdapat 24,78 persen dari total luas hutan lindung atau setara dengan 6,27 juta hektar mengalami rusak berat (SKEPHI,2008). Bahkan pulau Bali pun tidak luput dari ‘menggilanya’ angka kerusakan hutan.

Di Pulau tersebut tercatat sebesar 25% dari total luas hutan disana yaitu 31.817,75 ha telah mengalami perubahan tata guna lahan. Kemudian diperkirakan pula bahwa tiap tahunnya sebesar 350 ha hutan di Bali terbakar.

Kerusakan-kerusakan hutan tersebut membawa banyak konsekuensi dari terdegradasinya suatu ekosistem seperti kerusakan habitat bagi satwa, perubahan fungsi hidrologi, adanya jenis-jenis invasive serta hilangnya kapasitas produktivitas ekosistem.

Oleh sebab itu restorasi terhadap ekosistem tersebut mendesak untuk dilaksanakan. Salah satu kajian ilmu yang diperlukan adalah kajian ekologi restorasi. Banyak yang keliru menyamakan ekologi restorasi dan restorasi ekologi. Lalu apakah ekologi restorasi itu?

Ekologi restorasi adalah cabang yang relatif baru dari ilmu ekologi, yaitu ilmu dan praktek yang diperlukan untuk melakukan pemulihan dan pengembalian suatu ekosistem atau habitat kepada struktur komunitas, komponen alami spesies, atau fungsi alami aslinya (WRI, IUCN, UNEP; 1995).

Masyarakat ekologi restorasi atau Society of Ecological Restoration mengartikan ekologi restorasi sebagai upaya yang disengaja untuk melakukan percepatan pemuliha suatu ekosistem (SERI, 2008). Dengan demikian jelas bahwa ekologi restorasi bertujuan untuk:
  1. Merestorasi situs terlokalisasi yang terganggu atau rusak seperti bekas areal tambang
  2. Untuk meningkatkan kemampuan produktivitas di lahan produksi yang terdegradasi
  3. Memperkaya nilai-nilai konservasi alam di areal lanskap yang dilindungi
  4. Merestorasi proses-proses ekologis di dalam suatu lanskap yang luas
Kemudian apakah restorasi ekologi itu? Restorasi ekologi menaungi berbagai dimensi dari upaya restorasi yang lebih luas tidak hanya mencakup ekologi restorasi, tetapi juga dari sisi kajian sosial, kebijakan dan ekonomi untuk mencapai tujuannya. Saat ini ada beberapa tema kajian atau penelitian yang merupakan bagian integral daripada kajian ekologi restorasi yaitu:
  1. Gangguan terhadap ekosistem dan resiliensi ekosistem. Resiliensi ekosistem adalah topik yang relatif agak baru di bidang ekologi. C.S Holling adalah orang pertama yang menggunakan istilah ini dalam jurnal ilmiahnya yang memperkenalkan konsep resiliensi ini. Pada dasarnya resiliensi ekosistem adalah kapasitas dari suatu ekosistem untuk mentolerir suatu gangguan tanpa merubah struktur dan fungsi utamanya (Walker, 2006).
  2. Suksesi, penyusunan kembali suatu komunitas (community re-assembly) serta pilihan kondisi stabil suatu ekosistem (alternative stable states). Alternatif kondisi stabil suatu ekosistem lagi-lagi adalah hal yang masih agak baru di ekologi. Belakangan ini faham klasik mengenai hutan klimaks dengan sistem homeostatisnya mulai dipertanyakan. Karena pada keadaan yang sebenarnya sangat sulit menentukan apakah suatu ekosistem hutan yang kita lihat dan kita pelajari telah mencapai kondisi klimaksnya meskipun secara nyata kita melihat hutan yang sangat lebat dan agungnya. Bisa saja kondisi demikian adalah hasil daripada kondisi alam dan gangguan alam atau manusia sebelumnya yang terjadi berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun yang lalu. Sangat sulit menentukan kondisi klimaks suatu ekosistem karena sesungguhnya tidak ada satu model yang cocok untuk diterapkan pada setiap ekosistem (one model fits all) karena ke-kompleksitas-an di tiap-tiap ekosistem (Hobbs, 2007). Lebih lengkap mengenai konsep alternative stable states dan ecosystem resilience akan dijelaskan pada tulisan yang lain, terpisah dari tulisan ini.
  3. Langkah-langkah kunci dalam memperbaiki proses di dalam suatu ekosistem. Maksudnya ialah bahwa di dalam merestorasi suatu ekosistem perlu dilakukan ‘diagnosa’ yang tepat sebelum melakukan tindakan. Tidak mungkin kita dapat merestorasi suatu kawasan di bekas areal tambang misalnya dengan hanya langsung menanam bibit pohon di areal tersebut dan berharap pohon-pohon tersebut akan bekerja untuk kita merestorasi kawasan tadi. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila kondisi site atau tapak seperti kandungan unsur hara di dalam tanah tidak mendukung pertumbuhan pohon atau tanaman lainnya karena sudah sangat terkontaminasi. Untuk itu langkah awal untuk kasus seperti ini bukanlah dengan langsung melakukan penanaman, akan tetapi perbaikan kondisi tapak. Hal ini memang bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, diperlukan kerja keras dan penelitian bertahun-tahun sebelum ALCOA, sebuah perusahaan tambang di Australia mampu merestorasi kawasan bekas tambangnya di Western Australia.
  4. Mengarahkan perubahan-perubahan vegetasi (directing vegetation change). Setelah langkah diagnosa dan ternyata kondisi tapak memungkinkan untuk melakukan manipulasi tumbuhan maka perlu dipertimbangkan langkah-langkah yang tepat untuk mengarahkan vegetasi ke kondisi yang kita inginkan. Kebanyakan upaya restorasi mengambil suatu model biasanya adalah kondisi ekosistem tersebut sebelum terdegradasi. Untuk itu sejarah dan catatan serta penelitian sebelumnya di kawasan tersebut perlu di gali kembali untuk menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan seperti; bagaimanakah struktur dan komposisi vegetasi di hutan tersebut pra-degradasi, spesies-spesies apa saja yang menjadi komponen penyusunnya dan bagaimana kelimpahannya. Setelah diketahui maka upaya-upaya pengembalian spesies-spesies tumbuhan tersebut ke dalam ekosistem hutan tadi dapat dimulai. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyingkirkan spesies-spesies alien yang menginvasi kawasan setelah terdegradasi. Misalnya pada suatu hutan bekas terbakar yang terdapat rumpang atau gap yang lebar maka proses suksesi sekunder pun dimulai dengan munculnya spesies seperti Imperata cylindrica dan Melastoma malabathricum. Memang proses suksesi ini akan dapat membawa ekosistem hutan tadi kembali ke kondisi semula akan tetapi memerlukan waktu yang lama. Nah ekologi restorasi melalui upaya directing vegetation change nya berupaya untuk mempercepat proses tersebut. Banyak peneliti yang kini menggeluti bidang invasive alien spesies dan suksesi ekologi yang berupaya untuk mencari alternatif yang terbaik untuk melakukan percepatan proses perubahan vegetasi dan suksesinya.
Ekologi restorasi sebagai cabang dari ilmu ekologi kini tengah ‘menggeliat’ dengan dinamisnya. Untuk mewadahi berbagai aktivitas dan bidang kajian di ekologi restorasi ini maka pada tahun 1988 di USA didirikanlah The Society of Ecological Restoration International. Kini SERI telah memiliki 37 lebih negara yang menjadi anggotanya termasuk USA, Australia, Inggris, Eropa dan India tetapi tidak Indonesia.

Organisasi ini memiliki misi untuk mempromosikan restorasi ekologi sebagai perangkat untuk melestarikan keragaman kehidupan di Bumi dan membangun kembali hubungan yang sehat secara ekologis antara alam dan budaya (SERI, 2008). Indonesia belum tercatat sebagai negara anggota organisasi ini.

Adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat tingkat kerusakan hutan yang terjadi di negeri ini seperti yang telah dijelaskan di awal tulisan. Meskipun pemerintah sudah mulai meng’acknowledge’ pentingnya bidang ini pada tahun 2004 melalui SK MENHUT SK.159/Menhut-II/2004. Akan tetapi saya melihat upaya yang dilakukan hanya berkutat pada upaya penanaman lahan kritis dengan mengabaikan sisi-sisi ilmiah lainnya dalam kajian ekologi restorasi.

Restorasi bukanlah gardening dia tidak melulu berwujud penanaman di lahan kritis tetapi lebih dari itu. Dengan mengabaikan berbagai data ilmiah dan dinamika suatu ekosistem menyebabkan banyak program restorasi menemui kegagalan. Dan ini adalah elemen kunci yang tidak ada dalam upaya-upaya restorasi, tidak hanya di Indonesia akan tetapi juga di negara-negara lainnya.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pengungsi Terancam ISPA dan Diareoleh : Andi Cristop
31-Aug-2010, 23:11 WIB


 
  Pengungsi Terancam ISPA dan Diare Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)
selengkapnya....
 
 

 
BERITA LAINNYA
 
Paska Pidato Presiden SBY 02 Sep 2010 13:58 WIB

Ahmadiyah versi MUI 02 Sep 2010 02:00 WIB

 

 

 

 
DFO Bermasalah dan Feng Shui 17 Aug 2010 23:37 WIB

Penganggur Usia Muda Meningkat 17 Aug 2010 13:45 WIB

 
Bantuan untuk 39 Atlet Siak 02 Sep 2010 14:37 WIB

Liga Inggris: Aroma Laga Terendus 29 Aug 2010 21:13 WIB

 
Belajar dari Warren Buffet 26 Jul 2010 22:59 WIB

Ustadz SolMed, Saingan UJE? 26 Jul 2010 22:29 WIB

 

 

 
Arah Perjuangan Baru JOTHI 20 Aug 2010 04:16 WIB

 
Sarana Komunikasi Tersendat 28 Aug 2010 02:10 WIB

Situs Porno Resmi Diblokir 19 Aug 2010 03:17 WIB

 
IIP Santuni Anak Yatim Piatu 25 Aug 2010 12:53 WIB


 
Yayasan Peduli Hutan Lestari
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia