KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
KesehatanTak Perlu Galau Menyikapi Heboh Kasus Vaksin Palsu oleh : Wahyu Ari Wicaksono
28-Jun-2016, 15:14 WIB


 
 
Tak Perlu Galau Menyikapi Heboh Kasus Vaksin Palsu
KabarIndonesia - Terbongkarnya sindikat pemalsu vaksin untuk balita yang telah beraksi selama belasan tahun, sontak membuat banyak kalangan merasa was-was. Tak bisa dipungkiri bahwa mau tak mau kasus ini membuat hilang rasa keamanan dan kepercayaan masyarakat terhadap keaslian vaksin yang
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Di Gubuk Sesal 30 Jun 2016 17:36 WIB

Ayah 30 Jun 2016 17:22 WIB

 
Desa Cimanggu Menuju Desa Wisata 18 Mei 2016 10:53 WIB


 
BERITA LAINNYA
 

 
Anakku Tertular Virus Menulis 23 Jun 2016 10:38 WIB


 

HARIMAN DAN MALARI: Menjadi Penonton di Negeri Sendiri

 
NASIONAL

HARIMAN DAN MALARI: Menjadi Penonton di Negeri Sendiri
Oleh : Berthy B Rahawarin | 17-Jan-2011, 00:37:13 WIB

KabarIndonesia - Dalam mengenang 37 tahun peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974, Hariman Siregar meluncurkan bukunya berjudul "Hariman dan Malari" di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat Sabtu (15/1).

Pada peristiwa Malari, Perdana Menteri Jepang Katuei Tanaka sebagai tamu negara terpaksa harus menggunakan helikopter untuk berangkat dari dan menuju Halim Perdana Kusuma dan Istana Presiden Soeharto.

"Saya tidak begitu suka untuk dibuatkan suatu buku khusus tentang saya, tetapi karena dipaksa juga, saya harus menceriterakan sesuatu tentang peristiwa masa lalu, bukan ceritera bohong!", demikian Hariman mengawali komentarnya untuk bukunya dan situasi Indonesia terakhir.

Peristiwa Malari adalah awal Presiden Soeharto diperingatkan akan lonceng kematian industri lokal, bila modal asing dibiarkan melenggang di pasar Indonesia. Gerakan Mahasiswa yang melibatkan almarhum Dr. Sjahrir dan dr. Hariman Siregar ini, berakhir rusuh, dan situasi sosial-politik pada periode pertama kekuasaan Orde Baru dianggap sejumlah kalangan menjadi noda sejarah Pak Harto.

"Jaman sekarang lebih seram dari zaman Orba!" demikian Hariman. "Pendapatan kita 70 persen dari pajak tambang mineral. Tetapi, manfaatnya untuk rakyat apa? Kapal keruk bertolak dari pelabuhan Indonesia ke pelabuhan negara lain. Jadi, kita disuruh nonton saja."

"Pemerintah senang saja kan?" lanjut Hariman. "Yang penting duit, dia bisa membangun kantor, gedung DPR!"

"Buku ini (Hariman dan Malari) hanya sebuah kisah. Kita merasa makin jauh (dengan negeri kita sendiri). Padahal, kita harus menjadi tuan di negeri sendiri," ujar Hariman menutup.

Salah seorang tamu yang hadir ahli komunikasi sosial Sugeng Suryadi kepada Pewarta HOKI Kabar-Indonesia berkomentar, "Hariman telah menjadi pemikir! Sekarang kita masih tetap membutuhkan orang-orang dengan jiwa revolusioner untuk mengubah keadaan!"

FOTO: Dokumen peristiwa Malari (google)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Ragam UKM di Masyarakatoleh : Zulkarnaen Syri Lokesywara
13-Jun-2016, 12:58 WIB


 
  Ragam UKM di Masyarakat Harjono, 64 tahun, adalah salah satu pengrajin payung kertas yang masih bertahan di Desa Kwarasan, Juwiring-Klaten. Menurut Pak Harjono di rumahnya, 22/5, serbuan payung lawa/kelelawar -sebutan payung kain berwarna hitam produk China- menyurutkan kejayaan payung kertas Juwiring. Kini para pengrajin
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
TNI Tanggap Bencana 24 Jun 2016 12:59 WIB

 
 

 

 

 
Sayur untuk Hidup 13 Jun 2016 09:27 WIB


 

 

 

 

 

 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia