KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalAROMA KEPENTINGAN DALAM AGENDA TERSENDIRI oleh : Tonny Djayalaksana
18-Aug-2019, 15:58 WIB


 
 
KabarIndonesia - Upaya-upaya lawan Jokowi untuk menjatuhkannya sangat militan sekali. Sebagai pelengkap telah saya sertakan tulisan Denny Siregar yang menggambarkan bagaimana sebuah konspirasi dijalankan untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Namun akhirnya perlindungan dari Allah bisa menggagalkan semua itu. 

Semua
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (10)

 
NASIONAL

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (10)
Oleh : Tonny Djayalaksana | 21-Jul-2019, 17:32:22 WIB

KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (9), kita telah melihat kepintaran Presiden Jokowi dalam membalikkan keadaan dari semula dianggap penakut dan pengecut, tiba-tiba membalikkan keadaan dengan secara berani bergabung bersama para demonstran untuk melaksanakan sholat Jumat berjamaah.

Setelah berjilid-jilid demo yang berakhir dengan anti klimaks tersebut, Gubernur DKI Jakarta akhirnya dipimpin oleh pasangan Anies-Sandi. Namun pemerintahan Jokowi-JK pun juga mulai melancarkan serangan balik untuk bersih-bersih. Gerakan pemerintahan Jokowi ini pun mengakibatkan Imam besar FPI terpaksa harus menghindar dari jeratan hukum. Beliau hijrah ke Saudi Arabia. Selanjutnya ormas HTI dibubarkan.  

Pasalnya, ormas HTI ini dikenal sangat berambisi untuk mendirikan negara khilafah. Tak luput juga ormas lainnya yang beraliran keras/radikal seperti NII dan ormas-ormas yang teridentifikasi beraliran keras/radikal. Semuanya dalam pengawasan yang ketat dan intensif oleh pemerintahan Jokowi-JK.   

Memasuki tahun 2018, aroma pilpres pun sudah mulai terasa. Seiring berjalannya waktu, sampai pertengahan waktu penentuan calon Presiden, yang muncul baru ada sosok seorang Jokowi sebagai petahana, dan Prabowo kembali sebagai penantang. Sejak saat itu pun penggiringan opini sudah mulai dibentuk oleh kader dari PKS yang bernama Mardani Ali Sera dan beberapa politisi dari partai Gerindra. Mereka mulai memunculkan wacana dengan judul Ganti Presiden.   

Indonesia sebagai negara demokrasi yang besar, ternyata dalam prakteknya banyak aturan main yang sudah melewati kaidah demokrasi yang sesungguhnya. Bagaimana tidak? Hanya ada di Indonesia yang rakyatnya bisa bebas menghujat, mencaci-maki, serta memfinah dengan berita-berita hoax kepada Pemimpin Negaranya dan tidak ada sanksi sama sekali.    

Tiba saatnya masing-masing paslon memilih Wakil sebagai pasangannya untuk Pilpres periode 2019-2024. Sebagai cawapres pasangannya Jokowi telah muncul beberapa nama. Sebut saja diantaranya ada, Ketua Umum Golkar Erlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romahurmuziy yang akrab dipanggil Romy, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang akrab dipanggail Cak Imin, Jend Muldoko, Mahfud MD, hingga Pak JK lagi.   

Para sahabat banyak juga yang bertanya kepada saya, kira-kira siapa cawapres paling ideal untuk mendampingi Jokowi selama 5 tahun ke depan?    

Di suatu hari, ketika baru selesai berdiskusi tentang spiritual, saya duduk satu meja bersama Guru saya beserta istrinya dan beberapa orang sahabat. Pada saat itu saya mengatakan, kalau saya boleh menentukan, saya akan memilih KH. Ma'ruf Amin sebagai calon wapresnya Jokowi untuk 5 tahun mendatang. Berikut alasannya kenapa saya memilih KH Ma'ruf Amin.    

Sederhananya, saya menilai bahwa pilgub DKI Jakarta yang baru berlangsung tahun 2017 lalu telah menyisakan pengalaman yang sangat mendalam bagi saya. Bagaimana para lawan-lawannya Ahok menggunakan segala cara, menghalalkan rumah ibadah (mesjid) untuk dipakai sebagai tempat kampanye yang saya nilai sangat brutal dan jauh dari nilai-nilai kemanusian yang religius. Semua jurus dimainkan; fitnah, ancaman, intimidasi berita-berita hoax hampir tiada hari yang terlewatkan.   

Pada intinya lawan politik Ahok yang didukung oleh ormas FPI, HTI, dan alumni 212, secara militan dan all out bertekad untuk memenangkan pertandingan ini, sekaligus memenjarakan Ahok akibat penistaan agama yang didakwakan kepadanya. Adapun aksi kampanye yang brutal tersebut, dikarenakan diawali terbitnya Fatwa MUI yang menyatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terbukti telah menista agama Islam. Fatwa tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekjen. Adapun Ketua Umum MUI saat itu adalah KH Ma'ruf Amin.   

Walaupun pendukung Ahok yang mayoritas terdiri dari relawan yang biasa disebut Ahoker, juga tidak kalah militansinya dengan pihak lawan, mereka secara bahu membahu berusaha untuk memenangkan pertandingan ini, namun skenario dari Semesta sudah menentukan bahwa Ahok harus membayar Karma yang dia lakukan sendiri karena mulutnya yang terlalu kebablasan.   

Hasil akhir dari pertandingan ini Ahok harus menelan pil pahit. Ia kalah dan sekaligus harus menjalankan vonis pengadilan yang menyatakan bahwa dirinya terbukti bersalah karena telah menghina agama Islam. Ia pun langsung dieksekusi masuk penjara selama 2 tahun.   

Dari peristiwa Ahok, saya mendapatkan pelajaran dari Semesta yang sangat berharga dan jelas. Penilaian saya terhadap Ahok dalam urusan pengabdian terhadap bangsa dan negara tidaklah diragukan lagi.  Ia termasuk manusia langka yang punya tekad. Seluruh hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Ia seorang yang Jujur, Amanah, Sidig dan Fathonah, seperti juga yang sering beliau katakan dimana-mana.   

Hanya saja memang ia bukanlah manusia sempurna.Ia punya kelemahan di ucapannya. Di samping tegas, keras dan cenderung kasar. Oleh karena itu pulalah yang mengakibatkan ia keseleo lidah dan pada akhirnya harus dibayarnya dengan melepaskan karirnya dan mendekam di penjara selama 2 tahun. Padahal saat itu karirnya sedang cemerlang.    

Saya bisa paham kenapa ketika pilgub berlangsung semua yang dihalalkan oleh pihak lawan tidak ada sama sekali pencegahan dari Semesta. Jawabannya adalah: karena hukum Semesta, Karma, Tabur-Tuai, Sebab-Akibat tidak pernah diingkari-Nya.    

Kembali kepada pertanyaan kenapa saya lebih memilih Pak KH. Ma'ruf Amin menjadi cawapresnya Jokowi? Alasannya adalah karena saya melihat dari para pihak pendukung Prabowo itu kebanyakan ormas Islam yang dikenal dengan haluan keras. Sebut saja diantaranya ada ormas FPI, HTI, NII, termasuk PKS, dan yang lainnya.   

Jadi analisa saya, untuk melawan Jokowi mereka akan menggunakan pola yang sama yang mereka pakai untuk memenangkan pilgub DKI Jakarta saat itu. Maka orang yang paling tepat adalah KH Ma'ruf Amin. Pasalnya selain menjabat sebagai ketua MUI yang membidani lahirnya kelompok alumni 212, beliau juga sebagai Rois Am PBNU. 

Orang nomor satu di ormas Islam terbesar di republik ini. Tentu saja ini akan memberikan dukungan sangat besar untuk pasangan Jokowi, sekaligus bisa jadi benteng dari serangan-serangan lawan yang menggunakan isu agama sebagai salah satu senjata andalan mereka. (Bersambung)  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Apakah (Cukup) Anda Senang? 16 Aug 2019 11:04 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia