Didah (04-Aug-2008, 15:34:44)
Korupsi dari dahulu adalah momok di tengah penderitaan rakyat, ada kesempatan untuk itu karena punya wewenang sebuah jabatan.
rakyat tak pernah tahu makna demokrasi yang diiming2kan untuk memilih langsung pemimpinnya akan berpihak kepadanya.
rakyat hanya diberi pemandangan gebyar kampaye, meluangkan waktu ke TPU dan dikecewakan dengan berita2 korupsi, dan hilangnya mimpi merubah hidup karena sistem negara yang tak kunjung membenahi bahkan terpuruk tak bisa membendung derasnya kebutuhan dibarengi dengan dampak globalisasi yang semakin menyudutkan rakyat.

ayo kita sadar kemana tujuan hidup ini kalau cuma mengejar dunia yang fana dengan jalan yang picik, gelap dan sadis

salam didah 081514062228

Bahar Makkutana
Tulisan ok banget...

Very Herdiman-jurnal
Terima kasih atas kiriman Opininya. Penerbitannya akan saya sampaikan.

Salam,
Very (081316860496)

Ibrahim
Akhir ini media asyik menyinggung tentang korupsi BLBI, saya akan memberikan pendapat dari sudut pandang lain.

Sebelum terjadi rush di bank, kondisi neraca perkiraan saya secara singkat adalah Aktiva : Kas 5% (pada waktu itu GWM kalau tidak salah 3% jadi jika bank menyediakan kas 5% sudah sangat cukup), Aset 5%, Piutang yaitu kredit yang diberikan oleh bank 90%. Pasiva: Hutang yaitu tabungan deposito giro nasabah 90% dan modal 10%.
AKTIVA PASIVA
Kas 5 Hutang 90
Aset 5 Modal 10
Piutang 90

Kemudian terjadi kerusuhan mei dan berlanjut menjadi rush (penarikan simpanan nasabah di bank secara besar-besaran). Sebenarnya kondisi keuangan bank adalah bangkrut karena tidak mampu memenuhi kewajibannya (mengembalikan uang simpanan nasabah) karena kas hanya 5 tetapi harus membayar misal 80. Ini bukan salah kelola / management bank di Indonesia, bank manapun di dunia kalau terjadi rush seperti ini akan bangkrut.
Tetapi kondisinya berbeda, dimana pemerintah mengharuskan bank beroperasi seperti biasa, akibatnya rush benar-benar “menghancurkan” bank.
AKTIVA PASIVA
Kas -75 Hutang 10
Aset 5 Modal 10
Piutang 90
Pertanyaannya:
1. Mengapa terjadi rush karena kerusuhan mei. Siapa dibalik kerusuhan mei? Sampai sekarang pun pemerintah tidak berniat membongkarnya, kenapa? Padahal kerusuhan mei merupakan penyebab pertama kerugian negara karena BLBI.
2. Rakyat yang terprofokasi untuk melakukan pengrusakan pembakaran pemerkosaan menjadi penyebab kedua kerugian BLBI
3. Mengapa BI mengharuskan bank beroperasi saat rush? Mengapa tidak disuspend mengingat rush nasabah adalah tidak rasional dan menyeluruh (seluruh bank). Atau BI dapat mengeluarkan aturan bahwa dana yang dapat diambil hanya 10% saja atau berkala, dll. Kebijakan ini merupakan penyebab kedua kerugian BLBI.

Untuk membayar uang nasabah yang ditarik secara besar-besaran BI memberikan bantuan uang tunai. Bantuan ini tidak gratis tapi berbunga. Sampai di sini yang berubah adalah dari bank yang berhutang pada masyarakat (menggunakan dana simpanan masyarakat) menjadi bank yang berhutang pada BI.
AKTIVA PASIVA
Kas 5 Hutang 10
Aset 5 Modal 10
Piutang 90 Hutang BI 80
Pertanyaannya:
Mengapa BI memutuskan memberikan bantuan BLBI? Kenapa tidak dibiarkan saja bank mati. Ini merupakan penyebab ketiga kerugian BLBI.

Permasalahannya timbul saat sangat banyak perusahaan tidak mampu membayar bunga pinjaman bank dan pokok jatuh yang tempo. Mengapa?
1. karena kondisi politik, ekonomi, keamanan Indonesia
2. karena bank menaikkan bunga kredit sangat2 tinggi. Bunga kredit tinggi karena bank menaikkan bunga simpanan sampai 60% nan. Bunga simpanan tinggi untuk mencegah penarikan dana dan karena pinjaman dari BI juga berbunga tinggi.
Akibatnya kondisi neraca saat itu menjadi pincang dan menunjukkan kerugian yang besar. Padahal, perusahaan yang tidak mampu membayar hutang bukan berarti akan demikian terus karena penyebabnya adalah faktor extern tersebut diatas. Buktinya banyak perusahaan yang sekarang berhasil bangkit dan mencetak laba tinggi.
AKTIVA PASIVA
Kas 5 Hutang 10
Aset 5 Modal 10
Piutang 30 Hutang BI 80
Rugi Piutang -80

Melihat kondisi kerugian seperti ini, pemilik bank yang dijadikan tumbal. Mereka diharuskan mengkonfersi kewajiban bank menjadi kewajiban personal. Padahal tanggung jawab pemegang saham itu hanya sebatas modal yang disetor.
Pertanyaannya mengapa pemegang saham mau dirubah dari tanggung jawab terbatas menjadi tanggung jawab personal / tidak terbatas padahal jika melihat neraca bank jelas ini tidak menguntungkan?
1. Karena mereka (pemegang saham) membangun usaha / bank ini tidak semudah membalik tangan, tetapi dengan perjuangan dan waktu yang panjang sehingga mereka menjadi “cinta” kepada bank mereka dan menghendaki suatu saat bank mereka akan bankit lagi.
2. Mereka memiliki optimistis yang tinggi. Seorang pengusaha biasa memiliki sifat seperti ini, optimis dan mental baja.
3. Mereka memikirkan kepentingan karyawan mereka. Kalau sampai bank bangkrut maka karyawan yang paling menderita pikir mereka.
4. Mereka cinta bangsa dan negara Indonesia. Melihat kondisi Indonesia yang carut marut mereka mau berkontribusi saat diperlukan negara.
5. Mereka tidak mempunyai power untuk bernego dengan pemerintah.

Selanjutnya mengapa ada pemegang saham yang kabur?
Karena tidak ada uang. Bayangkan, salim group saja yang begitu raksasa sebagai pemilik BCA tidak mampu mempertahankan bank nya, apalagi pengusaha2 lain.
Sebagian besar memang memiliki usaha selain bank, tetapi waktu itu semua usaha “hancur”, dari mana mendapat uang untuk mengganti kerugian negara yang mana penyebabnya bukan mereka??

KESIMPULAN
Sekarang apakah kita masih pantas menjuluki pemegang saham sebagai koruptor? Mereka bukan koruptor karena: Semua bank terkena dampak, kecuali Lippo bank. Mengapa Lippo bank tidak terkena dampak, silakan tanya sendiri. Jika BLBI adalah korupsi atau salah manage maka hanya sebagian saja yang kena.
Jika melihat efeknya yang global (mengena pada semua bank), maka kemungkinan penyebabnya adalah:
1. Kebijakan pemerintah
2. Kondisi negara
3. Perencana kerusuhan mei


Hal :  1|