And (08-Jun-2016, 21:44:57)
Kita wartawan daerah gaji mah jauh dari kata sejahtera.. kita di upah sesuai dengan banyaknya jumlah berita yang kita buat. Harga /beritanya saja cuman 10-25ribu doang. Itulah kenapa wartawan daerah tak pernah menolak amplop.

Nanad (09-Feb-2015, 17:19:48)
Semoga jurnalis menjadi lebih baik

Nina (21-Jun-2011, 07:55:37)
Wah, memang kecil ya gaji wartawan. Padahal kerjanya melelahkan dan resikonya juga berat. Gaji segitu di Jakarta yang biaya hidupnya tinggi, sangat sulit. Dulu saya pikir gaji karyawan bank tinggi, ternyata tidak juga. Kata orang-orang "kecekik dasi", penampilan harus berdasi tapi gaji kecil. Yang paling tinggi itu di pertambangan dan migas, menurut survey satu majalah bisnis.

Nda (19-Jun-2011, 23:02:09)
Wah gaji di Kontan gak segitu lho, lebih tinggi lagi. Hampir mirip seperti Bisnis Indonesia, cuma beda Rp 100 ribu.

Adeks Rossyie Mukri
Menangis dan berdoa, itu yang sering aku lakukan melihat nasib wartawan yang memang menyedihkan. Yakin tidak, saat ini masih ada koran mingguan yang tidak,sempat, memberikan 'jasa' (kalau itu istilah yang lebih pas untuk wartawan yang belum menerima standar kecil dari karya-karyanya, mohon maaf). Inilah fenoma kehidupan yang kian 'mengganas'. Tapi 'kaya' disini janganlah diartikan dari sudut pandang finansial dan material. Kaya adalah memiliki refrensi yang besar dalam berbagai sisi kehidupan. Paling tidak wartawan memiliki kekayaan untuk banyak bertanya, bertanya, bertanya dan membaca, membaca, membaca. Bacalah! Disana akan ditemukan arti kekayaan yang sesungguhnya!

Alya
Soal amplop memang fenomena. Kenapa sebagian wartawan mau menerima amplop? Pertama, karena perusahaan media ditempatnya bekerja tidak profesional memberikan gaji. Bayangkan, ada media yang menggaji wartawan antara 200.000 sampai 300.000 per bulan. Cukup untuk apa uang segitu? Wartawan yang "sok" idealis tidak menerima amplop karena mereka bekerja di media yang telah mapan. Sementara di Indonesia 80 persen wartawan belum bekerja di media mapan. Perusahaan media Indonesia masih mengkebiri wartawannya. Bayangkan lagi, bagaimana wartawan akan bisa bekerja profesional kalau perutnya lapar? Atau kalau setiap ia pulang kerumah anak istrinya minta dibelikan ini itu? Berfikir fleksibel sajalah Mbak Ency.

Ency
Saya menjadi saksi kekerdilan seorang wartawan ketika mereka tampak sumringah karena menerima sebuah amplop berisi uang dari sebuah institusi yg tugasnya mengayomi masyarakat. Hal ini lantas membuat saya sedih karena merupakan hal yang biasa dan wajar bagi mereka, bahkan kalau tidak dikasih tanpa sungkan mereka meminta padahal sudah merupakan tugas yg harus mereka emban menyampaikan informasi kepada khalayak tanpa harus mendapat imbalan. Entah apa yg ada di pikiran mereka ketika saya menolak amplop tersebut, naif, munafik, atau belagu mungkin?? wallahu,,
namun kalaupun benar, tidak akan mengubah pendirian saya untuk selalu berani bilang tidak dengan sesuatu yg bertentangan dengan profesi yg menuntut pengabdian dan profesionalitas diri ini.

Rudi
Tapi data gajinya kan tahun 2006. kalau standar gaji wartawan cetak (pemula dan senior) di tahun 2008, berapa ya?

Http://labuhanbatune
Hi... lam kenal..... Boleh nyumbang berita-berita dari daerah?

Ray
Mas Subhan, ditunggu sambungan tulisannya, bagus.


Hal :  1|