KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalLowongan Kerja PT.Indomaret 2021 oleh : Danny Melani Butarbutar
12-Feb-2021, 00:57 WIB


 
  KabarIndonesia – Jakarta, 💳 Lowongan Kerja PT.Indomaret Resmi DibukaDapatkan pekerjaan dari PT.Indomaret lewat program COVID19. Segera mendaftar pengembangan kompetensi berupa bantuan biaya yang ditujukan untuk pencari kerja, pekerja ter-PHK, atau pekerja yang membutuhkan peningkatan kompetensi. Bantuan akan dikirimkan setiap bulan
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
 
SERBA SERBI

Siapa Bilang Jadi Wartawan Tak Bisa Kaya? (2)
Oleh : Muhammad Subhan | 12-Jan-2008, 23:06:37 WIB

KabarIndonesia - Apapun agama Anda, ungkapan rasa syukur harus senantiasa dipanjatkan pada Tuhan karena Anda telah menjadi seorang wartawan hari ini. Jangan pernah mengeluh karena pilihan hidup sebagai wartawan adalah pilihan yang berat. Jika suatu saat kelak Anda sukses menjadi seorang wartawan dan mengharumkan nama negeri Anda, ketika Anda meninggal dunia anda berhak dianugerahi bintang tanda jasa sebagai pahlawan bangsa di bidang pers.

Keluhan dan rasa jenuh menjadi wartawan umumnya terungkap dari segelintir wartawan muda yang baru pemula menggeluti dunia wartawan. Sekali lagi, yang sering dipersoalkan adalah masalah rendahnya gaji, sementara mereka seringkali didoktrin dengan kalimat "Wartawan Koran/TV Anu tidak menerima imbalan dalam bentuk apapun". Doktrin ini wajib dimuat di box redaksi media bersangkutan dan ada pula yang selalu disiarkan dalam running text televisi.

Yang memprihatinkan, kalimat doktrin seperti itu ternyata seringkali dianggap angin lalu oleh si wartawan dengan sejumlah kalimat; "Tolak amplopnya, ambil isinya". Atau ada pula yang mengungkapkan, "Lihat dulu jumlah angkanya, kalau kecil tolak, kalau besar siapa yang menolak tidak kebagian, lho."  Hmm, kalimat-kalimat miring seperti itu muncul di kalangan wartawan dan sudah menjadi rahasia yang umum. Bahkan di kalangan nara sumber, usai wawancara jarang yang tak menyelipkan amplop dengan kata-kata, "Ini sedikit untuk beli minyak", "Untuk beli rokok", "Ah, kami kan tahu berapa gaji wartawan, ini terima sajalah", dan kalimat-kalimat senada lainnya.

Semuanya menggiurkan dan menggoda. Bagi wartawan pemula, apalagi yang bekerja di media yang tidak profesional, tawaran-tawaran seperti itu nyaris tak tertolakkan. Sebab, jika tak menerima pemberian nara sumber itu, alamat perut bakal keroncongan tak makan sebab gaji di kantor sangat rendah.

Praktek-praktek seperti inilah yang saya katakan idealisme wartawan sering digadai dan tergadai. Mereka pun ibarat memakan buah simalakama, dimakan mati ayah tak dimakan mati emak. Alamak...! Begitu ironiskah dunia wartawan? Begitulah yang sering terlihat dan semua orang tahu. Jika membicarakan gaji wartawan, sering dianggap tabu apalagi menuntut berlebihan ke perusahaan media bersangkutan. Ibarat penyakit bisul yang tersembunyi di balik kulit, terasa gatal dan sakit tapi tak juga meletus. Akhirnya, wartawan-wartawan yang tak mampu menjalani pilihan hidupnya menjadi wartawan sejati, banyak yang hengkang dari dunia jurnalistik dan memilih profesi lainnya yang dianggap layak dan dapat memberikan penghasilan yang lebih baik.  Dan, sekelompok wartawan lainnya yang mengaku masih menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) mempantangkan menerima pemberian dalam bentuk apapun oleh siapa pun yang memberikannya.

Persoalan ini pun menjadi perdebatan panjang yang tak berkesudahan. Ada yang menganggap idealisme harus tetap terjaga, namun nyatanya di depan ada yang berkoar, tapi di belakang ada juga yang menerima.

Lalu muncullah istilah-istilah yang mengkerdilkan profesi wartawan. Ada yang mengatakan "Wartawan Amplop", "Wartawan Bodrek", WTS ("Wartawan Tanpa Suratkabar", "Wartawan Pemeras", "Wartawan Ninja", "Wartawan Kurcaci", "Wartawan Polisi") dan macam-macam istilah lainnya yang mencoreng citra pers di mata masyarakat.

Dampak sosial yang disebabkannya, banyak masyarakat yang meragukan idealisme wartawan. Wartawan tak lagi berpihak pada kepentingan masyarakat, pemberitaan bias dan tidak berimbang, ada uang menulis berita tak diberi uang berita hilang, dan sejumlah cemoohan lainnya terhadap dunia kewartawanan.  Lalu, siapa yang dirugikan? Jawabnya, wartawan sendiri dirugikan. Masyarakat juga ikut rugi akibat tindakan oknum wartawan yang menyalahkan tugas dan wewenangnya sebagai pihak yang memberi informasi.


Gaji Kecil, Siapa Takut?

Sebenarnya, seberapa besar gaji wartawan di Indonesia? Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Jakarta pada tahun 2006 pernah melakukan survei pada sejumlah wartawan yang bekerja pada media-media di Jakarta tentang gaji yang mereka terima setiap bulan. Dari survei AJI itu terungkap, gaji wartawan Tempo Rp 2.250 juta per bulan, Kontan Rp 2,3 juta, Kompas Rp 3.260 juta, Media Indonesia Rp 2,2 juta, Bisnis Indonesia Rp 4 juta, Republika Rp 2,2 juta, Berita Kota Rp 1,2 juta, Smart FM Rp 1,350 juta, VHR Rp 1,5 juta, KBR 68H Rp 3,2 juta, Trans TV Rp1,7 juta, RCTI Rp 2,5 juta, SCTV Rp 2,150 juta, Metro TV Rp 2,8 juta, Indosiar Rp 2 juta, El Shinta TV Rp 1,7 juta, dan Detik Rp 2,4 juta.

Survei AJI Jakarta itu hanya untuk wartawan media-media (cetak dan elektronik) yang terbit di Jakarta. Belum ada terbetik kabar ada lembaga lain yang melakukan survei terhadap berapa besar gaji wartawan-wartawan yang bekerja pada berbagai media di daerah.  Namun menurut informasi yang saya himpun sendiri, pada beberapa kota seperti Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jogjakarta, Makassar, dan beberapa daerah lainnya, ditemukan banyak wartawan yang masih bergaji rendah. Tanpa menyebutkan media mana, saya harus berkata bahwa rata-rata gaji wartawan di daerah di Indonesia ada yang menerima antara Rp 200 ribu hingga Rp 600 ribu. Sangat jauh dari yang diharapkan dan tak sebanding dengan tugas-tugas si wartawan di lapangan yang kerap berhadapan dengan hukum, penjara bahkan maut.

Kenapa media-media hasil survei AJI Jakarta itu memberikan gaji di atas UMR pada wartawannya? Jawaban pertama, karena demikianlah sewajarnya seorang wartawan yang bekerja secara profesional digaji pula dengan nilai gaji yang profesional. Kedua, media-media terbitan Jakarta umumnya bermodal besar dan memiliki jaringan luas, bahkan memiliki koresponden di masing-masing daerah. Jumlah penerimaan iklan mereka juga cukup besar sehingga dari hasil iklan memberikan nafas segar untuk kelangsungan penerbitan media serta menggaji seluruh karyawan dengan gaji yang layak. Koran Kompas, andai saja menggratiskan koran cetakannya buat pembaca Indonesia, kemungkinan Kompas masih untung karena besarnya jumlah iklan yang diterima setiap hari.

Lalu kenapa media-media lokal di daerah sangat rendah memberikan gaji kepada wartawan mereka? Ini pertanyaan klasik, sebab pemilik modal umumnya individu pribadi dan manajemen banyak diatur oleh orang-orang terdekat di lingkungan keluarga karena perusahaan yang menghidupkan koran adalah perusahaan keluarga. Sistem manejemen kekeluargaan yang didominasi pemilik modal inilah yang menciptakan keterpisahan atau jarak antara pimpinan media dan wartawan. Wartawan tidak lebih sebagai pekerja yang tidak memiliki hak lebih kecuali sesuai apa yang ditetapkan perusahaan. Wartawan menuntut? Jangan coba-coba. Wartawan di daerah sering tak mampu berbuat banyak karena mereka "dikuasai" oleh pemilik modal. Tak terima terhadap gaji yang diberikan? Boleh menerima pilihan, keluar baik-baik atau dipecat dengan tidak hormat!

Nah, beberapa realita di atas menjadi cermin bagi wartawan pemula bahwa resiko yang mereka hadapi memang cukup berat. Tugas di lapangan banyak namun gaji tak sebanyak yang diharapkan. Namun demikian kehidupan harus tetap dijalani dan menjadi wartawan sejati memang berpantang menggadai harga diri dan idealisme sebagai wartawan. Masih banyak cara lain menambah penghasilan tanpa harus meninggalkan profesi wartawan yang sudah merupakan jalan hidup untuk meneruskan kehidupan. (bersambung)

Ikutilah Lomba Menulis Surat Cinta!!!

Blog:  http://www.lomba-suratcinta.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: 
http://kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Hacker ClanX12 15 Jan 2021 06:38 WIB

 

 
Kenaikan Cukai Rokok Ditunda 04 Nov 2020 00:50 WIB

 

 

 
 

 

 
 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia