KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRektor Universitas Pendidikan Indonesia Tutup Usia oleh : Barnabas Subagio
23-Apr-2017, 20:52 WIB


 
 
KabarIndonesia - Bandung, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Furqon, MA. Ph.D., menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (22/4/2017) pukul 10:25 WIB di Rumah Sakit Advent, Jl. Cihampelas No.161, Cipaganti, Coblong, Kota Bandung.
Menurut informasi yang dihimpun pewarta KabarIndonesia, awalnya beliau sedang
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Nantikanlah Kedatanganku 25 Apr 2017 23:06 WIB

Dalam Diam... 12 Apr 2017 17:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ajak Warga Jakarta Bersatu 10 Apr 2017 22:11 WIB


 
 
SERBA SERBI

Naik Kereta Api Tut Tut Tut
Oleh : Juswan Setyawan | 23-Des-2008, 23:54:19 WIB

KabarIndonesia - Kemarin saya coba-coba belajar naik kereta api dari stasiun Rawa Buaya ke Beos.

Tarif untuk kereta api Express pakai AC, Benteng, tujuh ribu lima ratus. Mau yang lebih murah? Bisa naik kereta kelas ekonomi. Tarif hanya sepertiganya. Tapi dijamin berjubel dan pepak bau aneka aroma yang nano-nano. Kereta berangkat dari Tangerang. Di Rawa Buaya naik sekitar 20-an penumpang. Kebanyakan dari etnik Tionghoa.

Hampir semua masih kebagian tempat duduk. Satu dua memang terpaksa bergayutan model tarzan kota. Rupanya penumpang rutin sudah saling kenal. Jadi banyak yang bertegur sapa. Malahan ada yang jualan nasi bungkus dan kue gemblong. Transaksi berjalan lancar. Masing-masing sudah tahu harga. Jadi tinggal menyebutkan jumlah permintaan saja. Celoteh dan canda seru dalam berbagai dialek bahasa daerah termasuk bahasa Jakarta.

Kereta hanya berhenti sekali di stasiun Duri. Setelah itu langsung tancap ke Kampung Bandan untuk mundur kembali ke arah stasiun Kota, Beos. Waktu tempuh sekitar satu jam.

Untuk yang berkantor di MH Thamrin dan Sudirman tersedia kereta api express pakai AC, Cisadane. Berhenti di stasiun Dukuh Atas. Dari sana ke kantor masing-masing terserah mau naik oplet atau ojek. Ada tetapinya.

Kereta ini hanya satu kali jalan di pagi hari sekitar jam 7 pagi. Seterusnya sampai sore jangan harap ada kereta pada trayek ini. Untuk kembali ke Rawa Buaya malam hari, kereta berangkat jam 6 dan 8.

Dari stasiun kota saya naik busway Transjakarta ke jurusan Blok M. Tarif jauh dekat tiga ribu lima ratus. Tidak begitu padat juga. Di interchange Harmoni sebagian penumpang turun untuk antri ke koridor bus jurusan lain. Ada yang ke jurusan Pulogadung dan yang ke Kalideres.

Waktu tempuh sampai Blok M juga kurang dari satu jam. Setelah berkeliaran sejenak di sekitar Mal Blok M yang belum buka, lalu saya kembali naik busway ke jurusan Harmoni.

Turun di halte Gelora Senayan untuk ngopi sambil sarapan pagi. Roti bakar pakai selai kacang. Mau masuk ke Plaza Senayan ditahan pak Satpam. Ternyata masih terlalu pagi dan belum buka juga. Baru akan buka jam 10 pagi. Saya naik lagi busway ke arah Kota. Turun di halte sekitar bundaran Hotel Indonesia di depan Grand Hyatt Hotel.

Lalu saya jalan kaki menuju ke Mal Grand Indonesia. Kepingin tahu toko buku Gramedia yang sempat diresmikan pak SBY. Seperti apa sih tokonya? Penasaran hati saya. Ternyata lumayan besar juga tokonya. Walaupun koleksi bukunya - saya kira, sedang-sedang saja. Tidak semua buku tersedia seperti di sesama TBG yang lain. Konon sudah ada 18 gerai lain? Wah!

Ada eskalator ke lantai kedua yang menjual khusus buku-buku import. Di sana juga tersedia fasilitas Café sehingga bisa baca sambil minum. Atau minum sambil baca. Mau yang mana? Terserah anda sajalah.

Buku-buku dalam masa promosi mendapat korting 30 persen. Kalau pakai Credit Card BCA ditambah ekstra korting 5 persen lagi. Aku iseng beli 3 buah buku total seharga 168 ribuan. Bayar hanya 109 ribuan. Lumayan dan terasa juga kortingnya.

Tapi hanya sampai tanggal 26 Desember saja masa promosinya. Jadi para kutu buku… atau kutu kupret… Kalau mau beli buku murah… Bukan promosi nih, ya!… Bergegaslah satu dua hari ini ke sana selagi masih sempat dapat korting gede.

Dari HI saya naik busway lagi ke kawasan Glodok-Pinangsia. Masuk gang-gang senggol labyrinth Harco yang sempit. Masya’allah… home industry atau workshop industry kaset bajakan luar biasa. Dilakukan secara terbuka dan terang-terangan! Tidak tahu para polisi sedang berada di mana. Tak tahu soal Perlindungan Hak Cipta masih pernah terpikirkan oleh semua umat yang berseliweran di kawasan ini.

Saya lihat berkarung-karung kaset bajakan diangkut. Tentunya untuk dipasarkan ke daerah lain di negeri pembajak ini. Business as usual. – anyhow, anyway, busway – tapi saya bukan “membenarkan yang tidak benar” lho ya!

Mungkin ada positifnya juga bagi para orang kecil. Supaya dapur mereka tetap berasap di masa-masa sulit krisis ekonomi global sekarang ini. Soal para pembajak hak cipta biarlah para penegak hukum memikirkan solusi yang terbaik selain kolusi.

Cuius culpa? Emangnya salah siapa? Satu jari menunjuk ke depan, tiga jari menunjuk ke diri sendiri, satu jari menunjuk ke samping!

Hari sudah jam 1.30 siang. Cacing sudah minta ransum siang. Maka saya pesan seporsi Sop Betawi. Sop ayam tentunya, dan bukan sop kambing, karena kemarin ukuran tensi berkutat di 140 mHg. Ditambah seporsi sate serta minuman ice lemon tea.

Makan di lokasi ini beda sekali dengan makan di Mal. Kelihatannya manusianya santai-santai saja. Anteng, damai. Mungkin sesantai sebagian dari mereka yang turut secara langsung atau tidak langsung [abang-abang, mbak mbak, penjaja PKL, dan lain-lain dalam industri pembajakan masal di sekitar ini.

Dari Glodok saya naik busway ke jurusan Kalideres. Sekali ini penumpang cukup berjubel. Apalagi di interchange Harmoni untuk jurusan Kalideres. Sebelum sampai di Kalideres saat di Rawa Kepa saya turun bus untuk ganti arah dan naik kembali busway ke jurusan Kota.

Sudah setengah sinting saya barangkali. Dari Harmoni sampai Kota pokoknya berdiri terus kayak patung oglek. Tidak dapat tempat duduk sama sekali kecuali sekedar tempat bergayut.

Sampai di Beos hari baru jam 3 lewat. Padahal kereta api baru akan berangkat jam 4 sore. Dapat beli tiket tetapi tidak dapat tempat duduk di peron. Walah! Mana kaki sudah nyeri semua. Terpaksa nangkring di kantin sambil menikmati es campur yang rasanya nano-nano.

Di Beos ini ada belasan jalur kereta api. Jadi kalau menunggu di jalur yang keliru, bisa-bisa orang ketinggalan kereta. Di sini berlaku “malu bertanya ketinggalan kereta”…

Sore ini ternyata kereta api express AC, Benteng, terlambat setengah jam. Shame on you! Good bye punctuality. Kereta melaju dengan cepat ke Rawa Buaya dan hanya mampir sekali saja di stasiun kampung Duri. Karena pintu yang dibuka hanya pintu satu dan dua sedangkan kebagian duduk di gerbong sepuluh, ya!

Terpaksa deh cepat-cepat angkat pantat pindah tempat ke gerbong dua. Kereta tiba di Rawa Buaya sekitar jam 5 sore. Dari situ naik ojek tarif 5 ribuan pulang ke rumah setelah seharian berpetualang di jalur kereta api dan busway.

Pagi ini yang tersisa ialah rasa kram di kedua betis. Nyeri di telapak kaki. Dan rasa bonyok di sekujur tubuh. Apa yang didapat? First experience mengenai seluk-beluk mass transportation di Jakarta.
Kereta api belum optimal dimanfaatkan. Busway dalam dilemma si malakama. Bila terlalu banyak bus disediakan pada mubazir pada jam-jam sepi. Bila terlalu kurang disediakan maka empet-empetan seperti ikan sardencis di jam-jam rame. Jam pagi dan pulang kerja dan jam-jam istirahat siang juga rame sekali.

Manusia hanya bisa belajar dari pengalaman otentik. Demikian juga Pemda DKI akan belajar dari pengalaman mencari titik optimal penyediaan armada busway. PJKA harus lebih mensoasialisasikan dan mengoptimasikan fasilitas yang ada.

Kesan umum kereta api express AC memang terpelihara apik dan bersih. Keamanan kereta api dan terutama busway terjaga. Di setiap pintu bus Transjakarta tersedia petugas kemanan dengan nomor punggung. Mereka bertugas membantu keluar masuknya para penumpang… termasuk keamanan bus tentunya.

Pengamen nakal di KA juga ada walaupun tidak memaksa. Tetapi di jurusan Kota ke Tangerang sempat ditegur Petugas Keamanan PJKA. Mereka berkali-kali diminta pindah ngamen ke kereta ekonomi. Tampaknya mereka sangat enggan juga. Maklumlah. Kereta ekonomi begitu impit-impitan kebanyakan penumpang? Sedangkan mereka bawa perangkat perkusi juga. Serba salah juga memang. [*]




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Koreografi Tari Kontemporeroleh : Zulkarnaen Syri Lokesywara
04-Apr-2017, 01:32 WIB


 
  Koreografi Tari Kontemporer Mahasiswa jurusan Seni Tari Semester IV ISI Surakarta melaksanakan ujian koreografi tari kontemporer menggunakan media benda keras di Teater Kecil ISI Surakarta, Senin, 3 April 2017. Berbagai benda keras digunakan sebagai media para mahasiswa mengeksplorasi gerak, mulai dari payung, kurungan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
MAKASSAR: Kota Plural dan Nyaman 19 Apr 2017 22:12 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia