Oh, Stereotipe
Oleh : Nursalam Ar

07-Feb-2007, 18:15:07 WIB - [www.kabarindonesia.com]
Jam delapan lewat dua puluh satu menit. Malam.
"Ada pesan dari Mama," ujar gadis manis berjilbab dengan senyum lucu itu.
Aku berdebar. Benakku sibuk menerka kira-kira apa pesan sang Mama setelah kunjunganku malam itu. Ia seorang janda awal lima puluh tahunan yang suaminya wafat hanya berselang dua jam setelah ayahku wafat September lalu. Entahlah apakah itu suatu kebetulan yang merupakan pertanda antara aku dan putrinya.

"Apa kata Mama?" sambutku setelah menghela nafas, menguasai diri yang mendadak gugup.
"Tapi jangan marah ya.."
Hm...apalagi nih? Benakku kian sibuk menerka. Ribuan kombinasi probabilitas berseliweran hadir baik dengan cara permutasi atau mutasi. Rasanya otakku jadi penuh.
"Halo?!"
Ufs! Aku lupa aku sedang bercakap di telepon. Jadi tak mungkin dia mengetahui gundahku hanya melalui mimik wajah. Maklum, telepon rumahku belum 3G!:-)
"Ya, nggak marah kok. Cerita aja," tukasku sok mantap. Padahal deg-degan juga.
"Bener ya nggak marah?" Suara lembut itu kembali bertanya. Duh, bikin penasaran aja!
"Iya, kagak..." Tuh, keluar deh logat Betawiku!
Tawa kecil di seberang meledak. Kemudian hening. Satu..dua...tiga...Diam-diam hatiku menghitung kapan bom itu meledak.

Si gadis bercerita perihal diskusi keluarganya setelah kunjunganku malam itu. Aku terperangah. Benar, itu bom! Setidaknya demikian yang kurasa. Terkejut, paling tidak karena efek Doffler ledakannya.
"Salam kan orang Betawi? Kamu sudah yakin?"
"Emang kenapa?"
"Orang Betawi kan tukang kawin. Sukses dikit udah kawin lagi. Liat aja teman kakak!"
"Kan nggak semua. Tiap orang beda."
"Itu sekarang waktu dia belum mapan. Coba aja kalo sudah lebih kaya!"
"Sudah-sudah, nanti Mama titip tanya buat Salam apa dia mau poligami nggak. Disampaikan ya!"
Hening.
"Bang, kok diam? Marah ya?" Suara lembut itu terdengar khawatir.
"Nggak. Cuma rada kaget aja."
Aku tersadar mendengar tuturannya soal diskusi seru keluarganya tentang aku. Aku siuman setelah terkena bom itu. Ya, bom stereotipe!

Di negeri yang terdiri dari belasan ribu pulau dan ratusan bahasa serta etnis ini sederet panjang stereotipe tentang suku dan etnis dapat dijejer. Barangkali sama panjangnya dengan luas garis pantai negeri yang dulunya bernama Nusantara ini.
"Jangan kawin sama orang Padang. Pelit!"
"Wah, Betawi ya? Kontrakannya banyak dong! Makanya orangnya pemalas!"
"Dia orang Sunda tuh. Pasti nanti dikawinin muda!"
"Orang Batak dia. Jangan-jangan copet lagi!"
"Ah, Cina lu! Mata duitan!"
"Sst...cewek Manado tuh. Biasa deh, biar kalah nasi asal menang aksi!"
Ah, stereotipe...

Menurut Wikipedia, kamus internet global, stereotipe adalah gagasan yang diyakini mengenai anggota kelompok masyarakat tertentu, yang semata-mata berdasarkan keanggotaan seseorang dalam kelompok tersebut. Stereotipe kerap digunakan dalam pengertian negatif atau purbasangka dan cukup sering digunakan untuk menjustifikasi perilaku diskriminatif tertentu. Dalam bentuk yang lebih lunak, stereotipe dapat mengungkapkan kearifan masyarakat yang terkadang akurat mengenai sebuah realitas sosial. Stereotypes are ideas held about members of particular groups, based solely on membership in that group. They are often used in a negative or prejudicial sense and are frequently used to justify certain discriminatory behaviors. More benignly, they may express sometimes-accurate folk wisdom about social reality (Wikipedia, Free Encyclopaedia).

Dalam definisi psikologi, stereotipe adalah citra mental yang kelewat sederhana mengenai sebuah realitas sosial, an over-simplified mental image of the social reality.

Dulu almarhum ayahku juga kerap mewanti-wanti jangan kawin sama orang Padang hanya karena banyak pengalaman pahitnya dengan orang-orang dari etnis tersebut. Alhasil, dua kakakku yang lebih dulu menikah, satu dengan orang Bengkulu blasteran Bogor, dan satu lagi dengan orang Pagaralam, Sumatera Selatan. Tidak ada yang orang Padang. Tapi benarkah demikian?

Seorang kawanku yang bangga sekali dengan kebetawiannya juga kerap mengesalkanku karena meragukan asal-usulku. Dia tak percaya aku orang Betawi hanya karena dianggap lebih mirip Sunda. Ah, hari gini mempermasalahkah silsilah! Bukankah sejak zaman Volksraad (DPRD era Belanda) dulu, Muhammad Husni Thamrin, sang singa podium dari Kwitang, sudah menyerukan persatuan nasional? Sedangkan Benyamin Sueb yang masyhur sebagai ikon orang Betawi dan berjasa mengangkat derajat kesenian gambang kromong Betawi ke pentas nasional ternyata juga tidak murni berdarah Betawi. Dalam biografinya yang dirilis dua tahun lalu, Bang Ben ternyata anak seorang pensiunan tentara asal Purwokerto bernama Sukirman yang menikahi seorang perempuan Betawi Kemayoran.

Dalam sebuah kesempatan makan siang bersama dengan sang kawan yang chauvinistik itu, aku patut berbangga. Setidaknya darah Betawiku lebih murni. Sang kawan memang beribukan orang Betawi tulen, tapi ayahnya orang Wetan-istilah orang Betawi untuk orang-orang di daerah sekitar Karawang, Subang atau Bekasi. Ketika mengakui fakta itu ia pun tertunduk. Malu rupanya. Aku berusaha menyembunyikan senyum kemenanganku waktu itu. Sama rapinya saat aku menyembunyikan fakta darinya bahwa nenekku alias ibu dari ayahku adalah hasil perkawinan seorang wan Arab dan perempuan Betawi Kalibata. Jadi, meminjam istilah Hitler ketika berusaha mengkampanyekan program pembentukan ras Arya murni di Jerman pada era 40-an, darahku juga masih "ternodai" ras lain!

Tapi soal stereotipe etnis itu rasanya tak berlaku buat generasi baru. Si gadis yang meneleponku juga bisa dikatakan anak gado-gado. Ibunya, sang Mama adalah orang Lampung yang punya kakek berdarah Banjar, Kalimantan. Sementara bapaknya orang Palembang yang beribukan keturunan Cina. Jadi dalam dirinya mengalir darah Lampung, Palembang, Cina, dan Kalimantan. Lalu dengan stereotipe etnis yang manakah ia hendak ditahbiskan?

Termasuk buat Muthmainnah atau Muthi, keponakanku, yang kerap dipanggil Imut. Karena tubuhnya yang tergolong mungil untuk ukuran TK kelas A saat itu.
"Muthi sukunya apa?" tanyaku suatu ketika. Aku sering bersoal-jawab dengan dia karena kerap jawabannya cerdas, mengejutkan, out of the box. Sungguh suatu sensasi tersendiri bagiku untuk menggelitik naluri kreatif menulisku.

Muthi terdiam. Kepalanya yang berambut keriting rumit a la Shirley Temple, artis film cilik asal Amerika era 60-an, berputar-putar mencari jawaban, menatap langit-langit kamarku saat ia asyik bermain game balap motor di komputerku. Tampaknya pertanyaanku cukup rumit, karena mulutnya manyun. Itu kebiasaannya bila sedang berpikir keras. Termasuk juga mondar-mandir sambil menggendong kedua tangannya di belakang. Persis mandor sedang menginspeksi pembangunan jalan kampung.
"Suku Indonesia!" teriaknya nyaring dengan senyum ceria dan sepasang lesung pipit yang merekah. Ia tertawa tergelak dengan mata bulat besar Habibienya. Ia merayakan jawabannya yang dianggapnya benar itu dengan menjulurkan dan memain-mainkan lidahnya, meledekku.

Aku tersenyum. Ia benar juga. Ummi-nya yang notabene kakakku memang Betawi asli. Namun abinya meski dilahirkan di Pagaralam tapi kedua orang tuanya ternyata orang Padang yang hijrah ke Pagaralam sebelum ia lahir.Keluarga besarnya masih banyak yang bermukim di sekitar Danau Maninjau. Keluarga besar kami juga baru mengetahuinya saat ia sudah menikahi kakakku. Yah, namanya juga jodoh. Asam di gunung, garam di laut, ketemunya di kuali juga.

Soal jawaban Muthi, aku merenunginya dalam. Entah itu kebetulan saja atau contoh kearifan anak kecil yang kerap lebih bijak dari kita, orang-orang dewasa, yang kerap mempersoalkan asal suku dan silsilah keturunan atau agama dan terbelenggu dengan stereotipe yang menafikan kodrat Tuhan bahwa kita dilahirkan berbeda-beda untuk saling mengenal.