KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniPresiden, Jangan Cengeng! oleh : Iman
29-Jul-2010, 01:22 WIB


 
 
Presiden, Jangan Cengeng!
KabarIndonesia - Di sela-sela pencanangan Gerakan Indonesia Bebas Pemadaman Listrik Bergilir di Mataram kemarin, Presiden SBY kembali curhat. Beliau mengeluh dengan menyebut ada gerakan politik yang saat ini berkampanye keliling Indonesia menjelek-jelekkan pemerintahan. Gerakan itu, kata SBY, mengatakan seolah-olah Indonesia
selengkapnya....


 

Enthusiasm by Fida R. Abbott

 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Jurnalis 25 Jul 2010 19:29 WIB

Lowongan Desainer Grafis 19 Mei 2010 14:56 WIB

 
Peringkusan Buruh Bongkar Muat 29 Jul 2010 01:39 WIB

 
Senja di Danau Bratan 29 Jul 2010 01:31 WIB

Citambur, Berdebur 26 Jul 2010 23:20 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

Musafir Kecil

 
SERBA SERBI

Musafir Kecil
Oleh : Henny Listyowati | 24-Jan-2010, 02:32:42 WIB

KabarIndonesia - Sejak usia balita sampai usia sebelas tahun, aku tinggal dan diasuh oleh kedua eyang dari pihak mama. Kedua orangtuaku memang sengaja menitipkanku kepada eyang, sementara beliau merantau ke ibukota Jakarta.

Hubunganku dengan eyang kakung-putri, semua om, dan tante yang kala itu masih lajang cukup dekat. Tak heran ketika papa menjemputku untuk tinggal di kota mereka, ada ruang hatiku yang kosong. Bunyi peluit kereta api yang akan membawaku pergi terdengar seperti jeritan agar aku tidak meninggalkan Yogyakarta, kota kelahiranku. Bunyi itu seperti suara peringatan tentang ketidakpastian yang menghadang di depanku di kota asing bernama Jakarta. Sampai saat ini jika aku mendengar bunyi peluit kereta api, hatiku serasa tercubit.

Sepanjang malam aku tidak dapat tidur, suara roda kereta menggilas rel besi landasannya menimbulkan suara bising atau justru gemuruh hatiku yang gelisah penyebabnya.  Entahlah. Pukul 04.10 WIB perjalananku berakhir di Stasiun Gambir, sejuknya udara pagi tak sempat aku hirup, hatiku masih gelisah.  Tanpa kusadari kedua telapak tangan dan kakiku basah oleh keringat. Tak lama kegelisahanku teralihkan oleh sebuah benda aneh berbaris di tempat parkir berbaur dengan taksi, becak dan bemo. Aku belum pernah melihat kendaraan ini. Bentuknya seperti becak tapi bagian penumpang tidak terbuka layaknya sebuah becak. Bagian penumpang tertutup oleh kaca berbentuk bulat mirip seekor capung. Rupanya papa melihatku tertegun-tegun. Beliau menggandeng tanganku menuju benda aneh itu. “Ini namanya helicak, seperti becak tapi cara mengendarainya tidak dikayuh.”  Papa menjelaskan, aku sibuk mengamati helicak. “Didorongnya pakai sepeda motor ya, Pa?” tanyaku karena aku melihat sebuah knalpot di samping roda belakang. “Ya, kita akan naik helicak menuju rumah,” sambut papa dengan suara riang.

Kota Jakarta, kota asing sekaligus membuatku takjub. Selain helicak, tugu Monas adalah salah satu bangunan yang aku kagumi karena aku tak habis berpikir bagaimana orang dapat membangun menara setinggi itu, bagaimana mengangkut puluhan kilo emas ke atas puncak menara itu. Ada sebuah lagi monumen yang membuatku takjub dan karena takjubnya, membuatku untuk pertama kalinya mendapat teguran papa-mama.

Suatu sore, mama meminta papa untuk membeli bakmi goreng lauk makan malam. Aku menemani papa berkendara vespa menuju rumah makan langganan di daerah Tebet. Dua bungkus bakmi goreng ada di pangkuanku terbungkus tas plastik, bau harumnya cukup membuat “pasukan kampung tengah” memberontak. Aku membayangkan makan malam yang enak dengan nasi hangat ditemani bakmi goreng. Lamunanku buyar ketika kulihat sebuah patung menjulang tinggi di atasnya ada sosok laki-laki berbalut libatan kain seolah hendak meraih sesuatu.  Yang membuatku heran adalah tiang penyangga patung. Vespa yang dikendarai papa melintas mengelilingi monumen, mataku lekat mengamatinya tanpa kusadari bungkusan mie goreng lepas dari kantong plastik. Tiba di rumah, mie goreng tersisa satu bungkus.

Adaptasi yang paling sulit adalah memahami bahasa, tepatnya dialek Betawi. Aku bersekolah di SD Negeri 05 pagi di daerah Menteng. Teman-teman di sekolah dan di sekitar rumah sering berbicara dengan kata-kata yang sulit kupahami. Suatu pagi setelah selesai mengerjakan tugas piket menyapu ruang kelas, Sriyatun, teman sekelas menghampiriku, “Hen..., no...nyak nye si Ramlan manggil elo!”  Apa sih maksudnya si Sri, “Kenapa  Ramlan?” sahutku. “Bukannye si Ramlan, nyak nye...nyak nye Ramlan, noh liat...di depan kantor guru.” Aku melayangkan pandangan ke arah telunjuk Sriyatun. Astaga, itu Bu Ester, guru Bahasa Indonesia. Aku berlari ke arah kantor guru, kulihat Bu Ester tersenyum melambaikan tangan. Senyum itu yang menenangkanku ketika pertama kali kakiku menginjak ruang kelas 5A, Bu Ester wali kelasku. “Ada apa, Bu?” tanyaku. “Sudah sarapan Hen?” “Sudah, Bu.  Mama membuatkan susu dan roti tawar mentega”. “Hmm...sekarang kamu coba makan nasi ini, enak lho.  Namanya nasi uduk, ibu yang buat.” Bu Ester menyodorkan kotak makanan bergambar Micky Mouse. Sejak itu aku menyukai nasi uduk Betawi plus semur kentang dan bihun gorengnya.

Sekian puluh tahun sudah berlalu, meski aku sudah menjadi penduduk resmi kota Jakarta, belajar dan bekerja di kota ini, namun hatiku tetap bertaut dengan kota kelahiranku, Yogyakarta.  Kurindu ketenangannya, kurindu jenang gempol kesukaanku, kurindu semua sudut kota masa kecilku. (*)

Sumber foto: google images 


Penulis: Peserta Pelatihan Menulis Online HOKI (Angkatan II)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi.kabarindonesia@gmail.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Bencana Banjir Rusak Tanaman Jagungoleh : Rahmad Nur
28-Jul-2010, 12:28 WIB


 
  Bencana Banjir Rusak Tanaman Jagung DAMPAK BANJIR - Lahan jagung seluas 7 hektar menjadi rusak akibat terkena dampak banjir di Kecamatan Kota Barat Gorontalo, Rabu (28/7). (*)
selengkapnya....
 
 

 
BERITA LAINNYA
 
Hari Anak dan "Kaulinan Baheula" 26 Jul 2010 23:36 WIB

Generasi Emaskah Anak Indonesia? 26 Jul 2010 02:24 WIB

 
Blok Migas Natuna akan Beroperasi 26 Jul 2010 02:23 WIB

 

 

 

 

 
Belajar dari Warren Buffet 26 Jul 2010 22:59 WIB

Ustadz SolMed, Saingan UJE? 26 Jul 2010 22:29 WIB

 

 

 

 

 

 

 
Yayasan Peduli Hutan Lestari
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia