KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit dan Tol Media (Sebuah Kesaksian Untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Saatnya Mayoritas dan Kaum Toleran Bangkit

 
NASIONAL

Saatnya Mayoritas dan Kaum Toleran Bangkit
Oleh : Kabarindonesia | 13-Jan-2019, 16:47:56 WIB

KabarIndonesia - Saya gembira, bangga dan menyambut baik deklarasi alumni UI dan kampus negeri lain di Senayan mendukung Jokowi, Sabtu lalu. Saya sedang di kampung halaman dan batal meliput acara itu. Padahal sudah saya agendakan pekan lalu. Dukungan kepada petahana, datang juga dari kampus dan alumni universitas yang sedang ada di luar negeri. Bahkan datang juga dari ratusan pilot dan pramugari. Mereka sepaham bahwa petahana yang sudah terbukti hasil kerjanya.

Saatnya berpihak. Saatnya meninggalkan netralitas untuk masa depan negeri yang kita cintai ini. Netralitas hanya milik wasit dan penonton, orang-orang asing yang sewaktu-waktu bisa lari bila negeri kita mengalami krisis.

Saatnya kaum mayoritas nasionalis toleran, pendukung bhinneka tunggal ika, merah putih, bersuara melawan kaum minoritas intoleran yang terus-menerus menebarkan hoaks dan pengelabuan terang terangan kepada rakyat jelata kaum awam. Mendukung tokoh-tokoh cacat yang mabuk kekuasaan belaka, bersama sekumpulan politisi yang menanggung banyak kasus, yang telah merugikan bangsa dan negara, didukung para mafia yang beberapa tahun ini terjegal bisnis hitamnya.

Mereka merajela karena menggunakan speaker dan media sosial yang seolah-olah kencang dan banyak padahal hanya menyuarakan aspirasi segelintir kaum. Kaum picik pula.

Mari kita belajar dari pengungsian besar-besaran warga Suriah ke Eropa, baru-baru ini, dan dari kasus menangnya kaum Taliban di Afganistan selama ini. Negeri koyak-moyak, luluh-lantak, jadi negara gagal.

Semua krisis negara itu dimulai dari kaum terpelajar dan mayotitas yang diam, apatis, nyaman dengan kemakmurannya. Tahu-tahu teroris yang menjual surga dan neraka sudah mengepung mereka. Tahu-tahu perempuan dipaksa menutup sekujur tubuhnya, semua kebudayaan dunia dilarang, warga digiring hanya mengikuti kegiatan akhirat semata. Hidup mundur ke abad pertengahan, bahkan ke zaman Jahiliyah. Polisi agama berjaga di mana-mana.

Tanda-tandanya sudah nampak di satu dua provinsi kita ini. Kaum perempuan didiskriminasi, kesetaraan pria dan wanita diabaikan. Begitu banyak larangan. Dengan ayat-ayat dan dalil-dalil agama, kaum wanita jadi warga kelas dua.

Eskalasi intoleransi dan diskriminasi akan meningkat terus, sampai kita sama seperti Afganistan dan Suriah. Luluh lantak dan memproduksi kaum waras yang terpaksa jadi pengungsi ke luar negeri. Naudzubillah Min Dzalik.

Kaum toleran dan waras hendaknya melakukan kalkulasi. Bila kita kalah, bila mereka yang berkuasa. DKI Jakarta adalah contoh awalnya. Keacuhan pada pembangunan, kemajuan peradaban, hanya melahirkan pemimpin pencitraan sekadar pamer berani. Berani menghentikan reklamasi, berani menghidupkan becak, memasang jaring hitam, dan membiarkan kaki lima merubut hak warga pejalan kaki. Ibukota makin kumuh, dan mengangkangi jabatan sendiri.

Kaum terpelajar dan toleran, nasionalis moderat - teruslah bersuara! Jangan sampai kita diam dan mereka terus berteriak lalu merasa yang mereka lakukan sudah benar. Menyebarkan hoaks dan menabur bibit kerusuhan.

Pembangunan adalah proses, hasilnya bertahap. Mereka mengelabui rakyat menganggap presiden tukang sulap. 

Padahal, jika mereka duduk di tempat yang sama bakal keteteran. Contoh nyata, sekadar membuat visi misi saja, mereka sudah merevisi. Itu tanda-tanda kepala mereka memang kurang berisi. Penulis:  Dimas Supriyanto. (*)  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia