KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiDua Minggu Berlatih Menulis Bersama PMOH untuk Para Pelajar SMP dan SMA oleh : Redaksi-kabarindonesia
02-Jun-2020, 01:39 WIB


 
 
KabarIndonesia - Selamat Idul Fitri! Masih dalam situasi masa lebaran ini, Harian Online KabarIndonesia (HOKI) kembali membuka pelatihan menulis online Tahun Ajaran (Tajar) XII, 2020. Pada Tajar ini khusus diperuntukkan bagi para pelajar SMP dan SMA untuk mengisi masa liburan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Melawan Hoax Virus Corona 21 Mei 2020 15:19 WIB


 
Kami Masih Punya Rasa Malu 31 Mei 2020 11:30 WIB

Aroma Kematian 09 Mei 2020 13:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Desainer Sang Pemuja Setan 29 Mei 2020 13:08 WIB


 
 
OPINI

CATATAN UNTUK KABUPATEN SAMOSIR: Mencegah yang Terburuk Berkuasa
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 04-Jan-2020, 09:38:24 WIB

KabarIndonesia - Suatu ketika, Profesor Dr. Frans Magnis Suseno SJ, seorang dosen dan guru besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta pernah mengatakan “kita harus memilih yang kurang
buruk di antara yang buruk”.

Romo Magnis dalam suatu diskusi “Mengarahkan Haluan Politik Indonesia Pasca-Reformasi” di kantor Maarif Instite, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (4/3 2014), mengatakan bahwa masyarakat dihadapkan pada calon-calon pemimpin yang terbilang buruk.

Dia juga mengakui kinerja partai politik (parpol) di Indonesia mengecewakan, namun bukan itu alasan untuk tidak berpartisipasi dalam Pemilu.
“Tapi, kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk. Pilihlah, dalam demokrasi seseorang harus memilih," dalam berita tribunnews pada Rabu, 5 Maret 2014.

Menjelang Pemilu 2019 sering saya temukan ungkapan kutipan dari ucapan Prof. Magnis dengan versi lain namun maknanya mirip atau serupa tapi tak sama mengungkapkan “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”.

Tetapi saya telusuri kapan dan dalam kaitan apa, saya tidak menemukannya, namun yang ditemukan adalah “kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk”, di atas.

Kalau diperbandingkan kedua ungkapan “kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk” dengan “bukan memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa” bila dimaknai maksud dan tujuannya adalah sama.

Dalam pemahaman filsafat bahwa semua manusia itu telah “berdosa” atau buruk oleh karena itu Prof. Magnis mengajak masyarakat untuk memilih yang kurang atau “sedikit” buruknya. Sebaliknya, kalau semua “buruk” sama juga semua baik, akan tetapi Romo Magnis juga mengingatkan bahwa pemilihan itu bukan memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.

Yang namanya baik pasti berbuat yang terbaik dan naluri dan hati nuraninya adalah untuk kebaikan sehingga perilakunya serta tujuan hidupnya adalah untuk berbuat kebajikan. Tetapi bagaimana kalau ada orang-orang yang terburuk ingin atau mau berkuasa? Di situlah Prof. Frans Magnis Suseno mengajak semua pihak melalui Pemilihan apapun (Pilleg, Pilpres/wapres, Pilkada) untuk mencegah agar manusia-manusia “terburuk” itu tidak berkuasa.

Baik-buruknya seseorang itu relative dan personal-individual penilaiannya, baik oleh objektifitas maupun subjektifitas. Dan ukurannyapun tidak jelas trmasuk ukuran pidana sebab yang telah dihukum melakukan kejahatan korupsi oleh pengadilanpun dapat mencalonkan diri setelah lima tahun.

Namun sebagai ahli dan guru besaf filsafat Prof. Magnis mengajarkan kepada kita bagaimana memperbaiki hidup dan masa depan serta tidak menyerahkan hidup dan kehidupan sebagai warga kabupaten, daerah dan negara ke tangan orang-orang “terburuk”. Dan penilaian itu sering terpengaruh oleh berbagai faktor lahiriah walaupun kadang-kadang tidak sesuai dengan hati nurani.

Apalagi ada peribahasa “suhar bulu ditarik dongan suhar do tarikon”, artinya kalau ada teman yang menarik bambu terbalik, kita juga mengikutinya.
Suatu ungkapan yang harus diluruskan, kalau sudah tahu seseorang itu salah, kita wajib mengingatkannya. Tidak justru ikut-ikutan berbuat serupa.

Begitulah kira-kira seruan Prof. Magnis Suseno itu hendaknya menggema ke tengah-tengah masyarakat Samosir yang sedang dalam persiapan dan akan menyelenggarakan Pilkada, dan tidak ada salahnya untuk direnungkan sekaligus dipraktekkan, memilih yang kurang buruk di antara yang buruk dan atau mencegah yang terburuk untuk berkuasa.

Sudah tahu perangainya “terburuk” kalau tokh masih dipilih, ya risiko sendiri, menyaksikannya selama lima tahun, artinya teliti sebelum membeli atau jangan membeli kucing dalam karung. Cermati dan pahami seseorang itu apakah dia menjadi berkat atau sebaliknya menjadi bencana. Orang baik biasanya memiliki konsep yang baik dan perencanaannya juga untuk kebaikan khalayak umum tidak asal kerja. Tetapi bekerja sebagai pelayanan bagi sang pemberi Kehidupan dan bukan untuk menjadi raja dan penguasa.

Bagaimana mengetahui seseorang itu terburuk dari yang lain tidaklah mudah, tergantung persepsi yang bersangkutan. Prof. Magnis Suseno mungkin perlu menjelaskan lagi bagaimana “mencegah yang terburuk berkuasa”, namun sinyal perlunya “mencegah yang terbutuk berkuasa”.

Perlu diperhatikan agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat dan pembangunan tidak jalan di tempat. Demikian pula agar Samosir "tidak" tetap bagian dari “Tapanuli peta kemiskinan di Sumatera Utara”. (Penulis Bachtiar Sitanggang, wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta, www.greenberita.com)Mencegah Yang Terburuk Berkuasa (Catatan Buat Kabupaten Samosir)

KabarIndonesia - Suatu ketika, Profesor Dr. Frans Magnis Suseno SJ, seorang dosen dan guru besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta pernah mengatakan “kita harus memilih yang kurang
buruk di antara yang buruk”.

Romo Magnis dalam suatu diskusi “Mengarahkan Haluan Politik Indonesia Pasca-Reformasi” di kantor Maarif Instite, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (4/3 2014), mengatakan bahwa masyarakat dihadapkan pada calon-calon pemimpin yang terbilang buruk.

Dia juga mengakui kinerja partai politik (parpol) di Indonesia mengecewakan, namun bukan itu alasan untuk tidak berpartisipasi dalam Pemilu.
“Tapi, kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk. Pilihlah, dalam demokrasi seseorang harus memilih," dalam berita tribunnews pada Rabu, 5 Maret 2014.

Menjelang Pemilu 2019 sering saya temukan ungkapan kutipan dari ucapan Prof. Magnis dengan versi lain namun maknanya mirip atau serupa tapi tak sama mengungkapkan “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”.

Tetapi saya telusuri kapan dan dalam kaitan apa, saya tidak menemukannya, namun yang ditemukan adalah “kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk”, di atas.

Kalau diperbandingkan kedua ungkapan “kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk” dengan “bukan memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa” bila dimaknai maksud dan tujuannya adalah sama.

Dalam pemahaman filsafat bahwa semua manusia itu telah “berdosa” atau buruk oleh karena itu Prof. Magnis mengajak masyarakat untuk memilih yang kurang atau “sedikit” buruknya. Sebaliknya, kalau semua “buruk” sama juga semua baik, akan tetapi Romo Magnis juga mengingatkan bahwa pemilihan itu bukan memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.

Yang namanya baik pasti berbuat yang terbaik dan naluri dan hati nuraninya adalah untuk kebaikan sehingga perilakunya serta tujuan hidupnya adalah untuk berbuat kebajikan. Tetapi bagaimana kalau ada orang-orang yang terburuk ingin atau mau berkuasa? Di situlah Prof. Frans Magnis Suseno mengajak semua pihak melalui Pemilihan apapun (Pilleg, Pilpres/wapres, Pilkada) untuk mencegah agar manusia-manusia “terburuk” itu tidak berkuasa.

Baik-buruknya seseorang itu relative dan personal-individual penilaiannya, baik oleh objektifitas maupun subjektifitas. Dan ukurannyapun tidak jelas trmasuk ukuran pidana sebab yang telah dihukum melakukan kejahatan korupsi oleh pengadilanpun dapat mencalonkan diri setelah lima tahun.

Namun sebagai ahli dan guru besaf filsafat Prof. Magnis mengajarkan kepada kita bagaimana memperbaiki hidup dan masa depan serta tidak menyerahkan hidup dan kehidupan sebagai warga kabupaten, daerah dan negara ke tangan orang-orang “terburuk”. Dan penilaian itu sering terpengaruh oleh berbagai faktor lahiriah walaupun kadang-kadang tidak sesuai dengan hati nurani.

Apalagi ada peribahasa “suhar bulu ditarik dongan suhar do tarikon”, artinya kalau ada teman yang menarik bambu terbalik, kita juga mengikutinya.
Suatu ungkapan yang harus diluruskan, kalau sudah tahu seseorang itu salah, kita wajib mengingatkannya. Tidak justru ikut-ikutan berbuat serupa.

Begitulah kira-kira seruan Prof. Magnis Suseno itu hendaknya menggema ke tengah-tengah masyarakat Samosir yang sedang dalam persiapan dan akan menyelenggarakan Pilkada, dan tidak ada salahnya untuk direnungkan sekaligus dipraktekkan, memilih yang kurang buruk di antara yang buruk dan atau mencegah yang terburuk untuk berkuasa.

Sudah tahu perangainya “terburuk” kalau tokh masih dipilih, ya risiko sendiri, menyaksikannya selama lima tahun, artinya teliti sebelum membeli atau jangan membeli kucing dalam karung. Cermati dan pahami seseorang itu apakah dia menjadi berkat atau sebaliknya menjadi bencana. Orang baik biasanya memiliki konsep yang baik dan perencanaannya juga untuk kebaikan khalayak umum tidak asal kerja. Tetapi bekerja sebagai pelayanan bagi sang pemberi Kehidupan dan bukan untuk menjadi raja dan penguasa.

Bagaimana mengetahui seseorang itu terburuk dari yang lain tidaklah mudah, tergantung persepsi yang bersangkutan. Prof. Magnis Suseno mungkin perlu menjelaskan lagi bagaimana “mencegah yang terburuk berkuasa”, namun sinyal perlunya “mencegah yang terbutuk berkuasa”.

Perlu diperhatikan agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat dan pembangunan tidak jalan di tempat. Demikian pula agar Samosir "tidak" tetap bagian dari “Tapanuli peta kemiskinan di Sumatera Utara”. (Penulis Bachtiar Sitanggang, wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta, www.greenberita.com)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia