KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.

Bicara.co yang
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Revitalisasi Gerakan Pramuka – Keniscayaan Menuju Indonesia Baru

 
NASIONAL

Revitalisasi Gerakan Pramuka – Keniscayaan Menuju Indonesia Baru
Oleh : Yohanes | 31-Des-2008, 00:49:29 WIB

KabarIndonesia - Judul tulisan di atas, memang bukan perkara baru dalam jagat kepanduan di Nusantara. Mengingat hampir dalam setiap peringatan Hari Pramuka atau momentum lain, wacana di atas sudah kerap disinggung-singgung sebagian kalangan. Meski demikian, adanya urgensitas langkah taktis perevitalisasian Gerakan Pramuka—yang kini memiliki sekitar 21 juta anggota itu, tetap relevan untuk dibahas setiap saat.

Apalagi saat ini Kak Prof. Dr. H. Azrul Azwar baru saja terpilih kembali menjadi Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka periode lima tahun ke depan (2008-2013). Hajatan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009—yang tinggal “seumur jagung” lagi; praktis juga turut berpengaruh pada dinamika pergerakan korps berlogo tunas kelapa ini. Justru teramat naas, kini Gerakan Pramuka yang dulu kala bernama Kepanduan kian kehilangan daya gedor substansinya. Ini terlihat jelas dari semakin sirnanya Gerakan Pramuka pada tingkat daerah hingga pusat. Padahal, kiprah Gerakan Pramuka itu—sejak zaman pra hingga pasca kemerdekaan teramat besar dalam menjamin terwujudnya tatanan “Indonesia Baru“.

Bila dianalisis lebih detail, tergerusnya semangat nasionalisme yang menggelayuti mayoritas pemimpin negara ini, tak lepas akibat ketakpedulian mereka pada nilai luhur (paranata) yang ditanamkan melalui gerakan Pramuka. Esensi Gerakan Pramuka yang mengajarkan pada kita semua semangat universalisme, humanisme sekaligus nasionalisme; hendaklah bisa menopang terealisasinya kebersamaan dalam beragam kondisi.

Terlebih pasca terjadi multibencana alam dan sosial di Indonesia ini. Hantaman gempa bumi di berbagai kota, banjir, kekeringan, dan kecelakaan di darat, laut dan udara. Musibah sosial seperti melambungnya harga Sembako hingga ledakan bom, bentrokan antar massa, kriminalitas—tetap saja menghinggapi kehidupan keseharian bangsa ini. Semangat luhur yang pernah diajarkan dalam gerakan kepramukaan, paling ideal bisa diadopsi seluruh elemen masyarakat guna mengatasi segala problematika pelik di atas.

Watak ksatria, mentalitas mudah berempati pada setiap insan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan merupakan pengejawantahan yang tak terlepaskan dari sistem pengajaran dalam Gerakan Pramuka. Justru pada saat ini yang makin marak terjadi adalah budaya individulistis, hedonis—yang menggejala dalam diri generasi muda. Nyaris tak ada lagi anak-anak muda yang mau meneladani, bahkan bergelut dalam keorganisasian kepramukaan. Para pelajar mulai dari SD hingga SMA/K tak diajarkan lagi kegiatan ekstrakurikuler Gerakan Pramuka. Tapi menjadi tergantikan dengan kegiatan lain—yang jauh dari semangat nasionalisme.

Sejatinya, ada hubungan amat erat antara prinsip dasar yang tertanam dalam Gerakan Pramuka dengan masa depan bangsa ini. Dengan kata lain, Gerakan Pramuka menjadi bagian tak terpisahkan dalam kerangka mewujudkan “Indonesia Baru” yang menjadi impian seluruh rakyat bangsa ini.

Merunut sejarah perjalanan bangsa ini, sejak jaman pra-kemerdekaan yang diwarnai dengan semangat nasionalisme kelokalan, menunjukkan adanya pengotak-kotakan rasa cinta Tanah Air secara sempit. Hal ini wajar terjadi, karena pada masa itu, rasa nasionalisme terpantik sebagai akibat dominasi sejumlah kerajaan yang tumbuh subur di kawsan Nusantara yang berusaha melawan penjajah. Pasca tercapainya kemerdekaan, perjuangan kita ditelorkan melalui sejumlah kebijakan pemerintah melalui tata kelola kenegaraan yang berlaku masa itu.

Khusus pada masa Orde Lama dan Orde Baru, tata kelola pemerintahan itu berpusat secara tersentral pada lingkungan pemerintah pusat saja. Bahkan boleh dibilang pemerintahan pusat diidentikkan dengan patron satu-dua orang semata. Sejalan dengan itu, semasa Orde Reformasi, kebersatuan warga Indonesia dalam mewujudkan cita-citanya, sempat ternodai akibat berlakunya politik kotor serta kejahatan bernama korupsi kian menghebat.

Lantas pada posisi manakah Gerakan Pramuka berperan dalam rentangan (kisaran) sejarah bangsa ini? Secara prinsipil, Gerakan Pramuka memberikan pewarnaan pada setiap elemen bangsa untuk berposisi sebagai patriot sejati di manapun berada. Untuk menjadi patriot bangsa, tak harus menjadi pemimpin bangsa seperti berposisi sebagai presiden, menteri, pejabat DPR/D dan sebagainya. Tapi masing-masing orang memiliki kewajiban untuk mengabdikan diri seluruh kemampuannya secara totaliter, demi pencapaian kemajuan bangsa. Pengaktualisasian kemampuan diri, kredibilitas intelektualitas dan elan spiritualitas yang dimiliki seseorang demi pencapaian “Indonesia Baru” inilah yang kiranya menjadi impian bagi setiap orang yang tergabung dalam Gerakan Pramuka. Idealnya memang, sejak usia dini setiap anak diajarkan nilai-nilai ketatalaksanaan semacam ini. Harapannya di masa mendatang, mereka menjadi sosok pemimpin bangsa yang mempunyai karakteristik ideal, jujur, adil, ksatria dan bertanggung jawab.

Maraknya para pemimpin bangsa yang gemar melakukan tindak sewenang-wenang, terjebak berskandal korupsi dan kejahatan intelektual lain, menunjukkan kualitas buruk karakter penduduk bangsa ini. Melalui perevitalisasian Gerakan Pramuka, diharapkan mampu mengubah mindset dan karakter bangsa ini menuju masa depan “Indonesia Baru” yang diimpikan bersama. Mampukah Gerakan Pramuka yang kini dikomandoi Kak Azrul Azwar kuasa membuktikan pada bangsa ini bahwa mereka mampu merealisasikan impian di atas. Buat gebrakan yang realistis, jangan terlampau banyak utopia!  (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Ekspedisi NKRI Gelar Nikah Massal 20 Okt 2017 05:37 WIB

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia