KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJalan Berliku Divestasi Tuntas, Kontrak Karya Freeport Sah Menjadi IUPK oleh : Wahyu Ari Wicaksono
22-Des-2018, 04:36 WIB


 
 
KabarIndonesia - Setelah sekitar dua tahun proses negosiasi intensif yang melibatkan pemerintah, Holding Industri Pertambangan PT INALUM (Persero), Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto, akhirnya pada hari ini telah resmi terjadi pengalihan saham mayoritas (divestasi) PT Freeport Indonesia (PTFI)
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

Negeri Nestapa 23 Jun 2020 09:15 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

The Dictator Hunter

 
SERBA SERBI

The Dictator Hunter
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 29-Des-2007, 21:10:34 WIB

KabarIndonesia - Bekas diktator Chad, Hisséne Habré, bertanggung jawab atas pembunuhan 40 ribu jiwa, dan penganiayaan 200 ribu orang. Habré tidak pernah diadili kejahatannya. Tapi berkat tekad membara aktivis hak-hak azasi manusia Reed Brody, situasi bakal berubah. Klaartje Quirijns membuat film documenter "The Dictator Hunter", yang berkisah kerja keras Brody memburu Habré. Film diputar pertama kali dalam festival film dokumenter IDFA di Amsterdam.

Film The Dictator Hunt memulai gambar dengan nyanyian lembut pria kulit hitam yang tengah berjalan di kota New York. Ia adalah Suleyman Guengueng, satu dari ribuan korban rejim sadis diktator Hisséne Habré, penguasa Chad dari tahun 1982 hingga 1990. Setelah disingkirkan, ia kabur ke Senegal, di mana sejak itu, tinggal di dua buah vila mewah tepi pantai. Guengueng bertutur, ia selamat dari penyiksaan mengerikan di penjara berkat menyanyi. Ia bersama advokat hak-hak azasi manusia Reed Broody, menjadi kekuatan di balik upaya menyeret Hisséne Habré ke pengadilan.

Tekad

Dua manusia dengan latar belakang berbeda, berjuang untuk satu tujuan. Itu yang dilihat pembuat dokumenter Klaartje Quirijns. Reed Brody, pemeran utama film, seorang pengacara Human Rights Watch, memperkenalkan sutradara kepada Suleyman Guengueng, satu dari para korban rejim Habré yang kini tinggal di New York. 

Ia langsung membayangkan sebuah film tentang kedua orang ini. "Yang satu percaya kepada hukum, satunya lagi kepada Tuhan, tapi kedua-duanya didorong semangat sama," ujar Quirijns.Brody bersama Guengueng bertekad membawa Habré ke pengadilan. Ia telah melakukan penyelidikan bertahun-tahun dan punya cukup bukti menuntut bekas diktator.

Niat keras mereka terlihat di film, saat Komisaris Tinggi  Hak-Hak Azasi Manusia PBB Louise Arbour meminta Brody bekerja di lembaganya. Sesudah lama menimbang-nimbang, ia menolak pekerjaan istimewa di Jenewa, di mana ia bisa saja mendapat gaji besar. Alasan keputusan, tidak ingin meninggalkan para korban Hisséne Habré.

Ikut Terharu

Bagi Klaartje Quirijns pertemuan dengan janda-janda korban Habré merupakan saat paling berkesan dalam dokumenternya. Ia bertemu saat merekam film di tempat-kini jadi pemakaman-di mana para jasad korban dibuang. Apa yang terjadi di sana, tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Mereka tiba-tiba hadir dan kebanyakan pertama kali ke tempat itu, mereka tahu ayah, saudara-saudara kandung dan suami mereka dikubur di sana. Mereka histeris, menjerit, dan menangis. "Saya bahkan tak mampu memperhatikan bagaimana juru kamera merekam, karena saya sendiri menangis," kata Quirijns.

Tahun 2008 diadili

Awalnya Hisséne Habré akan diadili di Belgia. Itu bisa dilakukan berdasar hukum khusus Belgia yang memungkinkan peradilan atas pelaku kejahatan di negara lain. Tapi ketika Belgia ditekan Amerika Serikat untuk mengubah undang-undang tersebut, Habré terancam lolos. 

Syukurlah ada keputusan Uni Afrika 2 Juli 2006 yang menyatakan Habré harus diadili di Senegal dalam sebuah tribunal khusus. Brody dan Guengueng bisa bernapas lega. Bagi Reed Brody keputusan itu satu dari hari-hari terindah hidupnya. Sedang Suleyman Guengueng merasa ini penggenapan di mana tujuan hidupnya telah ditentukan untuk itu. Proses peradilan Habré dimulai tahun 2008.

Sumber:  Radio Nederland Wereldomroep (RNW)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia