KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit, dan Tol Media (Sebuah Kesaksian untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
FamGofest 2019 Hadir di BSD City 21 Nov 2019 09:18 WIB

 

 

DUNIA PANGGUNG SANDIWARA (2): Sedikit Demi Sedikit Semesta Membuka Misterinya

 
ROHANI

DUNIA PANGGUNG SANDIWARA (2): Sedikit Demi Sedikit Semesta Membuka Misterinya
Oleh : Tonny Djayalaksana | 07-Sep-2019, 13:33:12 WIB

KabarIndonesia - Pada tulisan "Dunia Panggung Sandiwara" bagian (1), saya telah mengungkapkan bahwa saat menciptakan lagu yang berjudul "Pangung Sandiwara", sang penggubah Ian Antono beserta Taufik Ismail yang menuliskan liriknya, telah dijadikan perpanjangan tangan oleh-Nya, untuk menyampaikan pesan Semesta kepada seluruh Manusia sebagai penduduk Dunia ini tentang hakekat dan makna hidup yang sebenarnya di dunia ini.

Keyakinan mengenai hal tersebut semakin kuat ketika kita mengupas satu persatu lirik lagu tersebut. Jika dibagian (1) kita telah mengupas lirik bait pertama dan kedua, maka mari kita lanjutkan mengupas lirik-lirik di bait selanjutnya.       

MENGAPA BERSANDIWARA? MENGAPA BERSANDIWARA?          

Sebab kalau tidak Bersandiwara, tentu akan Monoton. Itulah gunanya dalam kehidupan ini diciptakan sifat "Dualitas". Agar kehidupan terasa bergairah dan tidak monoton lagi. Perlu kita sadari, semua peranan dan profesi yang kita perankan dalam kehidupan di dunia ini semua sifatnya juga sementara.           

Katakanlah usia rata-rata manusia adalah 75 tahun, masa-masa produktifnya paling lama juga 50 tahun. Lalu dibagi lagi dengan hari, jam dan menit, karena sejatinya yang namanya hidup manusia itu adalah hari ini, saat ini dan tempat ini. Dari sinilah bisa kita bayangkan betapa pendek dan terbatasnya kehidupan manusia di Dunia ini. Jadi, jika kehidupan ini dinamakan Sandiwara, ya memang begitulah adanya bukan?          

Ada yang mengatakan bahwa hidup di Surga itu akan senang terus. Tidak ada susah. Akan sehat terus, tidak ada sakit. Akan muda terus, tidak menjadi tua  dan seterusnya. Menurut saya, tidak akan ada kata senang bilamana tidak ada kata susah. Demikian juga tidak ada sehat kalau tidak ada sakit. Tidak ada kata muda kalau tidak ada kata tua dan seterusnya. Jadi jelas sudah, yang disebut Surga dan Neraka itu adanya di kehidupan Dunia saat ini dan di tempat ini.          

PERAN YANG KOCAK BIKIN KITA TERBAHAK-BAHAK. PERAN BERCINTA BIKIN KITA MABUK KEPAYANG.          

Semua peranan yang akan kita perankan tergantung Waktu yang menentukan. Pasalnya hanya Ruang dan Waktu yang mengetahui peranan apa yang harus kita perankan di kehidupan kita saat ini. Adapun semua peranan yang kita perankan tidak luput dari rangkaian peran-peran kita di kehidupan sebelumnya. Karenanya, ada kalanya kita memerankan peran yang kocak sehingga kita bisa terbahak-bahak, namun tidak tertutup kemungkinan kita justru kebagian memerankan peran yang menyedihkan sehingga kita harus menangis sejadi-jadinya.           

Demikian juga ada saatnya kita kebagian peran bercinta. Itu membuat kita mabuk kepayang, namun ada kalanya kita justru memerankan hal sebaliknya, yaitu peran putus cinta/patah hati sehingga membuat kita juga oleng kehilangan pegangan. Begitulah seterusnya sifat "Dualitas" di setiap kehidupan di dunia ini. Masing-masing manusia pasti mendapatkan bagian perannya, karena sejatinya yang berperan semuanya adalah Dia. Yang namanya manusia itu hanya sekedar pakaian atau kendaraan yang dipakai untuk Dia mewujud dari yang Gaib/Tidak Nyata, menjadi Nyata. Sehingga semua menjadi jelas, bisa disaksikan dan dialami.          

Di buku perdana saya yang berjudul "Aku Bersaksi Allah Maha Nyata". Sudah saya jelaskan bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur. Yaitu unsur Materi/Nyata/Tidak Pernah Hidup, dan satunya lagi adalah Imateri Gaib/Tidak Nyata/Tidak Pernah Mati. Barulah ketika keduanya menjadi satu, maka baru ada yang namanya "Kehidupan".          

Bukankah sifat dari Tuhan/Allah=Sang Keberadaan itu Esa=Tunggal, Kekal-Abadi?           

Mari kita renungkan, Bukankah  Imateri yang menyatu dengan Materi di tubuh kita (Manusia) juga Esa=Tunggal, Kekal-Abadi? Sekalipun manusia ada waktu jeda istirahat/tidur, dan ketika tidur itu semuanya dimatikan, penglihatan, pendengaran, panciuman, cuma ada satu yang tidak dimatikan yaitu napas. Itulah sebagai tanda bahwa DIA/Imateri, selalu hadir bersama Materi/Tubuh Manusia. Ketika napas Manusia itu berhenti, maka itulah yang disebut "Kematian" yang sejatinya merupakan perpisahan antara Imateri yang Tidak Pernah Mati=Kekal-Abadi dan Materi yang Tidak Pernah Hidup.              

Berdasarkan alasan di ataslah, maka sering saya katakan, bahwa sejatinya Kita itu: "Bukan Manusia yang sedang mengalami pengalaman Spiritual", melainkan "Kita adalah Makhluk Spiritual yang sedang mengalami pengalaman Manusia".          

Hal yang seperti di atas tersebut, sangat relevan/selaras dengan keterangan sebuah Hadits yang berbunyi: "Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu" = "Barang Siapa Kenal Dirinya, Maka Sungguh Dia Kenal Tuhannya".          

DUNIA INI PENUH PERANAN:          

Bait lirik lagu ini benar sekali. Pasalnya memang di dunia ini penuh dengan peranan dari berbagai macam ragam profesi. Ada peranan menjadi Seniman, Budayawan, Agamawan, Negarawan, Presiden, Menteri, Politisi, Pengusaha dan seterusnya. Semuanya hampir tidak terhitung jumlahnya. Karena jumlah penduduk bumi saat ini ada 7 Milyar lebih, maka masing-masing individu mempunyai profesinya sendiri-sendiri tidak ada satupun yang sama. Namun walaupun demikian, satu sama lain peranannya saling terkait. Tidak ada satu manusiapun yang mampu hidup sendiri atau mandiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya.           

Semua profesi yang diperankan, baik itu peran yang baik maupun peran yang jahat. Semua tergantung kepada Kesadaran Jiwanya masing-masing individu semua Manusia. Jika Manusia tersebut tingkat Kesadarannya rendah, berarti Jiwanya masih terkubur oleh pikiran dan ego Manusia tersebut. Akibatnya banyak bentuk peranan kejahatan yang diperankannya. Sebaliknya kalau tingkat Kesadarannya tinggi, jiwanya yang menjadi "Pemimpin" dalam tubuh Manusia tersebut. Hasilnya peranan Kebaikanlah yang banyak diperankannya.           

Begitulah seterusnya. Peranan itu datang silih berganti, mengikuti hukum Semesta. Tabur-tuai, sebab-akibat, tarik-menarik, hingga Ruang dan Waktu yang menentukan kapan berakhirnya peranan-peranan untuk seorang Manusia.          

Demikianlah serial bersambung "Cerita Pertunjukan Sandiwara", yang dibuat oleh Semesta dalam kehidupan Manusia di Dunia ini. Dan setiap Manusia akan mendapatkan peranan sesuai dengan judul Cerita saat pertunjukan tersebut dimulai. Seiring berjalannya dengan Waktu, dan serial Ceritanya semakin kompleks dengan drama Super Kolosal serta Super Canggih. Sehingga sandiwara tersebut memerlukan jumlah pemain yang lebih banyak lagi.          

Analogi di atas tadi bisa kita pelajari bersama. Sejak Alam Semesta ini diciptakan, dari awal peradaban terus berkembang ke peradaban berikutnya. Selalu bertambah maju, dan jumlah penduduk Dunia pun setiap tahun bertambah terus. Semua misteri Alam Semesta seiring berjalannya Waktu dan dengan dibarengi kemajuan peradaban yang semakin cepat, semesta sedikit demi sedikt membuka rahasia-Nya. Demikian semuanya berlangsung secara simultan terus-menerus, hingga Ruang dan Waktu yang akan menghentikannya.           

Dan penjelasan perihal analogi di atas tadi, bisa juga diartikan dalam bait lirik terakhir dari lagu berjudul: PANGGUNG SANDIWARA ini. Yaitu: DUNIA INI BAGAIKAN JEMBATAN KEHIDUPAN. (Bersambung)       

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com               

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu Spanyol Diulang 18 Nov 2019 12:05 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia