KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
InternasionalPelihara Bumi Ini Dengan Perdamaian (4): Tidak Ada Tuhan Kecuali Aku oleh : Tonny Djayalaksana
09-Okt-2019, 05:21 WIB


 
 
KabarIndonesia - Melalui perenungan diri, saya berharap akan bisa lebih menghayati agama dan juga lebih dapat menekuni jalan hidup sehari-hari. Saya memastikan diri bahwa menjadi Mualaf merupakan suratan dari jalan hidup saya, dan setelah menjadi mualaf saya merasakan perubahan 180
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Rayuan Gombal vs Cinta Sejati 11 Okt 2019 08:58 WIB


 

Ada Apa dengan Diriku?

 
ROHANI

Ada Apa dengan Diriku?
Oleh : Syaiful Karim | 08-Jan-2019, 14:33:36 WIB

KabarIndonesia - Sebuah pertanyaan yang paling penting untuk manusia tentang hidup, adalah : "Sesungguhnya untuk apakah kita berada di dunia ini?"  Sebuah ciptaan, diciptakan oleh penciptanya untuk menyenangkan penciptanya, bukan untuk menyenangkan ciptaan.

Seseorang membuat rumah, tentu saja bukan untuk menyenangkan rumah, tetapi untuk menyenangkan pembuat rumah. Manusia adalah ciptaan. Allah adalah Sang Pencipta. Berarti manusia diciptakan semata-mata untuk menyenangkan Penciptanya. 

Jika kita berani menginvestasikan sebagian waktu  untuk menemukan tujuan Allah bagi kehidupan, maka kita akan dapat memahami gambaran besar, yakni bagaimana semua bagian dari kehidupan saling sesuai dan tak ada peristiwa yang terjadi tanpa rencanaNya. 

Cara pandang ini akan mengurangi rasa takut dan khawatir serta memudahkan kita  untuk mengambil keputusan, meningkatkan kepuasan, dan yang terpenting, mempersiapkan diri  bagi Kekekalan.  

Tulisan sederhana ini dimaksudkan untuk mengubah cara pandang kita  dalam hidup dan sekaligus membuat sisa-sisa perjalanan hidup menjadi sangat bernilai. Kesadaran "Ketuhanan" kita akan mengalami revolusi yang spektakuler, terutama ketika kita merasa menjadi sebagai "alat" Allah untuk menjadi sarana penyampai kasih sayang Nya yang tak terbatas kepada hamba-hamba Nya yang merindukan Nya. 

Kalimat 'bismillaahirrahmaanirrahiim' yang berarti atas Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menjadi judulnya Al-Qur'an. Menjadi sebuah latihan kesadaran bahwa kita harus menjadi kepanjangan tangan Nya untuk menebar Cinta KasihNya kepada Semesta.
 
Jadi, kita ada  di Dunia ini bukan untuk tujuan kita, melainkan untuk tujuan Allah. Bukan untuk kesenangan dan kebahagiaan kita, melainkan untuk kesenangan dan kebahagiaan Pencipta kita. Sumber penderitaan manusia di dunia ini adalah ketika manusia dalam kehidupannya hanya berorientasi kepada tujuan-tujuan hidup buatannya sendiri. 
Tubuh manusia itu ibarat kendaraan, jiwa manusia adalah penumpangnya, pikiran manusia adalah sopirnya, sedangkan hawa nafsu dan keinginan-keinginan manusia adalah kondekturnya. Ketika sopir selalu mengikuti keinginan kondektur, dan melupakan penumpangnya, maka kendaraan ini akan gagal mengantarkan penumpangnya ke tujuan. Inilah sumber segala penderitaan manusia yang tak pernah disadari.

Manusia yang paling bahagia adalah yang mampu mensujudkan pikiran dan segala keinginannya kepada jiwanya sebagai wakil Tuhan di dalam dirinya. Maka disinilah kita akan menemukan ketenangan, ketentraman, kedamaian, kebahagiaan, kesucian, kebersihan, keindahan, dan kemuliaan. 

Setelah kita menemukan tujuan Allah untuk kehidupan, maka kita  akan menemukan jalan-jalan yang sangat praktis untuk membuat hidup kita menjadi jauh lebih hidup. Bahkan mungkin, kita akan sedikit menyesali semua perjalanan hidup yang telah berlalu. Tetapi yang lalu biarkan saja pergi dan tak perlu disesali, karena masa lalu telah mengantarkan kita  menjadi yang hari ini. 

Melamun tentang masa depan lebih bagus daripada cerita masa lalu. Masa lalu adalah pilihan yang telah berlalu. Sedangkan masa depan adalah pilihan yang masih bisa  direncanakan. Masa lalu  tinggal sejarah, masa depan  juga masih misterius, karena kita tidak tahu hidup  di alam fana ini sampai kapan. Itu sebabnya alangkah bijaknya jika kita memutuskan untuk hidup saat ini, hadir sepenuhnya disini dan  menyadari bahwa saat ini adalah saat yang paling penting. Saat ini adalah hadiah pemberian Allah yang sangat luar biasa. 

Layaknya orang yang mendapatkan hadiah, tak akan melihat isi hadiahnya, tetapi melihat atensinya kepada sang pemberi hadiah. Allah telah menghadiahkan masa kini, maka dari itu jangan sia-siakan masa kini, karena kita sedang menjalani hidup di masa kini. 
Putuskanlah saat ini juga, kita menjadi orang yang paling bahagia, karena kita bisa menerima masa kini sebagai hadiah, sebagai kado istimewa dari Allah Sang Pemberi Kehidupan. Karena kita  telah menyadari masa kini adalah saat yang paling penting, maka orang-orang yang sedang berada dengan kita saat ini, itulah orang-orang yang paling penting, karena kita sedang hidup bersama mereka. 

Itu sebabnya, lakukanlah tindakan-tindakan penting kepada orang-orang yang paling penting di saat yang sangat penting. Niatkan dalam diri bahwa kita adalah alat Allah, pena Allah untuk menuliskan "Surat Cinta" setiap saat kepada Semesta. 

Jangan pernah ada satu makhlukpun di Semesta ini tersakiti dan berkurang kebahagiaannya setelah berinteraksi dan bertemu dengan kita. Ketika kita menjadi sumber gelombang kedamaian, maka seluruh makhluk di semesta ini akan memantulkan gelombang kedamaian yang akan dialamatkan kepada kita sendiri. 

Sekarang ini rata-rata lama hidup orang Indonesia sekitar 65 tahun atau sekitar 23.725 hari. Itulah jangka waktu hidup manusia pada umumnya. Bukankah suatu penggunaan waktu yang bijaksana jika kita menyisihkan waktu selama beberapa hari saja untuk menemukan apa yang Allah ingin kita lakukan dengan sisa-sisa hari yang diberikan Nya. 

Jika mau bersabar sedikit untuk membaca secara perlahan bagian demi bagian dari artikel ini, kita akan dibimbing untuk menemukan cara-cara menyelami lautan kehidupan yang sangat dahsyat dan kedua tangan kita akan penuh dengan mutiara-mutiara yang indah sebagai hasil selam  terhadap kehidupan itu sendiri. 

Saya hanya akan memberikan tekanan bahwa hidup ini begitu berharga, hidup ini adalah hadiah besar dari Allah untuk kita. Kita punya pengalaman bahwa sesuatu itu baru terasa pentingnya kalau sesuatu itu telah hilang dari genggaman tangan.

Tak sedikit diantara manusia yang suka menyepelekan keberadaan orang yang kerja di rumah kita. Kita baru tersadar betapa berartinya mereka saat mereka pulang kampung, saat dimana kita harus menggantikan peran mereka untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan harian di rumah. Kita baru menyadari betapa berharganya handphone  ketika handphone itu hilang dan kita menjadi kelabakan tanpanya. 

Demikian juga dengan kehidupan,kita baru akan menyesal saat kehidupan itu telah tidak bersama kita lagi. Saya sangat mendorong Anda untuk membaca setiap paragraf dalam artikel ini. Akan tetapi tidak usah sekaligus membacanya. Perlahan tapi pasti, dan berilah kesempatan diri untuk berpikir tentang penerapannya bagi kehidupan.  

Satu alasan mengapa sebagian besar tulisan tidak mengubah diri, itu adalah karena kita begitu ingin membaca yang berikutnya. Kita tidak berhenti sejenak dan mengambil waktu untuk berpikir dengan serius apa yang baru saja dibaca. Kita tergesa-gesa menuju kebenaran berikutnya tanpa merefleksikan apa yang telah kita baca. Tulisan  ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan inspirasi. 

Sasaran saya adalah Anda akan terinspirasi dan berpengharapan untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menemukan kedamaian dan bergerak maju. Harapan saya adalah agar tulisan  ini menginisiasi kreativitas Anda dan mendorong Anda ke arah yang bermanfaat. Harapan saya adalah Anda dapat menemukan Diri Sejati Anda. 

Anda  dapat mengenali Ruh-Ku yang sedang dikaryakan pada diri Anda. Bahkan Anda  dapat merasakan kemanunggalan Diri Sejati Anda dengan Sang Sumber Asal Anda dalam Ikatan Tauhid yang sempurna, tanpa kata-kata, tanpa penjelasan, hening, bening, dingin, yang ada hanya hangat-hangat air mata Anda. 

Transisi dari Laa Ilaaha Illallah (Tiada Tuhan selain Allah) , menuju Laa Ilaaha Illa Huwa (Tidak ada Tuhan selain Dia),kemudian menuju Laa Ilaaha Illa Anta (Tiada Tuhan selain Engkau), dan berakhir pada pengalaman Laa Ilaaha Illa Ana (Tiada Tuhan selain Aku). Dari sinilah kita akan menemukan Tujuan Allah menciptakan manusia dan Semesta Alam. 

Dari sinilah kita akan menemukan cara bersikap dan kapasitas diri terhadap kehidupan. Banyak pengalaman dalam hidup ini tidak membantu kita menjadi bijaksana, sepanjang kita tak memliki sikap positif dan kapasitas terhadap setiap pengalaman hidup yang terjadi. 

Berhenti mempertanyakan: "mengapa ini terjadi?", dan diganti dengan pertanyaan :"Pesan apa dibalik semua ini?", akan membuat kita dialiri pengetahuan sejati. Seorang pemilik jam berdialog dengan jarum jam yang ada dalam jam tersebut. 
Pemilik jam berkata :"Wahai jarum jam, maukah kamu berdetak 86.400 kali dalam sehari semalam?" Jarum jam menjawab :"Tidak". Selanjutnya pemilik jam bertanya lagi :"Kalau begitu, maukah kamu berdetak 3.600 kali dalam satu jam?" Jarum jam menjawab: "Tidak". Lalu, pemilik jam bertanya lagi :"Maukah kamu berdetak 60 kali saja dalam satu menit?" Jarum jam tetap saja menjawab :"Tidak". Pertanyaan terakhir dari pemilik jam: "Maukah kamu berdetak satu kali saja dalam satu detik?" Jarum jam langsung menjawab :"Ya". Dialog ini sesungguhnya  adalah dialog antara kita dengan kehidupan. Kita terlalu banyak berpikir, sementara sedikit bertindak. 

Hidup itu bukan untuk dipikirkan, melainkan untuk dijalani. Jarak 10 km akan bisa dilalui dengan memulainya dengan satu langkah dan dilakukan secara terus-menerus. 
Tugas kita adalah memulai saja saat ini juga. Sesungguhnya target dalam hidup itu bukan untuk dicapai, akan tetapi agar kita memulainya saat ini juga. Bahkan mungkin dengan cara seperti itu, kita bisa mencapai jauh melampaui target kita. Inilah awal keberlimpahan. Sekarang saatnya kita memulai bertindak, dan berhenti berkata-kata. 

Hanya orang-orang yang berani tersesat yang tidak akan pernah tersesat. Dan orang-orang yang takut tersesat, selamanya akan tersesat. Orang-orang yang berani mengambil resiko dan gagal, akan dimaafkan oleh Semesta, sementara orang-orang yang tidak berani mengambil resiko dan takut gagal, akan mengalami penyesalan sepanjang hidupnya. 

Kita terlahir ke dunia ini karena dimasa lalu ada sepasang manusia yang berpelukan. Mereka berdua berpelukan karena ada kasih sayang. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kita terlahir ke dunia karena kasih sayang. 

Oleh karena itu tugas  yang paling penting dalam kehidupan ini adalah menjadi alat Nya untuk menyampaikan Kasih Sayang Nya. Semua peran yang sekarang sedang kita jalani adalah karena kita sedang mewakili Nya untuk menyampaikan Kasih Sayang Nya. 
Bila semua Kita sudah menyadari hal ini, maka lenyaplah segala kemarahan, kebencian, permusuhan, saling menyakiti, dan semua sampah-sampah kehidupan. Dalam waktu yang singkat, tubuh kita akan menjadi Tanah Suci yang damai dan indah. Jika tubuh-tubuh yang suci ini menghuni seluruh bagian dari bumi ini, maka sekejap bumi kita akan menjadi Tanah Suci Besar  yang damai. 

Semoga tulisan ini, bisa menjadi inspirasi bagi Anda untuk menjadikan diri Anda sebagai Tanah Suci yang menebarkan Cahaya Nya. Ternyata setelah kita bisa sejuk dan lembut seperti air, hidup ini pun menjadi lembut dan sejuk. Dalam kelembutan itulah kita bisa merasakan dekapan Dia Yang Maha Lembut. 

Sedemikian lembutnya air, api menjadi tak berdaya dibuatnya, bahkan pedang yang sangat tajam pun tak berhasil membelahnya. Ternyata kelembutan adalah sumber kearifan dan kebijaksanaan dan sekaligus kekuatan yang sangat luar biasa. 

Tiang-tiang beton itu menjadi tak ada kekuatannya jika tidak diikat dengan air yang lembut. Besi, semen, batu, pasir, semuanya keras, dan tak dapat bersatu. Akan tetapi ketika semua yang keras itu disatukan dan diikat dengan air yang lembut, semuanya bersatu dan menjadi tiang beton yang sangat kuat. Selamat menemukan kelembutan lewat Tubuh yang sempurna Ciptaan Nya! 

Hidup itu tidak pasti, tetapi mati adalah sebuah kepastian.  Dan setiap yang bernyawa harus merasakan rasanya mati pada saat masih hidup, karena kalau sudah mati mustahil dapat merasakan rasanya mati. Yang dimaksud adalah "mati selagi hidup" (dalam terminologi leluhur kita sering dinyatakan sebagai ungkapan "mati sa'jeroning urip). 

Kita pasti akan mati: "Maka ketika nyawamu sampai di kerongkongan (Q.S 56:83)", "Kamu ketika itu seharusnya melihat (Q.S 56:84)", "dan Kami lebih dekat kepadamu, tetapi kamu tidak melihat (Q.S 56:85)". Pada saat sakaratul maut nanti, apakah Kita  akan dapat melihat? Jika dapat, apa yang harus Kita lihat? Dengan mata mana Kita dapat melihat? Jika tidak, mengapa Kita tak dapat melihat? 

Padahal kematian adalah gerbang antara  dunia dan  akherat. Sementara Allah berfirman: "Dan barang siapa yang buta mata qolbunya di dunia ini (tidak melihat) , niscaya di akhirat  ia akan lebih buta  dan lebih tersesat dari jalan yang benar(Q.S 17:72)". 

Kemudian Allah berfirman: "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qolbu yang di atas dada. (Q.S 22:46)", "Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta , padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Q.S 20:125)", "dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kebankitan dalam keadaan buta (Q.S 20:124)". 

Dalam proses penciptaan diri kita, setelah sempurna tubuh kita diciptakan oleh Nya, kemudian Allah meniupkan Ruh-Ku, dan setelah itu kita ditanya :"Apakah Aku ini Tuhanmu?", saat itu kita menjawab :"Yaa, aku menyaksikan". 

Berarti fitrahnya kita adalah mengenalNya. Mengapa sekarang kita menjadi lupa dengan yang pernah kita kenal? Karena hawa-hawa duniawi telah menyelimuti diri kita. Inilah utang manusia yang paling besar yang harus segera dibayar sebelum kematian menjemput. Untuk mengenal-Nya, diperlukan kunci makrifatullah. Dengan kunci tersebut, Islam, iman, ihsan, shalat, haji, qurban, zakat, dll, itu menjadi ada rasanya, karena jasmani manusia adalah laboratorium untuk mengenal-Nya. 

Untuk mendapatkan kunci makrifatullah, diperlukan Seorang Penunjuk Jalan,  yang dapat membantu menunjukkan tempat asal manusia, :"Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali  kepada Allah-Inna lillaahii wa inna ilaihi raaji'uun (Q.S 2:156)".  

Lebih  tegas   lagi ayat ini memiliki pengertian :"Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan akan dikembalikan kepada apa yang kita pertuhankan." (*)

Penulis adalag seorang Pembina Perguruan Spiritual Itsbatulyaqiin          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia