Implementasi UU ITE Perlu Dimaksimalkan
Oleh : Ismadi Amrin

23-Feb-2011, 00:22:31 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Pornografi dalam beberapa waktu terakhir telah menjadi topik hangat dan tampaknya akan selalu menjadi perbincangan yang aktual untuk diungkapkan.  Masalah pornografi, terutama dalam hal penyebarannya, saat ini sudah dianggap melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).  Namun begitu perlu kita simak lebih dalam bahwa diterbitkannya UU ITE tentu bertujuan untuk mengatur segala sesuatu yang berlangsung di dunia maya. Tentu saja, di dunia maya itu sekedar masalah pornografi tetapi terdapat pula permasalahan lain, seperti pencemaran nama baik, transaksi elektronik, bahkan yang tidak kalah penting dan seakan tidak pernah tersentuh adalah masalah pembajakan lagu.

Toto Widjojo, Managing Director Sony Music Indonesia di Jakarta, Selasa (22/2) mengatakan bahwa selama ini konten yang diperhatikan dalam dunia maya sepertinya hanya sebatas pelanggaran pornografinya. Padahal, situs ilegal download (situs unduh ilegal) sangat-sangat rawan sekali.

"Situs unduh ilegal kurang mendapatkan perhatian, padahal ini sangat merugikan," kata Toto.

Toto mengungkapkan, secara matematika, diperkirakan ada lebih dari satu juta situs unduh ilegal. Setidaknya, setiap hari perbuatan unduh ilegal terjadi kurang sekitar tiga juta kali.

"Kalau saja satu lagu utuh (fulltrack), misalnya kira-kira harganya Rp 1000, maka ada kerugian dalam sehari sekitar Rp 3 miliar.  Sebulan Rp 90 miliar. Itu baru dari satu situs," paparnya.

Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, penjualan dalam bentuk fisik (kaset dan CD) tentu tidak akan menguntungkan lagi. Akhirnya tidak ada lagi royalti untuk diberikan kepada pencipta lagu maupun artis ataupun industri terkaitnya, baik itu music arranger ataupun pemain band.

"Jadi, kenapa saya sebut kalau ini tidak diperhatikan betul-betul tentu akan menghilangkan kreatifitas sehingga musik di tanah air tidak akan bergairah," tegasnya.

Sony Music Indonesia setidaknya merilis sekitar 70-an situs unduh ilegal, kalau ini tidak diperhatikan, cepat atau lambat hasilnya pasti sangat negatif bagi industri musik.

"Bisa dihitung juga kerugian pajaknya, kalau misalnya kita ambil rata-rata 30% pajak yang dibayarkan, tentu kerugian negara cukup besar, belum lagi kerugian industri terkait, royalti pencipta lagu atau pun artis, PPh," ujarnya.

Menurut Toto, pemerintah perlu memaksimalkan undak-undang yang terkait dengan pembajakan lagu, misalnya UU Hak Cipta dan UU ITE.

"UU sudah cukup ada, sudah cukup untuk menjadi payung hukum, yakni UU Hak cipta dan UU ITE, tapi memang implementasinya belum sesuai dengan yang diharapkan," katanya.

Pihaknya, melalui asosiasi selalu mengajukan ke pemerintah agar sama-sama fokus dalam menghadapi masalah ini.

"Saya yakinkan bahwa gabungan UU hak cipta dan ITE bisa berjalan bareng," ucapnya.

Ia menilai, situs porno sangat difokuskan penanganannya, padahal di sisi lain ada situs ilegal download yang tidak kalah merugikan, bahkan situs unduh ilegal ini sama-sama melanggar UU.

"Secara UU ada pelanggaran, bahkan berpotensi merugikan keuangan negara," katanya.

Ia menambahkan, industri merasa pemerintah kurang prioritas. Kalau pemerintah menganggap ini menjadi prioritas tinggi, dirinya yakin masalah ilegal download bisa diatasi.

"Mungkin juga pemerintah sedang menyelesaikan persoalan yang lain tapi ini perlu diingatkan agar jangan terlambat mengantisipasinya," kata Toto.

Industri juga ingin mengajak pemerintah untuk menerapkan langkah yang konkret demi memajukan industri musik. Perlu diingat, industri musik tanah air pernah dalam satu kurun waktu, dunia musik di Malaysia itu benar-benar dikuasai oleh pemusik Indonesia, bahkan ada satu radio di Malaysia, sekitar tiga tahun yang lalu memutar 100% lagu Indonesia.

Tetapi apa yang terjadi, segelintir masyarakat Malaysia menjadi terusik akan hal itu dan menyuarakan ke pemerintah agar musik dari Indonesia dibatasi. Pemerintah Malaysia pun mendengar aspirasi masyarakatnya dengan baik sehingga dibatasilah musik Indonesia untuk diperdengarkan di radio-radio.

"Kami juga ingin pemerintah Indonesia mendengarkan aspirasi industri.  Pemerintah harus memaksimalkan implementasi UU ITE, kalau situs porno dengan mudah bisa diblokir, kami harapkan situs unduh ilegal juga bisa diblokir oleh pemerintah," tegasnya.

Menurut data penjualan kaset dan compact disc (CD) periode 1996-2008 dari Asosiasi Perusahaan Rekaman Musik Indonesia (Asiri), peredaran produk legal karya rekaman suara menurun drastis dari sekitar 70 juta pada tahun 1996 menjadi hanya sekitar 10 juta.

Sebaliknya, produk bajakan meroket dari sekitar 20 juta produk pada tahun 1996 menjadi 550 juta produk pada tahun 2008. Akibatnya, banyak perusahaan rekaman musik yang hancur. Selain karena pembajakan, menurunnya peredaran kaset dan CD juga disebabkan oleh semakin gencarnya masyarakat menikmati dan mengunduh karya rekaman suara dan gambar dari internet. (*)



Gambar ilustrasi:  Fotosearch


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com