KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Nyatakan Tiga Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Habibie oleh : Danny Melani Butarbutar
11-Sep-2019, 14:48 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Dikabarkan, pada hari ini Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18,05 WIB, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie (B J Habibie), telah meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, pada usia 83 tahun. Jenazah almarhum telah diberangkatkan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Siapa Kau Siapa Aku? 02 Sep 2019 10:28 WIB

AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

Kenapa Mudik Penting?

 
SERBA SERBI

Kenapa Mudik Penting?
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 03-Jun-2019, 09:52:01 WIB

KabarIndonesia - Hari Raya Idul Fitri atau yang lazim disebut Lebaran sudah diambang waktu. Semakin mendekatnya hari Lebaran semakin sering pula kita mendengar pertanyaan: mudikkah?

Pertanyaan ini mungkin mudah dijawab bagi keluarga mampu. Namun bagi mereka yang hidupnya pas-pasan. Pertanyaan ini membuat kita menjadi bingung. Tidak jarang orang yang menjadi "bingung" ketika harus mudik, mencari pinjaman alias ngutang pun dilakukan.

Hasrat dan keinginan pulang Mudik besar sekali. Namun terkadang keadaan keuangan tidak mengijinkan. Daripada dianggap sebagi Wong Kere (miskin) karena tida bisa Mudik. Maka lebih baik memberikan jawaban: “Sudah tidak kebagian tiket /tempat lagi!”

Istilah MUDIK berasal dari akar kata UDIK yaitu kampung atau desa atau lawan katanya dari KOTA. Sehingga dengan sederhana bisa diambil kesimpulan, bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman. Namun kata UDIK juga terkadang terkesan negatif. Maklum siapa yang mo disebut sebagai ORANG UDIK atau KAMPUNGAN alias n’Deso!

Kalau direnungkan pada zaman komunikasi tanpa batas ini seharusnya mudik ini tidaklah terlalu penting lagi. Teknologi komunikasi, telpon, internet dan lainnya bisa membantu silaturahmi itu. Dimana saja dan kapan saja, kita bisa melihat, berbicara sepuas-puasnya dengan sanak saudara, asal cukup pulsa saja. Bahkan kalau dihitung-hitung lebih murah biayanya dibanding harus memboyong satu keluarga mudik ke kampung halaman.

Disamping itu MUDIK itu bayarannya tidaklah murah. Bukan hanya dari segi keuangan saja, melainkan dari segi fisik juga. Maklum pada saat MUDIK; macetnya jalan sudah tidak ketolongan lagi. Terkadang bisa sehari semalaman penuh di perjalanan.

Hal ini dirasakan, bukan hanya bagi para pengendara motor atau yang naik bis kota saja. Bahkan bagi mereka yang naik Mercedes sekalipun. Semuanya akan mengalami nasib dan stress yang sama!

Memang sudah adat istiadat orang Jawa, untuk selalu menjalin tali kekerabatan dan mengunjungi sanak keluarga. Ada semboyan mereka yang terkenal itu, "Mangan ora mangan sing penting kumpul" = makan tidak makan yang penting berkumpul !

Maka dari itu entah apapun alasannya HARUS TETAP MUDIK!
Dalam bahasa Jawa ngoko, Mudik berarti ‘MULIH DILIK’ yang berarti pulang sebentar saja. Sedang dalam bahasa Sunda MUDIK = Mulang Kanu Ngadidik (Pulang Kepada yang Mendidik).

Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran.
Manusia tidak hanya butuh makan dan minum, sukses menjadi pejabat atau menjadi orang kaya. Lewat mudik secara psikologis memberi sumber kekuatan mental baru bagi mereka. Sebab, selama ini kehidupan di kota bagai panggung sandiwara.

Semrautnya kota-kota besar, membuat kita ingin mencari tempat yang damai, sambil mengenang indahnya masa kecil dibelai orang tua. Misalnya mengenang saat mencuri mangga tetangga, ataupun ketika kita nonton bioskop sebagai tempat hiburan satu-satunya.

Hal ini membuat mereka akan kelelahan, bosan, dan jenuh serta membutuhkan tempat yang lebih nyaman dan aman. Terlebih lagi mereka ingin mencari tempat dimana mereka bisa menjadi dirinya sendiri lagi atau BE YOUR SELF tanpa TOPENG.

Di kampung halaman, saya lebih dikenal dengan nama si Tompel. Disitu tidak ada lagi GAP atau jarak yang memisahkan kita dengan teman sejak kecil kita.
Di situ pula saya tidak perlu pakai jas atau naik Mercy lagi. Disana tidak ada kantor mewah melainkan rumah sederhana dimana kita dari sejak kecil tumbuh menjadi besar. Di situ tidak ada sekretaris pribadi lagi, melainkan adik kandung atau teman sejak kecil kita.

Hal inilah yang ingin saya rasakan lagi pada saat saya pulang mudik! Buat para sahabat, selamat menikmati Mudik.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia