KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
BudayaUndang-Undang Cagar Budaya Disosialisasikan oleh : Ki Agus N. Fattah
27-Aug-2014, 10:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Bandung, Dalam sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung (Disdikbud Kab. Bandung), Drs. H. Agus Firman Zaini, M. Si., Juli 2014 lalu, pada Kegiatan Sosialisasi Undang-Undang Cagar Budays Tingkat Kabupaten Bandung tahun 2014, dituturkan, Pemerintah melalui misinya,
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Kucingku dan Gadisku 13 Aug 2014 15:52 WIB

PINTU 12 Aug 2014 14:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

Pasukan Elit TNI: Kesatuan Para Serdadu Pilihan

 
NASIONAL

Pasukan Elit TNI: Kesatuan Para Serdadu Pilihan
Oleh : Agus Supriyatna | 24-Sep-2007, 04:11:32 WIB

Detasemen Jala Mangkara (Denjaka)

KabarIndonesia
- Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) dibentuk sebagai satuan penangkal dengan spesialisasi anti teror. Unit satuan elit ini, menjadi salah satu tulang punggung dari TNI AL dalam setiap operasi militer yang memerlukan serangan pendadakan yang tinggi. Oleh karena itu Denjaka, dibekali kemampuan melakukan klandestin aspek laut.

Sebagai sebuah satuan elit, Denjaka terbagi dalam 5 tim yang saling mendukung. Satu tim markas datasemen, satu tim teknik dan tiga tim tempur sebagai tim eksekutor lapangan. Medan tugas atau operasi Denjaka, berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai. Tentunya agar medan tugas bisa dikuasai dengan sukses, setiap personel Denjaka, wajib memiliki keterampilan mendekati sasaran, baik lewat laut, bawa laut dan vertikal dari udara.

Tak heran bila, Tim Denjaka, mampu melakukan serangan dengan cara rapelling, yakni serangan pendadakan dengan bantuan seutas tali dengan posisi badan horisontal dan vertikal dengan kepala di bawah. Para personel Denjaka yang diturunkan dengan cara rapelling horisontal akan menyusur dengan cepat ke bawah dengan posisi siap tembak. Biasanya cara rapellling dipraktekan bila ada dinding bangunan. Cara Rapelling merupakan salah satu cara untuk melakukan serbuan kilat.

Untuk mendukung gerak pasukan, Tim Denjaka dilengkapi dengan sniper-sniper terlatih. Sniper Denjaka, bisa membidik sasaran dengan tepat, sejauh limaratus meter lebih. Untuk memenuhi kualifikasi tersebut, tentunya tidak mudah.
Tim Denjaka, terdiri dari prajurit marinir pilihan yang diseleksi superketat. Agar bisa menjadi pasukan anti teror mematikan, berbagai kursus dan pelatihan tempur harus dilahap para personel Denjaka. Mulai dari kursus penanggulangan anti teror aspek laut yang bermaterikan intelejen, taktik dan teknik antiteror dan anti sabotase. Selain itu, dasar-dasar spesialisasi komando kelautan, komando pasukan para lanjutan wajib dikuasai sampai nglotok oleh para personel Denjaka.

Untuk lebih mengasah dan mempertajam insting sebagai satuan anntiteror, Denjaka secara berkala menggojlok personelnya setiap kurang lebih 5,5 bulan sekali. Denjaka, merupakan pasukan elit yang mempunyai kecakapan lengkap. Para personelnya berkualifikasi Taifib dan Pasukan Katak (Paska). Sehingga tak heran bila personel Denjaka, bisa melakukan serbuan dari darat, permukaan laut, udara atau dari bawah laut. Tim Denjaka, bisa melakukan penembakan kendati berada dalam air.

Selain itu, kemampuan berenang dan survival tak perlu diragukan lagi. Mereka juga jagoan berkelahi satu lawan satu menggunakan sangkur atau pisau komando. Tim Denjaka juga dikenal, licin bagai belut, karena memang wajib memiliki kemampuan pelolosan diri. Sebagai sebuah tim pasukan komando khusus, mental kualitas nomor wahid adalah keharusan yang tak bisa ditawar-tawar. Makanya ketahanan interogasi, adalah kualifikasi lainnya yang harus dikuasai benar oleh pasukan ini. Senjata standar yang dipakai Denjaka adalah minimi 5,56 mm, MP5, pistol berreta 9mm dan SIG Sauer 9 mm. Di samping itu juga dilengkapi dengan bungalor torpedo untuk menghancurkan rintangan menuju sasaran.

Cikal Bakal Korpaskhas

Saat Indonesia masih dikecamuk perang kemerdekaan, Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Muhammad Noor, pucuk pemerintahan di Kalimantan, meminta jajaran AURI menerjunkan pasukannya di Kalimantan. Muhammad Noor, berharap dengan kedatangan pasukan AURI, para gerilyawan Borneo bisa lebih diorganisir, sekaligus untuk membantu perjuangan dan menata ulang berbagai keperluan, seperti membuat stasiun radio yang memungkinkan Kalimantan senantiasa berhubungan dengan pemerintah pusat di Yogyakarta, waktu itu.

Permintaan Gubernur Kalimantan itu cepat direspon oleh AURI dengan mengirimkan 13 prajuritnya ke medan Kalimantan. Pada tanggal 17 Oktober 1947, ketiga-belas prajurit di-drop lewat udara ke daerah Sambi, Kotawaringin, Kalimantan Tengah. Mereka adalah : Heri Hadi Sumantri, Iskandar, Kosasi, F. Suyoto, Bachri, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J. H. Darius dan Marawi. Penerjunan ketiga-belas prajurit itu terbilang nekad, karena semuanya belum pernah mendapat pendidikan penerjunan dengan memadai. Mereka cuma mengandalkan teori dan latihan di darat (ground training) saja, maklum saat itu, bara perang melawan Belanda sedang panas-panasnya. Penerjunan nekad itu kelak dicatat sebagai penanda lahirnya satuan tempur elit pasukan khas TNI Angkatan Udara. Kemudian sejarah mencatatkan, peran korpaskhas begitu besar dalam berbagai medan operasi perang membela dan menjaga kedaulatan negara. Pada saat NKRI berusia belia, pasukan ini banyak terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.

Detasemen Bravo 90

Salah satu unit tempur yang merupakan bagian dari Korpaskhas adalah Detasemen Bravo 90 atau biasa dikenal dengan sebutan Tim Bravo 90. Detasemen ini berintikan prajurit pilihan TNI AU. Seleksinya sangat ketat, diambil hanya 10 terbaik dari siswa lulusan pendidikan komando yang dilakukan selama 5 bulan. Setelah terseleksi, 10 prajurit terpilih ini, diseleksi lagi oleh berbagai tes. Mereka akan digojlok berbagai keahlian tempur, terutama untuk membangun naluri antiteror yang mumpuni. Sebagai satuan elite, sepuluh kualifikasi harus dikantongi personel Tim Bravo. Mulai dari combat free fall, haho, paralanjut olahraga, combat SAR, paradasar, dalpur trimedia (darat, laut, udara) selam, tembak kelas I serta komando. Selain itu mereka dibekali oleh pengetahuan intelejen. Sehingga saat menjalankan tugas, pasukan ini mempunyai kecakapan lengkap, sebagai intelejen sekaligus sebagai pasukan mematikan.

Jumlah personel Detasemen Bravo 90, diperkirakan tak sampai 150 prajurit. Dari 150 prajurit dipecah lagi dalam regu-regu kecil. Setiap regu berjumlah 11 personel. Tim Bravo yang juga dikenal sebagai Special Forces of Indonesia Air Force (SFoIDAF). Sebagai pasukan elit, Tim Bravo 90 dipercaya mengamankan objek-objek vital. Dengan kemampuannya yang di atas rata-rata, Tim Bravo 90 juga ditempatkan dalam detasemen-detasemen pengawal pribadi (walpri) untuk KSAU dan Presiden. Dalam setiap operasinya, Tim Bravo bak siluman, bergerak tanpa identitas, membaur dan mencair di satuan-satuan Paskhas lainnya, layaknya agen intelejen. Tak heran memang, karena memang Tim Bravo mempunyai kualifikasi kemampuan intelejen.

Dalam setiap operasinya, setiap personel Tim Bravo di persenjatai dengan pistol Beretta 9 mm, pistol SIG Sauer 9 mm, senapan scorpion model 61 kaliber 7,65 mm dan minimi 5,56 mm. Untuk penembak jitunya, dibekali senapan sniper jenis G-3, senapan yang dipakai juga oleh pasukan elit Jerman.

Sejarah Awal Kopassus Indonesia 1950

Saat itu, berkecamuk gerakan separatis RMS di Ambon. Untuk menumpas para pemberontak, pemerintah RI mengirim pasukan di bawah kendali pimpinan operasi kolonel Inf. AE. Kawilarang, sedangkan komandan lapangan dipercayakan pada Letkol Slamet Riyadi. Operasi bertajuk “Operasi Senopati” berlangsung alot. Pasukan TNI, kesulitan menghadapi para pemberontak RMS. Ternyata pasukan RMS, dibantu dua kompi bekas pasukan khusus Belanda, “Korps Speciale Troepen (KST)”. Bantuan pasukan bekas KST, yang merupakan gabungan pasukan Baret Hijau dan Baret Merah Belanda, sangat merepotkan pasukan TNI. Banyak prajurit TNI yang harus berpulang nama di tangan para penembak jitu pasukan KST.

Sulitnya menaklukan medan tempur tersebut memunculkan ide di benak Letkol Slamet Riyadi, selaku komandan lapangan tentang perlunya sebuah pasukan pemukul yang tangguh dan mematikan. Pasukan ini, dalam rancangan Letkol Slamet Riyadi, sanggup menjadi andalan di segala medan, dengan pergerakan cepat, tepat waktu dan sasaran. Kemudian Slamet Riyadi mendiskusikannya pada Kolonel Kawilarang. Ternyata ide Letkol Slamet Riyadi nyambung dengan keinginan Kolonel Kawilarang. Disepakati selepas Operasi Senopati, pasukan khusus tersebut akan mulai dibentuk. Tapi sayang sang pencetus ide keburu gugur di medan tempur. Letkol Slamet Riyadi gugur dalam sebuah pertempuran sengit di Ambon.

Untungnya Kolonel Kawilarang kemudian merealisasikan cita-cita Letkol Slamet Riyadi tersebut. Kebetulan pula saat itu juga Indonesia, seusai RMS, diguncang pemberontakan DI/TII. Rintisan awal, dibentuklah Kesatuan Komando. Pelatih pertamanya bernama Rokus Bernardus Visser alias Mochamad Idjon Djanbi, seorang mantan tentara Belanda. Visser yang telah mempunyai pengalaman tempur pada Perang Dunia II, menarik perhatian Kolonel Inf. AE. Kawilarang untuk melatih pasukan komando. Dengan segala keterbatasan, pada tanggal 16 April 1952, ditetapkanlah Kesatuan Komando Tentara dan Teritorium III (Kesko TT III) berdasarkan Instruksi Panglima TT III/Siliwangi No.55/Insr/PDS/52. Tanggal tersebut selanjutnya diperingati sebagai Hari Jadi Korps Baret Merah. Komandan pertamanya adalah Mayor Inf. Moch. Idjon Djanbi (1952-1956).

Perkembangan berikutnya pada 1953, nama Kesko TT III berubah nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) di bawah kendali Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Pada tahun 1955, berubah lagi menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Sebagai komandan Mayor Inf. Moch. Idjon Djanbi, sedang Mayor Inf. RE. Djaelani menjadi Kepala Staf RPKAD. Tak berhenti disitu, pada tahun 1966, RPKAD berganti sebutan menjadi Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus). Pada tahun 1971 Puspassus menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha). Baru pada 1985, pasukan elit ini disebut Komando Pasukan Khusus (Kopassus) hingga sekarang. Kopassus dipimpin oleh seorang Komandan Jenderal (Danjen) berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen).

Berbagai medan operasi telah dirambah Kopassus. Salah satu operasi yang menjulangkan nama pasukan elit ini saat membebaskan sandera penumpang pesawat DC-9 Garuda di Bandar Udara Don Muang-Bangkok atau biasa dikenal dengan Operasi Woyla. Waktu itu pasukan Kopassandha pimpinan Letnan Kolonel Inf. Sintong Panjaitan di bawah kendali Jenderal LB. Moerdani, melakukan serbuan kilat pada dini hari pukul 02.45 ke Bandara Don Muang, Thailand. Sekitar 30 prajurit satuan elit tersebut, masuk lewat pintu yang di dobrak setelah melakukan pengendapan senyap merapat ke badan pesawat. Dan langsung melumpuhkan 3 pembajak serta menembak 2 lainnya. Dari pihak Kopassandha, satu orang prajurit terluka yaitu Letnan Ahmad Kirang. Sedangkan penumpang semuanya selamat. Pemerintah, lewat Presiden Soeharto, menganugerahkan Bintang Sakti kepada 30 prajurit satuan elit tersebut dan kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat.

Sat. Gultor 81

Salah satu bagian dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang sangat diandalkan adalah Satuan Penanggulangan Teror (Sat Gultor) 81. Ide awal pembentukan datang dari Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI saat itu Letjen LB Moerdani. Satuan ini langsung berada di bawah kendali Danjen Kopassus. Komandan pertama Sat. Gultor 81, Mayor Inf. Luhut B Panjaitan, terakhir berpangkat bintang tiga, sedangkan wakilnya Kapten Inf. Prabowo Subianto, yang kelak menduduki posisi Danjen dan terakhir sebagai Pangkostrad sebelum akhirnya diberhentikan karena dianggap bertanggung jawab pada kasus penculikan aktivis yang dilakukan oleh prajurit Kopassus.

Untuk menjadikan Satuan anti teror ini mematikan, kedua Perwira itu dikirim ke GSG 9 (Grenzschutzgruppe 9), candradimuka pasukan komando Jerman, untuk mendalami penanggulangan teror. Sepulang dari pendidikan, kemudian diadakan perekrutan. Para calon prajurit satuan elite itu digembleng di Satuan Latihan Sekolah Pertempuran Khusus Batujajar. Akhirnya pada 30 Juni 1982 satuan ini terbentuk. Layaknya pasukan khusus antiteror, Sat Gultor 81 ahlinya dalam menumpas teroris. Sat Gultor 81 sangat diandalkan kalau ada pembajakan pesawat. Satuan superelit ini juga merupakan pasukan mematikan bila harus bertempur di dalam kota, karena memang perang kota adalah spesialisasinya.

Kemampuan intelejen dan kontraintelejennya juga tak diragukan lagi, maklum salah satu master intelejen negeri ini, Jenderal LB Moerdani, dibesarkan di Korps Baret merah tersebut. Satuan ini juga terkenal serba rahasia, sampai-sampai tidak ada keterangan jelas mengenai jumlah prajurit Sat Gultor 81. Senjata yang digunakan Sat. Gultor 81, Minimi 5,56 mm, MP5 9 mm, Uzi 9 mm, Beretta 9 mm, SIG Sauer 9 mm. Sedangkan pegangan para snipernya, beberapa tidak terdeteksi. Untuk mengasah kemampuannya, Sat. Gultor 81, tak segan-segan melakukan latihan bersama dengan pasukan khusus dari AS, Delta Force.

Beberapa perwiranya pernah mengenyam pendidikan di sekolah komando di negeri Paman Sam tersebut. Salah satunya Letjen (Purn) Prabowo, waktu masih aktif di Kopassus pernah dikirim ke sekolah komando di Amerika. Syahdan katanya, kemampuan Sat. Gultor 81 tidak kalah mematikan dibanding pasukan elit milik Amerika atau Israel. Pastinya, satuan elit yang ada dan dimiliki TNI saat ini, adalah aset bangsa yang sangat berharga. Kemampuan yang dimiliki satuan elit tersebut tentu kebanggaan tersendiri bagi seluruh bangsa Indonesia. Dirgahayu TNI, semoga jaya dan tetap menjadi tentara milik rakyat. (Agus. Supriyatna/dari berbagai sumber)

Blog: http://pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Upacara Bendera HUT RI-69oleh : Gholib
22-Aug-2014, 08:56 WIB


 
  Upacara Bendera HUT RI-69 Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69, 17 Agustus 2014, puluhan anggota pecinta kereta api dan pegawai PT. KAI melakukan upacara bendera di pelataran gedung Lawang Sewu Semarang, Jateng, dengan memakai baju dan atribut pejuang tempo dulu.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB

 

 

 

 
Satukan Dukungan Bagi Timnas 15 Aug 2014 05:15 WIB

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB

 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Ajang Kreatif dan Inovatif 20 Aug 2014 18:54 WIB


 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia