Lomba Tulis YPHL : Jati Mikoriza, Sebuah Upaya Mengembalikan Eksistensi Hutan dan Ekonomi Indonesia
Oleh : Muhammad Akhid Syib'li

01-Nov-2008, 13:48:01 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Mikoriza adalah jamur tanah yang bermanfaat bagi pertanaman budidaya pertanian. Jamur mikoriza pertama kali ditemukan oleh Frank, seorang botanist dari eropa pada tahun 1885. Mikoriza berasal dari kata Yunani yaitu mycos yang berarti jamur dan rhiza yang berarti akar.

Dikatakan sebagai jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P). Dengan begitu tanaman budidaya dapat tumbuh dan berkembang lebih cepat dan lebih baik dari tanaman yang tidak mendapatkan inokulasi dari mikoriza ini.

Para ahli jamur membedakan jamur mikoriza menjadi dua yaitu endomikoriza dan jamur ektomikoriza. Endomikoriza adalah jamur mikoriza yang bagian-bagian pentingnya berada dalam jaringan akar, sedangkan ektomikoriza adalah jamur mikoriza yang bagian-bagian pentingnya berada di luar jaringan. Umumnya Endomikoriza dapat digunakan untuk tanaman budidaya semusim dan ektomikoriza untuk tanaman budidaya tahunan. Walaupun begitu tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan keduanya secara berkebalikan.

Jamur ektomikoriza membentuk cover yang menyelimuti akar, atau mantel, atau hifa yang menutupi seluruh akar. Ektomikoriza merupakan jamur yang pendek, bercabang dua, dan terkadang seperti tandan yang rapat. Kebanyakan jamur ektomikoriza memproduksi mushrooms (badan buah), dan dapat dikelola di media biakan dalam laboratorium. Endomikoriza atau Arbuscular Mycorrhizae tidak membentuk mantel yang menyelimuti akar, karena jamur ini berada di dalam korteks akar. Tipe jamur ini, adalah dengan adanya arbuskula yang berada di dalam korteks akar. Arbuskula ini digunakan untuk menyerap nutrisi yang berada di area perakaran.

Menurut pakar mikoriza sastrahidayat (1995) menyatakan bahwa 95 % tanaman menguntungkan yang dibudidayakan manusia besimbioisis dengan mikoriza. Mikoriza menjadi mikroorganisme yang bersimbiosis secara mutualisme dengan tanaman, yaitu simbiosis yang menguntungkan keduanya. Dengan begitu pemanfaatan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tahunan di hutan pun dapat dilakukan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mempercepat hasil program reboisasi yang akan dilaksanakan. Dengan adanya kondisi hutan Indonesia yang saat ini berkurang hingga hanya bersisa 2,8% dapat mengalami peningkatan setiap beberapa tahunnya dengan percepatan tumbuh tanaman yang lebih tinggi. Dan harapannya dimasa mendatang Indonesia kembali menjadi paru-paru dunia.

Kondisi hutan Indonesia yang memprihatinkan dibarengi dengan gejolak ekonomi Indonesia yang tidak stabil pula. Dimulai pada pertengahan tahun 1997-1998, Indonesia mengalami depresiasi yang tajam pada nilai rupiah terhadap nilai dolar. Pada masa ini segala aspek kehidupan menjadi terpukul keras sehingga banyak terjadi gejolak hingga mengakibatkan collapse pada berbagai badan usaha, kasus PHK, meningkatnya kasus kriminalitas, kemiskinan, dan pengangguran. Implikasi kondisi tersebut masih terasa hingga saat ini dan masih belum secara nyata pemerintah memberikan solusi walaupun sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia sudah terlihat stabil.

Kemudian akhir-akhir ini, gejolak ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat menyebabkan ekonomi di beberapa negara dunia mengalami guncangan termasuk Indonesia. Sehingga kondisi ini semakin meningkatkan kompleksitas permasalahan yang ada. Berdasarkan data yang dicantumkan pada harian Republika (28/10/2008) nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp 10.900 per dolar AS, meski berdasarkan kurs tengah BI mencapai Rp 10.315 per dolar AS. Penutupan akhir pecan lalu, kurs diperdagangkan pada Rp 9.963/Rp 10.250 per dolar AS. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia jatuh 6,3 persen atau 78,46 poin ke level terendah sejak penutupan 3 Januari 2006, yakni 1.170,089. Walaupun begitu menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Republik Indonesia yang dikutip dari harian Republika (2008),

secara fundamental kita masih kuat, cadangan devisa masih kuat, dan perbankan masih cukup sehat. Pertumbuhan ekonomi cukup bagus, di atas enam persen. Tidak ada yang mesti dirisaukan

Dalam rangka rehabilitasi hutan sepatutnya dibarengkan dengan rehabilitasi ekonomi Indonesia. Karena aspek-aspek kehidupan ini memiliki siklus keterikatan yang sangat kuat antar satu dengan yang lain. Dan pohon jati adalah jenis pohon yang memiliki prospek untuk menjadi salah satu solusi bagi permalahan ini.

Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun. Pohon jati ditanam untuk bisa dipanen, umumnya pada umur 40-60 tahun dengan garis tengah 30 cm baru dapat diambil kayunya.

Berdasarkan hasil penelitian, inokulasi mikoriza pada tanaman jati meningkatkan pertumbuhan hingga mampu menghemat waktu dalam pembudidayaannya. Dalam usia kurang dari lima tahun, diameter tanaman telah mencapai 10 cm. Ukuran ini sama dengan tanaman jati yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Sehingga pada umur 15-20 tahun garis tengah 30 cm dapat dicapai dan pada umur tersebut pohon jati dapat dipanen. Pengembangan ini sangat bermanfaat untuk merehabilitasi hutan dan menambah keuntungan ekonomi bagi masyarakat yang membudidayakannya. Sehingga usaha penanaman pohon jati berimplikasi positif pada lingkungan dan ekonomi negara.

Dalam proses budidayanya tidaklah terlalu merepotkan, setelah menanamkan tanaman jati cukup ditinggalkan saja dan dibiarkan tanpa ada perlakuan khusus seperti pestisida dan pupuk. Dengan begitu prosesnya sangat mudah. Hanya saja untuk jati yang bermikoriza dibutuhkan tenaga ahli yang mampu menyediakan benihnya. Dan disini dibutuhkan integritas antara badan riset, pemerintah dan masyarakat.

Integritas ini meliputi kebijakan dan implementasi, karena Indonesia syarat dengan megabiodiversitas, bahkan dikatakan sebagai negara terkaya kedua kehayatiannya di dunia setelah negara brazil. Perlu diadakan pengelolaan yang optimal mengenai kekayaan hayati salah satunya mikoriza. Apalagi jamur tanah ini melimpah di seantero Indonesia dan pengelolaannya yang baik akan sangat bermanfaat bagi banyak pihak dan berbagai aspek kehidupan.  (*)


DAFTAR PUSTAKA
Republika. 2008. Valuta Asing BUMN Dibatasi. Harian Republika 28 Oktober 2008. PT. Republika Media Mandiri. Jakarta
Sastrhidayat, I.R.1995. Studi Rekayasa Pupuk Hayati Mikoriza. Disampaikan Pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) VI. Serpong. Indonesia.
Sana’a, Agus. 2006. Husna Pengembang Jati Muna dengan Mikoriza. (Online, Harian Umum Sore Sinar Harapan Rabu, 20 September 2006, http://www.sinarharapan.co.id/index.html, diakses 30 Oktober 2008)
Wikipedia. 2007. Pohon Jati. (Online, http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon Jati, diakses 31 Oktober 2008.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com