KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit, dan Tol Media (Sebuah Kesaksian untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
FamGofest 2019 Hadir di BSD City 21 Nov 2019 09:18 WIB

 

 

Perang Melawan Global Warming dengan Empat Kelinci

 
LINGKUNGAN HIDUP

Perang Melawan Global Warming dengan Empat Kelinci
Oleh : Mediyansyah | 22-Des-2008, 00:04:35 WIB

KabarIndonesia - Mbah Man, tukang sampah yang tiap hari lewat depan rumahku, beberapa waktu lalu pernah bertanya, “Mas Med, apa keluarga Mas tidak pernah masak sih?” tanyanya dengan serius. “Lho, ada apa sih Mbah? Soal masak kita biasa saja kok, malah di gang ini kami yang paling jarang ke warung,” kataku.

“Itu loh, wong nyatanya tong sampah di depan rumah Mas jarang-jarang ada isi sampahnya. Tidak pernah ada sisa sayur atau sisa makanan sama sekali,” kata Mbah Man, masih dengan mimik serius.

Aku pun tiba-tiba tersadar, memang aku sekeluarga jarang membuang sampah. Apalagi sampah organik, tidak pernah! Soalnya, adalah sepele. Di belakang rumahku ada empat makhluk kecil berbulu putih yang lumayan rakus. Empat makhluk itu namanya kelinci. Jangankan sisa sayur, nasi setengah basi, papan kayu sisa yang setengah lapuk pun bila dimasukkan ke kandang kelinciku pasti akan dikrikiti hingga ludes. Nah otomatis, telah sekitar lima tahun ini tong sampah kami hanya berisi kadang-kadang saja. Lebih sering kosongnya. Sebab sampah organik sudah diberikan kepada tim pengolah sampah, yaitu keempat ekor kelinci tadi. Sedangkan sampah plastik, kertas, logam dan botol kosong juga jangan ditanya, sebab hampir setiap hari ada saja pemulung atau pembeli rongsokan yang lewat.

Dari pertanyaan Mbah Man, aku juga jadi sadar (tepatnya GR) bahwa diam-diam aku telah menjadi penyumbang aktif dalam “perang” melawan masalah sampah di lingkunganku.  Sebab aku juga tahu, di TPA (tempat Mbah Man dan kawan-kawannya menumpuk sampah) sampah-sampah itu (setelah sisa yang diserbu pemulung, tersisa sampah yang sebagian besar sampah organik) hanya "diolah" dengan cara dibakar saja (Uhg.. dibakar untuk menambah konsentrasi buangan gas karbon ke atmosfer kita, menipiskan ozon dan mengundang global warming). Pagi tadi, sengaja aku menelusuri gang depan rumahku yang hanya 200 meteran, dengan melongok ke setiap tong sampah. Hampir semua tong sampah itu penuh berisi sampah rumah tangga yang setengahnya membusuk. “Betul, makin kusadari, hanya di depan rumahku saja tong sampahnya kosong melompong,” aku membatin.

Kembali kepada keempat ekor kelinciku (petugas pengolahan sampah keluargaku), pagi hari ini mendapatkan seikat besar sisa tangkai kangkung, kulit kupasan kentang dan sedikit sisa nasi kemarin. Semua itu tidak masuk ke tong sampah namun masuk ke perut kelinci. Sebenarnya kelinci-kelinci itu (satu jantan tiga betina) telah beberapa kali beranak. Namun, setelah anak anak kelinci cukup besar, selalu ada saja teman atau tetangga yang memintanya. Jadi jumlahnya jadi tetap saja empat ekor. Jumlah empat ekor ini, aku rasa ideal juga, diukur dengan jumlah buangan sampah organik kami, yang menjadi menu utama mereka. Seandainya jumlahnya lebih banyak lagi, tentu mereka akan kelaparan. Dengan jumlah empat ini, aku hanya perlu sesekali memberi menu tambahan khusus berupa pakan ternak. Selama memelihara kelinci-kelinci ini, aku pelum pernah memotong mereka untuk dimakan, Ngak tega deh rasanya. Namun, hasil yang aku dapatkan adalah beberapa zak kotoran kelinci yang telah menjadi kompos.

Istriku pernah berkata, seandainya banyak rumah tangga di lingkungan ini memelihara kelinci, 2 ekor saja di setiap rumah tangga, tentu beban di gerobak Mbah Man akan lebih ringan. Si tukang sampah, Mbah Man, seringkali harus mengangkut sampah sampai dua-tiga kali angkut dalam sehari, dengan gerobaknya seukuran 1,5 x 2 meter itu.

“Sekarang ini satu kali angkut belum habis sampah di RW kita ini. Jadi setelah mengosongkan gerobak saya berputar lagi memunguti sampah ke sisa tong sampah di rumah lain yang belum terangkut,” kata Mbah Man suatu ketika.

Satu hal yang kini menjadi pikiranku, ingin rasanya mengajari Mbah man dan kawan-kawan petugas sampah kampungku ini agar bisa mengolah sampah lebih baik. Misalnya dengan mengolahnya menjadi pupuk organik (jadi tidak dibakar lagi). Namun hal ini baru mimpi saja, aku beralasan pada 'belum punya waktu.'



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu Spanyol Diulang 18 Nov 2019 12:05 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia