KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiAndakah Calon Editor Sukarelawan HOKI? oleh : Redaksi-kabarindonesia
23-Aug-2016, 17:30 WIB


 
 
Andakah Calon Editor Sukarelawan HOKI?
KabarIndonesia - Harian Online KabarIndonesia (HOKI) sedang membuka kesempatan kepada pewarta warga HOKI yang tertarik bergabung sebagai salah satu Tim Editor Sukarelawan.  Bila Anda tergerak untuk
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Desain Grafis Freelance 11 Jul 2016 15:53 WIB

 

 
Tiada Hari Tanpa Berita Duka 07 Aug 2016 10:07 WIB

Hidup di Negeri Dongeng 01 Aug 2016 20:48 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
NASIONAL

Dayak VS Bugis: Nunukan Jadi Kota Mati
Oleh : Charles Siahaan | 27-Jul-2007, 14:10:47 WIB

KabarIndonesia - Deklarasi perdamaian di depan Kapolda Kaltim Brigjen Pol Indarto hari Selasa (24/7) lalu antara tokoh Dayak dan Bugis, tidak juga mencairkan ketegangan antar kedua etnis tersebut.

Sejak sepekan terakhir terjadi pengungsian secara besar-besaran warga etnis Bugis menuju Pare-pare. Mereka menggunakan kapal Pelni dan kapal swasta lainnya. "Saat ini Nunukan sudah jadi kota mati," lapor Vincentius dan M Sakir dari Nunukan.

Vincen mengatakan Kamis (26/7) kemarin merupakan puncak pengungsian ketika KM Tidar milik Pelni bersandar di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Sebanyak 12 ribu tiket habis terjual.

"Suasana di sini betul-betul mencekam. Tidak ada toko yang buka. Semua rumah menutup pintu," ujar Vincen.

Aparat kepolisian dari Brimob terlihat menenteng senjata di sudut-sudut jalan. Begitu pula dengan aparat TNI yang nampak berjaga-jaga.

Menurut M Sakir, suasana mencekam juga terjadi di kawasan Binusan yang mayoritas berpenduduk etnis Tidung (warga lokal). Di tiang-tiang rumah warga etnis Tidung ini diberi tanda kain warna kuning yang menandakan keluarga di rumah itu adalah warga etnis Tidung. Sejak konflik Dayak - Bugis merebak, warga etnis Dayak nampak bersatu dengan etnis lokal lainnya.

"Kita tidak mau mengambil risiko. Istri dan anakku juga sudah kuungsikan ke Tarakan," ujar M Sakir.

Konflik Dayak - Bugis dipicu oleh masalah pelaksanaan tender proyek di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Nunukan. Saat pendaftaran calon peserta tender, ternyata ada kontraktor yang merasa ada permainan karena tidak menemukan kotak pendaftaran.

Karena merasa ada yang menyembunyikan kotak pendaftaran membuat si kontraktor tadi melapor kepada Paridi Murad. Paridil adalah ketua Persekutuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka) yang juga mantan Kepala Dinas PU Nunukan. Kini ia menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nunukan.

Esok harinya, Paridil mendatangi Kantor Dinas PU dan menanyakan kenapa ada yang menyembunyikan kotak pendaftaran. Pada waktu itulah muncul Sulaiman, seorang kontraktor yang bersikeras dengan Paridil. Keduanya sempat cekcok hingga ada yang mendengar kalau dalam percekcokan itu muncul kata-kata yang menyinggung etnis.

Isu pun langsung merebak. Intinya Bugis menghina Dayak. "Padahal tidak benar isu itu. Hasil penyelidikan dan pemeriksaan kepolisian, tidak ada yang mendengar kata-kata penghinaan tersebut," kata Kapolda Kaltim Irjen Pol Indarto di Hotel Senyiur Samarinda.

Tapi komunitas Dayak terlanjur marah dan menurut hukum adat, maka si penghina suku itu harus membayar denda adat sebanyak 100 ekor sapi.

Dalam perundingan dengan Kapolda Kaltim, akhirnya tokoh-tokoh Dayak sepakat untuk mengurangi denda adat itu menjadi sebanyak 10 ekor sapi. Acara ritual penolak bala juga akan dilakukan di seluruh kecamatan yang disetujui akan disponsori Bupati Nunukan HA Hafid Achmad. **

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Email: redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let's see here:
www.kabarindonesia.com



 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Inovasi Bekraf Melalui Bekidoleh : Wahyu Ari Wicaksono
18-Aug-2016, 14:21 WIB


 
  Inovasi Bekraf Melalui Bekid Pameran lukisan Istana Negara bertajuk¬†Goresan Juang Kemerdekaan: Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, sangat diminati masyarakat. Bahkan kemarin antrean pendaftaran penonton yag berminat mencapai 9 meter.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
 

 
GIIAS Hadirkan Kemewahan Otomotif 12 Aug 2016 11:56 WIB


 
Hidup Sehat dengan Berlari 15 Aug 2016 07:34 WIB


 
Sayur untuk Hidup 13 Jun 2016 09:27 WIB


 

 

 

 
Sungai Citarum Sakit Keras 07 Aug 2016 10:09 WIB


 

 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia