Menonton Kakula, Melihat Perubahan Budaya
Oleh : Jafar G Bua

31-Mei-2007, 05:25:08 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Mozaik budaya di Nusantara terbilang begitu banyak dan beragam. Salah satunya adalah Kakula di Sulawesi Tengah. Kakula, dikenal juga dengan sebutan Kolintang.

Irama yang dimainkan hanyalah instrumen-instrumen tradisional yang kerap dijumpai dalam pesta-pesta pernikahan dan pesta-pesta adat.

Kakula, adalah bagian dari budaya gong yang menyebar di Asia Tenggara mulai dari Filipina bagian selatan hingga Sumatra bagian selatan.

Instrumen ini dimainkan oleh orang Kaili—suku asli di Sulawesi Tengah. Selain di Sulawesi Tengah, instrument ini dapat pula ditemukan di Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow), Kalimantan, Sumatra, Maluku, Sabah dan Serawak Malaysia dan Brunai Darussalam.

Mohammad Amin Abdullah, salah seorang pekerja seni di Palu yang menamatkan pendidikan magisternya Asian Studies, University of Hawaii di Manoa ini, kemudian mengembangkan Kakula ini menjadi sangat menarik.

Ia berhasil mengajak beberapa pekerja seni yang kuliah di kampus itu seperti mahasiswa asal Amerika , Argentina , Jepang , Vietnam dan juga Indonesia . Saat itu (Agustus-Desember 2005), untuk memainkan Kakula yang mereka beri nama The Hawai’i Kakula Ensemble dan pemuda kelahiran Palu ini menjadi Musik Directornya.

Bahkan, The Hawai’i Kakula Ensemble ini pernah bermain di University of Hawai’i Gamelan Ensemble Concert , Honolulu , Hawaii (November 2005) Musik Pembuka pemutaran Film “The Last Bissu” karya Rhoda Grauer, East West Center , Honolulu (October 2005), Honolulu Zoo Society untuk pencaharian dana orang utan Rusty (October 2005). Bahkan mereka melakukan pentas untuk mencari dana bagi korban tsunami di Aceh.

Tidak hanya itu, Kakula pun dipentaskan di The East West Festival, East West Center , Honolulu , Hawaii (April 2005), Indonesia Cultural Day, Indonesia Students Organization (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat), Honolulu , Hawaii (April 2004), Asia Pacific Performance Night, Asian Studies Department, University of Hawaii (March 2004).

Musik yang dimainkan oleh ensembel ini disebut “Kakula Kreasi Baru” yang mengembangkan namun tidak menggantikan kakula tradisi. Istilah “kreasi baru" digunakan untuk mengidentifikasi karya-karya baru yang diciptakan oleh komposer Indonesia .

Karya ini mempertahankan apa yang telah ada dan pada saat yang sama memasukkan hal yang baru. Menurut Amin Abdullah, dengan menggunakan musik tradisi sebagai ide dasar, kreasi baru menyimbolkan tradisi dan sekaligus modernitas. “Kreasi baru adalah sebuah proses mentransformasi musik yang dimainkan dalam kehidupan sehari-hari ke atas pentas,” katanya.

Sejak 1997, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mensponsori perkembangan gaya musik Kakula Kreasi Baru. Musik ini kemudian menjadi identitas orang Kaili.

Perubahan dari Kakula tradisi menjadi kreasi baru, dapat diketahui melalui tangga nadanya berubah dari locational tunning (tangga nada tidak tetap) menjadi absolute tuning (tangga nada yang tetap) dengan meniru tangga nada barat (well tempered) namun ide dari pentatonic masih dipertahankan.

Beberapa Instrumen lainnya juga ditambahkan seperti tambourine, cymbal, lalove (seruling tradisional masyarakat Kaili di Sulteng), gendang besar, rebana, kudode dan lain-lain.

Terkadang memainkannya dengan duduk di lantai (secara tradisi dimainkan dengan duduk di kursi. Laki-laki menggantikan posisi wanita sebagai pemain kakula dan wanita menjadi penyanyi (seperti pesinden dalam gamelan Jawa) dan menggunakan paduan suara pemusik pria (seperti gerongan pada gamelan Jawa).

Repertoar Hawaii Kakula Ensemble

Ndua-ndua, musik tradisi yang dimainkan oleh orang Kaili untuk mengiringi pengantin laki-laki, ke rumah pengantin perempuan, mengumumkan adanya hajatan seperti sunatan, perkawinan dan upacara akil balik.

Kakula-Kakula karya Mohammad Amin, (1997), sebuah eksperimentasi yang menggabungkan Kakula dengan Lalove, rebana dan tambourine dalam sebuah musik yang bertempo cepat dan struktur yang kontroversial.

Peulu Cinde, Karya Hassan Bahasywan, untuk mengiringi tari. Medley dua nyanyian rakyat Inolu dari Kulawi dan Doni Dole dari Poso. Lagu pertama mengekspresikan nyanyian ritual untuk roh nenek moyang sedangkan menggambarkan bagaimana anak muda bergaul.

Pompaura karya Mohammad Amin (1998), sebuah eksperimentasi menggunakan birama ganjil 5/8 pada ensemble Kakula untuk mengiringi Lalove. Lalove-Love (1998), eksperimentasi menggunakan perubahan meter 7/8 dan 4/4 untuk mengiringi Lalove dan vokal dan Randa Ntovea, sebuah lagu yang diciptakan oleh Hassan Bahasywan.

Para pemain dalam Hawaii Kakula Ensemble ini, terdiri dari William Connor, Mayco Santaella, David Langfelder, Herman Kellen, Joan Scanlan, Nicole Tessier, Nicholas Tillinghast-Lewin, Yoko Ruichi, Thomas Wasson dan Mohammad Amin Abdullah sendiri.

Konsep Sintuwu
Bagi putra kelahiran Palu 40 tahun lalu yang sangat menyintai jenis musik tradisional Poso ini, memasukkan konsep Sintuwu dalam jenis musiknya, termasuk The Hawai’i Kakula Ensemble.

Dalam bahasa Kaili dan Poso, Sintuwu berarti menghidupkan secara bersama-sama. Sebuah kata yang lama, Sintuwu mengindikasikan bagaimana aktivitas dalam sebuah tradisi oral berorientasi kelompok, tidak berbasis individual. Sintuwu bersinonim dengan Gotong Royong, yang berarti bekerja sama secara kolektif.

Menurut Amin Abdullah, konsep kolaborasi ini adalah kunci untuk memahami bagaimana komunitas dan orang Indonesia saling bekergantungan sesamanya. Untuk beberapa komposer di Indonesia , proses kreatif untuk membuat komposisi musik merefleksikan hal tersebut.

“Mereka tidak membuat musik sendiri, namun pemain dalam sebuah kelompok mempunyai kontribusi dalam karya”, katanya.

Sintuwu menjadi ideologi dan metode dalam setiap karya Amin Abdullah. Menurut Amin Abdullah yang juga bekerja di Dinas Pendidikan Pengajaran Sulawesi Tengah ini, ada tiga tahap dalam metode Sintuwu, pemain akan menemukan tema, penggarapan karya dalam kolaborasi bersama kelompok dan proses evolusi sebuah karya setelah pementasan pertama.

Bagi Amin Abdullah, ketika ia memulai sebuah komposisi, ia akan datang pada latihan pertama hanya dengan sebuah tema atau konsep musical. Konsep itu didapat berupa bentuk musik, motif, melodi, rhythm pattern, texture, tempo atau ide instrument apa yang akan digunakan.

“Apa yang penting bagi saya adalah apa yang ingin disampaikan melalui karya. Proses pembuatan musik kemudian terjadi pada saat yang sama dengan proses latihan”, ujarnya.

Metode Sintuwu membiarkan musisi untuk bermain sesuai dengan kemampuan mereka, dan memberikan mereka kesempatan untuk berimprovisasi sehingga ia kemudian memberi stimulus.

Metode ini juga memberi penekanan pada interaksi yang intim antar musisi. Untuk itu, dengan metode Sintuwu, musisi adalah juga interpreter dan kolaborator, bukan hanya sekedar pemain dan kolaborator.

Komposisi terhitung selesai ketika latihan selesai dan akan terus berkembang setelah pementasan pertama.