Wulan
Lha justru di situ letak masalahnya mas. Kontes ini kan namanya pemilihan citizen REPORTer of the year. Seharusnya tulisan yang ikut harus yang bersifat reportase dong. Lain halnya kalau kontenya namanya pemilihan penulisan opini. Lho piye to mas. Sopo sing jumud iku...?

Gama (medan)
Tulisan ini adalah bentuk Opini. Bukan reportase memang. Para komentator yang tak faham kaidah jurnalistik, pasti berkomentar salah, pinjam ucapan Supadiyanto--jumud.
Ciri opini: ada nama terang sang penulis dengan mencantumkan identitas lengkap si penulis.
Kalau bentuk berita itu pasti tak ada nama terang, bahkan cukup kode inisial saja. Gitu dong, baru cerdas.
Mari kita buat komentar yang intelektual, berdasar dan tahulah sedikit banyak tentang ilmu jurnalistik. Biar tak dibilang Asbun. Pro Supadiyanto

Wulan
Maaf, tulisan ini sama sekali tidak layak disebut reportase. Apanya yang dilaporkan. Ini semua cuma pandangan pribadi penulis.

Saya tidak melihat ini pantas untuk mengikuti kontes reportase...

Calon Walikota Sidim
Biasa aja. di mana bagusnya?

Ike Cahyaning Yudiat
HEBAT, BAGUS BANGET DEH KUPASANNYA. COCOK JADI WARTAWAN PROFESIONAL. NAAS TULISANNYA PENDEK. PRO U DARI SOBAT DI EROPA

Ridwan Harsono
Salam kenal. Sudah sangat lama tidak melihat tulisan-tulisan baru. Kenapa ya? Rindu deh. Selamat menulis dan mem-posting di KI.

Tony Mac Laud
Mas ngapaian ngomentari tayangan,kenapa mas gak gabung sama mq tv. atau bikin ph yg punya idealisme...untuk bikin acara tandingan ama tayangan yg berbau sex tsb.adu cerdik mas.....

Supadi
DiperthankU atas kritiknya mbak Intan plus mas Siantury.
Untuk Intan ni boleh kontak-kontak sms aku di HP 08179447204 atau email padiyanto@yahoo.com.
Untuk mas Siantury,memang sengaja artikelnya say buat melmpat-lompat, zig-zag ; bar ada resposn keras dari pembaca. suwun sanget dari cah ndeso klutuk.
Oya, moga juga mbah YeniZenia yang ke-PKS-enminded, juga sempat baca artikel ini.

Intan
Wah bagus banget tu tulisannya Bung, tapi sayang datanya kurang lengkap. eantar ku back up dengn artikel saya yach. Salam kenal dari ku,boleh dong ku minta nomor kontaknya?

Rudy Ronald Sianturi
Terima kasih mas untuk artikelnya. Akan tetapi, kiranya kami perlu memberi beberapa komentar untuk diskusi selanjutnya.

1. Saya pikir anda tidak jelas mendefinisikan adegan syur, ranjang, seks dst. Tulisan anda lebih gawat daripada realitas infotainment. Pengalaman saya walau bukan penggemar, tidak pernah ada adegan ranjang, seks implisit, atau sampai merangsang syawat kecuali beberapa program tengah malam yang para pemeran wanitanya berpakaian seksi (itupun harus kita sepakati dulu seksi itu seperti apa).

2. Pernyataan bahwa penonton membelalak mata, ABG jadi korban Adam serta perilaku seks bebas karena meniru berita selebritis atau tayangan yang mengarah ke sana rasanya hiperbolik. Perlu data pendukung. Tanpa infotainment pun, perilaku seperti itu adalah gejaya biasa di dunia modern dewasa ini. Dan harap anda ingat, saat ini kita mendapat informasi ataupun persuasi seksual sengaja atau tidak dari berbagai sumber dan lewat berbagai cara. Infotainment harus jelas posisinya di mana. Sedangkan dalam tulisan anda, infotainment menjadi segalanya. Rasanya terlalu terburu-buru kesimpulannya.

3. Hyphodermic neddle theory, rasanya terlalu canggih dan abstrak untuk dijadikan landasan interpretasi data ataupun menggagas korelasi 85% content infotainment adalah berbau seks atau mengarah ke seks dengan perilaku masyarakat (dalam tulisan anda eksplisit ABG dan kaum hawa perusak ABG???) pada umumnya. Kalaupun benar 85% infotainment itu mengandung unsur seks (sekalia lagi anda harus jelas mendefinisikannya), tidak berarti orang akan menelan mentah-mentah atau ada korelasi langsung antara perilaku seks dan meniru para artis atau terpengaruh agitasi bisnis hiburan dan media massa. Itu lompatan pemikiran yang terburu-buru!

Begitu mas komentarnya. Kiranya bisa diterima sekedar intellectual exercise. Ada yang salah, mohon dimaafkan karena tidak ada maksud negatif apapun. Keep writing!

Salam


Hal :  1|