KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PendidikanMendikbud Nadiem Anwar Makarim Tetapkan Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar” oleh : Danny Melani Butarbutar
12-Des-2019, 16:26 WIB


 
  KabarIndonesia - Jakarta, Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengabarkan bahwa untuk menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem
selengkapnya....


 


 
BERITA HIBURAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Opera Afeksi 08 Des 2019 14:27 WIB

Perih Paling Parah 26 Nov 2019 19:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

Profil 7 Juri Indonesian Movie Award 2008

 
HIBURAN

Profil 7 Juri Indonesian Movie Award 2008
Oleh : Lady Asther Laura | 21-Feb-2008, 15:57:48 WIB

KabarIndonesia – Indonesian Movie Award 2008 merupakan ajang apresiasi bagi insan film Indonesia yang menjadi sebuah festival film di Indonesia yang khusus memberikan penghargaan kepada kemampuan akting para pemain film, yang dinilai oleh para juri dan juga dipilih oleh penonton melalui 'sms vote'.

Ada 7 orang juri yang akan menilai kemampuan akting pemain film pada ajang bergengsi ini, mereka adalah :

NINIEK L. KARIM
Aktris senior yang terlahir dengan nama Sri Rohani Soesetio Karim ini, memulai kariernya dengan bermain teater sejak Tahun 1970. Rasa cintanya dengan dunia teater, Niniek sempat enggan bermain film. Namun ia mencoba untuk membuktikan kepiawaiannya di dunia akting sehingga ia bisa membintangi puluhan film. Film-filmnya adalah ’Ibunda’ yang berhasil meraih Piala FFI sebagai Peran Pembantu Terbaik FFI. filmnya Teguh Karya yang berjudul ‘Pacar Ketinggalan Kereta’ juga berhasil meraih Piala FFI, FFA.

Niniek aktif sebagai dosen Psikologi Sosial di Universitas Indonesia sehingga dia harus pilih-pilih peran yang membuat ia jarang terlihat dalam sinetron. Namun bukan berarti Niniek berhenti main di film televisi (FTV), seperti ‘Pulang’ dan ‘Siti Nurbaya’.

Sumbangsihnya terhadap negara dibuktikan kembali dalam konser amal kemanusiaan bertajuk "Satu Duka Satu Bangsa" di Concert Taman Budaya Yogyakarta, dengan pembacaan puisinya karya Sapardi Djoko Damono berjudul ''Hari itu Ahad 26 Desember 2004 Pukul 8 Tepat" yang mengugugah hati penonton yang hadir. Puisi ini bercerita tentang tragedi Tsunami di Aceh pada Tahun 2004. Niniek kembali memberikan sumbangsihnya melalui IMA 2007 dan IMA 2008. Ketelitian Niniek dalam berakting membuat ia dipercayai menjadi Ketua Dewan Juri IMA 2008 dan dapat memberikan kontribusi yang bernilai di IMA 2008.

“Siapa yang tidak tertarik ikut menjadi juri IMA 2008. IMA 2008 memberikan pandangan untuk seni peran di film Indonesia. Saya berterimakasih kepada RCTI yang memberikan ajang apresiasi kepada para artis-artis Indonesia,” katanya.

DIDI PETET
Pemilik nama lengkap Didi Widiatmoko yang akrab dipanggil dengan “Didi Petet“ merupakan salah satu aktor dan seniman terbaik Indonesia. Pria ini mulai merambah karirnya dalam Film ’Catatan Si Boy’. Ia pun juga berhasil meraih penghargaan sebagai
Pemilik nama lengkap Didi Widiatmoko yang akrab dipanggil dengan “Didi Petet“ merupakan salah satu aktor dan seniman terbaik Indonesia. Pria ini mulai merambah karirnya dalam Film ’Catatan Si Boy’. Ia pun juga berhasil meraih penghargaan sebagai pemeran pembantu pria terbaik FFI dalam film ‘Cinta Anak Jaman’ Tahun 1988. Setelah itu karirnya menanjak dengan membintangi beberapa serial Film Kabayan. Selain berperan di layar lebar Didi Petet juga mulai berperan di layar kaca.

Tak cukup sampai di situ, pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1956 mulai berkarya dibalik layar sebagai sutradara dan produser juga. Pemeran “ Emon“ dalam “Catatan Si Boy“ ini aktif sebagai Produser di Production House Talitas dan sibuk sebagai Dekan Fakultas Seni Pertunjukan IKJ.

Sukses menjadi ketua dewan juri IMA 2007 menjadi suatu berkah bagi Didi Petet untuk di amanati kembali oleh RCTI menjadi salah satu juri di IMA 2008.

“Film adalah sebuah karya yang memerlukan niat, usaha dan dedikasi yang sangat besar. Untuk itulah IMA memberikan apresiasi bagi mereka yang telah berjuang memajukan dunia perfilan Indonesia,” ujarnya.

EL MANIK
Iman Emmanuel Ginting Manik adalah nama lengkapnya, tapi ia populer dengan nama El Manik. Pemain film, sinetron dan sutradara film Indonesia kelahiran Bahorok, Sumatera utara ini telah berkarya lebih dari 30 film yang dibintanginya. Peraih Piala Citra dalam FFI 1979 sebagai pemeran pembantu pria terbaik dalam Fim “November 1828” dan “Berbagi Suami” (2006) ini mengaku mendapat ilham untuk memeluk agama Islam ketika membintangi salah satu filmnya yang berjudul "Titian Serambut Dibelah Tujuh". Dalam film tersebut pria Batak ini berhasil masuk sebagai nominasi pemeran utama terbaik FFI 1983.

Beberapa kali masuk nominasi, tapi baru pada Tahun1984, dalam FFI di Yogyakarta; ia berhasil meraih Piala Citra untuk pemeran utama pria terbaik lewat Film "Fatimah Budak Nafsu" arahan Sjumanjaja. Karirnya tidak berhenti sampai sebagai pemain film saja. Kecintaan El Manik pada dunia seni peran dibuktikan lewat aktingnya di sinetron-sinetron. Sinetron yang pernah dibintanginya, antara lain "Abad 21", "Terpesona", "Senandung", "Cintaku Terhalang Tembok", "Benar-benar Cinta", dan "Titipan Illahi".

Tidak hanya sebagai pemain di depan kamera, El Manik pun mulai bergerak sebagai orang dibalik layar dan berkarya sebagai sutradara di film televisi "Pacar Dunia Akhirat" (1996), Sinetron "Panggung Sandiwara" dan "Shakila".

Komentar El Manik tentang IMA, “IMA 2008 sangat segmented yang fokus untuk seni peran. Ini memberikan kesempatan luar biasa kepada para artis dan aktor untuk berkarya.“

ARSWENDO ATMOWILOTO
Penulis dan wartawan yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar ini terkenal ramah dan murah senyum. Karyanya banyak ditemukan dalam buku biography, novel dan di surat kabar juga. Pria kelahiran Solo, 26 November 1948 dikenal sebagai pengarang serba bisa. Melalui imajinasinya karirnya terus berkembang sampai ke dunia sutradara.

Sukses dalam sinetron Cemara membuat pria yang akrab dengan nama Mas Wendo ini dipercayai kembali untuk memberikan kontribusinya untuk menilai akting para bintang film Indonesia di IMA 2008.

Ketika diminta komentarnya mengenai IMA, ia menjawab, ’’Membuat film yang baik memerlukan dukungan dari seorang sutradara yang berkualitas dan pemain yang profesional. Siapakah pemain profesional itu? IMA jawabannya.“

DARWIS TRIADI
Dunia fotografi tidak lepas dari dunia akting dan peran. Sebagai seorang fotografer ulung tentunya mempunyai mata dan insting yang tajam dalam menangkap apresiasi dan akting model-modelnya. Itulah alasan RCTI untuk mempercayakan kembali Andreas Darwis Triadi sebagai salah satu juri di IMA 2008.

Selain berprofesi sebagai fotografer dan Darwis juga mempunyai sekolah fotografi. Pria kelahiran Solo, 15 Oktober 1954, ini sangat menyukai lukisan karena lingkungan masa kecilnya yang kental dengan budaya tradisional Jawa dan sering memberikan seminar dan workshop-workshop tentang fotografi.

Komentar Darwis tentang IMA, “Gambar yang hidup dan berkarakter dalam film mampu membangkitkan emosi penonton. Gambar seperti apa yang memiliki kriteria tersebut?Temukan di Indonesian Movie Awards 2008.”

JAJANG C NOER
Sutradara dan pemain film kawakan ini biasa menyebut dirinya sendiri dengan nama Yayang (ditulis Jajang). Wanita yang lahir dengan nama Lidia Djunita Pamontjak ini menikah dengan sutradara Arifin C. Noer pada tahun 1978. Sejak itu nama yang tertulis di KTP-nya adalah Jajang C. Noer.

Jajang kecil suka menari,menonton teater dan belajar gamelan. Kecintaannya di bidang seni ini lah yang mengantarkan Jajang menjadi pemain film dan sutradara. Pada tahun 1997 pada ajang FSI, bakat sutradara Jajang diakui dengan menangnya Christine Hakim meraih Piala Vidia dalam drama seri terbaik yang berjudul “ Bukan Perempuan Biasa”.

Film lainnya yang ia bintangi antara lain ’Arisan’, ’Joni De Brave’, ’Biola Tak Berdawai’, ’Eliana Eliana’ dan ’Berbagi Suami’.

“Saya senang terlibat dalam IMA. RCTI memberikan suatu wadah untuk apresiasi para bintang film Indonesia untuk berakting,” kata Jajang sore itu.

RATNA RIANTIARNO
Sukses dengan aktingnya di Sinetron “Kejar Kusnadi” membuat ia terpilih menjadi salah satu juri di IMA 2007 dan IMA 2008.

Sebagai mantan penari istana, kepiawaian Ratna di dunia seni sudah tidak diragukan lagi. Berawal dari dunia tari, karir Ratna merambah ke dunia teater. Hal ini dibuktikan tekadnya mendirikan Teater Koma. Sebagai pendiri sekaligus pemain membuat Ratna terus berkarya didunia seni sebagai pemain dan produser film. Dengan jam terbangnya Ratna tentu mempunyai insting dan mata yang tajam dalam menilai akting-akting pemain film yang ikut dalam festival IMA 2008.

“Ajang penghargaan yang fair, objektif dan melibatkan para pencinta film adalah harga mutlak untuk membuat dunia perfilman semakin bergairah,” komentarnya.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu Spanyol Diulang 18 Nov 2019 12:05 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
LILIN ADVENT-NATAL 08 Des 2019 16:13 WIB

Kesehatan Manusia Dalam Alkitab 05 Des 2019 11:08 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia