KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (10), telah saya sampaikan alasan-alasan kenapa KH Ma'ruf Amin merupakan salah satu sosok yang paling tepat mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019 kemarin.
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 

Dualitas Ghaib-Nyata (1): Awal Terciptanya Kehidupan

 
ROHANI

Dualitas Ghaib-Nyata (1): Awal Terciptanya Kehidupan
Oleh : Tonny Djayalaksana | 09-Des-2018, 15:31:37 WIB

KabarIndonesia - Selama ini, pikiran saya terganggu oleh kenyataan akan adanya dualitas ghaib-nyata. Bagaimana mungkin saya bisa meyakini sesuatu yang tidak pernah saya saksikan, tidak pernah kenal, alami dan rasakan? 

Jika saya meyakini sesuatu yang nyatanya tidak jelas, tidak pasti, tidak nyata dan hanya berdasarkan imajinasi, fiksi, ilustrasi, persepsi dan hanya dengan bekal "katanya" semata, lalu apa bedanya keyakinan saya tersebut dengan ramalan-ramalan paranormal? Sebuah keyakinan yang sifatnya hanya untung-untungan semata yang hasilnya bisa iya, dan juga bisa tidak,  sehingga identik dengan judi?

Sampai akhirnya saya menyadari dan memahami, bahwa sesungguhnya semua kehidupan di alam semesta ini hanya terdiri atas dua unsur saja. Yang pertama adalah unsur materi yang nyata, tidak hidup, dan bisa disaksikan oleh panca indera. Sedangkan yang kedua adalah imateri, bersifat ghaib, atau sering disebut ruh, yang tidak bisa disaksikan oleh panca indera, dan tidak pernah mati. Nah, Kehidupan itu tercipta karena menyatunya kedua unsur tersebut.  Kedua unsur itu adalah ciptaan Allah sebagai kecerdasan semesta tanpa batas.

Selama ini, saya beribadah kepada Tuhan dengan mengacu kepada pemikiran bahwa Tuhan itu ghaib. Lalu bagaimana caranya mengimani yang ghaib itu, bila yang ghaib tersebut tidak nyata?  Terus bagaimana caranya saya bisa mengingat-Nya jika realitanya Tuhan itu ghaib atau tidak nyata? Sementara menurut Al-Qur'an dikatakan bahwa sholat itu disebut khusyu, kalau kita bisa mengingat-Nya.  

Banyak sekali teori atau metode yang diajarkan dan sudah saya amalkan. Misalnya, menghafal 99 nama-nama Allah, membaca surat atau ayat sekaligus memahami maknanya, menyebut nama Allah di mana dan kapan saja, dan banyak lainnya. Tapi hasilnya tetap tidak berhasil membuat saya lebih khusyuk.

Bicara mengenai konsep tentang ketuhanan, menurut pemahaman saya harus bicara dulu tentang bagaimana awalnya alam semesta ini diciptakan. Karena tak bisa dipungkiri, adanya hari ini tidak terlepas dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Jika dirunut terus ke belakang, akhirnya akan sampai ke titik nol. Titik awalnya alam semesta ini diciptakan Allah.Selama mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya, untuk apa Tuhan menciptakan alam semesta ini? Saya menemukan jawaban yang paling relevan dan masuk akal sehat dalam sebuah keterangan Hadits Qudsi yang berbunyi, "Aku adalah sebuah perbendaharaan tersembunyi, Aku Ingin dikenali, maka Aku ciptakan makhluk agar mengenali Aku". 


Makna dari Hadits Qudsi ini sungguh sangat dalam. Allah bukan hanya semata-mata ingin disaksikan eksistensinya saja, akan tetapi dengan diciptakannya makhluk dan penghuni alam semesta lainnya, Allah sekaligus ingin menampakkan wujud-Nya, yang asalnya ghaib menjadi nyata, melalui media semua makhluk dan benda yang ada di alam semesta ini.

Ada bukti bahwa pemahaman saya tersebut sangat masuk akal sehat atau logis. Contohnya adalah kehidupan di semesta ini. Baik itu makhluk yang namanya manusia, hewan, atau pun tumbuh-tumbuhan, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.  Bahwa adanya kehidupan di semesta ini, hanya karena menyatunya dua unsur. 


Pertama adalah unsur materi/tubuh/jasad/nyata. Misalnya dalam tumbuh-tumbuhan itu pohon, atau yang berbentuk fisik lainnya yang nyata dan bisa disaksikan oleh panca indera manusia. Semua materi ini pada dasarnya tidak pernah hidup. Adapun unsur yang kedua adalah imateri/ruh/ghaib/tidak pernah mati. Ketika unsur materi menyatu dengan unsur imateri, barulah tercipta adanya kehidupan. Artinya yang menghidupkan materi/tubuh/jasad tersebut adalah imateri/ruh/ghaib.

Pembuktiannya sangat sederhana. Kehidupan masih berlangsung ketika materi/tubuh/jasad tersebut ruhnya masih ada dalam materi/tubuh/jasad itu sendiri. Tetapi ketika ruh yang dalam materi/tubuh/jasad itu keluar, maka yang tadinya tidak pernah hidup itupun kembali tidak hidup. Jenazah manusia, bangkai hewan, atau pohon yang mati, notabene semua bentuk fisiknya sama saja dengan yang masih hidup. Satu-satunya yang membedakannya adalah karena sang hidup (ruh) sudah keluar dari fisiknya. Maka ia terlihat tidak hidup. Begitu juga sebaliknya, ruh yang tidak pernah mati, setelah keluar dari media yang dipakainya, baik itu tubuh/jasad manusia, hewan serta tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya, tetap hidup.

Pemahaman seperti inilah yang menjelaskan bahwa diri sejati dari materi/tubuh/jasad itu adalah ruh, Ruh itu sifatnya adalah ghaib. Agar bisa berwujud menjadi nyata, ruh itu perlu ada media untuk berwujud menjadi bentuk yang nyata, termasuk tubuh/jasad manusia. Karenanya, kalau saya ingin bisa fokus, murni beribadah kepada Allah sebagai Sang Maha Pencipta, maka wajib bagi saya untuk mengenali jati diri sejati saya sendiri (ruh). Melalui jati diri sejati (ruh) itulah saya bisa kontak langsung dengan Sang Maha Pencipta. Hal itu sesuai keterangan dari sebuah Hadits Qudsi, yang berbunyi : "Man ‘Arrafa Nafsahu Faqod ‘Arrafa Robbahu" yang artinya: "Barang siapa kenal dirinya, maka sungguh dia kenal Tuhannya". " 


Wa man ‘arrafa robbahu faqod jahilan nafsahu", yang artinya: "Barang siapa kenal Tuhannya, sungguh dia merasa bodoh di hadapan Tuhannya."

"Man tolabal maolana bigoeri nafsi faqod dolla dollaalan ba'iidaa", yang artinya : "Barang siapa mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia tersesat sejauh-jauhnya sesat".  

Tidak mengherankan, jika ternyata seorang  ahli fisika kristal dari Jepang, yaitu  Prof. Dr. Massaru Emoto setelah menemukan kehidupan di dalam air, dan menemukan keajaiban-keajaiban dalam air zam-zam. Ternyata di dalam air juga ada Ruh-Nya, sehingga akhirnya beliau menyatakan sebuah kalimat singkat dan mendalam: "Aku telah menemukan Tuhan dalam air."

Berikut ini saya lampirkan linknya: https://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/11/07/ilmuwan-jepang-ternyata-air-hidup-dan-dapat-dapat-mendengar/http://aceh.tribunnews.com/2014/12/19/masaru-emoto-pun-masuk-islam

Ada juga beberapa ilmuwan Belanda yang menemukan nutrisi makanan ternak melalui dialog dengan hewan-hewan peliharaannya. Begitu juga pengalaman seorang teman yang sering terganggu oleh hama tikus. Ia sudah kehabisan akal dan tak bisa mengusirnya dari rumah. Akhirnya, dia menemukan metode untuk mengusir tikus-tikus tersebut dengan cara diajak berdialog. Ia memakai kata-kata penuh kasih sayang, dan hasilnya sangat menakjubkan. Seolah-olah  para tikus itu mengerti akan maksud dari teman saya tersebut dan pada akhirnya mereka (tikus) tersebut, tidak datang mengganggu lagi.

Masih banyak contoh-contoh lainnya perihal berbicara dengan flora, fauna dan sesama penghuni semesta ini, dan hasilnya memang sangat luar biasa. Mereka yang berinteraksi dengan flora, bunga-bunganya mekar dengan penuh keceriaan. Begitu pula cerita dari guru saya. Beliau selalu berdialog dengan sebuah pohon Nangka berukuran sedang-sedang saja yang tumbuh di halaman rumah beliau. Pohon tersebut hampir sepanjang tahun berbuah terus. (Bersambung)                                             

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia