|
|
|
| |
KabarIndonesia - Kampanye lingkungan, sudahkan berdampak positif pada perubahan gaya hidup? Pertanyaan itu ditujukan untuk kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.
Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap selengkapnya....
|
|
|

SERBA SERBI
Pemikiran Kartini dan Kodrat Perempuan
Oleh : Henny Listyowati | 24-Apr-2009, 09:22:48 WIB
|
KabarIndonesia - Buku Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan Balai Pustaka, itu buku pertama yang saya baca dan melalui buku itu untuk pertama kali saya mengenal Ibu Kartini. Saat itu saya masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, Pak Slamet guru kelas kami memberi tugas meringkas buku tersebut dengan memberikan tema "Siapa Ibu Kartini?"
Saya tidak ingat detil isi ringkasan yang saya buat, yang saya ingat kesan saya setelah membaca buku itu Ibu Kartini adalah seorang perempuan yang pemberani, berani menyatakan isi hatinya, prinsip hidupnya, dan tetap memegang teguh prinsip yang dianggapnya benar.
Mengapa saya terkesan hal tersebut? Karena itu sejalan dengan didikan yang saya terima dari kedua Eyang saya, ya, memang dibesarkan oleh kedua Eyang sampai saya berusia 11 tahun. Beliau selalu menasehati saya, bahwa meskipun kamu anak perempuan, kamu bisa melakukan semua hal yang bisa dilakukan semua manusia termasuk anak laki-laki. Dengan nilai yang ditanamkan itu saya tumbuh menjadi perempuan mandiri, beberapa teman dekat berpendapat bahwa saya 'sangat' mandiri. Buku Kartini terbitan Djambatan dan buku Panggil Aku Kartini Saja karangan Pramoedya Ananta Toer, itu buku kedua dan ketiga yang saya baca tentang Ibu Kartini. Saat itu saya sudah memasuki bangku Sekolah Menengah Atas tingkat akhir, dan pemahaman saya tentang Ibu Kartini tetap sama ditambah dengan pola asuh yang ditanamkan oleh kedua Eyang, saya mulai mempertanyakan apa sesungguhnya emansipasi perempuan bagi Ibu Kartini dan saya? Pergulatan pikiran Ibu Kartini memang tidak lekang oleh waktu untuk dijadikan bahan diskusi, setiap tahun bangsa Indonesia selalu merayakan hari kelahirannya dengan berbagai bentuk acara, mulai dari lomba berpakaian ala Kartini sampai diskusi bertema berat seperti "apa relevansi pemikiran Kartini bagi wanita Indonesia modern?" Bagi saya, sebenarnya pertanyaan dasar yang menjadi bahan pergulatan awal Kartini adalah "mengapa saya tidak dibolehkan untuk melanjutkan sekolah?" yang kemudian pergulatan pemikiran itu berkembang seiring dengan kedekatan Kartini dengan beberapa tokoh politik Belanda pada waktu itu. Kartini dikenal sebagai seorang perempuan Jawa yang berpikiran maju oleh sahabat-sahabat penanya di Belanda maupun di Eropa. Bangsa Indonesia kemudian mengenang Kartini sebagai tokoh yang memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia. Pemikiran Kartini memberikan dampak positif bagi kaum perempuan Indonesia saat ini. Saya akui bahwa perempuan Indonesia sudah diberikan keleluasaan bergerak untuk memegang jabatan di berbagai bidang yang dahulu merupakan wilayah kaum laki-laki.
Tapi jika saya cermati sebenarnya perempuan Indonesia belum terlepas dari non-emansipasi (kalau boleh saya menggunakan kata ini). Karena arti kata emansipasi dalam KBBI terbitan Pusat Bahasa tahun 2008 adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Jadi non-emansipasi, jika boleh diartikan belum memperoleh emansipasi. Mengapa saya berpendapat demikian?
Karena meskipun kaum perempuan Indonesia sudah menduduki jabatan-jabatan terhormat, mereka masih dinilai bukan perempuan yang baik jika mereka tidak mempunyai ketrampilan yang baik dalam mengelola rumah tangganya. Karena bagi pemikiran budaya Indonesia bahwa sudah menjadi kodrat perempuan, bahwa mereka harus terampil mengelola rumah tangganya. Pemikiran inilah yang mungkin menjawab pertanyaan sebuah artikel yang saya baca "mengapa perempuan Indonesia tidak tampil "pede" percaya diri ketika menduduki jabatan terhormat?"
Karena peran ganda yang mengatas-namakan "kodrat" itulah yang membuat perempuan Indonesia modern tampil tidak "pede". Menurut saya, sesungguhnya inilah belenggu yang masih mengikat dalam diri kaum perempuan Indonesia dan diikatkan oleh budaya Timur yaitu "kodrat perempuan." Arti kata "kodrat" dalam KBBI terbitan Pusat Bahasa tahun 2008 adalah hal yang berkaitan dengan kemampuan alami, atau hukum alam.
Jadi berdasarkan arti kata, kodrat perempuan adalah hal-hal yang ada dalam diri seorang perempuan yang bersifat alami. Pertanyaan selanjutnya adalah apa saja kodrat perempuan itu? Kodrat perempuan, menurut saya ada 4 yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Kemampuan alami yang Tuhan berikan dalam diri seorang manusia yang berjenis kelamin perempuan yang tidak bisa dilakukan oleh seorang manusia yang berjenis kelamin laki-laki adalah keempat hal tersebut.
Jadi kembali pada peran ganda yang dilekatkan pada seorang perempuan Indonesia hanya sebatas empat hal tadi, selanjutnya untuk pengasuhan, pengelolaan rumah, dst itu bisa dilakukan bersama-sama "partner hidup" yaitu suami dan bukan merupakan tanggung jawab penuh isteri. Mungkin pemikiran saya ini terlalu radikal, namun itulah yang saya amati dan menjadi pergulatan pemikiran saya yang akhirnya mendapatkan kesimpulan sementara, seperti yang saya ungkapkan.
Semoga tulisan ini dapat menyumbangkan pemikiran bagi perempuan Indonesia agar mereka lebih kritis untuk menerima setiap "label" yang diberikan baik oleh lingkungan sekitar ataupun budaya kita. (*)
Sumber foto : Google Image
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
Hari kelima (31/8) pasca pengungsian akibat adanya letusan Gunung Sinabung, keadaan 1.500 pengungsi di pos penampungan Jambur Taras, Berastagi mulai terganggu masalah kesehatannya. Tim medis yang bertugas mengatakan bahwa penyakit ISPA dan diare mulai menyerang para pengungsi. (*)selengkapnya.... |
|
|
|
|
|