KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiDua Minggu Berlatih Menulis Bersama PMOH untuk Para Pelajar SMP dan SMA oleh : Redaksi-kabarindonesia
02-Jun-2020, 01:39 WIB


 
 
KabarIndonesia - Selamat Idul Fitri! Masih dalam situasi masa lebaran ini, Harian Online KabarIndonesia (HOKI) kembali membuka pelatihan menulis online Tahun Ajaran (Tajar) XII, 2020. Pada Tajar ini khusus diperuntukkan bagi para pelajar SMP dan SMA untuk mengisi masa liburan
selengkapnya....


 


 
BERITA HIBURAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Melawan Hoax Virus Corona 21 Mei 2020 15:19 WIB


 
Kami Masih Punya Rasa Malu 31 Mei 2020 11:30 WIB

Aroma Kematian 09 Mei 2020 13:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
Desainer Sang Pemuja Setan 29 Mei 2020 13:08 WIB


 

Review Film - Eragon

 
HIBURAN

Review Film - Eragon
Oleh : Dennis Villanueva | 27-Des-2006, 21:42:41 WIB

Director: Stefen Fangmeier
Cast: Edward Speelers (Eragon), Jeremy Irons (Brom), Sienna Guillory (Arya), Robert Carlyle (Durza), John Malkovich (King Galbatorix), Garrett Hedlund (Murtagh)
Genre: Fantasy
Year: 2006
Running Time: 104 Minutes


Eragon bisa dibilang novel yang cukup beruntung. Karya dari Christopher Paolini ini berhasil menonjol karena dirilis dekat masa-masa Lord of the Rings sedang ngetop-ngetopnya. Eragon yang adalah hasil karya Paolini muda (dia baru berumur 15 tahun saat semula menulis Eragon!) langsung mendapatkan perhatian media massa karena jalan ceritanya yang memang cukup baik. Akhirnya Eragon tentu saja mendapatkan perhatian dari Hollywood dan dibuatkan filmnya yang dirilis pada musim dingin tahun ini. Film ini diharapkan bisa menjadi sebuah Lord of the Rings baru (mengingat Eragon adalah bagian pertama dari trilogi Inheritance yang digarap Paolini), tetapi reviewnya sangatlah buruk. Saya sendiri karena belum pernah membaca novel Eragon sangat penasaran dengan film ini. Lantas saya menontonnya. Bagaimana hasilnya? Apakah film ini bisa membuktikan dirinya menjadi film klasik seperti Lord of the Rings - atau setidaknya kolosal setara dengan Troy?

Eragon adalah seorang anak desa biasa. Ketika suatu hari ia tengah berpetualang berburu dia menemukan sebuah telur misterius. Telur ini terbukti merupakan telur sebuah naga, dan Eragon terpilih menjadi sang pengendara; seorang Dragon Rider. Menjadi Dragon Rider bukanlah suatu hal yang bisa dibanggakan di masa itu. Dunia Alagaesia sudah melupakan era dari Dragon Rider dan hidup dalam rezim seorang raja bengis bernama Galbatorix. Raja bengis ini adalah seorang Dragon Rider pengkhianat yang tega menghabisi seluruh kaumnya sendiri. Jelaslah bahwa Eragon dan Saphira (sang naga muda) menjadi sasarannya.

Untuk bisa menyelamatkan diri, Eragon harus bisa bertualang menuju ke Varden tempat markas pemberontak. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena sang raja mengutus penyihirnya untuk mengejar Eragon. Penyihir bernama Durza ini juga menawan gadis misterius yang selalu muncul dalam mimpi Eragon - gadis yang menjaga telur naga demi Eragon. Dalam petualangannya itu, Eragon tentu saja tidak sendiri. Tidak akan lengkap sebuah cerita mengenai anak ingusan tanpa seorang mentor, sosok mentor dalam film ini adalah Brom. Brom adalah seorang tetua di desa Eragon yang misterius - yang nantinya terbukti adalah seorang... (kejutan... tidak) Dragon Rider yang kehilangan naganya dan harga dirinya.

Sejujurnya saja, cerita dalam Eragon ini sangatlah simpel - toh saya dari sananya memang tidak banyak berharap pada karya dari seorang anak berusia 15 tahun, konon Eldest (serial kedua Inheritance) memiliki jalan cerita yang jauh lebih rumit. Jalan ceritanya yang sebenarnya biasa-biasa saja ini makin diperparah dengan script yang payah (coba saja perhatikan dialog-dialognya yang sangat... cheesy). Ketika menonton film ini, saya tidak bisa tidak berpikir kenapa film ini mengikuti pola seperti ini: naik kuda - adegan - naik kuda - adegan - naik kuda - adegan - film selesai... Loh? Musik dari Eragon sendiri jauh dari kesan klasik dan kolosal. Setting? Jangan mulai membandingkan dengan Lord of the Rings. Eragon bahkan tak bisa menandingi Troy atau Narnia.

Kalau aspek internal dari film ini sudah buruk lalu bagaimana dengan kualitas akting para pemainnya yang rata-rata lumayan terkenal (selain Edward Speelers yang pendatang baru). Sekali lagi: di bawah rata-rata. Jeremy Irons yang tampil sebagai seorang mentor tidak bisa tampil seberkarisma Aslan, Aragorn, ataupun Gandalf. Hal yang sama bisa dikatakan mengenai karakter Galbatorix dan Durza yang tampil kurang bengis sehingga kalau melakukan kejahatan terlihat komikal. Yang paling malang nasibnya justru sekutu Eragon. Mulai dari Arya, Ajihad, dan Murtagh semuanya digarap sepintas lalu dan tidak digali karakterisasinya sama sekali. Mengecewakan. Beruntung Saphira masih dibuat dengan CG yang lumayan apik.

Pada akhirnya, Eragon adalah kekecewaan besar bagiku. Bisa dibilang perkiraanku untuk musim dingin ini terbalik total. Casino Royale yang saya sangka akan mengecewakan justru sangat bagus, sementara Eragon terlalu pendek dan terlalu mengecewakan; saya jadi khawatir Eldest dan Empire nantinya tidak akan dilirik lagi oleh Hollywood, tentu Paolini sendiri meratapi film adaptasi dari novelnya yang begitu buruk ini.


Rating: 5.5 / 10

Best Scene: Aerial Battle
Memorable Quotes:

Brom: That's the spirit - one part brave, three parts fool

Murtagh: A son can't choose his father

Saphira: Eragon, Let him die with pride... As a dragonrider

Arya: Legends of Eragon, the great Shadeslayer, spread throughout Alagaesia.
Eragon: You know how legends go; people will believe anything these days.

If You Love This Movie, Watch Also:
- Lord of the Rings Trilogy
- Chronicles of Narnia

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
DIE HARD - SUSAH MATEK 23 Mei 2020 10:41 WIB

 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia