KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Top ReporterTop Reporter Bulan Juli 2014 Kategori Berita Artikel oleh : Redaksi-kabarindonesia
23-Jul-2014, 06:01 WIB


 
 
Top Reporter Bulan Juli 2014 Kategori Berita Artikel
KabarIndonesia - Pada bulan Juli 2014, Redaksi KabarIndonesia telah memilih Sdr. Rio Anggoro sebagai Top
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 

 
Keniscayaan 23 Jul 2014 05:12 WIB

Kenangan 15 Jul 2014 22:58 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Ditha dan Dina Dukung Argentina! 13 Jul 2014 05:44 WIB


 
Resep Pribadi Plecing Kangkung 15 Mei 2014 00:19 WIB


 
 
NASIONAL

Hari Kebangkitan Nasional Milik Bangsa Indonesia
Oleh : Chalik Hamid | 29-Mei-2008, 21:00:44 WIB

KabarIndonesia - Tanggal 20 Mei 1908 dinyatakan  sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia. Pada waktu itu dr. Wahidin Sudirohusodo, alumni Sekolah Dokter Jawa (ST0VIA) memprakarsai terbentuknya sebuah organisasi modern yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Bersama dengan teman-temannya dari STOVIA, OSVIA, Sekolah Guru, Sekolah Pertanian dan Sekolah Kedokteran Hewan di Jakarta berhasil melahirkan sebuah organisasi bernama Budi Utomo. Bung Karno memilih 20 Mei 1908 sebagai tonggak kebangkitan nasinal, karena ia menganggap Budi Utomo sebagai organisasi nasional modern pertama di Indonesia walaupun keanggotaannya terbatas hanya pada suku Jawa dan Madura.

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei pertama kali diperingati dan dirayakan pada tahun 1948 di Jogyakarta. Mengapa justru dilakukan pada saat itu? Karena  pada waktu itu bangsa kita berada di jurang kehancuran, kita menghadapi ancaman serangan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia dan adanya konflik internal berbagai organisasi politik dan kesatuan-kesatuan bersenjata rakyat. Peringatan yang besar juga dilakukan pada tahun 1958 di Istana Merdeka dalam rangka 50 tahun Budi Utomo, karena pada saat itu terdapat ancaman perpecahan dengan timbulnya pemberontakan PRRI/Permesta yang ingin mendirikan negara dalam negara RI.

Peringatan 100  Tahun Hari Kebangkitan Nasional tahun ini secara meriah diadakan di Stadion Gelora Bung Karno pada tanggal 20 Mei 2008. Pada peringatan itu telah berbicara Presiden SBY yang menekankan: Indonesia Bisa. Di Indonesia peringatan akan terus berjalan selama satu tahun dalam keadaan dimana bangsa kita sedang mengalami bahaya kehancuran, kebangkrutan dan keterpurukan sebagai akibat digadaikannya alam dan bumi Indonesia kepada modal asing baik oleh rejim Orba Soeharto  maupun oleh penguasa sekarang dengan apa yang dinamakan "reformasi".

Sebelum diadakan peringatan di Gelora Bung Karno Jakarta pada tanggal 20 Mei 2008, di berbagai daerah telah dilangsungkan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang diselengarakan oleh panitia yang mendapat dukungan dari masyarakat setempat seperti di Surabaya, Jogyakarta dan tempat-tempat lainnya di tanah air. Masyarakat Indonesia menyadari perlunya diadakan peringatan dan perayaan dengan tujuan untuk membangkitkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat Indonesia. Sekelompok manusia terus semakin makmur dan kaya-raya, dengan sesuka hati menguras kekayaan alam dan bumi Indonesia, hidup berfoya-foya dengan harta haram. Sedangkan di lain pihak, sebagian besar rakyat Indonesia mengalami kemiskinan yang luar biasa, mati disebabkan penyakit busung lapar, anak-anak meninggal dunia sebagai akibat gizi buruk, penyakit menular berkeliaran di seluruh negeri, bencana alam terus terjadi sebagai akibat keserakahan manusia. Dalam keadaan keterpurukan demikian, kita harus turut membangkitkan kembali rasa berbangsa dan solidaritas di antara warga, terutama di kalangan generasi muda yang merupakan generasi penyongsong masa depan Indonesia.

Menjurus ke arah pembangkitan rasa nasionalisme yang bertanggung jawab terhadap tanah air dan bangsa, maka tanggal 5 April 2008 di Amsterdam dibentuk sebuah Panitia Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang diketuai oleh Taufik Tahrawi dan sekretaris Suranto Pronowardojo. Panitia ini dibentuk dan didukung oleh 9 organisasi masyarakat Indonesia di negeri Belanda seperti dari Amsterdam, Utrecht, Leiden, Den Haag, Almere, Zeist dan lain-lain, termasuk perseorangan. Panitia berhasil mengangkat tema peringatan: Meningkatkan Kesadaran Berbangsa. Dalam rapat Panitia diputuskan agar salah seorang anggota Panitia yaitu saudara Ibrahim Isa bisa menemui Dubes RI di Den Haag guna menyampaikan rencana Panitia dan mengundang Dubes untuk memberikan sambutan pada peringatan tersebut kalau bersedia.

Setelah mengadakan kontak dengan pihak KBRI, beberapa hari kemudian Ibrahim Isa  diundang  Dubes untuk membicarakan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pada tanggal 23 April 2008 jam 11.00 Isa hadir di KBRI Den Haag dan diterima oleh Dubes dan Kepala Bagian Penerangan. Topik pembicaraan adalah Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pada kesempatan itu Dubes bertanya siapa yang mengorganisasi peringatan dan siapa yang akan hadir dalam pertemuan itu. Ibrahim Isa menjelaskan bahwa peringatan diorganisir oleh sebuah Panitia yang dibentuk organisasi-organisasi masyarakat Indonesia di negeri Belanda dan perseorangan. Pertemuan akan dihadiri oleh masyarakat Indonesia dan para sahabat.

Kemudian Dubes mengatakan bahwa Di Indonesia telah terbentuk Panitia Nasional untuk peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pada tanggal 20 Mei 2008 di Jakarta SBY akan berpidato memberikan pengarahan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Indonesia akan berlangsung selama satu tahun dan dipusatkan pada bulan Oktober 2008. KBRI berkewajiban menyelenggarakan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional pada bulan Oktober mendatang dan sekarang sedang menunggu pidato pengarahan SBY. KBRI merencanakan akan mengundang antara lain tamu dari luar negeri dan dari Indonesia. Jadi, penyelenggaraan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Nederlan adalah kewajiban KBRI, adalah oleh KBRI. Kemudian Dubes menegaskan: Mengenai rencana peringatan yang akan saudara-saudara selenggarakan, kalau mau terus, kami tidak berkeberatan asal tanpa nama 100 Tahun, hanya Hari Kebangkitan Nasional saja, dan kami akan hadir.  Bila terus tetapi dengan nama 100 Tahun, maka kami tidak hadir.

Kemudian Ibrahim Isa menjawab, "Saya akan membawa pendapat Dubes ke Panitia yang kami bentuk dan nanti pendapat Panitia akan saya sampaikan kepada Dubes."

Setelah Ibrahim Isa menyampaikan pendapat Dubes kepada Panitia, maka Panitia mengadakan pembicaraan dan membahas pendapat Dubes tersebut. Akhirnya Panitia berpendapat bahwa adalah suatu kenyataan peringatan yang akan diselenggarakan pada tanggal 20 Mei 2008 merupakan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang lahir pada 20 Mei 1908. Panitia berpendapat tidak ada alasan untuk tidak menggunakan kata 100 Tahun. Panitia semacam ini telah berulang kali mengadakan peringatan seperti: 100 Tahun Bung Karno, peringatan 60 tahun Proklamasi kemerdekaan RI, Peringatan Hari Kartini dan lain-lain.  Sebagai kesimpulan Panitia akan terus menyelenggarakan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang dilangsungkan pada tanggal 18 Mei 2008.

Kesimpulan Panitia ini disampaikan oleh Ibrahim Isa kepada KBRI di Den Haag. Tanggal 14 Mei 2008 saudara Isa mendapat telpon dari Asisten Kepala Bidang Politik KBRI. Atas nama Siswo Pranomo, Kepala Bidang Politik KBRI, Asisten tsb menyatakan bahwa Dubes Habibie, Kepala Bidang Politik, Kepala Bidpen dan sdr Firdaus Dahlan, Kepala Bid Konsuler dari KBRI, semuanya sejak beberapa hari mendatang akan ada kegiatan dengan TV Belanda dalam rangka Hari Peringatan Ultah ke-100 Hari Kebangkitan Nasional. Oleh karena itu dari KBRI tidak dapat hadir dalam peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, yang akan diselenggarakan Panitia pada tanggal 18 Mei 2008, di gedung De Schakel Diemen, Amsterdam.

Penulis pernah menjadi wartawan dan bekerja di sebuah stasion Radio/TV milik negara di sebuah negeri Eropa selama 20 tahun lebih. Dari pengalaman selama 20 tahun itu penulis belum pernah mengalami kegiatan seperti yang dilakukan oleh TV Belanda tersebut, seperti yang dikemukakan pihak KBRI, yang memancing sebuah kesibukan di sebuah Kedutaan Besar asing.

Pada tanggal 18 Mei 2008 Panitia yang didukung oleh 9 organisasi masyarakat Indonesia yang berada di negeri Belanda, akhirnya berhasil menyelenggarakan peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan diadakan di Diemen, Amsterdam, dihadiri lebih dari 120 pengunjung. Setelah ketua Panitia menyampaikan kata pembukaan, segera memberikan kata sambutannya yang diwakili oleh saudara Ibrahim Isa sebagai wakil generasi tua. Dilanjutkan oleh M.D. Kartaprawira sebegai pelanjut generasi berikutnya. Dari generasi muda tampil Saurlin Siagian. Semua pembicara menekankan arti penting peringatan Hari Kebangkitan Nasional demi untuk mengembalikan rasa berbangsa dan tanggung jawab terhadap tanah air di kalangan rakyat Indonesia, yang akhir-akhir ini tampak sangat menurun. Dalam pertemuan tersebut tidak kelihatan wakil dari KBRI. Acara yang dipandu oleh Farida Ishaya itu berhasil dengan sukses dan mendapat sambutan hangat dari para hadirin.

Jadi, perlu menjadi pehatian kita semua bahwa Peringatan Kebangkitan Nasional adalah milik kita semua, milik bangsa Indonesia, baik ia kelompok besar maupun kelompok kecil, bahkan perseorangan pun punya hak untuk merayakan dan memperingati hari Kebangkitan Nasional di mana pun ia berada.

Usaha untuk memonopoli sejarah, dengan mengatakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional adalah milikku dan orang lain tak boleh menggunakannya, merupakan usaha sia-sia. Memang berbagai macam corak dan bentuk manusia pernah terdapat di KBRI sejak dulu hingga kini. Pernah KBRI di Den Haag memiliki seorang Dubes bernama Abdul Irsan. Selama menjadi Dubes ia benar-benar melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Ia menghadiri peringatan 100 Tahun Bung Karno dan memberikan kata sambutannya, ia mengahadiri peringatan 60 tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, Peringatan Hari Kartini dan peringatan-peringatan lainnya yang diselenggarakan oleh sebuah Panitia. Kalau ia berhalangan hadir, ia pasti mengirimkan salah seorang staf KBRI. Ia memahami tanggung jawab yang dibebankan atas pundaknya. Memang ada pepatah lama yang mengatakan, "Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula belalangnya. Tapi di sini kita menemukan lubuk dan padangnya sama, yang berbeda adalah ikan dan belalangnya.                                                                                                           


Amsterdam, 29 Mai 2008


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massaoleh : Dispen Kormar
18-Jul-2014, 21:20 WIB


 
  Pasmar-2 Marinir Gelar Latihan Pengendalian Demonstrasi Massa Dalam rangka memelihara kesiapsiagaan pasukan yang akan diterjunkan dalam proses pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang pada 22 Juli mendatang memasuki tahap rekapitulasi suara di KPU, satu Satuan Setingkat Batalyon (SSY) pasukan siaga Pam Pilpers Pasmar-2 Marinir menggelar Latihan penanggulangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
PILPRES 2014: Tidak Perlu Fanatik 07 Jul 2014 19:08 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Mantan Pengguna Perlu Pertolongan 15 Jul 2014 23:00 WIB


 
Kampanye LEBE 28 Apr 2014 07:21 WIB

 
Tak Selamanya Teknologi Mahal 03 Jun 2014 09:05 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia