Top Reporter HOKI Bulan Oktober 2014
Oleh : Wahyu Ari Wicaksono

13-Okt-2014, 11:25:19 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Pada bulan Oktober 2014, Redaksi KabarIndonesia telah memilih Sdr. Jumari Haryadi sebagai Top Reporter untuk kategori berita foto.

Segenap Dewan Redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) mengucapkan selamat atas prestasinya dan terima kasih atas kontribusinya selama ini. Semoga terus berkarya bersama HOKI. 

Pemilihan dan penobatan sebagai Top Reporter bulanan diselenggarakan pada tanggal sebelas atau sesudahnya setiap bulan sesuai dengan tanggal pendirian KabarIndonesia.

Siapakah Jumari Haryadi ini? Berikut sekilas profil tentang dirinya sesuai dengan apa yang telah dituturkannya kepada Redaksi HOKI.    Jumari Haryadi dilahirkan di sebuah kota kecil di Kotabumi, Lampung Utara. Dia dibesarkan di lingkungan militer karena ayahnya, almarhum Kohar bin Kadis adalah seorang tentara yang pernah berdinas di salah satu kesatuan TNI AD dengan pangkat terakhir Mayor (Inf).Ibunya, Djasiah binti Hasim adalah seorang ibu rumah tangga yang berasal dari sebuah kampung di Baturaja, Sumatera Selatan. Nama Jumari Haryadi sendiri merupakan pemberian pamannya, yaitu almarhum Harun bin Kadis. Menurut penuturan ibunya, nama “Jumari” itu singkatan dari “Jumat” dan “Januari”, karena dia dilahirkan pada 21 Januari 1966. Sedangkan “Haryadi” itu singkatan dari “Kohar yang Jadi” yang artinya anak dari Kohar yang jadi atau lahir. Jadi, kalau diterjemahkan secara lengkap, nama “Jumari Haryadi” itu mengandung makna “Anak dari Kohar yang lahir pada hari Jumat di bulan Januari”. Masa kecil pria dengan nama pena “J. Haryadi” ini banyak dihabiskan di kota kelahirannya. Pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Dasar (SD), yaitu SD Negeri 14 Kotabumi, SMP Negeri 1 Kotabumi dan SMA Negeri 1 Kotabumi. Setamat SMA, dirinya bercita-cita ingin menjadi perwira TNI seperti ayahnya.

Pada 1985, Jumari sempat mengikuti tes AKABRI (sekarang AKMIL), namun keberuntungan belum berpihak padanya. Dia kandas menjadi prajurit TNI, sehingga cita-citanya pun beralih, ingin menjadi seorang sarjana.

Tes Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) atau sekarang dikenal dengan sebutan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) pun dicoba oleh Jumari. Saat itu dia sempat memilih Fakultas Teknik Arsitektur ITB (Institut Teknologi Bandung). Sayangnya, kali ini usahanya kembali gagal. Namun, kegagalan ini tidak membuat pria bertinggi badan 178 cm ini patah arang.  Dia lalu mengikuti tes masuk perguruan tinggi swasta di UNINUS (Universitas Islam Nusantara) Bandung. Akhirnya di sini dia berhasil kuliah di kampus tersebut dengan mengambil Jurusan Teknik Informatika. Kegagalan yang pernah dirasakan oleh J. Haryadi menjadi cambuk bagi dirinya untuk belajar lebih giat lagi. Timbul “dendam” dalam dirinya, yaitu sebuah “dendam yang positif”. Dia berjanji pada dirinya sendiri agar bisa menjadi orang yang sukses. Dia tidak mau hidup di dunia ini hanya sekedar “numpang lewat”. Dia ingin kehadiran dirinya di dunia ini memiliki jejak dan bisa dikenang sepanjang masa oleh generasi yang akan datang.

Jumari sadar, dirinya bukanlah orang yang mempunyai daya ingat yang kuat. Namun dirinya mempunyai tekad yang kuat dalam mencapai sesuatu yang ingin dicapainya. Dia berpandangan, jika orang cerdas cukup sekali saja belajar, maka orang biasa harus beberapa kali belajar baru bisa mengerti. Oleh sebab itu dirinya sadar kalau mau berhasil harus belajar dan berusaha lebih keras dari orang biasa agar bisa mengalahkan orang yang cerdas.    

Berdiskusi, berorganisasi dan membaca merupakan aktivitas rutinnya selama kuliah. Bahkan dirinya sempat menjabat sebagai Ketua Senat Fakultas Teknik UNINUS (sekarang BEM: badan Eksekutif Mahasiswa). Pengalaman dalam berorganisasi ini kelak banyak membantunya ketika dirinya memasuki dunia kerja. Bahkan dirinya sudah mulai bekerja ketika masih kuliah, yaitu mengajar di beberapa Lembaga Pendidikan Komputer (LPK). Selain itu, dia juga mengajar privat komputer di rumah muridnya.  Sebelum menjadi seorang penulis, pria berdarah Jawa Timur dan Palembang ini sempat bekerja sebagai karyawan di beberapa perusahaan yang bergerak di bidang IT (Information Technology). Sebagai karyawan, Jumari  berusaha bekerja sebaik mungkin. Kejujuran, tegas dan konsisten dalam menjalankan apa yang sudah menjadi komitmennya merupakan ciri khasnya dalam bekerja. 

Meskipun terkadang gaji yang diterimanya belum sesuai dengan kinerjanya, dia tetap berusaha bekerja secara profesional. Sifat jujur, tegas dan konsisten yang diterapkan suami dari R. Yanty Heryanty ini  tidak terlepas dari didikan kedua orangtuanya yang begitu keras dan disiplin dalam mendidik anak. Pondasi agama merupakan landasan yang kokoh dalam menjalankan kehidupannya. Tidak heran, Jumari berani mengoreksi atasan di tempatnya bekerja jika dilihatnya berbuat kesalahan. Hal tersebut tentu saja menjadi bumerang bagi dirinya, sehingga dia sering dipecat oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Anehnya, meskipun beberapa kali dipecat dari tempatnya bekerja, Jumari tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya. Dia tidak pernah merasa takut kehilangan pekerjaan. Dia berprinsip, di mana pun dia berada, harus berani menegakkan kebenaran. Bosan menjadi karyawan, anak pertama dari tujuh bersaudara ini akhirnya sepakat mendirikan perusahaan konsultan IT pada 1997. Saat itu usianya baru menginjak 31 tahun. Sebagai pemilik dan direktur perusahaan, Jumari berhasil mengembangkan usahanya. Melalui bendera CV. Bangkit Dwi Karya (Bangkitcom), sempat menjadi mitra beberapa instansi dan perusahaan, antara lain: Setum Mabes TNI, Puskop Mabes TNI, Srenum Mabes TNI, Puspen TNI, Spri Panglima TNI, Spri Kasum TNI, Babinkum TNI, Irjen TNI, Itwasum POLRI, Telkom Indonesia Divre II Jakarta, SMAN 39 Cijantung, SMAN 1 Majalengka dan lain-lain.

Pada 2006 perusahaan yang dipimpinnya mulia mengalami kemunduran. Jumari berusaha mempertahankan usahanya meskipun terus merugi. Dia tidak ingin memecat karyawannya dan terus berusaha agar tetap eksis.

Demi menggaji karyawannya, dia rela berhutang dan menjual apa saja yang menjadi aset perusahaan agar mereka tetap mendapatkan haknya sebagai pekerja. Bahkan gaji karuyawannya belum pernah telat, meskipun kondisi keuangan perusahaan sedang minus. Pada 2007 dia sudah tidak mampu lagi mempertahankan usaha yang sudah dirintisnya selama 10 tahun itu untuk selama-lamanya.      Pindah Profesi Menjadi Penulis Sekitar pertengahan 2006, Jumari sempat berkenalan dengan M.B. Ariyanto, seorang mantan wartawan dan pemimpin redaksi sebuah Surat Kabar di Bogor. Melalui sahabat baru tersebut dia banyak belajar tentang dunia penulisan dan penerbitan. Kebetulan mereka belum pernah menulis buku, sehingga keduanya sepakat berkolaborasi membuat buku bersama dan mengajak seorang pengusaha untuk bergabung bersama menulis buku tersebut, yaitu Dr. Wahyu Saidi, M.Sc. Buku pertama tersebut lalu diberi judul “25 Ide Binis Yang paling Kreatif” dan diterbitkan oleh penerbit Iqro Graft, Jakarta.   Buku pertama tersebut mendapat respons pasar yang baik karena selain dijual di jaringan Toko Buku Gramedia, Toko Buku Gunung Agung, Toko Buku Tisera,  juga dijual secara online.  Lalu menyusul buku kedua berjudul “Mengintip Rahasia Sukses Pengusaha Bermodal Tekad” yang ditulis berdua M.B. Ariyanto dan diterbitkan oleh Penerbit Mata Air Publishing, Jakarta. Beberapa buku karya J. Haryadi yang menjadi buku best seller adalah buku berjudul “Dahsyatnya Sabar, Syukur dan Ikhlas Muhammad SAW” yang ditulis bersama H. Amirullah Syarbini, M.Ag. dan diterbitkan oleh Penerbit RuangKata, Bandung (Grup Agromedia). Buku tersebut sempat dicetak sebanyak empat kali. Buku best seller lainnya adalah buku berjudul “Tahukah Anda? Fakta Buah & Sayur yang Berbahaya” terbitan Dunia Sehat, Jakarta. Selain buku-buku di atas, beberapa karya J.Haryadi lainnya, baik yang ditulis sendiri maupun berkolaborasi dengan penulis lainnya juga terbit di berbagai penerbit mayor. Beberapa buku yang diterbitkan oleh penerbit PT. Elex Media Komputindo, Jakarta berjudul “17 Strategi Jitu Sukses Kuliah di Perguruan Tinggi”, “Anda Dilahirkan Sebagai Pemenang, Bukan Sebagai Pecundang” dan “Perisai Asmara” Karya J. Haryadi lainnya yang cukup bagus penjualannya adalah buku berjudul “TOTAL SUCCESS: Jangan Jadi Orang Biasa Jika Bisa Jadi Luar Biasa” yang diterbitkan oleh Penerbit Qultum Media, Jakarta. Kemudian buku bertema religi seperti  “SMS: Spiritual Motivation for Success”, dan “Muhammad Sebagai Bisnisman Ulung” yang diterbitkan oleh Penerbit Quanta, Jakarta. Selain menulis buku, Ayah dari empat anak ini juga sudah menulis ratusan artikel di berbagai media cetak, media online, blog dan website. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Majalah SMK Kehutanan Kadipaten, Majalah Katalog AURORA, Majalah Suara Muhammadiyah, Liputan6.com, paseban.com, Kompasiana.com, Jharyadi.blogspot.com, kabarindonesia.com, kpkers.blogspot.com, infobisnis.co.id, auroranetshop.com, arinett66.wordpress.com dan lain-lain. Dunia menulis benar-benar telah membuat J. Haryadi  jatuh cinta. Sebagai mantan pebisnis, dia melihat bahwa profesi sebagai penulis sebenarnya bisa dijadikan sebagai profesi utama dalam mencari nafkah. Seorang penulis harus kreatif dan tidak hanya semata-mata hanya mengandalkan penghasilan dari royalti menulis buku. Penulis harus mampu berbisnis melalui tulisan dan menjadi seorang Writerpreuner.   Perjuangan dan pengorbanan J. Haryadi selama ini dalam mengembangkan diri di bidang kepenulisan mulai membuahkan hasil. Dirinya kini dipercaya sebagai nara sumber pelatihan menulis berskala nasional. Beberapa instansi yang pernah mengikuti pelatihannya yaitu: Staf Humas Wakil Presiden Republik Indonesia, Staf Humas Kementrian Pertanian RI, Staf Humas Kementrian Pekerjaan Umum RI, Staf Humas Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat, Staf Humas Pemerintah Daerah Mentawai, Staf Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kotawaringin Timur, Staf Humas Universitas Sriwijaya Palembang, Staf Badan Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Sumatera Selatan, SMAN 1 Cianjur, SMAN 2 Cianjur, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jawa Barat dan masih banyak lagi lainnya. Kini, sebagai bukti kecintaannya dalam dunia tulis-menulis, J. Haryadi dan rekannya Adrie Mesapati mendirikan Grup Kepenulisan di Facebook dengan nama Komunitas Penulis Kreatif. Grup ini dalam waktu singkat anggotanya sudah mencapai ribuan orang. Grup kepenulisannya ini bukan hanya aktif di dunia maya, namun aktif juga secara offline. Melalui grup ini penulis yang low profile ini ingin menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan dunia literasi di Indonesia. (*)      Sumber Foto: plus.google.com  Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini.  Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//