Benny G. Setiono-Peraih Wertheim Award 2008: 'MASALAH TIONGHOA INDONESIA' Harus Distop Samasekali!
Oleh : Ibrahim Isa Alias Bramijn

10-Jun-2008, 15:03:51 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia -
Benny G. Setiono - Peraih Wertheim Award 2008: 'MASALAH TIONGHOA INDONESIA' Harus  
('The Chinese Indonesian Problem' has to be stopped completely)

Diatas memang sengaja dikutip persis kalimat yang disampaikan oleh Benny G Setiono, dalam 'acceptance speech'- nya dala m bahasa Inggris, ketika menerima Wertheim Award 2008 dari Ketua Wertheim Faoundation, Dr. CJG Holtzappel, pada tanggal 06 Juni 2008, di zaal besar Universiteit Van Amsterdam, Roeterstraat 15, Amsterdam.

Buku hasil studi dan riset Benny berjudul 'TIONGHOA Dalam PUSARAN POLITIK' telah memperoleh penghargaan tinggi dari Wertheim Foundation, dan melalui selekasi yang dilakukan oleh sebuah komisi internasional, kepada Benny disampaikan Wertheim Award 2008, sebagai bukti kepeduliannya terhadap masalah etnis Tionghoa di Indoneisa. Dan bahwa dengan bukunya itu Benny telah memberikan sumbangan penting pada perjuangan untuk menyatakan pendapat dengan bebas dan mempublikasikannya, serta terhadap usaha besar emansipasi bangsa Indonesia.
Yang menarik dari yang disampaikan Benny dalam 'acceptance speech'nya ialah, bahwa kebulatan hatinya untuk sepenuh-penuh hatinya mencurahkan tenaga dan fikiran terhadap usaha penyelesaian 'Masalah Tinghoa Indonesia' secara tuntas, ialah sesudah ia menyaksikan 'Kerusuhan 13-14 Mei 1998 di Jakarta'. Kerusuhan tsb telah mengakibatkan ribuan rumah, toko-toko, mall, bank, bengkel, mobil dan sepeda motor, ditambah dengan lebih dari 1000 orang dibakar hidup-hidup ditambah dengan lebih dari 100 perempuan Indonesia-Tionghoa diperkosa, sesudah itulah ia menyadari dan berketetapan untuk berbuat sesuatu, agar insiden tragis ini yang terus menerus saja menimpa orang Indonesia-Tionghoa tidak akan terjadi lagi. Pendek kata, 'Masalah-masalah Indonesia Tionghoa Indonesia harus distop samasekali.

Tulis Benny selanjutnya: Dengan terulangnya insiden-insiden yang melibat orang-orang Indonesia Tionghoa sebagai korban, saya menyadari bahwa 'Masalah Tionghoa Indonesia' mengandung latar belakang sejarah; itu dimulai dengan Era Kolonial Belanda terus hingga mencapai puncaknya selama periode REzim Baru Suharto yang Otoriter. Dengan demikian masalah Tionghoa Indonesia adalah inheren dengan perjalanan nasion kita. Saya mengerti bahwa masalah etnik Tionghoa Indonesia tidak bisa dipecahkan oleh etnik Tionghoa Indonesia saja, sederhana saja, karena etnis Tionghoa Indonesia merupakan bagian yang integral dari Indonesia sebagai suatu nasion.

Lanjut Benny: Lalu saya tiba pada kesimpulan bahwa saya harus melakukan dua hal:
Yang pertama yang saya harus lakukan ialah membentuk sebuah organisasi untuk meraih sebanyak mungkin orang-orang Indonesia-Tionghoa, untuk diintegrasikan ke dalam mainstream (arus pokok) Nasion Indnesia, tanpa melupakan identitas kami sebagai etnik Tinghoa. Sebaliknya kami harus bekerja keras bahu membahu membangun Nasion Indonesia yang demokratis, bebas dari setiap bentuk diskriminasi dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Demikian Benny G Setiono.

Untuk lengkapnya dibawah ini dimuat diterjemahan bebas seluruh 'acceptance speech' Benny G Setiono, pada tanggal 04 Juni di Amsterdam sbb:

Benny G Setiono:
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, Selamat Malam,
Izinkan saya menyatakan rasa terima kasih mendalam kepada para anggota Pengurus Wertheim Foundation yang telah memberikan saya Wertheim Award sebagai tanda apresiasi terhadap buku 'Tionghoa Dalam Pusaran Politik'. Dalam tahun 2004 saya samasekali kaget menerima berita bahwa saya dinominasi untuk Wertheim Award. Lalu saya bertanya pada diri saya, apakah benar berita ini? Lalu sesudah menerima sepucuk surat resmi dari Ibrahim Isa, sebagai sekretaris Wertheim Foundation, saya sadari bahwa berita itu benar adanya dan bahwa hal itu bukan suatu joke. Saya lalu bertanya pada diri saya apakah saya patut menerima ini.

Dengan jalannya waktu, saya mulai lupa tentang nominasi itu, tetapi kemudian saya dengar bahwa Wertheim Award 2005 diberikan kepada Goenawan Mohamad dan Joesoef Isak. Dan saya katakan pada diri saya, yah, ini keputusan tepat atas dasar kegiatan mereka, dua tokoh itu benar-benar pantas memperolehnya.

Pada akhir 2007 dalam perjalanan saya ke Jawa Tengah, saya menerima tilpun dari Ketua Elkasa, Gilbert Wiryadinata penerbit buku ini, ia menyampaikan ucapan selamat saya telah dipilih untuk menerima Wertheim Award 2008. Mula-mula, saya kira Gilbert guyon saja, tetapi berita itu segera diikuti dengan sepucuk email dari Ibrahim Isa yang menkonfermasi berita tsb tambah lagi surat resmi yang disampaikan oleh Jaap Erkelens. Saya kira saya tidak bermimpi disiang bolong dan ini merupakan sesuatu yang samasekali diluar dugaan saya. Jadi diperlukan beberapa saat untuk benar-benar percaya berita seperti ini. Saya benar-benar gembira sekali mengenai award itu, tetapi saya terus berulang-ulang bertanya pada diri sendiri apakah saya benar-benar pantas menerima award ini? Saya tanyakan ini, sederhana saja, karena buku saya itu ditulis bukan dengan tujuan untuk memenangkan sebuah award.

Sesudah terjadinya Kerusuhan 13-14 Mei 1998 yang telah menghancurkan ribuan rumah, toko-toko, mall, bank-bank, bengkel-bengkel, mobil dan sepeda-motor, ditambah dengan lebih dari 1000 orang dibakar hidup-hidup dan tambahkan lagi lebih dari 100 perempuan Indonesia Tinghoa yang diperkosa, saya menyadari sedalam-dalamnya dan berketetapan hati untuk berbuat sesuatu sehingga insiden-insiden tragis ini yang terus saja menimpa orang-orang Tionghoa Indonesia, tidak akan terulang lagi. Pendeknya 'Masalah Tionghoa Indonesia' harus distop samasekali. Kerusuhan 13-14 ei 1998 kemudian segera diikuti dengan mundurnya Presiden Suharto karena tuntutan oleh rakyat Indonesia dan bahwa Rezim Baru itu kemudian selesailah, dan kemudian diganti dengan era reformasi.

Dengan terjadinya insiden-insiden tsb yang melibatkan Tionghoa Indonesia sebagai korbannya, saya menyadari bahwa Masalah Tionghoa Indonesia punya later belakang sejarah; yang dimulai dengan Era Kolonial Belanda terus sampai mencapai puncaknya pada periode Pemerintah Otoriter Rezim Baru Suharto. Demikianlah masalah Tionghoa Indonesia adalah inheren dengan perjalanan bangsa kita. Saya fahami bahwa Masalah Tionghoa Indonesia tidak dapat dipecahkan sendiri saja oleh etnik Tionghoa Indonesia, sederhana saja, karena etnik Tionghoa Indonesia merupakan bagian integral dari Indonesia sebagai suatu nasion. Lalu saya mencapai kesimpulan bahwa saya harus melakukan dua hal berikut ini.

Yang pertama yang saya harus lakukan ialah membentuk sebuah organisasi untuk meraih sebanyak mungkin orang-orang Indonesia-Tionghoa, untuk diintegrasikan ke dalam mainstream (arus pokok) Nasion Indonesia, tanpa melupakan identitas kami sebagai etnik Tinghoa. Sebaliknya kami harus bekerja keras bahu-membahu membangun Nasion Indonesia yang demokratis, bebas dari setiap bentuk diskriminasi dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Membangun Indonesia yang modern, pluralistik dan dengan warganegara yang berkebudayaan tinggi sehingga kita dapat bersaing dengan negeri-negeri modern lainnya di dunia. Sebelum periode otoriter Suharto, ada organisasi yang bernama BAPERKI dipimpin oleh Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan dan lainnhya. Mereka berjuang untuk menghapuskan diskriminasi, tetapi mereka kemudian dituduh terlibat dalam gerakan komunis (G30S) tanpa bukti apapun, maka pemerintah melarang organisasi tsb. Belajar dari pengalaman dan didasarkan pada syarat kondisi dan situasi dewasa ini, pada tanggal 10 April 1999, kami mendeklarasikan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Kedua, saya berketetapan hati menulis sebuah buku mengenai peranan etnik Tionghoa dalam sejarah Indonesia, yang topiknya selalu disembunyikan dari publik oleh Pemerintah teristimewa selama Pemerintah Rezim Baru Suharto. Dan selama khusus peiode ini dibangun suatu imago seakan-akan etnik Tionghoa itu semata-mata merupakan parasit ekonomi tanpa sumbangan apa-apa bagi nasion. Cerita sejarah tersembunyi ini telah menimbulkan imago merusak terhadap orang-orang Indonesia Tionghoa. Untuk mengikis imago yang merusak ini dari masyarakat dan dengan bantuan moral dari famili saya, teman-teman saya di Elkasa, dan dengan terima kasih khusus kepada Daniel Lev, akhirnya saya luncurkan buku 'TIONGHOA DALAM PUSARAN POLITIK' , Catatan penting yang harus ditambahkan ialah bahwa dengan bantuan sahabat-sahabat itu kami mendirikan Lembaga Kajian Masalah Kebangsaan (ELKASA), penerbit buku ini.

Merupakan suatu pengalaman yang di luar dugaan bahwa 'Tionghoa Dalam Pusaran Politik' telah menerima kehormatan dan award dari Wertheim Foundation di Nederland. Untuk itu, mewakili diri saya dan keluarga saya, sahabat-sahabat saya dari Elkassa dan etnik Tionghoa di Indonesia, saya sampaikan ucapan terima kasih sedalam-dalamya kepada Pengurus Wertheim Foundation.
Kepada semua orang yang hadir di ruangan ini dan yang bersamasama menikmati saat-saat indah ini, saya nyatakan terima kasih atas dukungan Anda.
Terima kasih!

Amsterdam, 06 Juni 2008.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com