Bank Jatim Ganjal Kredit Sapi, Mentan: Memprihatinkan jika Bank Persulit Program KUPS
Oleh : Pungky Satria

11-Mar-2011, 16:05:37 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Malang, Beberapa orang petinggi Bank Jatim menggelar pertemuan mendadak di Aula Kantor Bank Jatim Cabang Malang, pertengahan Januari lalu. Pertemuan yang digagas oleh pejabat Bank Jatim Pusat tersebut, dilakukan tertutup dan terbatas.

Mereka yang hadir dalam rapat mendadak selama kurang lebih tiga jam tersebut, di antaranya Kepala Divisi Kredit Program Bank Jatim pusat Partono, Kepala Cabang Bank Jatim Kota Batu Haryono, dan jajaran pimpinan Bank Jatim Cabang Malang.

Sejumlah sumber mengatakan, pertemuan tersebut tidak sedang membahas evaluasi rutin kinerja perusahaan. Melainkan, bentuk kepanikan jajaran Bank Jatim atas teguran Menteri Pertanian kepada petinggi Bank Pembangunan Daerah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu, terkait adanya protes tentang KUPS yang diajukan salah satu koperasi.

Kabarnya, Menteri Pertanian, Suswono, telah menegur pimpinan Bank Jatim pusat karena munculnya permasalahan pelaksanaan program Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) di Kota Batu. Yang dinilai sengaja mempersulit pencairan kredit untuk para peternak tersebut.

Sehingga, muncul ancaman dari ratusan peternak di Kota Batu, yang akan mendemo Bank Jatim Cabang Kota Batu. Ancaman itu muncul dari 244 peternak sapi perah yang tergabung dalam Koperasi Among Mitra Batu. Ini lantaran pengajuan KUPS yang sudah disetujui oleh Bank Jatim Cabang Kota Batu, ternyata hingga berbulan-bulan tak kunjung ada kejelasan pencairannya. Bahkan, Bank Jatim terkesan dengan sengaja menahan pengajuan kredit yang mereka ajukan.

Ketua Koperasi Peternak Sapi Among Mitra Kota Batu, Agus Wahyudi, merasa geram dengan sikap Bank Jatim tersebut. Saking geramnya, ia pun curhat ke Menteri Pertanian Suswono, melalui pesan pendek (SMS). Dalam SMS-nya, Agus mengatakan kepada Suswono, bahwa program KUPS yang sejatinya adalah program strategis nasional, ternyata fiktif belaka.

“Peternak se-Kota Batu akan demo ke Bank Jatim karena program KUPS bohong,” begitu bunyi SMS yang Agus sampaikan ke Menteri Suswono. Dan sepertinya, Suswono langsung merespon pernyataan Agus tersebut. Dan langsung menegur Pimpinan Bank Jatim Pusat.

Sebagai salah satu bank pelaksana program KUPS yang ditunjuk oleh pemerintah, Bank Jatim seharusnya tidak mempersulit proses pencairan kredit. Bahkan, Suswono menyayangkan munculnya kendala pencairan kredit ke Koperasi Among Mitra oleh Bank Jatim.

”Memprihatinkan jika pihak bank masih mempersulit. Program KUPS tidak bohong, sudah banyak yang cair,” kata Suswono dalam pesan pendeknya menanggapi keluhan Agus.

Agus membenarkan, bahwa keluhan yang dia sampaikan kepada Menteri Pertanian, besar kemungkinan sudah sampai ke telinga para petinggi Bank Jatim. “Pertemuan di Aula Bank Jatim Malang itu adalah respon atas aduan saya ke menteri,” kata Agus.

Ketua koperasi peternak sapi perah yang berlokasi di Jalan Oro-oro ombo Kota Batu itu wajar jika merasa kesal terhadap Bank Jatim. Diungkapkannya, cerita bermula di awal tahun 2010 saat Agus mulai mengurus pelbagai persyaratan yang diminta Bank Jatim guna memperoleh kucuran kredit program KUPS.

Koperasi Among Mitra sendiri mengajukan kredit senilai kurang dari Rp 20 miliar untuk disalurkan kepada 244 anggota koperasi yang merupakan kelompok peternak sapi perah di wilayah Gunungsari, Telekung, dan Tulungrejo.

Berdasarkan petunjuk teknis pengajuan kredit, Koperasi Among Mitra langsung memproses persyaratan. Diantaranya, dukungan atau rekomendasi dari Dirjen Peternakan, ikatan kerjasama dengan kelopok peternak, agunan kredit, menyusun rencana defintif kredit (RDK), dan sejumlah persyaratan lain. Seperti, pemeriksaan laporan keuangan koperasi oleh akuntan publik. Bahkan, semua persyaratan tersebut telah terpenuhi semua.

“Bahkan, permintaan secara lisan yang diminta oleh kepala cabang (Bank Jatim Kota Batu), yang mengajak ke Bandung untuk mengecek sapi-sapi yang akan kami beli, juga sudah kami turuti,” ungkap Agus. Meski hal itu tidak masuk dalam persyaratan resmi.

Setelah beberapa kali bolak balik Malang-Jakarta, semua yang disyaratkan Bank Jatim mampu dipenuhi Koperasi Among Mitra. Memasuki bulan Juli 2010, Kepala Cabang Bank Jatim Kota Batu menyetujui kredit yang diajukan oleh Koperasi Among Mitra senilai Rp. 19 miliar.

Pada September 2010 Bank menerbitkan Surat Pemberitahuan Persetujuan Kredit (SPPK). Nominal kredit koperasi Among Mitra yang disetujui oleh Bank Jatim Batu tepatnya yakni senilai Rp 19.894.500. Agus pun sedikit lega dan tinggal menunggu waktu pencairan saja. Karena sesudah Surat Persetujuan Kredit keluar, biasanya tahap pencairan tidak sampai memakan waktu satu bulan.

Namun meski telah surat persetujuan pengajuan kredit sudah diteken, permasalahan lain muncul. Ini berawal dari adanya pergantian Kepala Cabang Bank Jatim Kota Batu. Dari pimpinan lama Yunus Santoso, digantikan Haryono sebagai kepala cabang yang baru.

Ketika dipimpin Hariyono, Bank Jatim mengevaluasi ulang pengajuan kredit Koperasi Among Mitra. Dengan bermacam dalih, Bank Jatim tidak berani langsung mengucurkan dananya. Beragam alasan dikemukakan.

Di antaranya prinsip kehati-hatian penyaluran kredit, efektifitas pelaksanaan usaha, jumlah kredit yang besar, dan juga belum adanya persetujuan dari lembaga penjamin kredit. “Ini aneh. Karena sebelum bank menerbitkan surat persetujuan kredit proses ini kan telah kami lalui,” kata Agus.

Di samping itu, Bank Jatim juga masih meminta beberapa syarat tambahan seperti penilaian jaminan dari Pihak Appraisal, dan laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik.

Setelah menghabiskan uang puluhan juta rupiah, syarat-syarat tersebut akhirnya dapat Agus penuhi. “Lebih dari seratus juta saya keluarkan untuk mengurusi persyaratan bank,” jelasnya.

Namun, hingga empat bulan pasca persetujuan kredit dikeluarkan oleh Bank, dana tidak juga kunjung cair. Menurut penjelasan Bank Jatim, hal itu dikarenakan penjaminan kredit oleh pihak asuransi belum ada. Ketentuan Bank Jatim mengharuskan untuk penyaluran kredit program dalam jumlah besar harus mendapatkan jaminan dari lembaga asuransi Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida).

“Kredit yang diajukan koperasi among mitra belum bisa cair karena terkendala penjaminan,” jelas Wakil Pemimpin Cabang Bank Jatim Batu, Sutjiono.

Sutjiono menjelaskan bahwa ketentuan penjaminan mengharuskan kreditur mempunyai minimal 30 persen nilai agunan dari nominal kredit yang diajukan. Sementara sisanya 70 persen, akan ditanggung oleh lembaga penjamin (Jamkrida). “Saat ini masih dilakukan verifikasi ulang terhadap agunan seperti yang jadi ketentuan di Jamkrida,” jelasnya.

Padahal, menurut Agus, penilaian juminan (agunan) sudah dilakukan dan dinyatakan memenuhi syarat sebelum Surat Persetujuan Kredit dikeluarkan Bank Jatim. “Entah apa yang terjadi, bank jatim kok mempermasalahkan agunanan lagi,” keluhnya.

Dia pun menceritakan, akibat tidak jelasnya waktu pencairan kredit para peternak sapi perah yang menjadi anggota Koperasi Among Mitra, mulai resah dan bergolak. Karena sebagian agunan yang dijaminkan di Bank adalah milik peternak yang ikut program KUPS. “Dalam bulan ini jika masih belum ada kejelasan pencairan, peternak akan demo di gedung Bank Jatim Batu,” kata Agus.

Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat pemerhati perbankan Center for Banking Crisis (CBC) Jatim, Sugiharso, menilai masalah pencairan kredit koperasi Among Mitra seharusnya tidak bertele-tele, apabila semua persyaratan bank sudah dipenuhi.

Karena pada prinsipnya kredit program di perbankan berbeda dengan prosedur pengajuan kredit umum. “Kredit program tidak boleh dipersulit, karena di situ ada campur tangan pemerintah,” jelasnya.

Dalam program KUPS, pemerintah menyediakan skim kredit usaha melalui subsidi bunga. Peternak hanya dibebani bunga 5 persen. Di mana selisih bunga kemersial yang berlaku menjadi tanggungan pemerintah.

Artinya, jika mengacu pada suku bunga umum yang berlaku saat ini sebesar 13 persen, pelaku usaha (peternak) memperoleh subsidi bunga sebesar 8 persen per tahun.

Petenak juga diberikan waktu cukup lama dalam pengembalian kredit. Yakni waktu pelunasan kreditnya sampai 6 tahun, serta adanya grace period selama 2 tahun. “Seharusnya program ini bisa jadi kesempatan peternak sapi perah di Batu untuk mengembangkan usahanya,” tambah Sugiharso.

Selain itu, kata Sugiharso, Pemerintah Kota Batu semestinya mendukung penuh dan mendorong supaya program KUPS bisa segera dinikmati oleh peternak di sana. “Mengingat wilayah batu punya potensi besar sebagai sentra pengembangan sapi perah,” kata dia.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com