KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
NASIONAL

Paradoks Tahun Baru, Sebuah Tafsir Alternatif
Oleh : Supadiyanto S.sos.i. M.i.kom. | 31-Des-2008, 16:16:01 WIB

KabarIndonesia - Tepat malam nanti pukul 24.00 (entah WIB, ya WITA, juga WIT, termasuk waktu dunia di manapun itu) akan terjadi pergantian tahun 2008 menuju 2009. Sore ini, sebanyak 230 juta jiwa penduduk negeri ini sudah menggadang-gadang momentum alih tahun dari pukul 24.00 plus satu detik itu. Lantas, apa istimewanya?

Pada penghujung Desember 2008 ini, minimal ada tiga momentum terpenting sebagai modal bersama dalam membangkitkan elan rekonstruksimisme nasional. Momentum-momentum vital tersebut yakni peringatan Hari Natal (25 Desember), Tahun Baru Islam 1930 H (29 Desember) dan perayaan malam Tahun Baru Masehi (31 Desember 2008-1 Januari 2009).

Tapi cukup naas, malam nanti di Palestina; mungkin perayaan malam tahun baru ditandai bukan dengan parade kembang api. Melainkan demonstrasi roket-roket atau bom "litle boy" yang berdentum-dentum di sepanjang Jalur Gaza. Di Irak sana, mungkin tank-tank menghabis-habiskan amunisinya sambil memberondongkan senapan M-10 (bukan 10 M (miliar rupiah maksudnya) lho))-nya. Tak perlu jauh-jauhlah, mungkin tetangga kita sendiri juga sudah tak bisa makan tiga hari ini akibat tak punya uang barang sesenpun. 

Artinya, pergantian malam tahun itu tidak bisa diraya-rayakan dengan hati riang gembira oleh setiap orang. Karena luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo sana mbledhos terus, juga praktis membikin ribuan warga terpaksa bertangis peluh air mata akibat penderitaan hidup yang tiada habis-habisnya.

Namun, sejujurnya tiga momentum Natal, Suro-an dan Tahun Baru itu menyiratkan makna serbakebaruan, lebih tepatnya pembaruan. Natal, sebuah hari raya yang dinanti-nantikan miliaran manusia dalam rangka memuliakan kelahiran Yesus (Nabi Isa). Sedangkan Tahun Baru Islam (1430 H) dan Tahun Baru Masehi (2009) yang perayaannnya amat berdekatan itu—sama-sama memiliki spirit mental dalam membangunkan semangat kesadaran kolektif untuk selalu berbuat yang terbaik di masa-masa mendatang.

Meski kita sadar benar, di tengah-tengah perayaan tiga momentum di atas; baik Natal, Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi kali ini; bangsa ini masih berada di bawah temaram bayang-bayang krisis global yang masih melanda dunia. Sedangkan musibah alam berupa banjir, tanah longsor, luapan lumpur Lapindo dll, masih menyisakan residu kepedihan mendalam sampai detik ini.

Beragam musibah alam dab bencana sosial itu menjadi antiklimaks penderitaan rakyat Indonesia, pasca mengalami berbagai cobaan—tak berkesudahan. Saat ini pun nasib para korban tsunami di Aceh yang masih hidup—empat tahun silam; sebagian bahkan masih ada yang tinggal di tempat pengungsian. Apalagi bicara soal keperluan hidup para korban bencana tsunami itu menyangkut kebutuhan pendidikan-kesehatan; belum terurusi, benar.

Kita berharap setidak-tidaknya momentum vital perayaan Hari Natal bermanfaat dalam membangunkan alam kesadaran bersama. Momentum Hari Raya Natal—yang diperingati tanggal 25 Desember 2008—persis sehari sebelum terjadinya gempa tsunami, empat tahun silam; seyogyanya juga mampu memberikan sentuhan kalbu yang mencerdaskan bagi banyak kalangan.

“Hampir kebermenyatuannya” perayaan Natal, Tahun Baru Islam dan Masehi itu, ibarat kebersatuannya umat Nasrani, Umat Muslim dan seluruh manusia dengan penuh rasa suka cita. Meski perlu dicatat pula, perayaan tiga momentum di atas tak perlu terkesan hedonis, berfoya-foya (glamor) atau menghambur-hamburkan uang dan kemewahan duniawi. Sesebisa mungkin, perayaannya harus sederhana, sarat pemaknaan batin dan pencerahan spiritual dan intelektual.

Penumbuhan jiwa solidaritas kemanusiaan, kemesraan sosial antarsesama manusia, yang selama ini tinggal menjadi legenda dalam buku sejarah manusia; harus digelorakan secara gencar. Asanya, ada nuansa kesadaran bersama dalam beragama yang bisa dihadirkan via perayaan momentum itu. Kala kesadaran bereligius timbul bersamaan—didukung atmosfer batin yang pas antar umat beragama; pasti persinggungan batin antara sesama insan lebih terasa grengsengnya. Melalui pemaknaan mendalam perayaan Natal, Tahun Baru Hijriyah dan Masehi itu, penulis meyakini dapat memantik-mantik  semangat seseorang segera berada pada titik sublim terpuncak untuk berempati pada kaum miskin-termarjinalkan.

Apalagi perayaan Natal dan dua Tahun Baru (Hijriyah dan Masehi) menuntut umat manusia untuk selalu berbagi kebahagian dan kesedihan dengan menyumbangkan sebagian hartanya pada “kaum papa”. Hingga bisa menggapai “orgasme budaya” di mana, setiap orang yang mengaku “manusia”, saling memberi maaf; sebagai ungkapan kasih-sayang yang menguniversal. Tuntutan ini tak hanya bersifat internal, juga berlaku bagi setiap manusia tanpa memandang SARA. Klimaks, melalui perayaan hari-hari yang amat relijius dan universal itu—umat manusia diharapkan mampu menciptakan kedamaian di atas dunia.

Klimaksnya setiap manusia, lebih khususnya lagi pada pemimpin di negeri berpenghuni 224 juta jiwa ini mampu mentransformasikan kesalehan relijius dan kesalehan sosial menuju cahaya keilahian yang super . Prihatin kita bila ternyata masih banyak kalangan terjebak merayakan Natal dan dua Tahun Baru itu dengan acara yang serbahedonistis, padahal di negeri ini banyak orang yang butuh pertolongan kita.

Dipastikan jumlah keluarga miskin dan pengangguran pada tahun 2009 bakal melonjak terus. Itu sebagai akumulasi imbas buruk akibat situasi krisis perekonomian global. Diperparah lagi dengan tingkat utang nasional yang sudah amat berjibun; dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air kian mengalami krisis dan kolaps. Sikap pesimistis satu sisi menghantui kita dikarenakan kekuatan hukum yang loyo, artinya juga perlu ditegakkan lagi.

Selama ini aparat hukum masih terkesan emban cindhe, emban siladan (tebang pilih) dalam menangkap para koruptor. Puncak kesalehan ilmu hukum positif itu yakni menghukumi siapa yang bertindak merugikan (baik secara fisik maupun psikologis) pihak lain—secara adil. Atau menjebloskan seseorang dalam penjara, bahkan hingga eksekusi hukuman mati. Atau sebaliknya, klimaks kekuatan hukum positif mampu membebaskan para terdakwa yang tak bersalah dari tuduhan yang keliru.

Saat ini kepedulian dan solidaritas sosial menjadi barang teramat asing. Terlebih dengan keadaan ekonomi nasional kita yang tidak karuan. Di tengah krisis perekonomian ini, rakyat sulit mendapatkan harga Sembako murah. Ironisnya; dalam kondisi seperti itu, ada saja segolongan masyarakat yang berbuat seenaknya. Melakukan tindak korupsi—demi mencukupi kebutuhan kelompoknya. Kegersangan spiritualitas yang mewabah dalam jiwa tiap orang, perlu “obat penawar”.

Lahirnya kesadaran bersolidaritas sosial antarmanusia via perayaan Natal dan Tahun Baru (Islam dan Masehi), diharap bisa memberikan pencerahan (enlightenment) jiwa. Atau bakal menuai celaka tujuh belas benar; sudah keadilan hukum mandul, kearifan beragama memble pula. Selamat Tahun-Tahun Baru (1430 Hijriyah dan 2009 Masehi). (*)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Ekspedisi NKRI Gelar Nikah Massal 20 Okt 2017 05:37 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia