Budaya Aruh di Lereng Meratus
Oleh : Nasrullah

05-Apr-2009, 13:35:44 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Penganut kepercayaan animisme di Kalimantan ternyata masih banyak dan membudaya, seperti yang terdapat di dataran tinggi lereng pegunungan Meratus, tepatnya di Kecamatan Piani, sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 16 km dari Kota Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Mayoritas penduduk wilayah tersebut adalah suku dayak yang tergabung dalam organisasi persatuan masyarakat adat atau yang disingkat dengan PERMADA.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Seni dan Budaya Dinas Pemuda olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tapin Ibnu Mas’ud.

“Mereka sampai saat ini masih menganut kepercayaan animisme atau Kaharingan, sebuah kepercayaan yang sampai saat ini masih rekat dalam budaya mereka. Warga dayak di kecamatan Piani setiap tahunnya menggelar prosesi ritual aruh sebagai salah satu pemujian. Hal demikian dilaksanakan sebagai salah satu upaya rasa syukur yang mereka terima selama di dalam musim panen. Berlangsungnya prosesi ritual aruh dilangsungkan pada suatu tempat khusus yang disebut balai adat.

Di dalam aruh adat mengandung makna dalam isyarat membangun rasa kebersamaan antara sesama secara individu juga dengan komunitas lain yang tidak berada di kelompok desa mereka, memelihara peninggalan leluhur (budaya/tradisi) dan mempererat persaudaraan antar kelompok masyarakat lereng meratus.

Di kecamatan Piani terdapat 8 balai adat diantaranya Pertama Balai adat Bagandah (Minangin), Ranai Baru (Lahung Kipung), Harakit Baru, Harakit Lama, Balawaian, Pipitak Jaya (Mancabung), danau darah dan Batung. Dari kedelapan balai adat tersebut setiap tahunnya mereka melaksanakan prosesi ritual dua kali aruh. Di setiap balai adat terdapat masing-masing balai yang mempunyai perbedaan dari 6 balai lainya. Hal ini disebabkan karena masing-masing Balian pada setiap balai mempunyai turunan yang berbeda. 2 balai karena letaknya di hulu maka turunan Balian yang ada merupakan tutus turunan dari Balian Jandih yakni turunan dari kepercayaan yang mengaggungkan kehidupan.

Pada acara ritualnya pengaruh budaya Hindu kuno mereka sangat kental terlihat. Tempat sesaji yang mereka gunakan sangat berbeda dengan 6 balai lainya. Kalau pada balai yang 2 ini, di dalam menggunakan sajiannya untuk persembahan pada sang batara tunggal pencipta alam semesta berupa ancak tempat sesajian berupa altar dengan disangga oleh empat batang tiang. Balian yang mereka gunakan pada upacara ritual adalah Balian yang berasal dari desa mereka sendiri, bukan balian dari desa lain. Balian yang turun pada upacara aruh biasanya berjumlah 5 atau 7 orang. Selain itu Balian Jandih merupakan Balian yang dianggap lebih tua dari Balian lainnya yang ada didaerah Tapin.

Sedangkan 6 balai lainya yang terdapat di kecamatan Piani Kabupaten Tapin merupakan turunan Balian Mambur yakni turunan balian yang memuja sang Batara tunggal dengan segenap ruh yang telah diciptakannya. Sekalipun Balian ini dianggap sebagai adik oleh Balian Jandih, namun terlihat jenis perbedaan dalam hal sesajian pada setiap ada upacara ritualnya. Hal itu disebabkan altar atau tempat sesajian di tengah-tengah ruang upacara juga di setiap penjuru angina terdapat altar lain yang bernama Kelangkang Mantet (Ruh Jahat), Kelangkang Nyaru (Perlambang Nyaru), Kelangkang Uria (Perlambang darah), Kelangkang Gunang (Penolak bencana/Bala) dan Raden Panutup (berupa tanda untuk membuang/membawa hal-hal yang akan membuat bencana).

Sementara Altar yang tergantung biasanya mereka namakan Langgatan, di sinilah kita secara langsung dapat melihat berapa lama mereka melaksanakan ritual aruh untuk menghormati para leluhur mereka. Semakin banyak tingkat yang terpasang pada altar, maka sebanyak itu pula hari yang mereka gunakan untuk memuja sang Batara tunggal pencipta alam semesta. (*)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/