Pisang Raja
Oleh : Qurotul A'yun

29-Nov-2009, 21:03:35 WIB - [www.kabarindonesia.com]
Sepasang mata milik lelaki bertubuh tegap itu nyaris tak berkedip menatapku. Kumis tebalnya membuat wajah paruh baya itu tampak sadis. Ditambah lagi, sebilah celurit terselip dipinggangnya.            

”Aku berani dua puluh ribu” tawar lelaki itu pada Parman, orang yang selama ini merawatku.            
”Maaf kang, saya ndak berniat menjual pisang raja itu,” tolak Parman halus.            

”Rugi lo....sekarang harga pisang mahal karena lagi bulan Haji, banyak orang punya hajatan,” rayunya. Sementara aku masih harap-harap cemas. Khawatir pikiran Parman berubah dan tergoda untuk menjual pisang raja yang menggantung di pucuk pohonku.           

Lelaki berkumis itu memang bukan orang pertama yang datang untuk membeli buahku. Seingatku, ia orang ketiga. Dan orang yang paling ngeyel untuk membelinya. Aku yakin, setiap orang pasti akan tertarik melihat pisang raja besar yang menjuntai dengan kulitnya yang hijau mulus. Tapi, Parman tak berniat menjualnya. Ia punya rencana lain. Dulu, yang menanamku di sini adalah Wahyu, anak sulung Parman yang kini sedang belajar di pesantren. Lebaran Haji ini ia akan pulang. Dan ia berpesan agar pisang itu tidak dijual karena ia ingin makan pisang goreng dari hasil yang ia tanam. ”Apa harganya kurang mahal?. Aku tambah lima ribu ya?” rayunya lagi. ”Cak...pisang itu yang menanam anak saya, dia berpesan agar tidak dijual. Jadi berapapun harganya kami tetap tidak akan menjualnya,” istri Parman angkat bicara dengan tegas. Ia yang sedari tadi diam kini sepertinya geram pada lelaki pedagang buah yang ngotot ingin membeli buahku.           

Lega, aku mendengar ketegasan istri Parman yang sama sekali tak tergoda. Meski lelaki berkumis tebal itu menawarkan harga mahal. Hingga akhirnya lelaki itu pergi dengan tangan hampa. Hati kecewa pula. Tapi aku justru bahagia melihatnya pergi. Aku serasa tak sabar menunggu kedatangan Wahyu. Pasti ia sangat senang melihatku berbuah. Buah yang menjuntai ini kupersembahkan untuknya sekeluarga. Sebagai tanda terimakasihku. Jika tidak karena Wahyu, pasti aku tidak akan terurus. Dan mungkin tubuhku sudah membusuk bersama tumpukan sampah di belakang rumah Haji Dahlan. Dulu, saat rumah Haji Dahlan direhab, semua pepohonan di pekarangan rumahnya ditebang karena rumah itu akan diperluas.            

Saat itu, aku yang baru saja tumbuh dari tunas menjadi pohon kecil, ikut menjadi sasaran. Untung, Wahyu membawaku pulang dan menanamku di samping rumahnya. Aku merasa nyaman di tempat baruku. Ada pohon rambutan besar yang senantiasa menaungiku. Hingga panas matahari tak terlalu menyengatku. Tanahnya pun subur dan berhumus. Akarku tak perlu susah payah mencari bahan makanan yang kubutuhkan. Selain itu, jika hujan tak turun, Parman tak pernah lupa menyiramiku. Juga pepohonan lain yang tumbuh di pekarangannya. Seperti rambutan, mangga, juga pepaya. Sayur-sayuran pun juga tumbuh subur berkat perawatan Parman. Rumput liar tak pernah ia biarkan mengganggu pertumbuhan tanamannya. Dengan sangat telaten ia menyiangi tanaman pengganggu itu. Parman dan keluarganya adalah orang yang peduli pada lingkungan.           
Keesokan harinya, lelaki berkumis tebal yang hingga kini tak kuketahui namanya itu datang lagi. Masih seperti kemarin. Niatnya tak lain adalah untuk membeli buahku.            

“Kang, harus berapa kali saya bilang kalau saya tidak akan menjual pisang itu. Karena anak saya berpesan agar saya tidak menjualnya. Sampean ini kok ngeyel sich, kalau saya sudah bilang ndak dijual ya sampai kapanpun ndak akan saya jual,” cerocos istri Parman. Sementara pedagang buah itu hanya cengengesan.            

”Sabar-sabar....apa kau tidak pernah berfikir kalau anakmu akan senang jika pisang yang ia tanam laku mahal?” pancing lelaki itu.            

”Kang, sudahlah...jangan bicarakan pisang itu lagi karena kami tak akan menjualnya. Silakan sampean beli rambutan, kelapa, atau buah yang lain di pekarangan saya ini asal jangan pisang raja itu,” Parman menawarkan. ”Hehhh...heran aku dengan kalian. Ditawar mahal kok nggak mau. Jangan menyesal ya..!!” sambil geleng-geleng kepala lelaki itu berlalu meninggalkan Parman dan istrinya.        
    
Aku kembali lega. Aku kembali dapat menggoyangkan daunku dengan riang. Merasakan belaian angin dan udara segar di sekitarku. Juga menikmati kidung kehidupan yang didendangkan oleh sekawanan burung yang melintas di atasku.  Tiba-tiba, seekor kutilang bertengger di atas buahku yang menjuntai. ”Ahh...apa yang akan kau lakukan pada buahku?”   Kutilang itu terus mencecet. Seolah ia mengundang teman-temannya untuk ikut bertengger di sana. Ya. Aku baru sadar kalau hari ini ada satu buahku yang mulai masak. Pasti kutilang kecil berwarna hitam kecoklatan itu akan mematuk-matuk kulit buahku dan menikmati dagingnya. Huhh...aku tak rela. Buah ini hanya untuk Wahyu.           
Benar saja. Tak lama kemudian, datang dua ekor burung sejenis ikut bertengger di atas buahku. Mereka mulai mematuk-matukkan paruh kecilnya. Mencabik kulit buahku yang mulai menguning.           

”Krasak....ketepuk...” sebutir rambutan ranum jatuh tertiup angin. Sebelum menggelinding di atas tanah, buah berambut merah itu sempat menimpa buahku. Membuat sekawanan kutilang itu pergi.Aku kembali bersyukur. Paruh burung-burung kecil itu tak sampai menghancurkan kulit buahku.
           
Malam ini satu buahku matang lagi. Tapi aku heran, kenapa sejak kemarin Parman tak kunjung memotong buahku. Ahhh...mungkin ia masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengusaha tempe. Demikian, aku mencoba berbaik sangka pada orang yang telah merawatku. Sebenarnya aku khawatir sekali. Aku takut burung-burung kecil itu datang lagi esok hari. Untung tadi siang ada rambutan jatuh. Sehingga mereka terkejut dan segera pergi. Coba kalau tidak, mungkin Wahyu akan memakan pisang sisa burung-burung nakal itu.            

”Cit..cit...ciet...ciet...” codot kembali datang. Aku kembali khawatir. Kali ini, yang kutakutkan jika codot-codot itu memakan buahku. Mereka lebih ganas dari pada sekawanan kutilang yang tadi siang menghampiriku. Aku berharap mereka tak tau jika buahku telah ranum. Biasanya, yang jadi sasaran mereka adalah buah rambutan yang sudah mulai memerah sejak beberapa hari yang lalu.           

Tetapi, dasar codot-codot itu selalu tahu di mana ada buah yang ranum. Aroma ranum buah tak pernah luput dari penciuman mereka. Termasuk ranum buahku. Aku hanya bisa berharap ada rambutan jatuh lagi seperti siang tadi. Atau apa sajalah yang dapat mengejutkan hewan-hewan itu sehingga mereka takut. Dan berhenti menikmati buahku. Aku benar-benar tak rela atas perlakuan mereka. Karena buah ini untuk Wahyu. Yang telah menanamku. Buah ini untuk Parman dan istrinya. Yang telah merawatku. Juga mempertahankan aku untuk tidak menjualnya pada lelaki berkumis tebal itu.            

Namun, siapa aku?. Aku hanya sebatang pohon. Yang mencoba berterimakasih pada orang-orang yang telah berbuat baik padaku. Tapi kenyataannya aku tak bisa memberikan yang terbaik untuk mereka. Codot-codot itu, masih saja asyik menikmati buahku. Dan orang-orang baik itu akan memakan sisa-sisa codot itu.      
      
Di tengah gerutuku terhadap tingkah hewan-hewan menyebalkan itu, aku mendengar bunyi langkah kaki. Parman. Ya. Pasti ini Parman. Aku yakin ia akan mengusir codot-codot itu.            

Benar saja. Sejurus kemudian, codot-codot itu segera pergi setelah beberapa kali Parman melemparkan batu ke arah mereka. Sekali lagi, aku kembali bersyukur. Tetapi, rasa syukurku menjelma menjadi sebuah rasa heran. Saat tiba-tiba kurasakan sebilah sabit memotong batang tubuhku. Getah mengalir dari bekas sabitan itu. Lama-kelamaan aku pun roboh. Namun, aku rela. Karena aku yakin Parman akan mengambil buahku. Dan ini memang tujuanku.

Mempersembahkan buah pisang raja ini untuk Parman dan keluarganya.           

Tetapi sayang, ternyata orang itu bukan Parman. Saat sinar purnama malam ini menerpa wajahnya, aku dapat melihat dengan jelas wajah berkumis tebal itu. Yang tentu saja bukan wajah Parman. Melainkan wajah sadis pedagang buah yang begitu ngebet ingin membeliku.            

Dengan terburu-buru ia memotong buahku. Lalu memasukkannya ke dalam karung. Sementara batang tubuhku telah roboh. Aku tak bisa apa-apa. Berteriakpun tak akan ada yang dapat mendengarnya.           

”Dasar pencuri, jangan ambil buahku, itu bukan untukmu....” aku tahu ini percuma. Sebuah makian tanpa guna. Kini aku hanya bisa melihat lelaki itu berjalan dengan cepat. Sambil memanggul karung berisi setandan pisang raja. Pisang yang tak akan pernah kurelakan untuk menjadi miliknya.  (*)                                                

Jember, 18 November 2009 (23. 43 WIB)                                                         
* cerpenis, tinggal di Jember

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com