KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
BudayaUndang-Undang Cagar Budaya Disosialisasikan oleh : Ki Agus N. Fattah
27-Aug-2014, 10:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Bandung, Dalam sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung (Disdikbud Kab. Bandung), Drs. H. Agus Firman Zaini, M. Si., Juli 2014 lalu, pada Kegiatan Sosialisasi Undang-Undang Cagar Budays Tingkat Kabupaten Bandung tahun 2014, dituturkan, Pemerintah melalui misinya,
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 

Perempuan Dalam Safir Cinta

 
SERBA SERBI

Perempuan Dalam Safir Cinta
Oleh : Rere Z | 02-Nov-2012, 09:26:51 WIB

Judul: Safir Cinta
Penulis  Faradina Izdhihary
Penerbit: WritingRevo Publishing, 2012
ISBN: 978-602-18484-4-9
Tebal: 275 hal
Harga: Rp 45.000,-

Saat ini seiring dengan kemajuan teknologi, begitu mudah membaca berita di media massa cetak atau elektronik tentang perempuan yang diperkosa atau kasus seks bebas remaja. Akibat peristiwa itu perempuan bisa sangat menderita karena mungkin terjadi kehamilan di luar pernikahan. Penderitaan berlanjut ketika kehamilan tak diinginkan itu melahirkan anak-anak tak berdosa yang mendapat stigma dan perlakuan diskriminatif oleh masyarakat sebagai anak haram.

Di sisi lainnya, karya sastra yang baik itu adalah tulisan yang mampu memotret kondisi sosial masyarakatnya. Novel ini mampu memotret perempuan dalam kaitannya dengan perkosaan dan hamil di luar pernikahan, serta kasus anak haram.

Penulis yang juga seorang perempuan, mampu merangkai kalimat-kalimatnya dalam kisah kelam perempuan dengan organ reproduksinya itu dengan halus di tengah begitu banyak misteri yang menyelubungi tiga perempuan.

Kisahnya menjadi begitu unik karena terjadi pada tiga generasi yang berbeda dengan kondisi yang berbeda pula. Semua perempuan itu cantik. Perempuan generasi pertama, neneknya Reysa hidup dengan tingkat pendidikan rendah dalam selimut kemiskinan. Perempuan generasi berikutnya, ibunya Reysa mampu menyelesaikan SMA-nya tapi masih hidup dalam kondisi ekonomi sederhana. Reysa mampu menyelesaikan pendidikan tingginya, bahkan dia bisa menyelesaikan S3 dan hidup dalam gelimang kemewahan.

Selain perkosaan, perempuan-perempuan itu masuk dalam lingkaran laki-laki biadab yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sri, neneknya Reysa, perempuan miskin dan tak berpendidikan menjadi korban perkosaan dan dicampakkan di pinggir kuburan desa. Perkosaan itu membuat Sri hamil dan melahirkan Endang.

Sejarah berulang dalam versi lain, Endang hamil karena keluguannya bersama teman sekolahnya. Orang tua pihak laki-laki tidak merestui hubungan mereka sehingga dia melahirkan Reysa. Saat hamil pun Endang diperkosa Santjoyo, ayah tirinya yang pengangguran, pemabuk, biasa berselingkuh, serta pelaku KDRT terhadap istrinya.

Endang dinikahkan dengan Mulyono, suami bayaran. Ternyata Mulyono di kampungnya sudah mempunyai dua istri. Di sana Endang dikurung dengan istri-istri lainnya dan mengalami KDRT pula sehingga dia pindah kota, membesarkan Reysa sendiri. Dia tidak hidup dengan ibunya karena Sri sudah pergi menjadi TKW.

Reysa yang cantik, mandiri, dan cerdas menikah dengan laki-laki baik dan mempunyai dua anak. Kepedihan, kisah kelam nenek dan ibunya, serta keberadaannya sebagai anak haram menimbulkan dendam kepada laki-laki. Dendam itu disalurkannya melalui kecanduannya kepada alkohol dan hubungan seks dengan banyak laki-laki.

Muncul laki-laki istimewa yang ternyata bagian dari masa lalunya yang kelam yang mencoba merengkuhnya ke jalan kebaikan. Ada laki-laki lainnya juga yang tidak menerima nasibnya dipermainkan Reysa. Dua laki-laki itu menjadi penyebab terjadinya satu pembunuhan.

Bagaimana nasib Reysa selanjutnya? Apakah perbuatan nistanya terbongkar? Bagaimana sikap ibu, suami, dan anak-anaknya? Apakah dia akan tetap berkubang dosa atau dia menjalani pertaubatan lalu menjadi manusia yang lebih suci dengan banyak  kesalehan ritual dan kesalehan sosial?

Tidak ada gading yang tak retak. Terlepas dari beberapa bagian yang tidak jelas point of view (POV) tokohnya apakah POV orang pertama atau orang ke-3 dan ada sedikit salah ketik nama-nama tokoh, novel ini layak dibaca dan dimiliki. Tidak hanya layak baca bagi perempuan, novel ini juga harus dibaca laki-laki supaya bisa merenung, lebih memahami perempuan dan kehidupan.

Alur maju mundur novel ini tidak mengurangi kenikmatan membaca, apalagi penulis lihai menulis yang mengalir dengan bahasa indah tapi mampu memunculkan kejutan-kejutan sehingga proses membaca tidak membosankan. Pesan moral pun tersampaikan dengan baik tanpa kesan menggurui.

Keunikan lainnya dari novel ini karena penulisnya seorang guru yang sudah mencicipi pendidikan S2 dengan wawasan luas.  Isinya bukan hanya konflik dalam diri tokoh-tokohnya dan konflik antar tokoh atau konflik dengan masyarakat di lingkungannya. Novel ini juga menyajikan pengetahuan  tertentu, misalnya tentang tradisi bojoku bojomu (halaman 54) atau filosofi Jawa "swarga nunut naraka katut" dan "wong lanang iku pangeran kathon" (halaman 35). Masih banyak lagi hal-hal lain yang memperkaya batin pembaca dari novel ini sehingga bisa lebih bijak menapaki kehidupan.
*** 

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Upacara Bendera HUT RI-69oleh : Gholib
22-Aug-2014, 08:56 WIB


 
  Upacara Bendera HUT RI-69 Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69, 17 Agustus 2014, puluhan anggota pecinta kereta api dan pegawai PT. KAI melakukan upacara bendera di pelataran gedung Lawang Sewu Semarang, Jateng, dengan memakai baju dan atribut pejuang tempo dulu.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB

 

 

 

 

 
Satukan Dukungan Bagi Timnas 15 Aug 2014 05:15 WIB

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia