KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID - 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID - 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

Sebuah Kisah tentang Ibu

 
SERBA SERBI

Sebuah Kisah tentang Ibu
Oleh : Eko Sugiarto | 22-Des-2008, 15:53:51 WIB

Renungan untuk Memperingati Hari Ibu

”Boleh saya melihat bayi saya?” kata seorang ibu yang baru melahirkan dengan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan dia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, sang ibu menahan napas. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga.

Waktu terus berjalan. Bayi itu pun kini telah menjadi seorang bocah yang lucu. Meskipun pendengarannya normal, penampilan anak tersebut kurang sedap dipandang. Pasal, telinganya terlihat aneh. Terlalu kecil dan tak ada daun telinganya. Mirip dua buah lubang yang ada di sisi kiri dan kanan kepalanya.

Suatu hari anak lelaki itu berlari pulang ke rumah. Dia membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu. Ya, anak itu menangis. Sambil terisak, anak itu berkata, ”Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.” Mendengar pengaduan si bocah, mata sang ibu berkaca-kaca. Dia tahu kekecewaan anak satu-satunya itu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tahun pun sudah berganti berkali-kali. Anak lelaki itu kini telah tumbuh menjadi anak pintar dan lincah. Meskipun cacat, dia terlihat cukup tampan. Ia disukai teman-teman sekolahnya. Bakatnya di bidang musik dan menulis mulai terlihat. Namun dalam hati, sang ibu merasa kasihan kepada anaknya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. ”Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Namun, harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata sang dokter. Kemudian, orang tua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Bahkan, mereka bersedia membayar berapa pun untuk dua telinga itu. Namun, mereka tak mendapatkan seorang pun yang bersedia menjual telinga, apalagi mendonorkan.

Beberapa bulan sudah berlalu. Tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya. ”Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya kepadamu. Dalam minggu ini, kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk operasi. Namun, semua ini sangat rahasia,” kata sang ayah.

Hari yang dinantikan pun tiba. Operasi berjalan dengan sukses. Anak laki-laki itu terlihat sangat bahagia dengan penampilan barunya. Berkali-kali dia memandang wajahnya ke cermin. Rasa percaya dirinya kian tinggi. Hal ini membuatnya semakin giat belajar. Bakat musiknya kian terlihat. Berbagai penghargaan pun dia terima. Tak hanya tingkat sekolah, melainkan hingga tingkat kota dan provinsi. Namanya pun dikenal di seluruh penjuru kota.

Sekian tahun telah berlalu. Sang anak kini telah menjadi seorang laki-laki dewasa. Dia kini sudah bergelar sarjana dan telah menikah dengan seorang gadis cantik, putri seorang pengusaha. Namun dia justru memilih menjadi seorang diplomat.

Suatu hari, dia menemui sang ayah. ”Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan kedua telinganya untukku. Aku harus berterima kasih kepadanya untuk semua ini. Dia telah berbuat sesuatu yang besar, namun hingga saat ini aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”

Mendengar hal itu, sang ayah menjawab, ”Ayah yakin kau tak akan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat, sang ayah melanjutkan, ”Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orang tua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku, lalu menyibak rambut hitam panjang itu sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. ”Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. ”Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, bukan?”

Lelaki itu baru tahu bahwa orang yang telah puluhan tahun dia cari ternyata selalu ada di dekatnya. Ya, lelaki itu baru tahu bahwa kepada ibunyalah seharusnya dia mengucapkan terima kasih karena sang ibu telah memberikan kedua telinganya. Lelaki itu tak kuasa menahan air mata. Dia menangis di dada sang ayah.

”Kau sekarang tahu, Nak. Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun di dalam hati. Lihatlah. Ibumu tetap terlihat cantik meskipun tanpa telinga. Perlu kau ketahui juga. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, melainkan pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan tetapi tidak diketahui,” kata sang ayah sembari mengusap kepala lelaki itu.

Catatan:
Cerita ini merupakan saduran bebas dari sebuah cerita yang sudah tersebar di beberapa mailing list. Terima kasih untuk seorang kawan di Medan yang telah mengirimkan cerita ini dua (atau tiga) tahun silam. Bagaimana kabarmu, Kawan?


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
WUPID - 2017 Berfoto Bersamaoleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 00:06 WIB


 
  WUPID - 2017 Berfoto Bersama Para peserta, juri dan panitia WUPID Indonesia 2017, Jakarta (14-15/10/17), berfoto bersama di akhir acara. Dua dari 30 tim (berhak mewakili Indonesia di QUIP WUPID (World Universities Peace Invitational Debate) Global 2017, Malaysia (8-12/12/17). Aldwin & Ibrahim - Universitas
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Ekspedisi NKRI Gelar Nikah Massal 20 Okt 2017 05:37 WIB

Skenario Menjatuhkan TNI 19 Okt 2017 00:54 WIB

 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB


 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia