Tips Praktis Mengenali Abses Peritonsil
Oleh : Dr. Dito Anurogo

25-Jan-2008, 22:00:46 WIB - [www.kabarindonesia.com]
Sinonim
Peritonsillar abscess, PTA, pus (nanah) di jaringan peritonsillar.


Pendahuluan

Peritonsillar abscess (PTA) merupakan kumpulan/timbunan (accumulation) pus (nanah) yang terlokalisir/terbatas (localized) pada jaringan peritonsillar yang terbentuk sebagai hasil dari suppurative tonsillitis.

Akumulasi nidus berlokasi diantara kapsul tonsil palatinus dan otot-otot konstriktor pharynx. Pillar anterior dan posterior, torus tubarius (superior), dan pyriform sinus (inferior) membentuk batas-batas potential peritonsillar space.


Sejarah

Karena merupakan tempat infeksi yang umum, PTA telah dideskripsikan sejak abad ke-14, dan mulai berkembang sejak maraknya penemuan antibiotik di abad ke-20 ini.


Insiden

Insiden PTA di United States sekitar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, mewakili sekitar 45.000 kasus baru tiap tahunnya.

Usia penderita bervariasi, antara 1-76 tahun, dengan insiden tertinggi pada usia 15-35 tahun.


Penyebab

Mikroorganisme apapun yang menyebabkan tonsillitis akut dan kronis dapat juga menjadi organisme kausatif PTA.
Umumnya, organisme gram-positive aerobic dan anaerobic yang dapat diidentifikasi dengan culture. Pada pasien dengan PTA umumnya ditemukan biakan (culture) mikroorganisme group A beta-hemolytic streptococci. Yang paling umum berikutnya adalah organisme jenis staphylococci, pneumococci, dan Haemophilus.
Selain itu, mikroorganisme lainnya yang dapat juga dibiakkan termasuk lactobacilli, berbagai bentuk filamentous seperti: Actinomyces species, micrococci, Neisseria species, diphtheroids, Bacteroides species, dan bakteri nonsporulating.


Riwayat Perjalanan Penyakit (Pathophysiology)

Pathophysiology PTA belum diketahui sepenuhnya. Namun, teori yang paling banyak diterima adalah kemajuan (progression) episode tonsillitis eksudatif pertama menjadi peritonsillitis dan kemudian terjadi pembentukan abses yang sebenarnya (frank abscess formation).

Selain itu, PTA terbukti dapat timbul de novo tanpa ada riwayat tonsillitis kronis atau berulang (recurrent) sebelumnya. PTA dapat juga merupakan suatu gambaran (presentation) dari infeksi virus Epstein-Barr (yaitu: mononucleosis)


Gejala Klinis

Ada riwayat faringitis akut disertai tonsillitis dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan/faring unilateral yang kian memburuk (worsening unilateral pharyngeal discomfort).
Rasa tak enak badan (malaise).
Kelelahan (fatigue) atau merasa cepat lelah.
Sakit kepala atau pusing (headaches).
Demam (fever).
Bentuk batang leher tidak simetris (asymmetric throat fullness).
Dapat disertai nyeri saat menelan (odynophagia), sulit menelan (dysphagia), dan a “hot potato–sounding” voice.
Adanya trismus (terbatasnya kemampuan untuk membuka rongga mulut) menunjukkan terjadi peradangan (inflammation) dinding faring lateral dan pterygoid musculature.
Bila ada nyeri di leher (neck pain) dan atau terbatasnya gerakan leher (limitation in neck mobility), maka ini dikarenakan lymphadenopathy dan peradangan otot tengkuk (cervical muscle inflammation).
Banyak juga yang dalam keadaan ipsilateral menunjukkan gejala “otalgia with swallowing”.
 

Pemeriksaan Fisik

Kebanyakan penderita merasakan nyeri yang hebat (severe pain).
Pemeriksaan rongga mulut menunjukkan adanya warna kemerahan (erythema), ketidaksimetrisan pada langit-langit lunak (asymmetry of the soft palate), tonsillar exudation, dan anak lidah atau tekak (uvula) yang mengalami “contralateral displacement”.
PTA biasanya unilateral dan terletak di superior pole dari tonsil yang terkena (affected tonsil), di supratonsillar fossa. Mukosa di lipatan supratonsillar tampak pucat dan bahkan seperti bintil-bintil kecil (small pimple).
Palpasi daerah soft palate seringkali menunjukkan seperti bergelombang (area of fluctuance).
Flexible nasopharyngoscopy dan laryngoscopy direkomendasikan untuk penderita yang mengalami gangguan pernafasan (airway distress).


Pemeriksaan Laboratorium dan Pencitraan

Pada penderita PTA perlu dilakukan pemeriksaan:
Hitung darah lengkap (complete blood count), pengukuran kadar elektrolit (electrolyte level measurement), dan kultur darah (blood cultures).

Tes Monospot (antibodi heterophile) perlu dilakukan pada pasien dengan tonsillitis dan bilateral cervical lymphadenopathy. Jika hasilnya positif, penderita memerlukan evaluasi/penilaian hepatosplenomegaly. Liver function tests perlu dilakukan pada penderita dengan hepatomegaly.

“Throat culture” atau “throat swab and culture”: diperlukan untuk identifikasi organisme yang infeksius. Hasilnya dapat digunakan untuk pemilihan antibiotik yang tepat dan efektif, untuk mencegah timbulnya resistensi antibiotik.

Plain radiographs: pandangan jaringan lunak lateral (Lateral soft tissue views) dari nasopharynx dan oropharynx dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal.
Computerized tomography (CT scan): biasanya tampak kumpulan cairan hypodense di apex tonsil yang terinfeksi (the affected tonsil), dengan “peripheral rim enhancement”
Ultrasound, contohnya: intraoral ultrasonography.


Prosedur Diagnostik

Aspirasi jarum (needle aspiration)
Tempat aspiration dibius / dianestesi menggunakan lidocaine dengan epinephrine dan jarum besar (berukuran16 – 18) yang biasa menempel pada syringe berukuran 10 cc.
Aspirasi material yang bernanah (purulent) merupakan tanda khas, dan material dapat dikirim untuk dibiakkan.


Penatalaksanaan

1. Terapi Medis
Pasien dengan dehidrasi memerlukan cairan intravena sampai masalah peradangan (inflammation) terpecahkan, sehingga tubuh pasien dapat memperoleh kembali intake cairan per oral yang cukup (adequate oral fluid intake)
Antipyretics dan analgesics dapat digunakan untuk mengurangi kegelisahan/ketidaknyamanan (discomfort) atau meredakan demam.

Terapi antibiotik sebaiknya dimulai setelah biakan (culture) diperoleh dari abses. Penggunaan penisilin intravena dosis tinggi secara empiris tetap merupakan pilihan yang baik untuk mengobati PTA.

Sebagai alternatif, karena sifat polymicrobial dari nanah yang dibiakkan (cultured pus), agent yang dapat mengobati atau melenyapkan copathogen dan melawan beta-lactamase telah direkomendasikan sebagai pilihan pertama.

Cephalexin atau cephalosporin lainnya (dengan atau tanpa metronidazole) merupakan pilihan pertama yang terbaik (the best initial option). Sebagai alternatifnya antara lain:
(1) cefuroxime atau cefpodoxime (dengan atau tanpa metronidazole),
(2) clindamycin,
(3) trovafloxacin, atau
(4) amoxicillin/clavulanate (jika diagnosis mononucleosis telah disingkirkan).

Pasien dapat diberi resep antibiotik oral sekali oral intake dapat ditoleransi tubuh dengan baik; durasi pengobatan sebaiknya antara 7-10 hari.

Penggunaan steroids masih kontroversial. Penelitian terbaru yang dilakukan Ozbek mengungkapkan bahwa penambahan dosis tunggal intravenous dexamethasone pada antibiotik parenteral telah terbukti secara signifikan mengurangi waktu opname di rumah sakit (hours hospitalized), nyeri tenggorokan (throat pain), demam, dan trismus dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberi antibiotik parenteral.

2. Terapi Bedah (Surgical Therapy)
Penatalaksanaan pasien yang dicurigai PTA sebaiknya melibatkan seorang otolaryngologist atau ahli bedah (surgeon) yang telah berpengalaman menangani kasus ini.
Rujukan dini perlu dipertimbangkan jika diagnosisnya tidak jelas dan tampak airway obstruction pada pasien.

3. Insisi dan drainage
Intraoral incision dan drainage dilakukan dengan mengiris mukosa overlying abses, biasanya diletakkan di lipatan supratonsillar.
Drainage atau aspirate yang sukses menyebabkan perbaikan segera gejala-gejala pasien.


Komplikasi

Perdarahan (bleeding) merupakan komplikasi yang potensial jika cabang-cabang arteri karotid eksterna dilukai (injured) atau jika external carotid artery-nya sendiri yang terluka. Perdarahan dapat terjadi intraoperatively atau di awal periode postoperative.

Sejumlah komplikasi klinis lainnya dapat terjadi jika diagnosis PTA diabaikan. Beratnya komplikasi tergantung dari kecepatan progression penyakit. Untuk itulah diperlukan penanganan dan intervensi sejak dini.


Prognosis

Sebagian besar pasien yang diobati dengan antibiotik dan drainage yang memadai di rongga abses mereka pulih dalam beberapa hari. Sejumlah kecil pasien lainnya yang masih mendapat abses, memerlukan tonsillectomy.

Catatan

1. PTA biasanya merupakan komplikasi dari tonsillitis akut.
Inflammatory edema dapat menyebabkan penderita kesulitan saat menelan.

2. Frekuensi dehidrasi terjadi sekunder karena pasien takut merasa nyeri saat makan dan minum.

3. Kelebihan intraoral drainage adalah tingkat kesuksesannya tinggi, sedangkan tingkat morbiditas dan recurrence-nya rendah.

4. Tonsillectomy hanya diindikasikan pada penderita dengan recurrent tonsillitis atau recurrent PTA. Namun demikian, tonsillectomy dapat merupakan satu-satunya jalan untuk mengeluarkan abses, jika lokasi abses sulit ditemukan atau ditentukan.

5. Tonsilektomi segera (immediate tonsillectomy) sebagai bagian dari penatalaksanaan (management) PTA hingga kini masih kontroversial.


Referensi:
Gosselin BJ. Peritonsillar Abscess. Emedicine Website. Last Updated: June 28, 2005. Cited from: http://www.emedicine.com/med/topic2803.htm


Sumber Gambar: Tonsil yang normal.
http://home.hawaii.rr.com/dochazenfield/images/Normal%20Tonsils%20Labeled.jpg




Ikutilah Lomba Menulis Surat Cinta!!!
Blog:  http://www.lomba-suratcinta.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com