Kontekstualitas Sastra dan Media
Oleh : Anjrah Lelono Broto

01-Apr-2009, 23:02:36 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KONTEKSTUALITAS DALAM SASTRA DAN MEDIA

Oleh : Anjrah Lelono Broto, S.Pd, Penulis dan Litbang LBTI (Lembaga Baca Tulis Indonesia)
 

KabarIndonesia
- Kesenian dikuasai oleh trend, dimensi kesadaran pikiran dipenuhi oleh kecerdasan yang tangkas atau sinisme yang lucu semata tetapi kebijaksanaan dalam pikiran menjadi langka; begitu pula penghayatan kalbu jarang terjadi, diganti oleh sensasi-sensasi naluri semata. Kekayaan pengalaman panca indera, pengalaman naluri, dan mobilitas kecerdasan memang merupakan unsur yang penting dalam ekspresi kesenian, tetapi tanpa peran kesadaran rohani dan kebijaksanaan hati nurani, totalitas komunikasi lewat kesenian tak akan terjadi. Sungguh sayang, kalau komunikasi antara kesenian dan penikmatnya hanya sampai pada tingkat provokasi dan tidak pada tingkat inspirasi.
(Rendra, Horizon edisi April 2002)

Perkembangan sastra Indonesia pasca H.B. Jassin berputar searah jarum jam, melahirkan pengulangan-pengulangan dan pengulangan. Wilayah mana yang begitu menggoda untuk diulang-ulang, tentu saja wilayah sastra yang bersentuhan langsung dengan publik. Wilayah ini cenderung ‘menjual’ dan mengundang apresiasi publik karena memiliki perwajahan tema, setting, dan gambaran penokohan yang terikat tradisi ‘copy paste’ dengan gambaran masyarakat itu sendiri secara langsung, dan cenderung vulgar. Wilayah ini lazim disebut sebagai kontekstualitas. Ariel Heryanto, penulis dan pemerhati sastra di era 2000-an, memaparkan bahwa di tahun 90-an adalah masa-masa perikles tumbuh dan berkembangnya sastra kontekstual.

Menurut Ariel, sastra kontekstual lahir dari kritikan kepada sastrawan-sastrawan mapan yang enggan berselingkuh dengan gaya realitas imajiner mereka. Wiji Thukul, Kuspriyanto Namma, Tjahyanto Widiyanto, Rahman Sabur, dll adalah pejabat teras partai sastrawan yang memiliki visi dan misi mengembalikan kontekstual sastra. Made Sukada dalam bukunya ”Pembinaan Kritik Sastra Indonesia Masalah Analisa Struktur Fiksi” menjadi landasan berpikir Ariel Heryanto. Bagi Sukada, sastra adalah cerminan yang mendukung proses kehidupan dan kemanusiaan.

Sastra juga merupakan suatu institusi yang merupakan kreasi yang bersumber dari masyarakat. Masyarakat sebagai sumber objek yang kompleks dengan beragam karakteristik, tradisi, budaya, adat istiadat, pandangan hidup dan paradigma yang berbeda-beda. Sastra kontekstual menemui benturan dengan karya-karya kelas sastrawan mapan seperti Idrus, Chairil Anwar, Budi Darma, Iwan Simatupang, Umar Kayam, Rendra, Linus Suryadi AG, Y.B. Mangunwijaya, Ahmad Tohari, dll yang setia dengan konten berat dan bahasa yang kurang membumi dengan iklim kultural kekinian.

Kelas sastrawan mapan ini melahirkan madzab yang menganggap bahwa sastra kontekstual merusak keagungan seni sastra dengan diksi dan tema yang kurang ajar (vulgar). Nama-nama seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Oka Rusmini, maupun Dee dianggap sebagai tante-tante yang melahirkan genre sastra biru; sarat dengan vulgarisme bahasa, keberanian mengangkat tema-tema tabu dan mengenyampingkan sastra sebagai tuntunan. Penganut Madzab kelas sastrawan mapan pada umumnya memiliki latar belakang akademisi.

 Pemahaman dan kecintaan pada madzab kelas sastrawan mapan lebih didasari oleh kebutuhan materi pengajaran di lingkungan akademik. Seorang dosen sastra maupun guru bahasa dan sastra Indonesia, lebih nyantai jika memberikan tugas analisis karya sastra yang telah mereka pahami dan kuasai daripada karya sastra model kontekstual yang mengundang blank imagine. Perspektif pendidikan menjadikan mereka melahirkan opini bahwa sastra konstekstual, sastra tabu, sastra biru, dll tidak mendidik generasi muda karena memunculkan distorsi norma, moral, dan spriritual masyarakat. Distorsi norma, moral, dan spiritual yang terjadi dalam masyarakat kita berjalan tanpa campur tangan berlebihan karya sastra.

Karya sastra hanyalah satu dari media yang berbasis linguistik-fiksional. Sedangkan, fakta yang sekarang berkembang bahwa masyarakat kita mengalami gradasi kultur membaca. Harga buku yang mahal sempat menjadi alasan, namun yang terpenting adalah kekalahan media baca dengan televisi, internet, hand-phone, face-book, dll. Televisi setiap hari menyerang paradigma, internet menggoda dengan fasilitas yang membuat kita bisa dikenal dan terkenal, hand-phone membuat jarak menjadi kambing ompong enggan berkomentar. Seorang abg sekarang merasa luar biasa ketika video amateurnya diupload di internet karena dia mendadak menikmati fasilitas artis karena diburu wartawan dan kepolisian.

Penghormatan kepada institusi keluarga, sekolah, dan masyarakatnya terdistorsi oleh kecintaan masyarakat pada media tersebut. Video kekerasan pelajar, kekerasan pak guru, maupun yang mambu-mambu pornografi laris manis diupload dan diberitakan media massa. Belum lagi trend acara televisi terbaru, pasca trend reality show model-model ’mendadak artis’ -yang mewadahi dorongan individu yang sedang krisis eksistensi yaitu haus dikenal dan terkenal-, sekarang muncul trend reality show model terbaru yang mambu-mambu realisme-sosialis seperti ’Seandainya Aku Menjadi....’, ’Uang Kaget’, ’Bedah Rumah’, ’Termehek-Mehek’, ’Orang Ketiga’, dll. Apakah sastra kontekstual yang menjadi dalangnya? Mungkin jawabannya akan sepanjang jalan Anyer-Panarukan? Apakah kita akan menolak pinangannya? Kontekstualitas yang pernah ditolak pinangannya oleh masyarakat karena dinilai ‘minim’ kerja kreatif, kini meminang kembali dengan wajah yang berbeda.

Masyarakat yang kritis bisa menyebutnya sebagai fenomena kontekstualitas-vulgar dan realisme-sosialis reborn. Fenomena ini merupakan trend yang diikuti oleh kreator-kreator muda. Cermati, karya-karya dengan diksi dan tema vulgar, acara-acara televisi dengan pendekatan konyol, semi kontroversial, tentu akan mencuri perhatian masyarakat. Apakah pada dasarnya masyarakay kita itu menyukai vulgarisme? Apakah mengusung tema yang kontekstual mesti dengan bahasa yang vulgar? Namun setuju atau tidak fenomena kontekstualitas yang dulu hilang kini kembali pulang.  Ironisnya, kontekstualitas yang kembali adalah kontekstualitas yang vulgar. Mari beristighotsah memohon petunjuk kepada-Nya.   (*)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com/