KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji bagian (6) kita telah melihat, berbagai upaya untuk menyerang dan menjatuhkan Jokowi ternyata justru sering berbalik menjadi bumerang yang menjadikan elektabilitas Prabowo-Hatta terdegradasi. Jokowi-JK
selengkapnya....


 


 
BERITA ROHANI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Kegelapan vs Cahaya (1): Sejatinya Kegelapan Adalah Berkah, Cahaya adalah Godaan

 
ROHANI

Kegelapan vs Cahaya (1): Sejatinya Kegelapan Adalah Berkah, Cahaya adalah Godaan
Oleh : Tonny Djayalaksana | 15-Jun-2019, 14:19:09 WIB

KabarIndonesia - "Kegelapan kekal abadi, cahaya datang dan pergi." Ini adalah ungkapan kata-kata dari seorang filsuf spiritualis terkenal abad ini OSHO. Kata-kata inilah yang menyadarkan saya, dimana selama ini hampir di setiap agama maupun spiritualitas selalu berorientasi terhadap cahaya. Sebab cahaya selalu dilambangkan sebagai "kebajikan" adapun sebalilnya kegelapan dilambangkan sebagai "kejahatan". Lalu pertanyaannya,  benarkah demikian adanya?

Jika seseorang pikiran dan hatinya dipenuhi kegelapan, mungkin sekali dia bisa bertindak atau melakukan sebuah kejahatan. Akan tetapi kalau seseorang memasuki sebuah ruangan yang gelap gulita, tidak ada cahaya setitik pun, maka perasaannya akan sangat jauh berbeda dari anggapan umum bahwa hitam itu lambang kejahatan dan sebaliknya putih adalah lambang kebaikan.     

Setelah saya memahaminya secara spiritualitas, maka hasilnya sangat berbeda dengan pemahaman yang pada umumnya tadi.       

Bagi saya, sebuah kegelapan yang walaupun dipandang oleh panca indera itu memang benar-benar gelap gulita, sekalipun dalam jarak yang dekat ada materi atau makhluk, manusia tetap tidak kelihatan, itulah yang dinamakan kegelapan yang kekal abadi. Karena, sesungguhnya keadaan awal sebelum Alam Semesta ini tercipta juga dalam keadaan kosong dan gelap. Kegelapan itu tidak diciptakan karena kegelapan itu tidak perlu bahan untuk menciptakannya. Gelap itu hitam dan hitam itu bukanlah warna.       

Tatkala saya telah memahaminya, maka kegelapan itu bagi saya justru menjadi berkah. Alasannya adalah saya bisa belajar dengan mudah untuk melepaskan semua kemelekatan yang ada di kehidupan ini, bahkan pikiran dan hatipun bisa kita hilangkan, sehingga yang tinggal adalah kesendirian. Bersama dengan kesendirian itulah kita bisa melebur menjadi satu dengan kegelapan. Sehingga dengan itu kita bisa merasakan ketenangan serta kedamaian.        

Bukankah pada hakekatnya kita dalam kehidupan sekarang ini sejatinya juga hidup dalam kesendirian? Kita dilahirkan sendirian. Kita nanti pulang pun dalam kesendirian. Dan sesungguhnya kegelapan itu maha luas dan tanpa batas. Lebih luas dari pada cahaya. Dan setelah itu saya lebih bisa merasakan bahwa cahaya adalah sebuah gangguan yang bisa menimbulkan ego berkat pikiran kita yang melihat semua penampakan yang jelas yang ada di semesta ini. Baik itu yang berupa materi, flora, fauna, makhluk, manusia dan  sebagainya.     

Pikiran manusia itu adalah salah satu sumber masalah yang paling dominan. Karenanya ketika pikiran manusia itu menjadi tuan yang menguasai fisik/tubuh manusia, maka banyak masalah yang timbul karena pikiran itu yang memicu ego dari seorang manusia. Bahkan sudah bisa dipastikan bahwa saat itu kesadaran manusia tersebut rendah, karena jiwanya terkubur oleh tubuh/jasad dan pikiran manusia tersebut.       

Menurut pemahaman saya semua masalah yang ada di semesta ini awalnya ditimbulkan oleh karena ulah pikiran. Pasalnya pada umumnya manusia senang memberikan peran kepada pikiran agar menjadi majikan di dalam mengendalikan semua aspek kehidupan manusia di semesta ini. Karena itu ia akan cenderung membiarkan jiwanya terkubur oleh tubuh/jasad dan pikirannya sehingga hilang Kesadaran Sang Jiwa tersebut.       

Dus,  tugas utama kita sebagai manusia, adalah segera membangkitkan tingkat kesadaran kita masing-masing sehingga mencapai puncaknya. Ini dilakukan agar kita bisa melampaui hukum Dualitas yang sudah baku di semesta ini dan jangan sampai malah terjebak oleh hukum Dualitas tersebut. Itulah hakekatnya makna dari Kiamat=Bangkit.       

Jadi yang disebut Hari Kiamat itu adalah Hari Kebangkitan. Adapun pertanyaannya adalah Kebangkitan apa? Ya Kebangkitan jiwa kita masing-masing yang selama ini terkubur oleh tubuh/jasad, pikiran dan ego. Kebangkitan agar kita masing-masing sadar, sesungguhnya jiwa kita inilah diri sejatinya setiap makhluk, manusia ciptaan Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. Bangkit agar Jiwa atau diri sejati kita menjadi majikan di tubuh/jasad kita yang bisa mengendalikan pikiran dan ego kita. (Bersambung).

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com             

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia