KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PemiluPasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014 oleh : Badiyo
26-Jul-2014, 23:44 WIB


 
 
Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Memenangkan Pilpres 2014
KabarIndonesia – Jakarta, Dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara nasional Pemilihan Presiden (Pilpres), yang berlangsung hari Selasa (22/7) mulai pukul 10.00 hingga pukul 22.00 WIB, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Terima Kasih dari Pengguna Jasa 28 Jul 2014 11:56 WIB

Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Mudik Gratis Bersama Jasa Raharja 26 Jul 2014 23:41 WIB

Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB

 

ALIRAN SESAT: Jangan Lagi Terjebak Doktrin!

 
NASIONAL

ALIRAN SESAT: Jangan Lagi Terjebak Doktrin!
Oleh : Supadiyanto S.sos.i. M.i.kom. | 20-Des-2007, 11:21:13 WIB

KabarIndonesia - Sleman,Mengapakah ajaran agama itu sarat dengan dogma-dogma (kaku) dan doktrin, hingga membuat daya analisis nalar (rasionalitas) kita mati kutu, serba linier?

Sejarah membuktikan, kerasionalitasan Nabi Musa terhancurleburkan dengan teori ketidakrasionalitasannya model Nabi Khidzir. Analog itu, mengapa pula orang atau sebagian pihak yang berusaha melepaskan diri dari keterkungkungan dogma itu  langsung dihukumi masuk aliran sesat, kafir-oleh petinggi Majlis Ulama Indonesia (MUI)? Bukankah ajaran agama-manapun-itu selalu mengajarkan pola pemaksimalisasian fungsi  jiwa (olah rasa), faedah akal (olah pikir) dan kebermanfaatan fisik (olah raga)?

Sejatinya, serentetan pertanyaan di atas kian mengemuka guna mengupas tuntas (habis)-berpijak pada dataran ilmiah nan obyektif-atas keputusan Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang memvonisi ajaran Al Qiyadah Islamiyah masuk kategori aliran sesat dan menyesatkan.

Hal itu seiring, sejalan dengan keputusan para elit MUI mengeluarkan jurus baru, sepuluh kriteria aliran sesat dan menyesatkan-belum lama ini. Hanya saja, yang patut dikritisi kembali adalah, mengapakah hanya Al Qiyadah Islamiyah saja yang dihukumi aliran sesat?

Padahal terdapat banyak aliran agama yang lebih radikal dan "nyleneh", namun lepas dari cap (stereotype) aliran sesat? Kenapa misalkan ada banyak penganut Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam misalkan Muhammadiyah dan atau Nahdatul Ulama (NU) yang tidak mengerjakan shalat, tak berpuasa atau kalaupun bepergian haji ke Tanah Suci (Mekah)-atas hasil korupsi-tidak lantas divonisi masuk kategori aliran sesat?

Apakah media massa cetak serta elektronik (lokal dan nasional) berperan besar dalam mempraposisikan Al Qiyadah Islamiyah menjadi bulan-bulanan, sedang berposisi "dikambing hitamkan"-hingga terjebak menjadi obyek berita yang laku dijual demi meningkatkan oplah dan rating industri media massa nasional?    

Terkait itu semua, beberapa pekan lalu-penulis sempat beraudiensi khusus dengan Budi Tamtomo di rumah kontrakannya. Beliau adalah salah satu petinggi (Ketua Umum) Al Qiyadah Islamiyah DIY dan Jawa Tengah. Cak Momo-sapaan akrab Budi Tamtomo amat memprihatinkan adanya sikap "arogansi" petinggi MUI yang tak pernah mengajak dialog para pengurus Al Qiyadah Islamiyah.

"Mereka mencuri buku-buku milik kami. Kami pun tak pernah di ajak berdialog. Tiba-tiba saja MUI memasukkan kami dalam aliran sesat," urai karib Emha "Cak Nun" Ainun Nadjib ini, mengawali perbincangan pagi itu di dalam rumah kontrakan kawasan Condong Catur (Sleman, Jogja). 

Dalam perspektif teologis, tambah mantan konsultan yang bertubuh agak gemuk ini, Al Qiyadah Islamiyah mengikhlaskan saja atas keputusan radikal MUI di atas. Kalau mereka (baca: MUI) sejak awal mau mengajak dialog, berkompromi dengan kami, saya kira tidak akan ada kasus aliran sesat-sesatan ini. "Saat ini, porsi kami masih amat lemah. Sedang MUI punya legalitas penuh, didukung pemerintah," serunya, sambil menyodorkan Al Quran berukuran cukup besar dihadapan penulis.      

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM)  ini menyitir beberapa ayat Quran, guna menguatkan pandangannya atas kesalahan para pemimpin (baik ormas Islam, maupun pemimpin secara umum). Dalam pandangannya, Cak Momo-yang memiliki kurang lebih 5 ribu pengikut setia  Al Qiyadah Islamiyah wilayah Yogyakarta-menguraikan secara lugas, melarang siapapun pemimpin yang tak memiliki pijakan kebenaran yang menghakiki (kebenaran sejati).

Dalam bingkai Islam, agama ini memetakan ada tiga kebenaran, yakni kebenaran subjektif, obyektif dan kebenaran haq (keberaran mutlak). Pentolan Al Qiyadah Islamiyah ini menawarkan agar kita semua berpegangan pada kebenaran haq, sebab secara otomatis akan menggugurkan dua kebenaran semu (pseudo) yang lain. Seperti diketahui bersama, akhir November lalu-sekitar lima ribu pengikut Al Qiyadah Islamiyah se-Propoinsi Daerah Yogyakarta (DIY) melakukan pertobatan massal di dalam masjid Polda DIY. Dalam acara itu, Budi tamtomo langsung memimpin prosesi pertobatan massal.  

Memang pertobatan massal jamaah Al Qiyadah Islamiyah dilakukan atas dasar kesadaran pribadi-secara kolektif. Cak Momo mengharapkan, pertobatan massal yang pernah dilakukan bisa memiliki kemanfaatan sosial, hingga tak menimbulkan gejolak sosial dalam masyarakat. Sebab, kita bersama mengimpikan masyarakat yang hidup damai nan sejahtera. Islam itu ajaran yang rahmatan lil'aalamiin.

Sembari menjlentrehkan strategi dakwah yang ditempuh Al Qiyadah Islamiyah pasca MUI melarang seluruh aktivitas Ormas itu, Budi Tamtomo selalu bersikap humoris. "Pasca pertobatan massal itu, aktivitas jamaah kita seperti biasa saja. Tetap mengkaji Al Quran," terang dia. Sebab, dinamika agama Islam itu selalu beritme naik-turun, berpola mengikuti siklus 700 tahunan. Pada masa Muhammad, Islam sangat jaya.

Sepeninggalannya, Ajaran Muhammad sebagai penyempurna agama sebelumnya, kembali terpuruk selama 700 tahun. Hingga abad 14 Islam naik daun lagi. Pasca itu jeblok. Dan saat ini, berarti masuk pada era kejayaan Islam. "Yakinlah, Islam akan bangkit kembali. Ini semua proyek Allah," tambahnya dengan penuh meyakinkan. 

Ternyata Budi Tamtomo sosok yang ramah, selalu mengumbar senyum, dialektis, santai dan supel. Sebelum bergabung dengan Al Qiyadah Islamiyah, beliau sempat mengembara (melanglang buana) hingga menjelajah kota-kota di Indonesia guna menemukan kebenaran. Salah satu pengalaman yang berkesan, kala bersua dengan "orang pintar" bernama Lanun di Pulao Buton (Sulawesi Tenggara).

Lanun berjuluk manusia Ashabulkahfi itu, karena mampu berusia 140 tahun. "Kamu akan menemukan kebenaran sebentar lagi," tirunya menirukan pesan yang diucapkan Lanun, tujuh tahun silam.  Nyatanya, Budi Tamtomo lantas bertemu dengan Ahmad Mushaddiq, hingga bisa bergabung dalam Al Qiyadah Islamiyah. Selama tergabung dalam Al Qiyadah Islamiyah, Cak Momo selau mengkritik model dakwah para ulama yang salah kaprah.

Tipologi pendekatan dakwah yang digunakan juga terbilang konvensional. "Kita mengenal dua model dakwah. Sirran dan Jarran. Rahasia dan Terang-terangan," sela Cak Momo. Masalah dakwah, lanjut sosok yang mengaku pernah melakoni sikap buruk yang dimiliki "Umar bin Khattab" sebelum masuk Islam ini, terpenting bukan hasil akhirnya. Yang tersubstantif itu prosesi dakwahnya.

Masalah keberhasilan, diterima atau tidak dakwah saya, tambah dia, itu bukan urusan kita. Khusus masalah itu, menjadi otoritas wilayah (hak prerogatif) Allah semata. Jadi, kalau ada yang menolak dan membenci cara dakwah kita, hal yang amat lumrah, wajar dan rasional.  

Selama ini kita semua selalu terjebak pada terminologi (istilah), diksi kata. Salah satunya peran media massa yang "over acting". Amati kasus sederhana saja, terkait kesalahan nama Ahmad Mushaddeq itu. Sejak awal pertama, media massa memuat nama Ketua Umum Al Qiyadah Islamiyah serba salah. Naas, tak ada yang meluruskan ini hingga sekarang. Ujaran ddeq pada kata Mushaddeq, dibaca "e" seperti pada kata pede (singkatan percaya diri).

Padahal, asal muasal kata Mushaddeq itu dari bahasa Arab. Bahasa Arab tidak mengenal ejaan "e" seperti pada kata Mushaddeq itu. Yang benar itu, Ahmad Mushaddiq, memakai "i', bukan "e".   

Masalah keyakinan, tambah dia, itu masalah aqidah. Sampeyan tak bisa mencabut aqidah saya, karena tak dapat terlihat. Ada dalam rasa hati, kedalaman jiwa. Apakah sudah ada alat khusus yang bisa mengukur, mendiagnosis masalah keyakinan yang tersembul di balik jiwa? Kalaupun ada ilmu psikologi, itu hanya mengajarkan studi kasus tentang gejala-gejala kejiwaan. Ilmu psikologi, hingga orangnya disebut psikolog-tak bisa memetakan secara holistik akan realitas jiwa.    

Berbicara kasus aliran sesat, selalu saja mengasyikkan bagi kita semua yang sedang tak tervonisi masuk dalam aliran sesat itu. Sebaliknya, menjadi ujian mahaberat bagi pihak yang sedang divonis beraliran sesat. Heboh masalah aliran sesat, memang bukan pada penghujung tahun ini saja. Khusus di Indonesia-semenjak MUI berdiri (1975) sampai detik ini, mereka telah sukses mengelurkan 8 buah fatwa. Sepuluh fatwa dari totalitas fatwa tersebut berhubungan dengan aliran sesat. 

Aliran agama yang pernah divonisi MUI masuk kategporori aliran sesat (sempalan) antara lain : Salamullah (Komunitas Eden, 1997), Jamaah Ngaji Lelaku (2005), Negara Islam Indonesia (2003), Ahmadiyah (1980, 2005) dan lain-lain.

Bahkan dalam kredo sejarah Islam sendiri, sekitar empat belas abad lampau, mayoritas umat manusia di kawasan Jazirah Arab memvonisi ajaran agama yang disebarkan Nabi Muhammad sesat. Teologi Islam semasa itu dinilai "makhluk" asing bagi para pemimpin Quraisy.

Jelaslah nasib Nabi Muhammad kala itu, identik sebagaimana nasib Al Qiyadah Islamiyah yang diklaim sepihak beraliran sesat dan menyesatkan. Tidak saja itu, dapat dipastikan seluruh ajaran yang dibawa para Nabi dan Rasul sebagai aliran sesat-oleh tak sedikit manusia-pada zaman dahulu.

Masih ingat dalam benak kita, semua media massa cetak dan elektronik (lokal-nasional) beberapa waktu lalu, meng-head lines-aliran sesat bernama Al Qiyadah Islamiyah pimpinan Abdul "Ahmad Mushaddiq" Salam. Sampai-sampai-Majelis Ulama Indonesia-mengeluarkan jurus sakti-sepuluh kriteria aliran sesat-yang praktis menghukumi Al Qiyadah Islamiyah masuk kategori aliran sesat-menggenapi puluhan aliran sesat lain yang pernah divonisi sesat oleh pemerintah melalui MUI-nya.

Lantas, praktiskah para penganut aliran yang dianggap sesat (baca: Al Qiyadah Islamiyah) menjauhi aliran tersebut? Merujuk pendapat Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Amin Abdullah-idealnya media massa jangan lagi memprovokasi masyarakat tentang aliran sesat. "Jangan dipanas-panasi lagilah. Jangan memancing-mancing masalah lagi. Itukan aturan yang megang masih yang berkuasa.

Cari sajalah siapa yang sedang berkuasa saat ini," jelasnya kala dikonfirmasi melalui telepon seluler. Ketika dimintai keterangan lebih detil terkait nasib jamaah Al Qiyadah Islamiyah, Amin Abdullah lebih memilih berdiam diri dan tidak mau banyak berkomentar lagi. "Itu semua kan sudah dikupas banyak pakar.

Tak ada lagi masalah yang tersisa yang perlu saya uraikan," katanya kala menghadiri sebuah acara di Jakarta, akhir November lalu. Langkah pemerintah dan masyarakat menangkal adanya aliran sesat, serta penyikapan dan antisipasi sikap yang adil terhadap aliran sesat perlu  jalur taktis.

Pendekatan kekerasan, anarkhis-seperti yang menimpa sebagian pengikut Al Qiyadah Islamiyah di Indonesia-menujukkan kebodohan dan arogansi cara keberagamaan kita. Berdasarkan data yang ada, terhitung semenjak 2001 hingga penghujung tahun ini (2007) sedikitnya ada 250 aliran sesat (versi MUI)-yang tumbuh subur di Indonesia.

Lima puluh diantara aliran sesat itu merebak di kawasan Jawa Barat. Dengan begitu, jelaslah demi mengawal keselamatan bangsa ini, perlu segera penerbitan aturan perundang-undangan baru yang lebih tegas. Pemodifikasian atas berbagai aturan hukum terkait aliran sesat tersebut, pantaslah segera ditempuh pemerintah dari tinjauan aspek legalitas.

Bukankah undang-undang yang digunakan untuk menjerat para pelaku penodaan ajaran agama, masih menggunakan "pasal-pasal karet" yang amat manipulatif, sarat rekayasa semata? (**)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Miniatur Masjid Bahan Bekasoleh : Johanes Krisnomo
25-Jul-2014, 00:40 WIB


 
  Miniatur Masjid Bahan Bekas Jelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mengundang kreatifitas untuk membuat karya unik berupa minatur sebuah masjid dari barang-barang bekas seperti kardus, kaleng dan bola plastik. Contohnya, Rudi Iskandar (38 thn), karyawan PT. Ultrajaya di Padalarang, Bandung, menyumbangkan hasil karyanya
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia